
Brian tampak cemas dikamarnya, dia takut kalau saja Erick membocorkan rahasianya soal kekuatan yang dimilikinya. Apalagi jika Erick sampai memberitahu Renata, bisa-bisa Renata menjauh dari hidupnya.
"Aku harus menemui Erick malam ini juga, jangan sampai dia membocorkan rahasiaku pada orang lain." Gumam Brian sambil bergegas mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju kediaman Erick.
Sesampainya di depan kediaman Erick, tanpa sengaja dia melihat Rennata masuk bersama Erick disisinya.
"Apa yang dia lakukan dirumah Erick?.. Apa dia benar-benar kekasihnya Erick?." Penasaran Brian sembari terus memperhatikan rumah Erick. Tanpa pikir panjang, Brian menggunakan kekuatannya untuk melihat apa yang terjadi di dalam rumah Erick.
Didalam dia melihat Rennata sedang duduk disamping Erick dan melihat Rennata memeluk tubuh Erick. Seketika Brian langsung emosi, namun dia mencoba menahannya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Esoknya Brian yang tidak bisa tidur gara-gara membayangkan apa yang dilakukan Rennata dan Erick malam itu datang kekantor dengan wajah lesu.
"Selamat pagi Presdir." Sapa Rennata tersenyum saat dia melihat Brian yang baru datang. Brian hanya menatap Rennata sebentar dan masuk keruangannya.
Dilain tempat, Erick yang masih berada dirumahnya tampak sedang menunggu seseorang.
"Ini berkas yang tuan minta, dan saya semalam melihat tuan Brian didepan rumah ini." Ucap seorang pria yang datang membawa sebuah amplop ditangannya.
"Baiklah, tetap awasi dia. Kita harus bisa mengorek semua informasi tentang darimana dia mendapatkan kekuatannya.Jangan sampai dia curiga dengan kita."
"Baik tuan."
Erick membuka amplop yang baru diterimanya itu. Dan dia melihat berkas informasi tentang Brian Balder. Setelah menyimpan berkas tersebut dikamarnya, Erick bersiap untuk pergi kekantornya.
Hari demi hari berlalu, hingga hari dimana Mall yang Brian dan Erick buka sudah saatnya launching. Dijalan menuju ke mall, Rennata yang duduk disebelah Brian merapikan pakaiannya.
"Kenapa kau terlihat sangat bersemangat?.. Biasanya kau hanya bisa mengeluh jika disampingku.. Apa karena kau akan bertemu Erick?." Tanya Brian melihat gerak gerik Rennata.
"Saya hanya tidak ingin anda merasa malu jika nanti disana bertemu kolega bisnis anda." Jawab Rennata menatap balik Brian sambil tersenyum, namun Brian langsung memalingkan wajahnya.
Sesampainya dilokasi, Rennata keluar mengikuti Brian yang lebih dulu berjalan masuk. Seperti biasa, semua orang yang melihat kedatangan Brian langsung menghampiri dan menyambut kedatangannya. Seperti superstar yang langsung dikelilingi fansnya kalau mereka datang.
Selagi Brian berbicara dengan beberapa orang asing yang merupakan salah satu rekan bisnisnya, Rennata pergi menjauh setelah diberi izin oleh Brian.
Saat tengah mencicipi beberapa hidangan, dia melihat Erick yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Rennata yang berniat menghampiri Erick, mengurungkan niatnya setelah melihat Erick didekati wanita cantik dan Erick merangkulnya.
Dikejauhan, Brian yang memperhatikan Rennata melihat gadis itu tertunduk sedih setelah melihat kearah Erick yang sedang memeluk Mikaela. Setahu Brian, Mikaela adalah model dari perusahaan Erick yang sempat menjadi kekasih masalalu Erick.
Brian yang tidak tega melihat Rennata berjalan menghampiri gadis itu.
'Berhenti bodoh!.. Apa yang kau lakukan dengan berjalan kearah gadis itu.. Dia hanya sekretarismu dan hanya gadis yang melihat apa yang kau lakukan 10 tahun lalu.' Batin Brian mencoba menghentikan niatnya. Namun hati dan tubuhnya tidak bisa sejalan. Entah kenapa dia terus mendekati Rennata dan tidak ingin gadis itu bersedih. Tidak mungkin dia jatuh hati pada gadis itu kan?.
"Kau mau membawaku kemana?." Kaget Rennata yang ditarik Brian. "Maaf saya tidak bermaksud bicara tidak sopan." Tambah Rennata kemudian setelah dia sadar akan ucapannya yang tidak sopan pada bossnya barusan yang membuat Brian berhenti.
'Kau bodoh sekali Renna. Kenapa kau berbicara tidak sopan pada Brian?.. Pasti gajimu akan dikurangi.' Batin Rennata memarahi dirinya sendiri. Dia benar-benar tidak ingin gajinya dikurangi.
Tidak seperti yang dipikirkannya, Brian hanya kembali berjalan sambil menarik dirinya dan ternyata Brian membawanya ke dalam mobil.
"Jalan pak." Perintah Brian pada sopir yang sudah berada didalam mobil daritadi.
"Apa kita kekantor sekarang tuan?." Tanya sopir pribadi Brian itu ragu-ragu.
"Kita pulang sekarang, dan jangan bertanya lagi." Ketus Brian.
Melihat ketusnya Brian, Rennata tidak berani bertanya dan hanya duduk disamping Brian sambil menatap keluar jendela. Ingatannya kembali pada saat dia melihat Erick memeluk wanita tadi.
Hatinya sangat sakit, namun dia tidak berani menghampiri Erick. Seharusnya dia bisa memahami keadaan Erick karena Erick adalah seorang pengusaha muda. Dan pasti dia banyak dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Tapi hatinya tidak bisa menerima kenyataan tersebut.
Brian sangat sadar bahwa perbedaan soal usia mereka sangat berbeda. Bangsanya bisa hidup lebih dari 1000 tahun dan bahkan bangsanya menua dengan lambat. Dia hanya tidak ingin jika dia mengikuti hatinya, saat Rennata sampai dibatas usianya dia akan sangat sedih hidup tanpa Rennata.
Sesampainya dirumah Brian, Rennata tidak keluar dari mobil karena dia berfikir setelah Brian turun dia pasti akan diantar pulang oleh sopir.
"Apa kau tidak akan keluar?." Tanya Brian melihat Rennata masih duduk didalam mobil.
"Bukankah saya akan diantar sopir pulang?.. Atau saya harus pulang sendiri?." Bingung Rennata sembari keluar dari mobil.
"Tidak usah banyak bicara, ayo ikut saya kedalam." Ajak Brian berjalan kedalam rumahnya. Rennata hanya patuh dan berjalan mengikuti Brian dari belakang.
Brian yang tau Rennata sedang sedih, mengajak sekretarisnya itu keruangan yang tak lain adalah sebuah bar. Rennata sangat takjub melihat bar pribadi milik bossnya itu. Brian yang memperhatikan Rennata tanpa dia sadari tersenyum.
"Minumlah sepuasmu, anggap saja kau kuajak menemaniku minum disini."
"Saya benar-benar bisa meminum apapun yang berada disini secara gratis?."
"Tentu saja.. Dan aku juga mengizinkanmu berbicara seperti kau berbicara pada Erick."
Rennata sempat heran dengan perubahan tiba-tiba bossnya itu. Namun dia tidak terlalu memikirkan ucapan bossnya. Yang penting baginya sekarang dia bisa minum gratis dan dia akan membuat dirinya mabuk hingga dia bisa sejenak melupakan Erick.
Brian yang tadi pergi karena ada pekerjaan yang harus diselesaikannya, akhirnya kembali. Setelah mandi dan berganti pakaian, Brian pergi ke bar pribadinya untuk bertemu Rennata dan bermaksud mengantar Rennata pulang. Disana dia melihat Rennata sudah tertidur.
"Renna bangunlah, aku akan mengantarmu pulang." Pinta Brian sembari memegang pundak Rennata.
"Erick, kenapa kau begitu jahat?.. Katanya kau mencintaiku, tapi kenapa kau memeluk wanita lain?." Celoteh Rennata yang ternyata sudah sangat mabuk.
"Kau sudah sangat mabuk, kenapa kau minum sangat banyak?.. Aku akan mengantarmu pulang, ayo berdirilah."
"Aku tidak mau pulang!."
"Baiklah, aku akan mengizinkanmu menginap, ayo kuantar kekamar tamu."
Dengan sekuat tenaga, Brian akhirnya menggendong Rennata, karena gadis itu menolak untuk berjalan. Dia membawa Rennata kekamar tamu dan menurunkan tubuh Rennata perlahan keatas ranjang.
Saat memperbaiki rambut yg menutupi wajah Rennata, tiba-tiba Rennata bergerak dan menarik Brian lalu memeluk erat tubuh Brian.
"Erick, tidurlah denganku." Lirih Rennata memegang wajah Brian.
Hati Brian sangat sangat sakit lagi-lagi mendengar nama Erick yang keluar dari mulut Rennata. Seketika dia berharap namanya yang akan dipanggil oleh Rennata.
"Jangan seperti ini Ren, kalau kau seperti ini aku tidak bisa menahannya." Pinta Brian saat Rennata perlahan mencoba kancing bajunya satu persatu. Brian terus menahannya agar dia tidak tergoda dan membuat kesalahan dengan meniduri Rennata.
Rennata semakin agresif, mungkin karena pengaruh alkohol. Dia telah selesai membuka seluruh kancing pakaian Brian. Dia mulai meraba dada bidang milik Brian.
Brian yang benar-benar sudah tidak tahan menahan semuanya lagi, menindih tubuh mungil Rennata dan mencium lembut bibir Rennata. Tidak dia sangka, Rennata juga melakukan hal yang sama padanya.
"Kau yang memancingku duluan, jangan salahkan aku dengan apa yang akan terjadi kedepannya." Bisik Brian pada telinga Renata dan merobek dress yang dipakai Rennata hingga terbelah dua.
**********
Story by Ferlind Kim
Selesai baca divote sama komentarnya ya all.. biar author semangat lanjutinnya 😊☺