MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 22



Siang itu, Rennata sedang bersiap untuk pergi berbelanja bersama Brian. Dia sudah bersenandung senang sejak tadi, karena ingin melihat bagaimana keadaan diluar istana. Karena selama dia beberapa kali berada disana, dia belum sekalipun keluar dari istana.


"Kenapa senyum-senyum?." Heran Rennata menatap Brian yang menunggunya sambil senyum-senyum daritadi.


"Pantas saja saudaraku sangat mengagumimu, ternyata istriku memang sangat cantik."


"Gak usah muji-muji gitu.. Pasti ada maunya kan?. Ngaku."


"Enggak, sayang."


"Yakin?."


"Hehehe.. Kalau soal kamu cantik, aku ngomong jujur.. Tapi akan sangat bagus kalau kita punya baby yang cantik kayak kamu secepatnya."


"Bilang aja mau minta jatah, kan gampang toh." Menatap Brian sinis.


"Iya deh.. Nanti malam ya?."


"Mmm gimana ya?, aku pikir-pikir dulu deh."


"Ayolah sayang, kamu tega banget sih sama aku.. Dulu aja pas belum nikah, kamu mau aja di ajak-ajak." Cemberut Brian.


Rennata tersenyum mendekati sembari mendekati Brian.


"Kalau gitu, kamu harus beliin semua yang aku mau." Berbisik pada Brian.


"Tentu saja. Bahkan sebelum kamu minta, aku akan memberikannya." Semangat Bbrian langsung memeluk Rennata dan menghempaskan tubuh istrinya di atas ranjang.


"Aduhh.. Jangan sekarang juga dong, kan kita mau jalan-jalan sekaligus belanja." Mendorong tubuh Brian.


"Hehehe, khilaf sayang."


"Khilaf-khilaf, nafsu mah kamu. Kan aku udah rapi, nanti kalau berantakan lagi gimana?."


"Tinggal ganti aja sama yang baru. Aku bisa kok gantiin."


"Gak usah ngadi-ngadi ya, Bambang.."


"Siapa lagi Bambang?."


"Candaan doang.. Ayoklah kita pergi."


Brian pun berdiri dan menggandeng tangan Rennata keluar dari kamar. Sebelum mereka pergi, Rennata mengajak Brian untuk ke kamar Ratu. Disana dia pamit sekaligus mencium si bungsu yang tertidur pulas.


"Kamu jaga Renna baik-baik,Brian."


"Tentu saja, Ma."


"Apa perlu membawa pengawal?."


"Gak usah, Ma. Brian cukup kok." Tolak Rennata. Karena dia ingin bebas berdua dengan Brian. Dia bisa membayangkan jika pergi harus dikawal.


"Baiklah.. Kalian berhati-hatilah. Tidak semua orang diluar sana baik."


"Baik,Ma." Angguk Brian dan Rennata serentak.


"Ternyata orang-orang disini sama saja dengan di bumi?.. Ada yang jahat juga?." Tanya Rennata pada Brian setelah keluar dari kamar Ratu.


"Disini tidak jauh beda sama di bumi. Jadi kamu gak boleh jauh dari aku, oke?"


"Iya Brian bawel."


Mereka berdua pun pergi dengan mobil milik Brian. Sepanjang jalan, Rennata tidak henti-hentinya mengagumi tempat-tempat yang dia lihat sepanjang perjalanan. Jelas ini jauh lebih mewah daripada di bumi.


Setelah sampai di salah satu pasar modern disana, Brian memarkirkan mobilnya dan keluar untuk membukakan pintu untuk Rennata. Selama berjalan mengelilingi pasar, tentu saja mereka berdua disambut dengan ramah. Rennata juga membeli semua yang menurutnya menarik dan cantik. Dia juga membelikan beberapa pakaian bayi untuk pangeran terakhir. Tentu saja seluruh belanjaannya itu dibawa oleh Brian.


"Kalau tau kayak gini, mending tadi bawa pengawal aja." Dumel Brian berjalan di belakang Rennata.


"Kan aku juga gak tau bakal belanja sebanyak ini."


"Sini aku bawa setengahnya."


"Gak usah.. Kamu gak boleh capek-capek."


"Giliran mau dibantuin jawabnya malah gitu."


"kamu belanja aja sepuasnya. Nanti aku anterin ini ke mobil sebelum kita makan."


"Mending kamu anterin sekarang aja, soalnya aku udah laper. Aku tunggu disini."


"Kamu yakin?. Mending kita ke mobil bareng aja, yuk?."


"Aku tunggu disini aja, kamu sana anterin itu dulu."


"Ya udah, kamu tunggu disini, jangan kemana-mana."


"Iya sayang."


Brian akhirnya meninggalkan Rennata sendirian, tentu saja dengan buru-buru, karena dia tidak ingin jika terlalu lama, Rennata bisa dalam bahaya. Dengan kecepatan yang dia punya, dalam sekejap dia sudah berada di depan mobilnya. Dia segera memindahkan semua belanjaannya ke dalam mobil. Dan setelah itu segera kembali ke tempat Rennata.


Brian sangat kaget ketika dia sampai disana, dia tidak menemukan sosok istrinya itu. Padahal dia belum pergi terlalu lama, apalagi dia sudah memakai kecepatannya untuk menghemat waktu. Dia mencari sekeliling tempat itu, tapi tetap saja tidak menemukan Rennata. Karena panik, dia segera meminta seluruh pengawal istana melalui telepati agar segera datang ke pasar.


Setelah semua pengawal berkumpul dihadapannya, Brian memberikan perintah untuk memblokir seluruh area pasar dan menyuruh mereka mencari Rennata. Dia juga dibantu oleh orang-orang yang ada di pasar itu. Saat sedang ribut-ribut itulah, Rennata muncul dari dalam toilet umum.


Rennata sangat kaget ketika beberapa pengawal mengelilinginya, hingga tak lam muncullah Brian yang masih terlihat panik. Dengan masih dalam keadaan bingun, Rennata langsung dipeluk erat oleh Brian.


"Brian.. Aku lapar." Polos Rennata.


Brian langsung melepaskan pelukannya dan menatap Rennata tersenyum. Dia mengelus rambut istrinya itu. Setelahnya dia meminta maaf pada semua orang karena sudah membuat keributan, lalu kemudian mengajak Rennata ke mobil.


"Ayo masuk." Ucap Brian membukakan pintu mobil untuk Rennata.


Rennata hanya patuh dan masuk kedalam mobil. Setelah itu Brian juga masuk dan melajukan mobilnya meninggalkan area pasar.


"Tadi semua orang kenapa?.. Dan kenapa ada banyak pengawal?."


"Bukan apa-apa.. Cuma ada event kecil aja. Kita makan di istana aja ya?." Bohong Brian. Dia tidak ingin dibilang lebay oleh Rennata.


"Benarkah?, tapi kenapa kamu terlihat sangat pucat?."


"Aku tidak pucat."


"Hmmm ada yang aneh."


"Sudahlah, jangan dipikirin."


"Kita makan diluar aja, jangan di istana."


"Baiklah tuan putri, kita mampir ke restoran milik kak Leo saja."


"Jadi kak Leo punya restoran?."


"Dia punya banyak restoran."


"Dia kan pangeran."


"Kenapa?.. Walau kami ini pengeran, tapi kami semua punya usaha masing-masing."


"Salut aja sih."


Akhirnya mereka berdua pergi ke restoran milik Leo yang merupakan pangeran ketiga di istana. Tentu saja mereka langsung diberikan tempat yang hanya ditempati oleh keluarga kerajaan saja.