MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 34



Malam itu sesuai perkiraan dokter akhirnya Rennata melahirkan dengan normal, semua orang sudah menunggu diluar ruangan sejak Rennata mulai pembukaan ke 3. Bahkan kedua orangtua Rennata juga sudah hadir.


Mereka yang menunggu diluar ruangan pun sangat antusias saat dokter yang menolong Rennata melahirkan keluar dari ruangan. Dan seperti dugaan, Rennata melahirkan sepasang anak kembar.


Setelah Rennata dipindahkan kembali ke ruangannya bersama Brian sebelumnya, dia langsung meminta agar kedua anaknya ditidurkan disebelah Brian. Rennata berharap jika hal itu bisa membuat Brian terbangun.


"Apa kamu sudah memikirkan nama untuk mereka, Ren?."


"Belum ma, biar Brian yang memberi nama untuk mereka."


Semua hanya diam mendengar ucapan Rennata.


2 hari sudah berlalu sejak kelahiran si kembar. Namun belum ada tanda-tanda bahwa Brian akan sadar. Rennata juga sudah tidak bertegur sapa dengan Richard yang telah membuat Brian seperti itu.


Dia juga sadar apa yang dia lakukan terhadap Richard saat ini adalah salah. Namun hatinya juga sangat sakit melihat suaminya seperti ini.


Rennata turun dari ranjangnya dan berjalan ke ranjang milik Brian. Dia mengusap wajah tampan suaminya itu lalu menggenggam erat tangannya.


"Brian, bangunlah. Apa kamu tidak ingin melihat anak kita?."


Saat Rennata menangis sembari menunduk, dia merasakan jari jemari Brian yang bergerak. Rennata yang menyadari hal itu segera menekan bel untuk memanggil dokter pribadi yang khusus menangani Brian.


Tidak butuh waktu lama, dokter pun datang bersama beberapa perawat. Ditambah lagi kedua orangtua Brian yang juga ikut masuk ke dalam ruangan.


Akhirnya kabar bahagia terdengar, mungkin juga bisa keajaiban dari si kembar, Brian sudah mulai sadar. Walau masih dalam keadaan linglung, namun matanya sudah mulai terbuka. Dan dia juga sudah bisa mengenali semua yang ada disana.


"Brian, akhirnya kamu sadar juga." Senang Rennata menggenggam tangan Brian, tanpa sadar airmatanya mengalir.


Brian hanya tersenyum lalu mencoba menghapus airmata Rennata. Dia kembali teringat akan kesalahan yang telah dia lakukan, padahal dia sudah melihat dengan jelas ketulusan istrinya itu dalam mencintainya.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, nak?." Tanya Jane sang ibu.


"Biarkan Brian stabil dulu, baru kita tanyakan. Sekarang kita tinggalkan dia bersama Rennata." Ajak Raja menggandeng tangan istrinya.


Akhirnya tinggallah Rennata berdua dengan Brian. Namun senyum yang terukir dari wajah Brian daritadi tiba-tiba menghilang saat dia sadar jika istrinya memakai pakaian yang sama dengannya.


"Sayang, apa yang terjadi padamu?." Tanya Brian yang akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Aku baik-baik saja."


"Lalu kenapa kamu memakai pakaian pasien sepertiku?. Dan kemana perutmu?. Apa terjadi sesuatu pada bayi kita?."


"Udah ngomelnya?. Jangan banyak bicara dulu, kamu kan baru bangun. Aku dan anak-anak kita sehat."


"Anak-anak?. Jadi anak kita kembar?. Maafkan aku tidak bisa menemani persalinanmu." Murung Brian.


"Tidak apa-apa. Yang terpenting kamu sudah kembali."


Dengan wajah yang masih murung, Brian kembali meminta maaf atas kesalahannya pada Rennata.


Rennata yang kembali teringat kejadian menyakitkan itu hanya bisa terdiam. Namun dia harus bisa memaafkan Brian, apalagi Brian sudah hampir kehilangan nyawa demi menebus kesalahannya.


"Kali ini ku maafkan. Tapi jika terulang kembali, kamu tidak akan pernah melihatku dan anak-anak lagi." Ucap Rennata dengan mengancam.


"Terimakasih sayang. Aku janji tidak akan mengulangnya lagi. Dan aku akan selalu mengingat apa yang kamu ucapkan."


"Sekarang kita lupain aja. Kamu fokus aja sama kesehatanmu."


"Paling beberapa jam lagi aku sudah bisa pulang sayang."


"Mana mungkin. Kamu kan terluka parah."


"Ingatlah sayang. Suamimu ini bukan manusia, bangsa kami memang seperti itu, terutama keluarga kerajaan."


"Baguslah kalau memang seperti itu."


"Kalau begitu bawa aku menemui anak-anak kita sayang. Apa jenis kelamin mereka?."


"Cewek sama cowok, yang lahir duluan adalah yang perempuan. Mereka beda 10 menit, dan aku belum memberi nama mereka."


"Kenapa?."


"Karena itu tugasmu, aku ingin mereka memakai nama pemberian ayah mereka."


"Baiklah, aku akan memberikan nama yang bagus untuk mereka."


Rennata tersenyum lalu berjalan keluar ruangan untuk meminta suster membawakan bayi-bayinya.


Tidak butuh waktu lama, kedua bayi kembar itu masuk dengan digendong oleh dua orang suster khusus. Brian dengan dibantu Rennata duduk di ranjangnya. Kedua bayi itupun diserahkan kepada Brian yang sudah tidak sabar menggendongnya.


Brian tidak henti-hentinya memperhatikan wajah kedua anaknya yang ternyata mirip dengannya. Dari mulai mata mereka yang berwarna biru terang, pipi mereka yang chubby kemerahan, Brian bahkan sangat senang melihat buah hatinya itu.



"Kenapa?." Heran Brian.


"Aku yang mengandung mereka selama 9 bulan, tapi mereka malah menjadi duplikat dirimu. Tidak ada yang mirip sepertiku."


Brian hanya tersenyum melihat kecemburuan istrinya itu.


"Aku sudah menemukan nama yang cocok untuk mereka." Ucap Brian kemudian.


"Siapa?."


"Narendra dan Naela. Bagaimana menurutmu sayang?."


"Bagus. Aku suka." Senyum Rennata.


"Kalau nama lengkap mereka, Narendra Ehner Balder, dan Naela Ehner Balder."


Rennata langsung mengangguk setuju dengan nama itu.


Pada malam harinya, Rennata pulang ke istana bersama Brian. Brian juga sudah kembali normal kecuali wajahnya yang masih ada bekas luka. Kedua orangtua Rennata juga masih ada di planet itu.


Di istana, Rennata langsung dibawa ke kamarnya karena memang masih membutuhkan banyak istirahat. Sedangkan Brian pergi berkumpul dengan anggota keluarga yang lainnya.


"Apa kamu berencana akan menetap disini, Brian?." Tanya William sang ayah saat Brian mulai duduk dikursinya.


"Tidak ayah. Setelah Rennata mulai stabil, kami akan langsung ke bumi."


"Sayang sekali."


"Bagaimana pun aku dan Renna sudah sepakat untuk tetap tinggal dibumi dan memberikan kehidupan normal pada keturunan kami."


"Baiklah jika itu keputusan kalian. Sebaiknya kita adakan pesta atas kelahiran Rendra dan Naela sebelum kalian kembali ke bumi. Berhubung kedua orangtua Renna masih ada disini."


"Boleh saja, yah."


"Bagaimana kalau acaranya besok malam?."


"Apa tidak terlalu mendadak?."


"Kita tinggal sebar undangan mulai malam ini. Beberapa kolega kita juga sudah mengetahui kelahiran cucu pertama keluarga kerajaan."


Brian hanya bisa menyetujui ucapan ayahnya. Bagaimana pun dia tidak mungkin berdebat hanya karena masalah pesta. Karena ingin menemani Rennata dan anak-anaknya, Brian pun pamit untuk ke kamar.


Saat berjalan dilorong menuju kamarnya, dia melihat kakaknya Richard yang sedang berdiri di taman sembari menatap langit.


"Lagi mikirin apa?." Tanya Brian berdiri disebelah kakaknya.


"Bukan apa-apa."


"Tumben gak kelihatan lagi. Biasanya selalu ada didekat Renna."


"Istrimu itu lagi marah."


"Marah?."


"Iya, karena aku membuatmu sampai tak sadarkan diri seperti itu."


"Tapi kan hal itu sudah biasa bagi kita."


"Mmm.. Itu kan bagi kita."


"Apa kau tidak ingin melihat Rendra dan Naela, kak?."


"Kau sudah memberi mereka nama?. Nama yang bagus. Aku sudah melihat mereka saat mereka dibawa ke kamar rawatmu untuk pertama kali. Mereka memang duplikatmu."


"Mmm, aku fikir kau belum melihatnya."


"Kembalilah ke kamarmu, temani istri dan anak-anakmu."


Brian hanya diam lalu meninggalkan Richard. Dia melanjutkan perjalanannya ke kamar. Dia sudah tidak sabar menggendong anak-anaknya lagi. Walau dia bisa menebak kedua anaknya sedang tidur saat ini.


Di dalam kamar, dia melihat Rennata sedang memberikan ASI pada salah satu anak mereka. Dia mendekat lalu tersenyum, namun kemudian bayinya yang satu lagi menangis. Brian langsung saja menggendong anaknya itu dan membawanya untuk kembali membuatnya tertidur.


"Jangan menangis sayang, Daddy ada disini. Tidurlah." Ucap Brian mencium kening anaknya itu. Dan seketika tangisan anaknya itu berhenti dan beralih menatap Brian.


Rennata tersenyum melihat perlakuan Brian pada anak mereka itu. Dia juga sangat senang Brian bisa membuat anaknya berhenti menangis dengan cepat.


"Sekarang kamu gendong Naela, sayang. Biar aku beri Rendra ASI." Ujar Rennata.


Brian segera menyerahkan Rendra pada Rennata dan beralih menggendong Naela yang sudah tertidur.