MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 40



Siang itu di bumi, Brian mengajak Rennata ke kamar si kembar yang memang sudah selesai tersebut. Seperti dugaan Brian, istrinya itu terlihat sangat senang dengan desain dari ruangan itu. Ditambah lagi dinding kamar tersebut bisa langsung tergabung dengan kamar utama jika tombol di kamar utama di tekan.


"Aku sengaja mendesain kamar ini bisa terhubung langsung dengan kamar kita agar kita bisa langsung berada di kamar ini saat si kembar dalam keadaan rewel atau dalam keadaan darurat."


"Ini sangat bagus sayang. Terima kasih." Ucap Rennata yang tanpa sadar meneteskan airmatanya. Dia sangat terharu dan terkesan dengan kamar yang di buat Brian untuk anak mereka.


"Aku pasti akan melakukan yang terbaik untukmu dan anak-anak kita." Senyum Brian memeluk Rennata.


"Kalau begitu aku akan membeli beberapa tambahan untuk kamar si kembar." Semangat Rennata.


"Beli semua yang kamu inginkan, sayang."


Rennata pun mengangguk lalu kembali memeluk Brian.


"Aku ke kantor sekarang ya sayang?. Aku akan bertemu dengan sekretaris yang menggantikanmu di kantor." Pamit Brian.


"Penggantiku?. Tapi aku masih ingin bekerja."


"Aku sebenarnya lebih suka kamu di rumah mengurus anak-anak daripada ikut bekerja. Tapi jika memang kamu ingin sekali ikut bekerja, kita tunggu si kembar besar dulu. Oke?."


"Mm baiklah. Tapi aku gak mau kamu punya sekretaris cewek."


"Iya sayang. Aku tau kamu bakal ngomong kayak gitu. Makanya aku nyari sekretaris cowok kok." Senyum Brian mengusap lembut kepala Rennata.


"Ya udah. Kalau gitu kamu langsung ke kantor aja. Nanti pulangnya beliin cemilan buat aku ya?. Aku kangen makan cemilan."


"Oke siap sayang. Nanti aku beliin kamu cemilan yang banyak."


Akhirnya Brian pergi ke kantornya setelah mencium kening, pipi, dan terakhir bibir Rennata. Dan tidak lupa dia juga mencium kedua pipi si kembar yang masih tertidur pulas.


Sesampainya di parkiran kantor, Brian keluar dari mobilnya. Baru saja dia mau berjalan menuju lift, dia mendengar Erick memanggilnya dari arah belakang.


Tentu saja Brian langsung berhenti, dan menoleh ke belakang. Dia melihat Erick yang berjalan pelan ke arahnya.


"Kenapa betah banget main kesini, sih." Judes Brian saat Erick berada di hadapannya.


"Ya elah, dari dulu kan kantormu sudah jadi tempat main aku."


"Terserahlah. Ayo ke ruanganku. Aku ada janji temu sama sekretaris baruku 10 menita lagi." Ajak Brian pada Erick lalu masuk ke dalam lift.


"Apa Rennata juga pulang?."


"Iya, kami semua pulang hari ini."


"Kalau begitu aku akan ikut ke rumahmu hari ini." Semangat Erick.


"Untuk apa?. Aku tidak akan membiarkanmu sampai memeluk istriku."


"Ayolah, Brian. Walau aku adalah sahabat Renna. Aku juga tidak mungkin meluk dia begitu saja. Apalagi dia sudah menjadi milikmu yang juga merupakan sahabatku."


Brian hanya diam lalu berjalan keluar lift saat lift berhenti tepat di lantai dimana ruangannya berada. Berbeda dengan Erick yang selalu tersenyum ramah pada orang-orang yang di lewatinya, Brian hanya terus berjalan tanpa menoleh pada siapapun dan hanya fokus pada jalannya.


"Duduklah dimana pun kau mau. Aku akan duduk di kursiku." Ucap Brian saat dia sudah berada di ruangannya pada Erick.


"Tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya. Apa kali ini sekretarismu cantik seperti Rennata?."


"Jangan banyak omong. Sekretarisku seorang laki-laki."


"Wah, apa karena Rennata melarangmu mencari sekretaris perempuan?."


"Tidak, aku hanya ingin menghargainya."


"Aku mengerti. Renna memang dominan. Dia sudah berhasil menjadi Raja dalam hidupmu. Dan kau sudah takhluk olehnya."


"Ya begitulah. Kau tau sendiri bagaimana dominannya dia." Setuju Brian.


Obrolan mereka terhenti saat ada yang mengetuk pintu ruangan Brian. Brian pun langsung menyuruhnya masuk, karena dia tau itu adalah sekretaris barunya.


Brian langsung menyambut sekretaris barunya itu, lalu setelahnya memberikan dokumen untuk dikerjakan oleh sekretarisnya.


"Baik, pak."


Setelah sekretarisnya pergi, Brian melihat ponselnya yang berisik sejak tadi. Dan dia melihat beberapa notifikasi pembayaran dari black card milik Rennata yang memang terhubung dengan ponselnya.


"Wah, Rennata benar-benar menikmati uang suaminya yang berlimpah." Ucap Erick yang tanpa diketahui Brian sudah berdiri disampingnya sembari mengintip isi ponselnya.


"Astaga. Kenapa kau mengintip ponselku seperti itu?." Kaget Brian.


"Santai aja, gak usah melotot gitu."


"Santai sih santai. Tapi gak usah kaya gitu juga dong. Oh ya, apa kau sudah mengecek pembangunan proyek baru kita?."


"Sudah, dan sepertinya semua akan selesai sesuai target."


"Besok kita kesana. Aku ingin melihat sudah sampai prosesnya."


"Baiklah. Kau jemput aku besok ke rumah."


"Emang aku supirmu?. Kau pergi sendiri dengan mobilmu."


"Lebih seru semobillah. Pokoknya besok aku tunggu di rumah."


Brian hanya menghela nafasnya berat. Kemudian dia memeriksa beberapa dokument yang harus dia periksa dan tanda tangani hari ini.


Sepanjang hari, Erick terus berada di kantor Brian. Hingga tibalah saatnya Brian untuk pulang. Dan tentu saja Erick ikut bersamanya karena memang dia ingin melihat si kembar dan Rennata.


"Aku ikut mobilmu saja." Ucap Erick saat mereka sudah berada di parkiran.


"Bukannya kau bawa mobilmu sendiri. Kau pakai mobilmu saja."


"Aku sudah menyuruh supirku untuk membawa mobilnya pulang."


"Hmm baiklah. Tapi kau yang menyetir." Memberikan kunci mobilnya pada Erick.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil milik Brian.


"Kau jangan duduk di belakang, kau pikir aku sipirmu." Larang Erick pada Brian.


"Baiklah. Aku akan duduk di kursi depan." Pasrah Brian, karena dia sudah lelah untuk berdebat dengan Erick.


Akhirnya mereka berdua pun pulang ke rumah Brian.


Di kediaman tempat tinggal Brian, Rennata baru saja selesai memandikan si kembar. Dia juga sedang bermain dengan mereka yang memang tidak mau tidur itu.


"Apa kalian menunggu Daddy pulang makanya tidak mau tidur?." Tanya Rennata pada kedua bayi kecilnya. Dan kedua bayi itu serentak tertawa menatap Rennata.


Rennata yang mendengar suara mobil yang menandakan Brian sudah pulang pun menggendong si kembar dan memindahkannya ke dalam box mereka.


Lalu setelahnya dia keluar dari kamar si kembar untuk menyambut kedatangan suaminya. Namun sebuah kejutan dia dapatkan saat melihat Erick yang berdiri di samping Brian.


Tentu saja Rennata yang sudah lama tidak bertemu Erick itupun langsung tersenyum lebar dan berjalan kencang ke arah Erick lalu memeluknya.


"Suamimu itu aku lho, sayang." Ucap Brian yang melihat hal itu.


Rennata tersenyum mendengar ucapan Brian lalu melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Brian. Tentu saja dia juga memberikan ciuman di pipi Brian.


"Tentu saja suami aku itu kamu, sayang." Ucap Rennata tersenyum pada Brian.


"Apa si kembar baru selesai mandi?." Tanya Brian yang menyadari bau tubuh Rennata penuh dengan bau khas bayi baru selesai mandi.


"Mereka memang baru selesai mandi."


"Ajak aku bertemu anak kalian, Ren." Pinta Erick yang memang ingin bertemu si kembar.


Brian dan Rennata pun mengajak Erick ke kamar si kembar berada. Seperti dugaan Brian, Erick langsung menunjukkan senyum bahagianya saat melihat si kembar yang sedang menoleh padanya.


Tanpa meminta pendapat Brian dan Rennata, Erick langsung menggendong Rendra yang memang tidak melepaskan pandangannya pada Erick.