
Brian baru saja sampai di bumi. Namun saat dia keluar dari rumahnya, dia melihat Erick yang berdiri di depannya. Tanpa aba-aba, Erick langsung mendorong Brian ke dalam rumah dan memukulnya.
"Kenapa kau memukulku?." Teriak Brian yang mencoba menghadang semua pukulan Erick yang membabi buta.
"Kau memang brengsek!. Apa yang kau lakukan saat kau sudah menikah dengan Renna, hah?!. Apa kau senang bermain-main dengan wanita saat kau sudah punya istri, bahkan istrimu sedang mengandung anakmu." Ucap Erick dengan masih terus memukul Brian.
"Kau tenang dulu, ayo kita bicara baik-baik."
Akhirnya Erick berhenti dan segera duduk di sofa untuk mendengarkan pembelaan dari Brian.
"Aku akui jika aku bersalah pada Renna, tapi aku juga sudah mendapat konsekuensinya dari keluargaku. Dan bahkan aku juga sudah hampir kehilangan nyawaku. Aku juga sudah meminta maaf pada Renna."
"Lalu bagaimana dengan wanita itu?. Apa kau sudah mengakhiri hubungan kalian?."
"Tentu saja sudah. Lalu darimana kau mengetahui hal ini?."
"Aku tidak sengaja melihatmu dengan wanita itu, makanya aku meminta orang-orangku untuk memata-mataimu, dan benar saja kau telah bermain dengan wanita lain di belakang Renna."
"Iya aku salah, sangat salah."
"Ke depannya aku tidak akan tinggal diam jika kau menyakiti Renna lagi. Aku sendiri yang akan membawa Renna pergi dari hidupmu. Walaupun nyawaku taruhannya." Ancam Erick yang masih emosi.
"Aku janji tidak akan mengecewakan dan menyakiti Renna lagi."
"Aku akan pegang ucapanmu."
Setelah suasana mulai dingin, Brian dan Erick pun pergi ke kantor masing-masing.
Brian langsung saja pergi ke kantornya setelah mengobati luka di wajahnya akibat pukulan Erick tadi. Tentu saja dia bisa menyembuhkannya dengan cepat tanpa jejak, karena pukulan Erick yang seorang manusia biasa tidak ada apa-apanya baginya.
Brian yang sudah beberapa hari tidak ke kantor itupun mulai mengecek semua pekerjaan yang telah dia tinggalkan. Sembari mengecek berkas-berkas yang ada, dia ingat bahwa dia belum membuat kamar untuk si kembar di rumahnya.
Dia pun langsung saja menelfon arsitek khusus untuk merancang kamar tidur untuk si kembar. Dia langsung meminta arsitek tersebut untuk datang menemuinya di kantor.
Sembari menunggu arsitek yang telah dia sewa, Brian melihat lihat desain yang akan dia buat untuk kamar si kembar nanti. Saat asyik melihat-lihat, dia mendengar ketukan di pintu ruangannya.
"Masuk." Teriak Brian.
Brian segera berdiri dari duduknya saat orang yang masuk itu adalah arsitek yang telah dia tunggu. Setelah berjabatan tangan, mereka pun langsung saja membicarakan desain yang akan dibuat untuk kamar tersebut.
Brian pun menyerahkan satu kertas berisi gambar kamar tidur yang dia inginkan pada arsitek tersebut.
Setelah hampir satu jam berdiskusi, akhirnya arsitek itu pun menelfon bawahannya untuk segera mulai bekerja.
Setelah menyelesaikan beberapa berkas-berkas yang ada, Brian kembali ke planetnya. Disaat itulah dia melihat adiknya Robert sedang menggendong salah satu dari si kembar. Dan tak jauh darisana, dia juga melihat Mark melakukan hal yang sama.
"Apa kalian bersenang-senang?." Tanya Brian yang sudah berdiri di sebelah Robert.
"Kakak baru pulang, ya?. Tentu saja kami bersenang-senang."
"Baguslah, kalian jaga baik-baik si kembar. Jangan sampe nangis. Awas aja kalau aku dengar salah satu dari mereka menangis." Ancam Brian sedikit menggoda adik-adiknya.
"Tenang aja kak, semua bakalan aman kok sama aku. Aku kan udah berpengalaman." Santai Robert berbangga diri.
"Kakak kamu mana, Mark?." Tanya Brian sembari mencium" si kembar yang memang sedang nyaman di gendong kedua pamannya yang tampan.
"Gak tau kak. Tadi soalnya kita ninggalin di kamar."
"Kalau gitu aku nyari Renna dulu, ya?. Kalian semangat jagain si kembar."
"Siap, kak." Serentak Mark dan Robert.
Brian pun pergi meninggalkan kedua adiknya itu dan berjalan ke kamar untuk menemui Rennata. Namun baru setengah perjalanan, dia di panggil ayahnya yang datang dari arah aula istana.
"Kamu darimana, Brian?." Tanya William ayahnya.
"Apa kamu sudah menyiapkan segala hal untuk pesta nanti malam?."
"Tentu saja, semua sudah siap, Ayah."
"Baguslah."
"Kamu tumbuh sangat cepat ya, Mike. Apa kekuatanmu sudah muncul?." Tanya Brian pada adik bungsunya yang berada dalam gendongan ayahnya.
"Kekuatannya belum muncul."
"Aku kira udah. Oh iya, Ayah lihat Renna?."
"Dia bersama ibumu di taman."
"Kalau begitu aku pamit, Yah. Aku akan menemui Renna dulu."
"Kalau begitu bawalah adikmu ini. Dia rewell sejak tadi." Menyerah Mike pada Brian.
Brian langsung mengambil adiknya itu dari gendongan ayahnya, lalu dia memutar arah menuju taman istana.
Di taman istana, dia melihat istrinya lagi asyik mengobrol bersama ibu dan ibu mertuanya. Tanpa pikir panjang, Brian langsung saja mendekati mereka semua. Dia langsung duduk di samping Renna.
"Hai Mike." Semangat Rennata saat melihat suaminya datang membawa Mike di gendongannya.
"Kenapa Mike ada padamu, Brian?." Tanya Jane.
"Tadi aku bertemu ayah, dan ayah memintaku membawa Mike." Jelas Brian.
Rennata pun meminta Brian menyerahkan Mike padanya. Karena dia sangat ingin menggendong adik iparnya itu. Tentu saja Brian memindahkan Mike pada gendongan Rennata.
"Kamu udah balik daritadi?." Tanya Rennata setelah berhasil menggendong Mike.
"Barusan. Aku juga udah ketemu si kembar tadi."
"Gimana pekerjaan kamu di bumi?." Tanya Jane menatap putranya.
"Aman kok, Ma."
Mereka berempat pun melanjutkan mengobrol. Hingga tak lama kemudian Mark dan Robert bergabung dengan mereka. Seketika Jane dan Rose langsung teralihkan pada cucu-cucu mereka.
Sepanjang hari mereka habiskan dengan mengobrol santai di taman istana. Semua semakin meriah saat satu persatu adik-adik Brian bergabung.
Hingga akhirnya Rennata meminta izin untuk membawa si kembar ke kamar untuk diberi ASI. Karena selain sudah jadwalnya, si kembar juga mulai rewel sejak tadi.
Brian dan Rennata pun pergi ke kamar mereka dengan menggendong si kembar.
"Kita kembali ke bumi 2 hari lagi, ya?." Ucap Brian.
"Baiklah, kamu sudah bicara pada Ayah dan Mama kan?."
"Aku akan membicarakannya nanti setelah si kembar tidur di kamar."
Rennata hanya mengangguk dan tersenyum. Hingga akhirnya mereka sampai di kamar, dan Rennata langsung saja memberikan ASI pada salah satu bayinya. Sedangkan Brian sibuk menimang-nimang yang satunya.
"Kamu cocok juga jadi, daddy." Senyum Rennata memperhatikan Brian yang sibuk menimang-nimang Rendra.
"Tentu saja. Aku akan menjadi daddy yang sangat baik untuk mereka."
"Aku percaya dengan hal itu."
Setelah itu Brian menyerahkan Rendra dan berganti menggendong Naela untuk dibawa ke box bayi. Dia juga sangat senang bisa memiliki keluarga yang dia impikan selama ini.