MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 31



Hari demi hari berlalu begitu cepat, saat ini usia kandungan Rennata sudah masuk 6 bulan. Walau begitu dia tetap pergi bekerja karena bosan di rumah sendirian. Padahal Brian sudah melarangnya bekerja mengingat perut istrinya sudah membesar.


Siang itu Brian meninggalkan ruangannya untuk pergi rapat mengenai proyek baru yang sedang dia kerjakan. Namun kali ini Rennata tidak ikut karena Brian melihat istrinya itu sudah terlalu lelah. Dan dia juga meminta Rennata tidur di ruangannya. Memang sejak istrinya itu hamil, Brian merenovasi ruangannya dan membuat sebuah kamar disana.


Sampai di tempat tujuan, Brian tidak sengaja menabrak seorang wanita. Dia segera menolong wanita tersebut berdiri. Saat melihat wajah wanita tersebut, dia sangat kaget karena wanita itu sangat mirip dengan kekasih masa lalunya.


"Kamu sudah bereinkarnasi ternyata." Lirih Brian.


"Maaf pak, bapak bilang apa?." Heran wanita tersebut.


"Ahh tidak, kamu tidak apa-apa?."


"Aku baik-baik saja. Maaf sudah menabrak bapak."


"Tidak apa-apa." Senyum Brian.


Wanita itu berlalu pergi dan Brian juga kembali melanjutkan perjalanannya. Dia merasa senang bisa melihat wanita itu bereinkarnasi lagi. Namun dia juga tidak bisa mendekatinya lagi karena bagaimana pun juga dia sudah memiliki Rennata dan sebentar lagi akan memiliki anak.


Saat masuk ke dalam ruangan untuk mengadakan rapat, dia kembali tertegun saat melihat wanita yang ditabraknya tadi masuk ke dalam ruangan tak lama setelah dia masuk.


"Maaf saya terlambat." Ucapnya duduk di salah satu kursi kosong.


"Ini sekretaris saya, namanya Jessy."


Brian hanya mengangguk dan dia juga tidak berani menatap Jessy. Karena dia masih merasa berdebar ketika melihat wanita itu.


Sepanjang rapat, Brian tetap tidak menatap pada Jessy. Bahkan saat setelah rapat selesai dan semua orang bersalaman, Brian tidak bersalaman dengan Jessy.


"Kalau begitu kami pamit pergi." Ucap Brian meninggalkan tempat itu.


Dia bergegas keluar darisana dan berjalan menuju parkiran.


"Ayo kita segera kembali ke kantor." Perintah Brian setelah dia berada di dalam mobil.


"Baik pak."


Sepanjang perjalanan menuju kantor, entah kenapa dia malah teringat masa-masa saat bersama kekasih masa lalunya. Kalau saja dia tidak bisa menahan perasaannya, mungkin dari awal bertemu reinkarnasi dari kekasih masa lalunya itu, dia sudah memeluknya. Dan lagi dia masih ingat jika dia sudah punya Rennata.


Sesampainya di kantor, Brian langsung saja ke ruangannya. Saat dia sampai di depan meja sekretaris, dia tidak melihat Rennata.


Saat masuk ke dalam ruangannya, dia melihat istrinya itu sedang tertidur pulas di kamar yang ada disana. Tanpa pikir panjang dia mendekati Rennata dan mengelus kepala istrinya itu dengan lembut.


"Brian." Lirih Rennata terbangun.


"Iya sayang, ini aku. Kenapa?."


"Perut aku sakit banget."


"Kita ke rumah sakit sekarang ya?." Khawatir Brian menggendong tubuh Rennata.


Brian menaiki lift sembari menggendong Rennata yang tengah kesakitan itu. Semua orang yang melihat hal itu hanya bisa bertanya satu sama lain dan melihat hal itu. Ingin rasanya dia menggunakan kekuatannya untuk segera sampai di rumah sakit, namun hal itu tidak mungkin dia lakukan karena banyaknya orang disekitarnya.


Akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan Rennata dilarikan ke UGD. Brian tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya. Dia hanya bisa mondar mandir di depan pintu UGD. Hingga tak lama datanglah kedua orangtuanya yang langsung datang saat Brian memberikan kabar itu.


"Bagaimana keadaan Rennata, Brian?." Tanya Jane yang juga terlihat khawatir.


"Renna masih di dalam, Ma."


"Sebenarnya bagaimana kejadiannya?."


"Pas Brian datang ke kantor tadi, Renna tiba-tiba bilang perutnya sakit dan dia sangat pucat."


Beberapa saat kemudian keluarlah dokter dan menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?".


"Begini, kami sudah memeriksanya tapi tidak ada kesalahan apapun pada ibu maupun bayinya. Tapi pasien masih merasakan sakit."


"Tapi Yah."


"Kamu tenang dulu, kita bawa Rennata pulang sekarang."


Akhirnya Brian hanya bisa mengikuti perintah ayahnya. Saat Rennata keluar dari UGD, Brian kembali menggendongnya dan membawanya ke dalam mobil.


"Brian, sakit." Tangis Rennata memegang erat tangan Brian.


"Iya sayang, kamu sabar dulu ya?."


"Kita bawa dia ke istana."


Brian hanya mengangguk setuju. Dengan sekejap mata mereka sampai di istana. Rennata langsung dibawa ke rumah sakit istana untuk diperiksa. Karen Raja berfikir cuma di planetnya lah, sakit Rennata bisa terdeteksi.


Hampir satu jam menunggu, akhirnya dokter kerajaan yang memeriksa keadaan Rennata keluar.


"Bagaimana?."


"Setelah diperiksa ternyata itu ulah bayinya, sepertinya dia sudah memiliki kekuatan."


Semua yang mendengar hal itu langsung kaget, karena ini pertama kalinya bayi yang bahkan masih dalam kandungan sudah memiliki kekuatan.


"Sepertinya dia akan jadi calon putra mahkota berikutnya." Senyum Jane.


"Tidak Ma. Aku sama Renna sudah sepakat untuk memberikan keturunan kami kehidupan layaknya manusia biasa, jadi kemungkinan anak kami tidak akan jadi putra mahkota."


"Kenapa?. Bukankah sangat bagus jika anak kalian jadi putra mahkota?."


"Tidak, Yah."


"Baiklah, Ayah tidak akan memaksakan apapun pada kalian."


"Jadi sekarang bagaimana keadaan Putri Renna?."


"Putri Renna sudah kembali stabil, Pangeran. Sekarang kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap keluarga kerajaan."


"Baiklah, berikan yang terbaik untuk Putri Renna ya?."


"Baik Raja."


Rennata pun dipindahkan ke kamar inap khusus anggota kerajaan. Brian memperhatikan wajah pucat istrinya sembari duduk di samping ranjang.


"Brian, kamu udah cek, anak kamu cowok apa cewek?."


"Belum, Ma. Nanti aja."


"Mama rasa anak kalian kembar. Soalnya di kehamilan yang baru 6 bulan ini, perutnya Renna terlihat sudah sangat besar."


"Apapun itu yang penting Renna sama bayinya sehat, ma."


"Mmm, aku dimana?." Ucap Rennata yang baru saja sadar.


"Sayang, kamu sekarang di rumah sakit."


"Anak kita gak kenapa-napa kan?." Khawatir Rennata.


"Semua baik-baik saja."


"Kamu dirawat disini dulu ya, Na." Pinta Jane.


"Aku mau pulang aja, Ma. Aku gak suka tinggal di rumah sakit."


"Ya udah, kita pulang sekarang ya."


Semua tidak bisa berkata-kata lagi, lalu setuju untuk membawa Rennata pulang setelah membiarkan Rennata tidur sebentar. Dan mereka pun sepakat untuk membawa salah satu dokter pribadi kerajaan ke bumi untuk menjaga Rennata selama Rennata hamil.