MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 42



Sudah setahun Brian terbaring kritis di istana. William yang sudah tau siapa dalang dari semua itu meminta seluruh anggota keluarganya berkumpul karena dia harus menyampaikan hal itu.


"Aku sudah tau siapa yang telah melakukan semua ini, dia adalah pangeran pertama yang sebenarnya."


"Siapa dia ayah?." Heran Micko yang baru pertama kali mendengar nama itu.


"Dia adalah kakak kalian."


Mendengar ucapan sang ayah lantas membuat semua orang saling berpandangan karena tidak mengerti dengan perkataan sang ayah.


"Bagaimana mungkin?, lalu kenapa dia tidak tinggal di istana?."


"Sebenarnya ayah membuangnya sewaktu dia masih bayi, ayah harus melakukannya karena ada ramalan bahwa jika dia dibesarkan di istana dia akan menghancurkan kerajaan. Tapi sepertinya dia berhasil selamat entah kenapa."


"Kenapa kau tega melakukannya pada putra kita?. Dan kenapa kau berbohong jika putra kita itu telah meninggal ketika dilahirkan." Tangis Jane yang tidak percaya dengan perlakuan suaminya itu.


"Aku terpaksa melakukannya demi kerajaan."


"Tapi kau lihat sendiri, dia sekarang tumbuh menjadi orang yang jahat dan dia bahkan tidak segan-segan membunuh saudaranya sendiri. Putraku yang malang."


Para pengeran yang lain pun mendekati ibu mereka dan mencoba menenangkannya.


"Tujuannya sudah pasti balas dendam pada ayah, jadi biar ayah yang mengurusnya dan kamu Richard, bersiaplah menggantikan ayah jika ayah tewas."


Semua yang mendengar ucapan William merasa takut sekaligus khawatir jika sesuatu yang buruk menimpa ayah mereka.


Karena sebelumnya William sudah mengetahui keberadaan putranya yang menyebabkan semua ini, dia pun dengan dikawal prajurit segera pergi ke tempat itu.


"Kami akan mengikuti ayah diam-diam." Ucap Leo setelah dia dan Liam yang berinisiatif ikut membantu sang ayah.


Akhirnya 6 orang mengikuti William secara diam-diam. Sedangkan dikamar dimana Brian dirawat, Rennata terus menemani suaminya itu.


"Kamu bangun dong, Brian. Apa kamu gak kangen sama Naela dan Rendra?." Ucap Rennata menggenggam tangan Brian.


Awalnya William berencana untuk berdamai dengan putranya yang dia buang itu, karena bagaimana pun dia tidak ingin menyakitinya. Namun tentu saja rencananya itu gagal hingga membuatnya terpaksa bertempur dengan anaknya sendiri.


William langsung terpojok karena kekuatan yang dimiliki sang putra lebih tinggi darinya dan akhirnya dengan bantuan anaknya yang lain, mereka berhasil melumpuhkannya.


"Aku sangat terharu melihat kekompakan kalian."


"Ayah minta maaf sudah membuangmu, dan ayah ingin kamu kembali bersama kami." Ucap William.


"Akhirnya kau sadar siapa aku, setelah kau membuangku seperti itu, kau seenaknya memintaku kembali?. Aku tidak sudi kembali menjadi bagian dari kalian."


"Berhentilah keras kepala, dan maafkan keegoisan ayah, Reynold."


"Jangan panggil namaku dengan mulut menjijikkanmu itu."


"Kau..." Emosi Leo yang sudah tidak tahan melihat semua itu, namun dia segera dihentikan oleh sang ayah.


William pun memerintahkan seluruh prajuritnya yang tersisa untuk membawa Reynold ke istana. Dia akan mengurung sang putra di istana.


Saat mereka sampai di istana, Jane yang saat itu tengah berada di taman bersama Rennata, segera berlari ke gerbang istana karena mendengar suaminya telah kembali. Langkahnya terhenti saat dia melihat dua orang prajurit yang membawa seorang anak laki-laki yang tentu saja bisa dia simpulkan adalah anaknya yang dibuang dulu.


Jane tidak bisa menahan airmatanya lalu dia terduduk lemas sembari menangis karena melihat anak yang difikirnya telah tiada selama ini masih hidup.


Para dayang pun segera membantu Jane berdiri dan membawanya ke dekat sang putra. Jane lantas langsung memeluknya sembari menangis, namun Reynold tentu saja tidak merespon apa-apa.


"Maafkan mama nak, kamu pasti menderita selama ini."


"Lepaskan aku, jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu." Marah Reynold yang sontak membuat Jane kaget.


"Kamu jangan bicara seperti itu pada ibumu, dia tidak bersalah dan tidak tau apa-apa." Jelas William.


"Aku tidak peduli, kalian bukan siapa-siapa bagiku."


Reynold pun dibawa ke sebuah kamar yang dijaga ketat oleh pengawal agar dia tidak kabur, seluruh kekuatannya juga disegel oleh William agar dia tidak bisa memberontak.


*******


Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu Rennata pun tiba, dimana kondisi Brian mulai membaik dan walau pun belum sadar sepenuhnya, tapi Brian sudah bisa membuka matanya.


Keesokan harinya, Rennata meminta para dayang istana untuk membawa Rendra dan Naela bermain ke taman istana, karena kedua anaknya itu sudah heboh minta bermain ke taman sejak bangun tadi.


Rendra dan Naela asyik bermain kejar-kejaran, dan tak lama mereka dihampiri oleh Mike yang terpaut tidak jauh dari mereka.


Brian yang akhrinya sadar sepenuhnya itu melihat istrinya tengah sibuk dengan laptopnya.


"Sayang." Panggil Brian lirih.


Rennata yang mendengar panggilan suaminya itu segera bergegas mendekat ke ranjang suaminya.


"Sayang, akhirnya kamu bisa ngomong juga." Haru Rennata memeluk tubuh Brian.


Brian hanya tersenyum lalu kemudian Rennata berjalan keluar kamar dan meminta pengawal yang berjaga untuk memanggil dokter agar Brian dapat diperiksa.


Kabar Brian yang sudah sadar sepenuhnya itu dengan cepat tersebar diseluruh istana, dan semua yang mendengar hal itu merasa sangat bersyukur. Raja dan Ratu pun segera pergi ke kamar dimana Brian berada diikuti seluruh pangeran yang kebetulan sedang berada di Istana.


"Pangeran Brian sudah kembali normal, dan dia akan sembuh total dalam waktu dekat." Ucap dokter yang selesai memeriksa kondisi Brian.


Semua yang mendengar hal itu lantas merasa gembira, karena akhirnya Brian bisa sembuh.


"Naela bagaimana?." Tanya Brian yang teringat akan putrinya.


"Kamu berhasil menyelematkannya, Brian. Dan ini sudah setahun berlalu sejak kejadian itu." Jelas William yang memang masih berada disana.


"Setahun?, jadi aku koma selama setahun?." Kaget Brian yang tidak menyangka bahwa dia telah tidur selama itu.


"Iya, kau sudah koma selama setahun kak." Jawab Robert.


"Lalu bagaimana dengan orang yang menculik Naela waktu itu?."


"Sebenarnya kami membawanya ke istana."


"Aku ingin dia dihukum seberat-beratnya." Marah Brian.


Semua lantas terdiam karena mereka tidak mungkin melakukan hal itu setelah tau bahwa dalang dari semua kejadian selama ini adalah saudara mereka sendiri.


"Ayah tidak mungkin melakukannya Brian."


"Kenapa?. Dia pantas mendapatkannya."


"Karena dia adalah kakakmu, Brian." Jawab Jane dengan wajah yang berubah iba.


"Maksudnya?, bagaimana mungkin dia adalah kakakku?."


Brian pun mendengarkan penjelasan sang ayah terkait bagaimana bisa laki-laki yang telah menculik putrinya itu adalah saudaranya sendiri. Awalnya dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar, namun mengingat dia juga pernah di usir dari kerajaan, dia pun bisa mengerti.


"Aku ingin memeluk Rendra dan Naela." Pinta Brian pada Rennata setelah semua orang meninggalkan kamar tersebut.


"Mereka sedang main ditaman."


"Bisakah kamu membawa mereka kesini?." Pinta Brian yang sudah sangat rindu pada kedua anaknya itu.


Rennata tersenyum lalu mengangguk dan setelahnya dia meminta pengawal diluar untuk membawa Rendra dan Naela ke kamar itu. Tapi seperti dugaan Rennata, kedua anaknya itu menolak untuk dibawa.


"Sepertinya mereka sedang asyik bermain dengan Mike, jadi biarkan mereka bermain sebentar lagi." Ucap Riana.


"Anak-anak nakal itu, bukannya langsung menemui daddynya yang baru sadar, malah lebih memilih bermain." Cemberut Brian yang membuat Rennata tertawa.


"Namanya juga anak-anak sayang." Ucap Riana tersenyum.


"Kalau begitu kamu saja sebagai gantinya sayang." Senyum Brian merentangkan tangannya bermaksud memeluk Rennata.


Dengan senang hati Rennata masuk ke dalam pelukan Brian. Dan mereka pun saling melepas rindu.