MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 26



Hari ini adalah hari diadakannya acara pernikahan di istana Ehner. Semua tamu undangan telah berkumpul sejak tadi. Semua menunggu kedatangan kedua pengantin. Apalagi beberapa tamu mengharapkan untuk melihat sang pengantin wanita yang seorang manusia.


Tidak lama kemudian, kedua pengantin masuk ke aula pernikahan. Semua orang langsung beralih menoleh ke arah mereka. Semua sangat takjub melihat kecantikan menantu pertama Raja dan Ratu tersebut.


Brian dan Rennata naik ke atas podium lalu mengucapkan penyambutan atas kehadiran para tamu. Raja juga ikut menyampaikan segala ucapan terima kasihnya.


Karena kondisi Rennata yang sedang hamil, dia langsung di suruh duduk di kursi keluarga kerajaan untuk beristirahat.


Saat semua tamu menikmati pesta tersebut, Rennata tersentak kaget melihat orang-orang yang datang mendekat padanya. Dia berdiri lalu berlari sembari mengangkat gaunnya.


Brian yang panik melihat Rennata segera menyusul istrinya itu.


"Ayah, Ibu." Senang Rennata memeluk kedua orangtuanya yang ternyata hadir disana.


Ya, Rennata berlari ke arah kedua orang tuanya. Dia sangat senang karena sebelumnya dia sudah di beritahu Brian jika dia tidak bisa membawa kedua orang tua ke istana. Tapi hari ini dia melihat kedua orang tuanya.


"Kamu itu bukan anak kecil lagi, jangan berlari seperti itu." Senyum ayah Rennata mengelus rambut putrinya.


"Kenapa Ayah dan Ibu bisa disini?." Menghapus airmatanya dan melepaskan pelukannya.


"Kemarin Brian datang meminta kami datang. Dan tadi pagi kami di jemput oleh Brian dan saudara-saudaranya." Jelas ibu Rennata.


Rennata menatap Brian yang berdiri di sampingnya. Lalu dia langsung memeluk Brian.


"Terima kasih." Ucap Rennata dalam pelukan Brian.


Brian hanya tersenyum lalu membalas pelukan Rennata.


"Ibu dan Ayah akan menemui mertuamu dulu, kalian duduklah di tempat kalian."


"Baik Ayah."


Setelah kedua orang tuanya pergi, Rennata menatap Brian sekali lagi dan tersenyum. Terlihat rona kegembiraan di wajahnya.


"Kita makan sekarang ya?." Ajak Brian memegang pipi Rennata.


"Aku maunya di suapin." Manja Rennata.


Brian tersenyum melihat tingkah istrinya itu, ingin rasanya dia menerkam istrinya itu. Tapi dia harus menahannya.


Akhirnya Rennata makan di suapi oleh Brian. Karena kondisinya yang sedang hamil, entah kenapa dia tidak terlalu bernafsu untuk makan. Dia hanya makan beberapa sendok, lalu berhenti.


"Aku gak mau makan lagi. Rasanya mual." Tolak Rennata.


"Ya sudah. Cukup aja kalau gitu. Aku akan meminta pelayan untuk mengupas buah untukmu."


Rennata hanya mengangguk. Setelahnya Brian berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati pelayan untuk meminta mengupas buah.


"Kak." Panggil seseorang mendekati Brian.


"Angel, iya ada apa?."


"Apa kak Renna lagi sakit?."


"Enggak. Emang kenapa?."


"Soalnya aku perhatiin dari tadi, kak Renna kayak pucat gitu. Dia juga lebih banyak duduk."


"Rennata baik-baik saja kok. Pergilah menemuinya, siapa tau dia juga sedang bosan."


Angel terlihat sangat senang mendengar ucapan Brian. Dia segera mengangguk dan meninggalkan Brian untuk menemui Rennata.


Rennata yang memang sangat bosan itu sangat senang ketika melihat Angel berjalan mendekatinya. Dia segera berdiri untuk menyambut kedatangan teman barunya itu.


"Angel, kau kenapa baru datang sekarang?." Memeluk Angel.


"Hehehe, tadi aku harus menemani orang tuaku menemui beberapa kenalan, kak."


"Jadi begitu."


"Kakak kenapa gak semangat?. Kakak gak lagi sakit kan?."


Tidak lama, datanglah Robert bersama Micko mendekati mereka.


"Kak, selamat atas pernikahannya." Ucap Robert.


"Terima kasih. Apa kamu gak ada jadwal bersama grupmu, Bert?."


"Aku meminta manager untuk mengosongkan jadwal hari ini, kak."


"Jadi kau sudah menjadi idola di bumi, Bert?." Antusias Angel yang memang seumuran dengan Robert.


"Tentu saja. Semua orang menyukaiku. " Bangga Robert.


"Aku sangat iri pada kakak dan kak Brian." Sahut Micko yang daritadi hanya mendengarkan.


"Untuk apa iri pada kakakmu, Micko. Kamu itu kan juga bisa seperti kakakmu. Bahkan kamu yang paling berbakat dari semuanya, bukankah sekarang kamu sudah menjadi seorang CEO juga disini." Ucap Rennata.


"Tapi kan aku juga mau dibumi."


"Kamu disini saja, jangan ikut-ikutan ke bumi." Larang Brian yang datang dan mendengar ucapan Micko.


"Kenapa kak?."


"Karena lebih baik disini untukmu."


Micko hanya cemberut mendengar ucapan Brian. Dan Rennata hanya tersenyum melihat tingkah adik iparnya itu.


Acara berlangsung dengan lancar. Karena kondisi Rennata yang sedang hamil itu, dia lebih dulu meninggalkan acara dan kembali ke kamarnya bersama kedua orangtuanya, karena Brian akan berada di pesta sampai acara selesai.


Sesampainya di kamar, Rennata duduk di kursi bersama kedua orangtuanya.


"Apa kamu sakit?." Khawatir ayahnya karena melihat Rennata yang sedikit pucat.


Memang kedua orang tua Rennata belum diberi tahu bahwa Rennata sedang hamil. Rennata hanya tersenyum mendengar pertanyaan ayahnya.


"Sebenarnya aku sedang hamil, Yah, Bu." Senyum Rennata memberi tahu kabar gembira itu.


Kedua orang tua Rennata sangat senang mendengar kabar tersebut. Tanpa sadar airmata mereka menetes karena saking gembiranya.


"Kenapa kalian malah menangis?." Senyum Rennata yang juga ikut menangis.


"Kami menangis bahagia karena putri tercinta kami akan jadi seorang ibu."


Mereka bertiga pun kembali berpelukan. Karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat putrinya, kedua orangtua Rennata keluar dari kamar dan kembali ke aula.


Rennata mengganti gaunnya dan beranjak ke ranjang untuk tidur. Sebelum itu dia mengelus perutnya lembut lalu memejamkan matanya. Dia sangat penasaran apa akan melahirkan seorang putra atau putri.


Sedangkan di aula, Brian sibuk mengobrol dengan tamu-tamu penting kerajaan. Apalagi dengan Raja dan Ratu kerajaan lain. Dia yang memang sudah lama tidak ada di istana itu sedang mencoba membuat image baik bagi dirinya.


🏵🏵🏵🏵🏵


Selesai acara, Brian pergi dari aula dan berjalan menuju kamarnya. Dia juga sudah meminta pelayan untuk mengantar kedua orang tua Rennata ke kamar yang telah di siapkan.


Di dalam kamar, dia melihat istrinya sedang tertidur pulas. Dengan hati-hati dia mendekati istrinya itu lalu mencium keningnya. Karena merasa gerah, dia beranjak dari ranjang setelah membenarkan selimut istrinya, lalu dia berjalan ke kamar mandi.


Brian membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Setelahnya dia memakai handuknya dan pergi ke kamar ganti untuk mengambil piyamanya.


Setelah memakai piyamanya, Brian berjalan menuju ranjang dan naik ke atas ranjang dengan hati-hati agar Rennata tidak terbangun.


Dia tidur di sebelah Rennata dan memejamkan matanya. Baru saja memejamkan matanya, dia merasakan pelukan di tubuhnya.


"Kamu kenapa bangun?." Tanya Brian melihat Rennata memeluknya sambil menatapnya.


"Aku sudah bangun sejak kamu pergi ke kamar mandi."


"Ya sudah, sekarang ayo tidur lagi."


Rennata hanya mengangguk dan lebih mendekat ke arah Brian. Brian memiringkan tubuhnya ke arah Rennata, lalu memeluk tubuh Rennata. Mereka sama-sama terlelap dalam pelukan satu sama lain.