
Matahari pagi mulai menyelinap dari sela-sela gorden kamar tempat Rennata berada. Dengan dalam keadaan pusing akibat terlalu banyak minum, Rennata bangun dari posisi tidurnya. Dia merasakan dingin pagi yang menusuk tulangnya ditambah AC kamar yang menyala.
Rennata sangat terkejut saat menyadari dirinya tidak menggunakan sehelai pakaian pun pada tubuhnya. Dengan meraih selimut yang berada di pinggangnya, Rennata mencoba menutupi dadanya. Dari arah kamar mandi, dia mendengar seseorang yang tengah mandi.
"Apa yang terjadi?.. Siapa yang berbuat keji padaku semalam?." Bingung Rennata mulai terisak memikirkan semua yang akan terjadi pada dirinya. Bagaimana jika dia hamil dan harus merawat anaknya sendirian karena laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab.
Sembari memikirkan itu, Rennata terkejut melihat seorang pria keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk di pinggangnya.
"Ahh.. Ternyata kau sudah bangun.. Aku sudah selesai mandi, pergilah bersihkan dirimu.. Dan waahhh,, kau sangat hebat semalam." Santai laki-laki itu menatap Rennata. Dan yang paling membuat Rennata kaget adalah, ternyata laki-laki itu adalah Brian bossnya.
"Brian!!!.. Kenapa kau bisa disini?.. Dan apa yang sudah kau lakukan padaku?." Teriak Rennata spontan.
"Kau tau sendiri, semalam kita pergi ke surga, aku tidak menyangka kau sangat bergairah sekali.. Apa kau mau kesana lagi dalam keadaan sepenuhnya sadar seperti saat ini?." Goda Brian tersenyum.
"Kau telah mengambil kesucianku, kenapa kau lakukan itu?.. Dan kau bersikap sangat tenang, yah mungkin karena ini hal yang biasa buatmu."
"Ingatlah apa yang terjadi semalam.. Apa kau tidak ingat apa yang kau lakukan padaku?.. Aku hanyalah korban.. Korban."
Rennata terdiam dan mencoba mengingat semuanya yang terjadi semalam. Samar-samar dia mengingat dia telah merayu Brian dan mereka berhubungan badan.
"Melihat wajahmu yang memerah, sepertinya kau sudah mengingat semuanya." Ucap Brian yang Rennata sadari sudah berada di depannya.
Wajah mereka berhadapan, sangat dekat.. dekat.. dan semakin dekat. Dan saat wajah Brian semakin dekat dengan wajah Rennata, spontan Rennata mendorong tubuh Brian.
"Tolong tinggalkan aku sendiri!."
Melihat Rennata yang terlihat shock, Brian terdiam dan berjalan keluar kamar. Brian berjalan turun dan pergi ke dapur. Dengan santai, dia menyiapkan sarapan untuknya dan Rennata.
Setelah selesai menyajikan semua masakannya diatas meja, Brian duduk disalah satu kursi sembari mencek ponselnya.
Beberapa menit setelah itu, Rennata turun dari lantai 2, namun tidak seperti yang diharapkan Brian. Gadis itu hanya terus berjalan kearah pintu utama tanpa menoleh kearah meja makan.
"Kau mau kemana?.. Apa kau tidak melihat aku sudah menunggumu dimeja makan?." Ucap Brian memegang tangan Rennata.
"Maaf pak.. Biarkan saya pulang dan izinkan saya cuti sementara waktu.. Ahh.. jika tidak boleh cuti, saya siap untuk diberhentikan."
Tampak linangan airmata dipelupuk mata Rennata. Brian yang melihat itu tiba-tiba merasakan sakit didalam hatinya dan spontan memeluk Rennata.
"Maaf, aku tidak bisa menahan nafsuku.. Kau tidak akan aku berhentikan. Dan kembalilah bekerja kapanpun kau mau."
"Apa gajiku akan dipotong?." Tanya Rennata menatap Brian dengan wajah sembab. Masih sempat-sempatnya dia memikirkan gajinya disaat keadaan ini.
"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan memberhentikanmu dan memotong gajimu." Senyum Brian membelai rambut Rennata. Entah kenapa melihat wajah Brian membuat hati Rennata tenang.
'Ingat Ren.. Dia itu bossmu, dan jangan pernah kau jatuh kedalam akal busuknya.' Ucap Rennata dalam hatinya.
Brian mengantar Rennata keluar dan meminta sopir pribadinya untuk mengantar Rennata pulang.
Saat kembali kedalam rumah, Brian menoleh kemeja makan dan teringat bahwa dia sudah memasak banyak. Brian menghela nafasnya dan berjalan kemeja makan untuk memakan masakan yang telah dibuatnya.
🏵🏵🏵🏵🏵🏵
"Sialan!!!.. Berani banget Brian bawa Rennata kerumahnya, dan lagi apa kau bilang?... Rennata keluar darisana di pagi hari?!!" Emosi Erick menendang apapun yang ada dihadapannya.
"Sekarang pergilah.. Dan cari tau apa saja yang dilakukan Brian itu pada gadisku."
"Baik tuan."
Erick menghentikan mobilnya didepan sebuah apartemen. Dia memakai kacamatanya dan turun dari mobil. Dia masuk kesana dan berjalan kearah tangga.
Sambil menyusuri tangga, seperti biasa banyak gadis-gadis yang meliriknya malu-malu.Didepan sebuah pintu apartemen, Erick mengetuk pintu. Tidak seperti biasanya, tidak ada yang membuka pintu tersebut.
"Ren.. Apa kau didalam?." Panggil Erick namun sudah beberapa menit tidak ada sahutan dari dalam.
Sedangkan disebuah desa yang lumayan jauh dari pusat kota. Rennata sedang mengurung dirinya didalam kamar. Sepulang dari rumah Brian pagi tadi, Rennata meminta sopir pribadi Brian untuk menurunkannya didepan sebuah halte bus. Rennata ingin kembali kerumahnya didesa dan tinggal untuk sementara dirumah orangtuanya. Dia hanya ingin menenangkan pikirannya.
Dirumahnya, Rennata langsung memeluk ibunya dan menangis.
"Kenapa?.. Apa kau diberhentikan?.. Sudahlah tidak apa-apa.. Berhentilah menangis seperti anak kecil dan istirahatlah dikamarmu."
Rennata melepas pelukannya dan mengangguk. Dengan lesu dia berjalan kekamarnya yang ada dilantai dua.
Hari itu dilalui Rennata hanya dengan mengurung dirinya didalam kamar. Hingga dia mendengar panggilan ibunya dariluar pintu kamar. Walau itu adalah panggilan kesekian kalinya dari ibunya sejak tadi. Dan dia lihat jam sudah menunjukkan jam 5 sore.
"Rennata, apa kau tertidur sangat pulas?.. Bangunlah.. Dari pagi kau belum memakan apapun.. Ibu sudah menyiapkan masakan kesukaanmu."
"Aku akan kebawah setelah mandi sebentar ibu." Sahut Rennata lesu.
Sebenarnya dia sangat enggan untuk keluar dari kamarnya. Namun dia tidak ingin mengecewakan ibunya yang sudah susah payah membuat masakan untuknya.
"Baiklah, ibu akan menunggumu dimeja makan"
Rennata keluar dari kamarnya setelah mandi dan mengganti pakaiannya. Dimeja makan terlihat kedua orangtuanya dan adik laki-lakinya yang sedang menunggunya.
"Apa kau sudah menunggu kakak dalam waktu lama, Mark?." Tanya Rennata mengacak rambut adik laki-lakinya dan langsung ditepis oleh adiknya itu.
"Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil, aku sudah berada disekolah menengah sekarang."
"Sampai kapanpun bagiku kau tetap adik kecilku yang lucu." Goda Rennata menarik pipi Mark.
"Berhenti menggoda adikmu Ren, dan ayo kita makan."
Saat hendak memakan sarapannya, dariluar Rennata mendengar suara mobil berhenti.
"Aku akan melihat siapa yang datang, mungkin itu salah satu temanku." Ucap Mark berdiri dari duduknya.
"Sejak kapan kau punya teman yang membawa mobil.. Ya sudahlah.. Sana pergilah temui tamumu." Timpal Rennata.
Mark hanya memandang sinis kakaknya dan berjalan ke pintu utama rumah mereka. Saat dia membuka pintu, dia melihat laki-laki yang turun dari mobil dan berjalan kearahnya.
,
,
,
To Be Continued
*********
Story by Ferlind
Selesai baca divote sama komentarnya ya all.. biar author semangat lanjutinnya 😊☺