
Setiap harinya, Rennata selalu berada disisi Brian, karena dia memang sekretaris pribadi Brian. Bahkan sampai saat ini dia tidak menyangka bahwa menjadi sekretaris Brian sesulit ini. Brian yang menjadi bossnya itupun juga tidak peduli soal waktu, baik itu pagi atau malam bahkan subuh dia terus menyuruh berbagai hal pada Rennata.
"Malam nanti temani aku menemui seorang klien."
"Tapi, apakah aku harus ikut?."
"Tentu saja. Kau kan sekretarisku. Apa kau berani membantah?. Kau sudah siap gajimu berkurang?." Kesal Brian menatap tajam pada Rennata.
'Harusnya dia senang bisa pergi dengan pria tampan sepertiku, bukannya membantah. Atau jangan-jangan ketampananku sudah memudar?.' Batin Brian.
Terlihat Rennata menggelengkan kepalanya, tidak menyetujui untuk mengurangi gajinya. Mana mungkin dia mau gajinya dikurangi hanya karena tidak menuruti keinginan bossnya itu. Mending jika gajinya hanya dipotong sedikit , ini malah akan dipotong 50%.
Sebenarnya malam ini dia sudah berjanji pergi bersama Erick. Dan dia sudah merencanakan untuk menyatakan perasaannya pada Erick malam ini. Tapi semuanya terpaksa diundur karena boss sialan ini.
'Karena Brian sialan ini, aku harus rela mengundurkan rencanaku bersama Erick malam ini'.' Gerutu Rennata dalam hati sambil menatap tajam pada Brian.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?."
"Huh, siapa bilang aku menatapmu?. Aku tidak menatapmu." Ketus Rennata berpaling.
"Kalau kau tidak menatapku, kau menatap siapa?. Hantu?. Dan sejak kapan kau berani bicara seperti itu pada bossmu ini?."
"Baiklah. Maafkan kelancangan saya, presdir Balder. Permisi." Cuek Rennata sembari meninggalkan ruangan. Dia sungguh benar-benar kesal dengan bossnya itu. Jika Brian bukan bossnya, sudah daritadi dia akan mencaci makinya.
Brian yang merasa kesal dengan sikap Rennata hanya bisa menahan emosinya. Jika dia nekat mengikuti emosinya, dia bisa menjamin perusahaannya ini akan berubah menjadi abu.
"Tenang, Brian. Tenang, jangan sampai emosimu mengambil alih dirimu." Ucap Brian menarik nafasnya pelan untuk mengontrol emosinya.
Di mejanya, Rennata menelfon Erick untuk mengundurkan rencana mereka malam ini beserta alasannya. Untung saja Erick tidak marah dan memaafkan pembatalan rencananya itu.
Setelah menutup telfonnya, Rennata menatap jam dan melihat jam sudah menunjukkan jam makan siang. Karena dia baru diperusahaan ini, dia belum memiliki teman untuk pergi bersama makan siang di kantin kantor yang berada disebelah lobby.
Saat menunggu pesanannya, tanpa sengaja Rennata mendengar beberapa karyawan yang membicarakannya dimeja tak jauh dari dia duduk.
"Bukankah dia sekretaris barunya Presdir?.. Aku dengar dia juga sangat dekat dengan presdir Erick yang tampan itu."
"Iya, sepertinya dia sengaja mendekati kedua Presdir tampan itu untuk keuntungannya. Dia cantik sih, tapi amat disayangkan betapa murahannya dia kalau rumor itu benar."
Sebenarnya Rennata sangat risih mendengar semua obrolan yang sangat menyakitkannya itu. Sengaja mendekati Erick dan Brian?, bahkan dia tidak berharap bisa dekat melebihi seorang sekretaris dengan Brian.
Tapi kalau dengan Erick lain lagi ceritanya, dia dan Erick adalah teman masa kecil, dan mereka berdua memang sangat dekat. Bahkan bagi kedua orang tua Erick, Rennata sudah dianggap anak kandung mereka.
Rennata hanya diam tanpa membantah rumor yang dibicarakan tentangnya itu. Dia hanya tidak ingin semua orang makin melihatnya dengan buruk.
"Baby!. Ngelamun aja, mikirin apaan sih?." Rennata spontan kaget dengan kedatangan tiba-tiba Erick yang duduk dihadapannya. Dan lagi, Erick malah memanggilnya dengan panggilan itu. Sekilas Rennata menatap kearah karyawan yang membicarakannya tadi dan dia sempat melihat mereka tersontak kaget lalu pergi.
"Astaga, malah ngelamun lagi. Hey, mikirin apaan sih?." Ucap Erick mengacak rambut Rennata.
"Ahh, bukan apa-apa. Kenapa kau bisa ada disini?, bukankah kau harus bekerja, dan kau itu seorang Presdir."
Diruangannya, Brian yang sedang sibuk dengan beberapa berkas dimejanya tiba-tiba bersin.
"Siapa yang berani membicarakanku dibelakang?." Heran Brian berhenti bekerja. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan keluar. Dia berencana mengajak Rennata makan siang bersama. Namun dia tidak menemukan sekretarisnya itu.
"Kemana perginya gadis ini?. Ahh, buat apa aku repot-repot peduli dia sudah makan atau belum."
Brian berjalan menuju lift dan menekan tombol lobby setelah berada didalam lift. Setelah sampai di lobby, tidak sengaja dia melihat Rennata sedang tertawa dengan Erick dikantin. Entah kenapa dia sangat marah melihat hal itu. Sampai dia membakar meja yang berada dibelakang Erick sebelum dia pergi keparkiran.
Tidak ada yang tau fakta bahwa Brian memiliki kekuatan berupa api. Dan dia tidak ingin orang-orang tau semua hal itu. Dia hanya ingin hidup seperti manusia lainnya.
Ya, Brian memang bukanlah seorang manusia, dia berasal dari sebuah planet lain diluar bumi. Walau di bumi dia adalah orang yang paling dihormati dan disegani, namun faktanya kalau di planet dia berasal dia adalah putra ke enam dari seorang raja. Dan yang paling memalukannya lagi, dia diusir dari istana. Dan dia sudah bertekad, sampai kapanpun dia tidak akan kembali kesana.
Sedangkan di kantin, semua orang panik melihat meja dibelakang Erick tiba-tiba terbakar hebat. Erick segera membawa Rennata keluar dari kantin tersebut. Dia tidak ingin Rennata terluka.
"Kau tidak apa-apa, Ren?." Tampak kekhawatiran di wajah Erick.
"Aku baik-baik saja, Rick. Aku hanya kaget dengan apa yang terjadi barusan."
"Jangan takut, aku ada disini. Sekarang kau kembali keruanganmu dan bawa minuman ini." Perintah Erick memberikan sebotol minuman kepada Rennata. Dengan wajah yang masih pucat, Rennata berjalan menjauh.
Setelah Rennata masuk kedalam lift, Erick kembali masuk kedalam kantin dan menemui manajer kantin.
"Saya akan membayar kerugiannya, kirimkan saja total kerugiannya pada nomor ini."
"Tidak usah, Pak. Ini bukan salah anda."
Erick hanya berlalu pergi meninggalkan kantin setelah memberikan nomor asistennya. Dia berjalan ke parkiran sembari memperhatikan seluruh area dan berhenti tepat didepan sebuah mobil yang terparkir.
"Keluar dari sana, Brian, aku tau kau ada didalam." Teriak Erick.
Brian yang kaget dengan kedatangan Erick segera keluar dari dalam mobil. Dia tidak menyangka Erick mengetahui bahwa dia ada di sana. Dan yang lebih membuatnya kaget adalah ekspresi Erick yang terlihat marah dan kesal. Selama mengenal Erick, dia belum pernah melihat Erick seperti saat ini.
"Aku tau kau punya kekuatan itu, tapi jangan pernah kau gunakan didepan Rennata.."
Sontak ucapan Erick membuatnya kaget. Sejak kapan Erick mengetahui soal kekuatannya. Dan mungkinkah Erick juga mengetahui jati dirinya yang sebenarnya?.
************
Story by Ferlind Kim
Selesai baca divote sama komentarnya ya all.. biar author semangat lanjutinnya 😊☺