
Pagi itu Brian terbangun dari tidurnya karena dia merasakan ada seseorang yang datang kerumahnya. Dia bisa merasakan itu bukanlah manusia biasa, melainkan seseorang dari dunianya.
Dengan malas Brian turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Dia sengaja mengulur waktu dikamar mandi setelah mengetahui siapa yang datang. Dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan orang itu.
Beberapa menit kemudian, Brian yang telah selesai memakai pakaiannya keluar dari kamar. Sebelum menuruni tangga, dia kaget dengan keadaan rumah yang sudah tergenang air.
"Hei!!!.. Apa kau sengaja mengisi rumahku dengan airmu itu?.. Kau taukan, air sialan mu itu dapat membunuhku!." Teriak Brian emosi. Bagaimana dia tidak emosi, jika terkena air itu bahkan sedikit saja bisa membuatnya lemah.
"Sorry, aku hanya mendinginkan sekitarku saja.. Rumah mu sangat panas kak.."
"Kau fikir saja sendiri kenapa rumahku bisa panas begini bagi bangsa kita.. Kau taukan aku ini memiliki kekuatan apa?." Ucap Brian turun kelantai bawah.
Sebenarnya dia sangat malas untuk bertemu dengan orang yang memanggilnya kakak itu. Ya, tentu saja dia memanggil Brian kakak, karena yang berkunjung itu adalah adik kandungnya.
Memang benar Brian telah diusir dari dunianya oleh ayahnya yang memiliki kekuasaan di sana. Namun beberapa saudaranya masih sering mengunjunginya. Terutama adiknya yang sekarang ini.
"Ada apa kau datang?." Ketus Brian.
"Begini kak... Aku memutuskan untuk tinggal di bumi. Kau taukan, aku ini sangat berbakat. Aku lihat selama kunjunganku kesini, ada yang disebut artis, dan aku ingin jadi salah satu dari mereka."
"Kau jangan bicara omong kosong Robert!!.. Apa yang bisa kau banggakan selain tampang dan airmu itu?."
"Kau hanya tidak tau kak. Aku memiliki suara yang indah. Kau tunggu dan lihat saja adikmu ini akan berada di tv." Ucap Robert yang tentu saja hanya diacuhkan oleh Brian.
Robert Ehner adalah salah satu saudara kandung Brian. Brian memang memiliki sangat banyak saudara kandung. Bahkan dia dengar ibunya saat ini sedang mengandung calon adiknya yang barunya.
Dia rasa ayahnya, William Ehner sungguh sangat terobsesi memiliki banyak anak. Tapi tentu saja ayahnya itu hanya memiliki satu orang istri yaitu ibunya.
"Bagaimana dengan tempat tinggal mu?."
"Tentu saja aku tinggal bersamamu kak.. Aku bahkan sudah mengatur kamarku di rumah ini."
"Ya sudahlah, kau boleh tinggal disini tapi kau harus hidup senormal mungkin dan jangan pernah mengeluarkan airmu itu. Satu lagi, jangan pernah sekali pun kau membawa kedua orangtuamu ke rumah ini."
"Bukankah orangtuaku juga orangtuamu kak?.. Sebenarnya ibu sangat merindukanmu."
Brian terdiam mendengar ucapan Robert. Bukan dia tidak ingin bertemu orangtuanya. Hanya saja, dia tidak punya cukup keberanian bertemu mereka. Dia merasakan apa yang dirasakan ibunya, tapi dia sengaja mengabaikannya.
Robert yang melihat perubahan ekspresi pada kakaknya itu segera memukul mulutnya.
'Apa yang telah kau ucapkan Bert.. Dasar mulut bodoh!.'
"Apa kau tidak pergi bekerja kak?." Tanya Robert mengalihkan pembicaraan.
"Kau benar, aku harus kekantor. Aku pergi sekarang."
Brian bergegas keluar dari rumah dan berjalan ke mobilnya. Disana dia sudah ditunggu oleh sopir pribadinya.
Setelah Brian masuk kedalam mobil, mobil segera melaju ke perusahaan miliknya. Dijalan dia mendapat telfon dari karyawannya bahwa ada rapat mendadak dan semua sedang menunggu kedatangannya.
🏵🏵🏵🏵🏵🏵
Dikantor semua karyawan sudah berkumpul didalam ruang rapat sembari menunggu kedatangan boss mereka, yaitu Brian Balder.
Taklama terdengar bunyi pintu terbuka dan semua yang ada di ruangan itu menatap kearah pintu dan setelahnya langsung berdiri memberi hormat.
Brian masuk ke ruangannya dengan didampingi wakil presdir dari perusahaan miliknya itu.
"Apa yang terjadi?." Tanya Brian setelah duduk di kursinya.
"Maaf pak, Pak Erick mengundurkan diri dari semua proyeknya dengan perusahaan kita."
"Bagaimana itu bisa terjadi?." Kaget Brian. Padahal selama ini dia sudah sangat dekat dengan Erick. Dia juga sudah menganggap Erick seperti saudaranya.
"Kami sudah mencoba menghubungi Pak Erick, tapi tidak ada jawaban Pak."
Brian hanya berdiri dari kursinya dan berjalan keluar. Dia segera menuju kembali ke mobilnya.
"Pergi ke perusahaan Erick sekarang!."
Tentu saja Brian langsung menuju ke perusahaan milik Erick karena dia harus membicarakan hal ini langsung padanya.
Disana Brian tidak menemukan Erick. Setelah dia bertanya pada sekretaris Erick, akhirnya dia mengetahui keberadaan Erick, yaitu di suatu desa yang sudah tidak asing lagi baginya.
Setelah menyuruh sopirnya keluar, Erick mengendarai mobilnya sendiri ke desa tempat Erick berada.
"Kenapa dia bisa disana?.. Apa dia sengaja menjauh dari kota agar tidak bertemu denganku?.. Atau dia pergi bersama wanita lagi?.. Bukankah dia masih ada hubungan dengan Rennata?.." Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut Brian.
🏵🏵🏵🏵🏵🏵
Dipekarangan rumahnya, Rennata sedang duduk dengan Erick yang tidur di pangkuannya. Mereka tidak ragu lagi bermesraan, karena semua yang ada di rumah sudah mengetahui hubungan mereka berdua. Bahkan mereka semua sudah menyetujui hubungannya bersama Erick.
"Apa kalian hanya akan diam di rumah saja?.. Apa kau tidak ingin jalan-jalan dikampung halamanmu Erick?." Sahut Rose ibu Rennata berdiri didepan pintu.
"Ahh Mom benar.. Ayo Ren kita pergi ketempat - tempat dimana kita sering pergi dulu." Ajak Erick berdiri dari tidurnya.
"Baiklah tuan Erick.. Kalau begitu kami pergi dulu ya Bu?." Pamit Rennata berdiri di samping Erick. Rose sang ibu hanya mengangguk lalu kembali kedalam rumah.
Erick menggenggam tangan Rennata dan berjalan meninggalkan area itu. Namun langkahnya terhenti saat melihat mobil yang datang dan berhenti tidak jauh dari mereka.
"Brian." Lirih Erick semakin menggenggam erat tangan Rennata.
"Siapa?!!!.. Buat apa dia kesini?." Kaget Rennata mendengar nama yang disebut Erick dan segera menoleh ke mobil yang berhenti itu.
Seperti dugaan Erick, Brian keluar dari dalam mobil menggunakan kacamata hitam. Erick dan Rennata hanya terdiam selagi Brian berjalan mendekati mereka.
"Kenapa anda bisa disini?." Tanya Rennata berusaha menyembunyikan kekagetannya.
"Ternyata kalian sedang liburan bersama. Maaf mengganggu liburan kalian. Aku hanya ingin bertemu dengan Erick." Ujar Brian menjawab pertanyaan Rennata.
Sebenarnya dia agak sedikit kecewa melihat Erick yang ternyata sedang bersama Rennata.
"Ada apa kau mencari ku jauh-jauh kesini?."
"Bisakah kau meninggalkan kami berdua saja?." Pinta Brian pada Rennata.
"Baiklah.." Patuh Rennata melepaskan genggaman Erick.
Setelah Rennata pergi, Brian berjalan agak sedikit menjauh lagi dan diikuti oleh Erick dibelakang. Dia tidak ingin ada yang mendengar percakapan mereka.
"Aku hanya ingin bertanya, kenapa kau memutus semua hubungan proyek kita?." Tanya Brian terus terang.
"Aku sangat tidak suka bekerjasama dengan orang yang sudah menusukku dari belakang." Cuek Erick menjawab pertanyaan Brian.
"Apa maksudmu?." Heran Brian yang tidak mengerti ucapan Erick.
"Kau jangan pura-pura tidak tau.. Apa yang kau lakukan pada pacarku?.. Apa kau tidak menghargai aku sebagai pacarnya?." Kesal Erick menatap Brian.
"Jadi kau marah hanya gara-gara itu?.. Asal kau tau, bukan aku yang memulainya.. Kau silahkan tanya saja pada pacarmu itu apa yang sebenarnya terjadi. Dan jangan menyesal dengan apa yang kau lakukan."
Setelah bicara seperti itu, Brian pergi meninggalkan Erick dan masuk ke mobilnya. Tanpa bicara apa-apa lagi, dia meninggalkan pekarangan rumah tersebut.
Rennata yang diam-diam memperhatikan dari tadi, setelah melihat Brian pergi, dia mendekati Erick.
"Apa yang terjadi?. Kau terlihat kesal."
"Bukan apa-apa.. Ayo kita pergi."
Rennata hanya mengikuti Erick yang sudah berjalan terlebih dahulu. Dia sebenarnya sangat penasaran, namun dia hanya diam karena dia ingin Erick yang cerita sendiri padanya.
story by
Ferlind Kim
Selesai baca divote sama komentarnya ya all.. biar author semangat lanjutinnya 😊☺