
Tubuh mungil Rennata di gendong Brian keluar dari kamar mandi. Sebelumnya mereka juga sudah melakukan beberapa babak disana, namun karena takut Rennata kedinginan, maka Brian menggendongnya untuk pindah ke atas ranjang.
Rennata masih dimabuk oleh kenikmatan yang dia rasakan sejak tadi. Dia terus mengelus dada bidang Brian selama di gendongan suaminya itu.
Dengan pelan, Brian menurunkan tubuh Rennata ke atas ranjang, tanpa basa-basi lagi, dia langsung melancarkan aksinya. Rennata yang tidak mau kalah, juga ikut mengimbangi segala perlakuan Brian padanya.
Brian yang semakin bernafsu mendengar ******* dan rintihan lembut istrinya itu, segera memindahkan posisi Rennata di atasnya.
“Tunjukkan kemampuanmu sekarang, Baby. Aku akan menikmati semuanya.” Ujar Brian setelah Rennata tepat berada di atas tubuhnya.
Tanpa berkata apa-apa, Rennata duduk di atas tubuh kekar Brian dan mulai melancarkan aksi-aksinya. Tentu saja itu membuat Brian sangat puas dan terus mengerang bersahutan dengan erangan Rennata.
Malam yang panjang itu mereka lewati dengan beberapa ronde. Bahkan Brian juga mengeluarkan seluruh tenaganya.
Hampir jam 5 dini hari, mereka berdua menyelesaikan aktifitas itu. Brian yang penuh keringat itu pun menghempaskan tubuhnya di samping Rennata.
Dia menoleh pada istrinya yang terlihat ngos-ngos an. Dengan senyum yang lebar dia memeluk istrinya itu dan mencium keningnya.
“Terima kasih, Sayang.” Ucap Brian masih memeluk Rennata.
“Iya, Sayang. Aku mencintaimu.” Balas Rennata.
“Aku juga. Terima kasih sudah mau menerima segala tentangku. Walau suatu saat kita berpisah, aku berjanji akan menemukanmu lagi. Dan aku akan membuatmu bahagia selamanya.”
Brian menatap Rennata karena tidak terdengar jawaban darinya. Seperti dugaannya, dia melihat istrinya itu sudah tertidur pulas. Brian tersenyum lalu mencium kening istrinya itu, setelahnya dia juga tertidur.
Keesokan paginya Brian terbangun dan melihat Rennata masih tertidur pulas disampingnya. Brian dengan hati-hati turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi.
Dia membersihkan dirinya dan setelah itu memakai pakaiannya. Saat dia keluar dari sana, dia sudah melihat Rennata yang terbangun dan duduk menatapnya.
"Kenapa sudah bangun?." Tanya Brian mendekati Rennata.
"Karena aku tidak menemukan di sisiku."
"Aku hanya pergi mandi. Tidurlah sebentar lagi, kamu baru tidur sebentar."
"Lalu bagaimana denganmu?. Kenapa kamu rapi sekali?."
"Aku harus ke bumi hari ini, karena aku harus bekerja."
"Lalu bagaimana denganku?. Aku kan sekretaris mu?."
"Kau tidak usah pergi, aku akan membuatkan mu surat izin cuti."
"Baiklah kalau begitu, selamat bekerja, Sayang."
"Kalau gitu aku berangkat sekarang ya?."
Rennata mengangguk setuju. Sembari tersenyum dia melambaikan tangannya pada Brian. Setelah Brian keluar dari kamar, dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Dia sedikit merasakan sakit di area intimnya karena ulah Brian semalam. Dengan pelan dia masuk ke kamar mandi dan berendam dengan air hangat sembari memikirkan rencana yang akan dia lakukan hari ini.
Hampir 30 menit Rennata menghabiskan waktu nya di kamar mandi. Setelah merasa segar, dia keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya di ruang ganti yang berada satu ruangan dengan kamar mandi.
Rennata keluar kamar dan berniat pergi berkeliling. Karena sebelumnya dia belum sempat mengeliling istana yang luas itu. Dia sangat penasaran dengan tempat Brian tumbuh besar.
Baru saja melangkahkan kakinya menuju tangga, dia di panggil oleh Micko. Dia memang sudah dekat dengan adik Brian yang satu itu, karena sebelumnya Micko pernah ke pantai bersamanya dan Brian di bumi.
"Pagi, Kak." Sapa Micko membungkuk di hadapan Rennata yang merupakan kakak iparnya.
"Pagi Micko." Balas Rennata tersenyum.
"Mau keliling istana. Brian pergi ke bumi karena bekerja."
"Jadi begitu. Apa kakak mau ditemani?."
"Boleh saja jika kau tidak keberatan."
Akhirnya mereka berdua pun pergi bersama. Mereka mengelilingi istana sembari Micko memberi tahu segala cerita pada Rennata. Mereka juga bertemu dengan saudara Micko yang lain, dan ada beberapa dari mereka yang ikut menemani berkeliling juga.
Saat sedang berjalan, tiba-tiba saja Rennata merasa badannya sangat berat dan kepalanya pusing. Dia langsung berhenti dan memegang kepalanya. Micko dan saudaranya yang ada di sana sangat khawatir melihat Rennata. Mereka segera memanggil pengawal untuk membawa Rennata ke kamarnya.
Tidak butuh waktu lama, Rennata sudah berada di kamarnya. Dia juga sedang di periksa oleh dokter kerajaan.
"Bagaimana kondisi menantu kami?." Panik Jane yang datang setelah mengetahui keadaan Rennata.
"Sepertinya ini pertanda baik, tapi semua akan jelas jika di periksa langsung ke rumah sakit, Ratu."
"Tunggu apalagi, segera bawa putri Renna sekarang juga." Perintah Jane yang tidak tega melihat wajah pucat Rennata.
Akhirnya Rennata dibawa ke rumah sakit untuk di periksa lebih jelas. Semua keluarga kerajaan ikut mendampingi Rennata. Karena mereka semua sangat panik akan kondisi Rennata.
Rennata di bawa masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Dan tentu saja ruangan itu di jaga oleh pengawal demi keselamatan anggota kerajaan. Bahkan di depan rumah sakit, juga di kelilingi oleh banyak pengawal kerajaan.
Dokter keluar dari ruangan setelah hampir satu jam di sana.
"Bagaimana hasilnya?."
"Putri baik-baik saja. Justru dia seperti itu karena sedang hamil. Usia kehamilannya sudah 6 minggu." Senyum dokter.
Semua yang mendengar hal itu sangat gembira. Mereka masuk ke dalam ruangan untuk menemui Rennata. Di dalam, Rennata langsung diberi ucapan selamat atas kehamilannya. Namun Rennata meminta semuanya untuk merahasiakannya pada Brian, karena dia sendiri ingin memberi kejutan untuk suaminya itu. Dan Tentu saja mereka menyetujuinya.
"Akhirnya kami akan jadi kakek dan nenek." Ucap Jane yang tidak bisa menahan rasa senangnya.
"Terima kasih sudah memberi kami cucu Renna." Ucap William memegang tangan Rennata.
"Tidak perlu berterima kasih, Ayah. Ini memang tugasku melanjutkan garis keturunan, Ayah."
Saudara-saudara Brian yang lain pun juga bergantian mengucapkan selamat pada saudara ipar mereka itu.
"Untuk hari ini kamu istirahat di rumah sakit saja." Perintah Jane.
"Iya, Ma." Patuh Rennata.
Rennata pun di pindahkan ke area khusus untuk anggota kerajaan. Karena tidak ingin mengganggu Rennata, semua orang memilih meninggalkan Rennata sendiri agar dia bisa beristirahat.
Saat hampir tengah malam, Brian pulang ke istana. Setelah menyapa anggota keluarganya, dia berjalan ke kamarnya. Dia juga sudah tidak sabar bertemu istri tercintanya.
Saat sampai di dalam kamar, dia tidak menemukan keberadaan istrinya itu. Karena berfikir Rennata mungkin saja di tempat lain, dia memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, lalu setelahnya baru mencari Rennata.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, Brian keluar kamar untuk mencari keberadaan istrinya.
Sudah mencari kemana-mana, dia tetap tidak menemukan istrinya. Dia semakin gelisah dan berlari memanggil-manggil nama Rennata. Hingga dia bertemu dengan ibunya.
"Kamu kenapa?." Tanya Jane.
"Apa Mama melihat Renna?. Aku mencarinya sejak tadi, tapi tidak menemukannya."
"Oh iya, Mama lupa memberitahumu, Renna ada di rumah sakit. Dia pusing dan wajahnya pucat, makanya kami membawanya ke rumah sakit dan menyuruhnya dirawat."
Mendengar penuturan ibunya, Brian semakin panik karena takut terjadi hal buruk pada istrinya itu. Tanpa berpamitan pada ibunya, Brian segera berlari menggunakan kecepatannya menuju rumah sakit.