MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 25



Brian akhirnya sampai di rumah sakit. Dia tentu saja disambut oleh pihak rumah sakit karena statusnya sebagai seorang pangeran.


Karena ingin segera bertemu istrinya, Brian langsung pergi ke ruang rawat inap khusus anggota keluarga kerajaan yang di jaga langsung oleh pengawal di pintu masuk.


Dia langsung masuk ke dalam ruangan dan mendapati istrinya sedang tertidur pulas. Dengan hati-hati, dia mendekati istrinya itu dan duduk di samping ranjang.


Brian mencium kening Rennata, lalu duduk di kursi sembari menggenggam tangan istrinya itu. Tampak kekhawatiran di wajah Brian. Bagaimana tidak, baru saja dia pulang malah mendapati kondisi istrinya di rawat di rumah sakit.


"Sayang." Lirih Rennata terbangun dari tidurnya dan melihat Brian disampingnya.


"Iya ini aku, Baby. Kamu kenapa bisa kayak gini?. Semalam dan tadi pagi kamu baik-baik saja." Tanya Brian yang tanpa sadar meneteskan air matanya. Dia sangat takut jika kehilangan Rennata.


Rennata tersenyum dan bangun dari tidurnya. Brian dengan sigap membantu istrinya itu duduk, dan meletakkan bantal di belakang punggung Rennata.


"Selamat ya, Sayang?." Ucap Rennata kemudian. Tentu saja Brian sangat bingung dengan ucapan istrinya itu.


"Buat apa?."


"Sebentar lagi kamu bakal jadi ayah."


Brian tidak dapat menahan rasa kagetnya mendengar ucapan Rennata. Dia juga sangat senang bahwa istrinya itu sedang hamil. Tanpa sadar Brian langsung memeluk erat Rennata.


"Terima kasih." Ucap Brian dalam pelukan Rennata.


"Untuk apa berterima kasih?."


"Kamu sudah memberikan aku seorang anak."


"Itu sudah kewajibanku sebagai istri."


Brian melepas pelukannya dan mencium seluruh wajah Rennata. Dia sangat senang akan menjadi seorang ayah.


Karena jam sudah lewat tengah malam, Rennata mengajak Brian untuk tidur. Dia meminta Brian tidur bersamanya dan memeluknya.


Tanpa menolak, Brian naik ke atas ranjang dan tidur memeluk Rennata. Tak lama, mereka berdua sama-sama tertidur pulas.


🏵🏵🏵🏵🏵🏵


Paginya, Rennata dan Brian terbangun karena mendengar suara pintu terbuka. Brian segera turun dari ranjang setelah melihat dokter dan suster masuk dan mendekati mereka.


"Selamat pagi, Pangeran, Putri." Sapa dokter itu menunduk.


"Selamat pagi." Balas Brian diikuti Rennata.


"Izinkan saya memeriksa Tuan Putri."


Brian tentu saja memberi izin dan melihat Rennata yang di periksa.


"Bagaimana keadaannya?. Apa boleh pulang sekarang?." Tanya Brian.


"Tuan Putri boleh pulang sekarang, Pangeran. Saya akan menuliskan resep obat untuk Tuan Putri."


Setelah dokter dan suster yang menemaninya itu keluar, Brian mendekati Rennata dan kembali memeluk Rennata.


Brian kemudian membuka pakaian Rennata yang membuat Rennata mendorongnya.


"Kenapa kamu mendorongku?." Heran Brian.


"Lagian, kita kan di rumah sakit. Ngapain kamu buka-buka pakaianku?."


"Jangan mikir mesum dulu. Aku buka pakaian kamu karena mau gantiin baju kamu. Emang kamu mau pake baju rumah sakit ini sampai pulang?." Jelas Brian.


"Bilang dong daritadi."


"Kamunya aja yang mikirnya kemana-mana?. Kamu lagi pengen ya?." Goda Brian.


"Apaan sih. Kalau emang mau gantiin, cepetan sini."


Brian tersenyum melihat wajah Rennata yang memerah. Dia kembali mendekati Rennata dan membuka pakaian Rennata. Selagi membuka pakaian milik Rennata, Brian memancing nafsu Rennata dengan mengelus pelan punggung Rennata.


Seperti dugaannya, Rennata langsung terpancing dan membuat nafasnya tidak karuan. Mungkin juga karena sedang hamil, jadi hormon Rennata gampang naik.


"Berhenti menggodaku, Brian." Lirih Rennata yang sudah tergoda.


"Hahaha. Kamu sangat lucu. Aku akan berhenti sekarang." Tawa Brian lalu memasangkan pakaian untuk Rennata.


Semua orang yang berpas-pas an dengan mereka, langsung memberi salam dan menunduk.


Sesampainya di luar rumah sakit, Brian meminta supir kerajaan yang sudah dia hubungi sebelumnya untuk mengantarnya dan Rennata ke istana.


"Besok acara pernikahan kita di istana, apa kamu kuat?. Atau mau di undur?." Ucap Brian bertanya pada Rennata yang duduk di sebelahnya.


"Aku kuat kok. Aku hanya perlu beristirahat hari ini."


"Baiklah. Kamu memang harus istirahat. Aku akan menemanimu."


"Aku tidak perlu ditemani. Kamu sebaiknya pergi mengecek persiapan untuk acara besok."


"Jadi kamu mengusirku?." Cemberut Brian.


"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya ingin kamu memastikan semuanya berjalan dengan baik."


"Baiklah. Aku pergi dulu." Mencium kening Rennata.


Brian lalu keluar dari kamar dan berjalan menuju aula pernikahan.


Rennata yang mencoba untuk tidur, kemudian mendengar ketukan di pintu kamarnya. Dia segera turun dari ranjang dan berjalan ke pintu kamar untuk melihat siapa yang datang.


Saat membuka pintu, dia melihat Raja dan Ratu sedang berdiri di depan pintu. Rennata tersenyum lalu mempersilahkan kedua orang tua Brian yang juga sudah menjadi orang tuanya itu untuk masuk ke dalam kamar. Memang di dalam kamar tersebut juga terdapat meja dan kursi yang di persiapkan jika ada yang datang seperti Raja dan Ratu saat ini.


"Bagaimana keadaanmu, nak?." Tanya Jane yang melihat wajah menantunya yang masih sedikit pucat.


"Udah mendingan kok, Ma."


"Ini ada jamu khusus untuk ibu hamil, kamu minumlah. Mama selalu minum ini setiap hamil." Menyodorkan sebuah gelas berisi jamu yang tadinya dibawa oleh pelayan istana.


"Makasih, Ma." Tersenyum lalu menerima jamu tersebut.


Rennata tanpa berkata apa-apa meminum jamu tersebut. Dia sebenarnya sangat tidak menyukai yang namanya jamu, tapi dia harus meminumnya karena itu pemberian dari mertuanya.


"Rasanya memang pahit, tapi jamu itu sangat berperan penting untuk kandunganmu."


"Sekali lagi terima kasih, Yah, Ma." Senyum Rennata setelah menghabiskan jamunya.


"Kamu tadi pasti sedang istirahat, kamu lanjut istirahat saja, kami akan pergi mempersiapkan untuk acara besok."


Rennata hanya mengangguk lalu mengantar mertuanya ke pintu kamar. Setelah itu dia kembali menutup pintu kamar dan berjalan ke ranjangnya.


Tanpa pikir panjang dia langsung tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Sedangkan Brian yang sedang melihat segala persiapan di aula, di datangi oleh kedua orangtuanya.


"Brian."


"Iya, Yah."


"Renna kan lagi hamil, jadi saat kalian di bumi nanti, apa kami perlu mengirim pelayan untuk membantu dan menemani Renna selama kamu pergi bekerja?."


"Tidak usah, Yah. Renna bilang dia bisa sendiri. Dan dia juga ingin terus bekerja."


"Bekerja?. Kamu mengizinkan istrimu yang sedang hamil bekerja?."


Brian menatap wajah kedua orangtuanya yang sudah terlihat marah. Sebelum dia mendapatkan omelan yang lebih jauh lagi, dia segera menjelaskan agar orangtuanya itu tidak salah paham lagi.


Setelah mendengar penjelasan Brian, kedua orangtuanya dapat memahami keinginan dari Rennata itu.


"Walau begitu, kamu jangan pernah berikan pekerjaan berat padanya. Dan jangan pernah jauh darinya."


"Baiklah, Ma. Aku juga tidak akan tega melihatnya kelelahan apalagi dalam kondisi seperti sekarang."


"Baguslah. Kamu jadi ke bumi?."


"Iya, Ma. Tapi semua persiapan disini belum selesai."


"Biar kami yang mengurus semua yang ada disini. Kamu pergilah."


Brian akhirnya pergi meninggalkan istana dan pergi ke bumi karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia kerjakan. Dia juga harus bertemu klien penting hari ini.