MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 27



Hari demi hari berlalu sejak hari pernikahan di istana, sekarang Rennata dan Brian sudah kembali ke bumi. Mereka juga sudah kembali bekerja.


Awalnya Brian melarang istrinya itu untuk bekerja dan menyuruhnya berhenti, namun Rennata yang keras kepala langsung menolak ide tersebut. Karena dia berfikir akan sangat membosankan jika harus berada di rumah sendirian. Lagian dia juga selalu ingin berdekatan dengan Brian, mungkin karena pengaruh anak dalam kandungannya.


Mereka juga telah mengumumkan kehamilan Rennata pada seluruh karyawan dengan memberikan gaji double untuk semua karyawannya.


Pagi itu, Brian dan Rennata bersiap untuk segera berangkat bekerja. Rennata juga selalu membawa buah dan jamu yang telah dibawanya dari istana sebelum kembali ke bumi sebelumnya.


"Apa aku boleh bertemu Erick?." Tanya Rennata saat mereka sudah di dalam mobil. Memang sejak mereka menikah, Brian memilih untuk menyetir sendiri jika sedang pergi bersama Rennata.


"Untuk apa?."


"Aku cuma pengen ketemu aja."


"Gak usah deh."


"Kenapa?. Tapi aku pengen banget lho ketemu Erick."


Brian menatap Rennata yang sudah cemberut, dia hanya bisa menghela nafas saat menyadari jika mungkin itu adalah keinginan dari bayinya.


"Apa bayinya yang minta?."


"Enggak tau. Tapi aku tiba-tiba aja pengen ketemu Erick."


"Ya udah nanti aku suruh Erick datang ke kantor."


"Makasih sayang." Senang Rennata tersenyum riang.


Brian membalas senyuman Rennata lalu kembali fokus pada jalanan. Dia tidak ingin hal buruk terjadi padanya, terutama bagi dua orang penting yang sedang bersamanya.


Hampir 30 menit mereka akhirnya sampai di kantor. Dengan menggandeng tangan Brian, Rennata berjalan memasuki area kantor. Semua karyawan yang melihat mereka langsung menyapa dan menunduk hormat.


Saat sampai di lantai tempat ruangan Brian berada, Rennata berpisah dengan Brian karena tempat mereka yang berbeda.


"Kamu kalau ada apa-apa langsung panggil aku ya?." Pesan Brian sebelum pergi ke ruangannya.


"Iya. Kamu pergi aja ke ruanganmu." Usir Rennata.


Brian mencium kening istrinya lalu berjalan ke ruangannya. Semua orang juga tau bahwa CEO mereka itu sangat bucin pada istrinya. Jadi terkadang, kebucinan mereka menjadi santapan manis bagi karyawan yang tidak sengaja melihatnya.


Setelah Brian pergi, Rennata mengambil semua berkas yang harus dia kerjakan. Karena tugasnya sebagai sekretaris itu, jadi dia harus mengatur segala jadwal Brian.


Saat tengah memeriksa semuanya, ponsel Rennata berdering. Dia melihat siapa yang tengah menelfonnya, lalu segera mengangkatnya.


"Hallo, Kak." Sapa seseorang dibalik telfon.


"Iya, Mark." Jawab Rennata. Siapa lagi yang akan menelfonnya kalau bukan Mark sang adik.


"Kakak gak lupa kan besok ada apa?."


"Tentu saja tidak. Mana mungkin kakak melupakan hari ulang tahun adik kesayangan kakak ini."


"Hehehe. Kan siapa tau kakak lupa."


"Jadi besok kau mau di belikan apa?."


"Aku gak mau dibeliin apa-apa. Tapi apa besok kakak ada jadwal penting?."


"Sepertinya tidak. Memangnya kenapa?."


"Aku ingin mengajak kakak beserta kedua orang tua kita untuk berlibur bersama. Tapi aku harus memastikan kakak ada waktu."


"Benarkah?. Kalau begitu kakak akan bertanya pada Brian nanti."


"Baiklah, Kak. Aku akan menutup telfonnya sekarang."


"Iya Mark. Jangan telat makan ya?."


"Siap kak."


Mark menutup telfonnya. Rennata meletakkan ponselnya dan kembali menyelesaikan pekerjaannya. Dia berencana memberi tahu Brian saat makan siang nanti.


Waktu berlalu begitu cepat, Rennata yang menyadari bahwa sudah waktunya makan siang itu pun beranjak dari kursinya dan berjalan ke ruangan Brian.


Setelah mengetuk pintu dan di izinkan masuk oleh Brian, Rennata segera membuka pintu dan langsung masuk menghampiri Brian yang masih serius dengan berkas-berkasnya.


"Sayang, udah waktunya makan siang, kita makan dulu yuk?." Ajak Rennata berdiri di hadapan Brian.


"Ayo pergi makan kalau begitu, mau makan ke restoran mana?."


"Mmm makan di kantin bawah aja."


"Iya, sayang."


"Ya udah ayo kita ke kantin bawah."


Brian berdiri dari duduknya lalu mendekati Rennata. Dia menggandeng tangan istrinya itu lalu berjalan ke keluar ruangan.


"Aku sudah menghubungi Erick tadi." Ucap Brian yang masuk ke dalam lift bersama Rennata.


"Lalu bagaimana?." Antusias Rennata.


"Katanya dia akan kesini. Janjinya sih siang ini. Kita tunggu aja kalau gitu."


Rennata mengangguk senang lalu semakin menempel pada Brian.


Dilantai bawah, mereka langsung menuju kantin untuk mengambil makanan. Setelah memastikan Rennata hanya mengambil makanan bergizi, Brian mengajaknya ke salah satu meja disana.


"Ayo kita makan." Ajak Brian.


Mereka berdua pun larut dalam makanan yang sedang mereka makan. Tidak ada pembicaraan karena memang mereka sama-sama tidak suka berbicara jika sedang makan.


Tanpa waktu lama, makanan yang di piring Rennata ludes. Brian juga kaget melihat nafsu makan istrinya itu, padahal sebelumnya Rennata makan sangat sedikit. Dulu katanya dia takut gendut. Bahkan sering mengomel jika Brian tiba-tiba membelikannya makanan berminyak.


"Apa kamu mau makananku?." Tanya Brian yang melihat Rennata memperhatikan makanan di piringnya. Dengan malu-malu Rennata mengangguk dan menatap Brian.


Karena tidak ingin melihat istrinya seperti itu, Brian memindahkan sebagian makanannya ke atas piring Rennata.


"Makanlah, jika masih kurang, aku akan mengambilkannya untukmu lagi."


"Makasih, Sayang." Senang Rennata kembali fokus pada makanannya.


Setelah menghabiskan semuanya, Rennata dan Brian pergi ke arah lift untuk kembali ke ruangan mereka.


Saat akan memasuki lift, mereka berhenti saat mendengar seseorang memanggil mereka. Mereka tentu saja langsung mengetahui bahwa itu adalah Erick.


"Erick!." Histeris Rennata mendekati Erick dan memeluknya.


"Eh. Eh. Ada apa?. Kenapa kau malah memelukku?. Suamimu bisa membunuhku kalau begini caranya." Khawatir Erick sambil bercanda. Dia memperhatikan raut wajah Brian yang sudah terlihat tidak senang.


Rennata melepas pelukannya dan menggandeng Erick mendekati Brian yang sudah menyilangkan kedua tangannya.


"Udah gandengannya?." Tanya Brian menatap Rennata.


Rennata yang melihat raut wajah Brian yang terlihat marah, seketika melepas pegangannya pada Erick lalu menunduk diam.


Brian yang tidak tega melihat istrinya itu, segera mengelus kepalanya Rennata sembari menghela nafasnya.


"Kalau masih mau menggandeng Erick, lakukanlah. Tapi cuma sampai ke ruanganku saja." Pasrah Brian.


Rennata yang mendengar ucapan Brian itu langsung kembali ceria dan juga langsung menggandeng tangan Erick.


"Tumben kau mengizinkan Rennata seperti ini padaku." Heran Erick.


"Jangan seneng dulu, kalau bukan karena baby yang di dalam perutnya, aku gak bakalan izinin dia nempel kayak gini padamu." Jelas Brian memasuki lift diikuti Rennata dan Erick.


"Jadi Rennata hamil?." Kaget Erick.


"Iya dia hamil."


"Selamat ya buat kalian berdua."


"Jangan kasih tau Ibu sama Ayah dulu ya?. Soalnya kami sendiri yang bakalan kesana kasih kejutan." Larang Rennata.


"Baiklah. Kau tenang saja."


Lift berhenti tepat di lantai ruangan Brian berada. Mereka bertiga langsung berjalan masuk ke ruangan Brian dengan keadaan Rennata masih menggandeng Erick.


Sesampainya di dalam ruangan, seperti janjinya, Rennata langsung melepas gandengannya pada Erick dan duduk di sofa diikuti Brian yang duduk di sebelahnya.


"Jadi ada kepentingan apa tiba-tiba nyuruh datang kesini?." Tanya Erick yang duduk dihadapan Brian dan Rennata.


"Karena Rennata bilang pengen ketemu. Trus soal Mall cabang yang akan kita dirikan itu. Menurutmu dimana lokasi yang tepat?."


"Mmmm, bagaimana di kota tempat tinggal orang tua Rennata?. Soalnya disana kan belum ada Mall besar, dan lokasinya juga strategis, banyak wisatawan juga akhir-akhir ini."


"Boleh juga, nanti kita cari lokasi yang bagus disana."


Selagi Brian dan Erick sibuk membahas pekerjaan, Rennata juga sibuk memainkan ponselnya untuk shopping di salah satu olshop ternama disana. Dia juga sudah mulai mencari-cari semua perlengkapan bayi yang menurutnya sangat lucu.