MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 14



Malam berganti pagi, hari ini Brian dan Rennata berencana kerumah Rennata dengan kedua orangtua Brian. Selain untuk memperkenalkan orangtuanya dan melamar Rennata, Brian juga berencana menceritakan asal usulnya.


Awalnya kedua orangtua Brian menolak keinginan Brian untuk membuka identitasnya, namun Brian berusaha meyakinkan orangtuanya tersebut.


Karena ada urusan lain, adik-adik Brian pamit kembali ke planetnya. Kecuali adik Brian yang bernama Micko, yang memang baru datang pagi itu. Micko adalah adik yang pernah di ceritakan Brian pada Rennata. Adik yang terkena luka bakar dan sempat sekarat.


Sebelum pagi berganti siang, mereka berangkat ke rumah Rennata.


"Aku boleh semobil sama kak Brian?." Pinta Micko yang awalnya di ajak orangtuanya semobil dengan mereka. Dan tentunya mereka memakai sopir pribadi Brian.


"Kakakmu kan sama kakak iparmu.. Kamu sama Ayah aja disini."


"Tidak apa-apa om.. Micko boleh kok semobil sama kita." Ucap Rennata tersenyum.


"Ya sudah.. Tapi kamu jangan ganggu kakakmu ya, Micko?." Pesan Ayah Brian.


"Baik, Ayah."


Akhirnya Micko semobil dengan Rennata dan Brian.


"Kenapa kakak keliatan gak seneng banget ketemu aku?." Tanya Micko yang melihat Brian yang sejak pagi hanya diam.


"Kakak seneng kok ngeliat kamu." Jawab Brian canggung. Jujur saja dia sangat senang melihat adiknya yang pernah dikira meninggal itu.


"Tapi kenapa raut wajah kakak kayak gitu?."


"Kakak hanya masih merasa bersalah soal yang terjadi padamu dulu."


"Kakak kan gak salah.. Kenapa merasa bersalah?."


"Karena kakak tidak bisa melindungimu.."


"Bagiku kakak adalah kakak terbaik.. Semua itu juga salahku, padahal kakak waktu itu sudah melarangku mendekati daerah itu.. Karena rasa penasaranku, akhirnya aku nekat dan membuat hal itu terjadi." Jelas Micko. "Malahan aku yang merasa bersalah sudah membuat kakak di usir dari istana, padahal sudah sejak lama aku ingin menemui kakak, tapi karena kondisiku belum stabil, ayah melarang."


Brian merasa lega mendengar penjelasan adiknya itu.


Sore harinya, mereka semua sampai di rumah Rennata. Disana mereka sudah di tunggu kedua orangtua Rennata. Karena memang semalam Rennata sudah memberi tahu kedua orangtuanya kalau hari ini dia akan datang bersama keluarga Brian.


Setelah saling menyapa, akhirnya mereka masuk ke dalam rumah. Di dalam, setelah sedikit berbasa-basi, Ayah Brian memulai dengan memberi tahu identitas mereka terlebih dahulu.


Orangtua Rennata yang mendengar siapa sebenarnya keluarga Brian, awalnya sempat merasa takut dan khawatir. Namun karena penjelasan yang baik dari keluarga Brian, akhirnya mereka dapat menerimanya.


"Jadi selain itu, kami juga akan mengangkat Rennata jadi menantu kami.. Bagaimana menurut Bapak dan Ibu?."


"Kami berdua menyerahkan semuanya pada Rennata. Dan karena memang Rennata sudah memilih nak Brian sebagai pasangannya, kami hanya menerimanya dengan senang hati.." Jawab Ayah Rennata tersenyum.


"Kalau begitu kita sepakati saja pernikahannya bulan depan?."


Semua setuju dan mulai membicarakan pesta yang akan dilakukan.


Selagi kedua orangtua mereka sibuk berbincang, Rennata dan Brian pergi keluar bersama Micko. Diluar pekarangan, mereka bertemu Mark.


"Tumben kau pulang, Mark." Heran Rennata melihat kedatangan adiknya.


"Aku mau pamit sama Ayah dan Ibu.. Besok grub kami akan pergi tour konser."


"Wah.. Kau semakin sukses saja." Bangga Rennata mengacak rambut adiknya.


"Oh iya Mark.. Ini adikku.. Namanya Micko.." Ucap Brian mengenalkan adiknya pada Mark.


"Oh hai kak.. Namaku Mark." Mengulurkan tangannya pada Micko dan di sambut hangat oleh Micko.


"Kamu mau ikut sama kami, Mark?." Ajak Brian.


"Terimakasih kak.. Tapi aku akan menemui Ayah dan Ibu dulu.. Nanti aku menyusul."


Setelah memastikan kakaknya berjalan menjauh, Mark masuk ke dalam rumah.


"Selamat sore, Ayah Ibu." Membuka pintu rumah.


"Ah Mark.. Kamu ternyata pulang. Kenalin nak, ini orangtuanya Brian."


"Selamat sore, Om, Tante."


Mark pun berkenalan dengan keluarga Brian. Setelah menyampaikan maksud tujuannya, Mark pergi ke kamarnya.


Sedangkan Brian dan Rennata berjalan bergandengan ke arah pantai diikuti Micko di belakang.


Tiba-tiba Rennata berhenti saat melewati gang yang pernah membuatnya trauma.


"Tidak.. Kan aku sudah tau detailnya."


"Memangnya kak Rennata takut apa?.. Bukannya itu cuma gang biasa."


"Ah.. Bukan apa-apa."


"Dulu kakak trauma karena melihat seseorang membunuh dan tangannya mengeluarkan api di gang itu." Jelas Rennata.


"Jangan menceritakan hal mengerikan seperti itu padanya." Ujar Brian mencoba menghentikan Rennata.


"Kenapa?.. Aku bukan anak kecil lagi kak... Ayo ceritakan lagi kak." Desak Micko antusias.


"Orang yang membunuh itu adalah Brian.."


"Astaga.. Kenapa kau tega sekali kak." Ucap Micko pura-pura kaget. Padahal baginya di planet tempatnya tinggal sudah biasa jika ada yang membunuh.


"Kamu harus berterima kasih pada kakakmu ini.. Dia sangat sayang padamu.. Dia membunuh orang yang telah mencelakaimu dulu." Jelas Rennata tersenyum.


"Sudahlah Ren.. Jangan dibahas lagi." Malu Brian.


Rennata hanya tertawa kecil karena melihat Brian yang malu dan terus berjalan di samping Brian. Tanpa mereka sadari, Micko terdiam di belakang. Brian yang menyadari Micko tidak mengikuti mereka itu pun menoleh ke belakang.


Brian memperhatikan adiknya sudah menunduk dan tersedu-sedu. Brian yang menyadari adiknya itu menangis pun menghela nafas dan berjalan ke arah Micko.


"Sudahlah.. Kenapa kau malah menangis anak bodoh."


Micko bukannya berhenti menangis malah memeluk Brian dan menangis sejadi-jadinya. Semua orang yang lewat terus memperhatikan mereka. Brian segera menenangkan adiknya itu dan mengelus punggung adiknya itu.


"Berhentilah menangis.."


"Maafin aku kak.. Gara-gara aku kakak di usir."


"Siapa yang bilang gara-gara kamu?.. Justru kakak yang salah gak jagain kamu."


"Makasih juga udah hancurin orang yang udah nyakitin aku kak."


"Udahlah.. Namanya seorang kakak pasti bakal jagain adik-adiknya. Dan kakak pasti akan jagain kamu dan adik-adik yang lain. Walaupun nyawa taruhannya." Memeluk Micko erat.


"Ikut peluk dong." Rennata berniat memeluk kedua laki-laki itu tapi mereka menolak dan membuat Rennata cemberut.


"Aduh jangan cemberut dong sayang.. Sini sini peluk."


"Ogah.." Berlari ke pantai dan di kejar oleh Brian diikuti Micko di belakang.


Sesampainya di pantai, Rennata langsung di peluk Brian.


"Apa kamu mau menikah di tempat asalku?.. Dijamin kamu akan di perlakukan layaknya seorang putri." Tanya Brian pada Rennata yang masih di peluknya.


"Memangnya aku yang manusia biasa ini bisa kesana?." Antusias Rennata.


"Tentu saja.. Asalkan kamu bersamaku.. Kamu bisa kesana.. Aku akan memberimu sedikit kekuatanku."


"Bagaimana caranya?.. Apa kamu akan mengigitku?."


"Seperti ini.." Brian berniat mencium Rennata, namun sebelum sempat mencium Rennata, Brian dan Rennata malah kena semburan air.


Brian menatap sinis pada Micko yang sudah tertawa. Dengan demdam yang ada, Brian berlari ke dalam air dan membalas Micko. Rennata yang awalnya hanya tersenyum sambil melihat itu, tertawa dan ikut bermain air.


Setelah lelah, Brian menggendong Rennata dan membawanya ke bawah pohon rindang dan memperhatikan Micko yang masih bermain air layaknya anak kecil.


"Liat adek kamu, kayak anak kecil aja." Tawa Rennata.


"Kalau di dunia manusia sih dia aturannya memang masih kecil, kira-kira seumur adikmu."


"Tapi dia kelihatan lebih tua dari Max."


"Begitulah di dunia kami, Ren."


Rennata mengangguk dan tersenyum.


 


Story by Ferlind Kim


Selesai baca divote sama komentarnya ya all.. biar author semangat lanjutinnya 😊☺