MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 10



Setelah resmi menjalin hubungan dengan Brian, Rennata tinggal dirumah Brian dan telah membawa semua barang-barangnya kerumah Brian.


Walau sebelumnya sudah dilarang Brian untuk membawa barang-barang itu karena Brian sudah membelikan semua keperluan Rennata dirumah itu.


"Apa aku masih boleh bekerja denganmu, Brian?." Tanya Rennata yang sedang menyiapkan sarapan pagi mereka. Sebenarnya Brian tidak memerlukan makan, tapi karena ada Rennata dia harus bersikap seperti manusia normal lainnya.


"Tentu saja, tapi kalau kau tidak bekerja pun juga tidak apa-apa. Aku akan memberikan gajimu walaupun kau tidak bekerja."


"Aku tidak mau seperti itu. Aku tidak mau menerima uang darimu kalau tidak bekerja."


"Baiklah, baiklah.. Aku akan kembalikan posisimu sebelumnya, tapi kau mau kan bekerja di ruanganku?.. Aku akan menyuruh orang untuk membuat satu ruangan khusus untukmu disana."


"Jangan,, Apa kata semua orang nanti. Mereka akan semakin memojokkanku. Aku mau seperti karyawan lainnya, dan aku mau kita sembunyikan saja hubungan kita."


Brian mengeluh, dia tidak ingin menyembunyikan hubungan mereka. Dia ingin semua orang tau kalau dia sudah memiliki wanita pilihannya.


"Aku tidak mau menyembunyikan hubungan ini. Aku akan memberi tahu semua orang bahwa kau milikku." Terus terang Brian. Dia melihat Rennata sedikit kaget. "Jika kau tidak setuju, aku tidak akan mengizinkanmu untuk bekerja dan akan mengurungmu dirumah." Tambah Brian mengancam Rennata.


"Baiklah,, Ayo umumkan hubungan kita." Ucap Rennata mengalah sembari duduk dihadapan Brian setelah meletakkan sarapan pagi mereka.


"Nah itu baru good." Senyum Brian menatap gadis yang dicintainya itu. "Bagaimana kalau hari ini kita pergi liburan?."


"Bukankah kau harus pergi bekerja?. Perusahaanmu yang terbakar kan cuma satu, lalu bagaimana dengan pekerjaanmu diperusahaan lainnya?."


"Ahh kau tidak usah memikirkannya, orang-orangku kan banyak.." Senyum Brian.


Rennata hanya bisa mengalah dengan Brian. Dia tidak mungkin menang melawan kekasihnya itu.


"Oh iya, ngomong-ngomong kenapa perusahaan itu bisa terbakar hebat begitu?."


Brian yang mendengar pertanyaan Rennata sontak menghentikan makannya dan menatap Rennata. Dia baru ingat kalau yang menyebabkan perusahaan itu terbakar adalah dirinya sendiri. Dan bahkan Rennata belum dia beritahu tentang jati dirinya.


"Kenapa diam saja?."


"Ahh itu karena ada kesalahan teknis saja. Sudahlah, kita tidak usah membahas itu. Aku jadi sedih mengingat uang yang telah kubuang buat pembangunan kembali." Ucap Brian mencoba mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya dia hanya belum mampu saja untuk menceritakan siapa dirinya ke Rennata.


"Aku minta maaf, sayang. Jadi kita mau liburan kemana?."


"Bagaimana kalau kita kerumahmu?.. Perkenalkan aku dengan keluargamu." Semangat Brian.


"Apa menurutmu ini tidak terlalu cepat?."


"Tidak. Ayo kita temui orangtuamu."


Rennata hanya tersenyum dan mengangguk.


🏵🏵🏵🏵🏵🏵


Siang itu Rennata dan Brian sampai dikediaman keluarga Osbert. Mereka keluar dari mobil dengan bergandengan tangan.


"Ayah, Ibu, aku pulang." Panggil Rennata didepan rumahnya.


"Putriku." Ucap Ayah Rennata memeluk Rennata yang berdiri disebelah Brian.


"Siang om, tante." Sapa Brian.


"Ah selamat siang. Bukankah kamu Brian Balder?."


"Siapa yang tidak kenal dengan pengusaha muda yang sukses sepertimu. Bukankah Rennata bekerja diperusahaanmu. Apa dia bersikap baik?."


"Rennata sangat baik dalam bekerja tante."


"Kita bicara didalam saja, ayo masuk nak Brian." Ajak Ayah Rennata menarik tangan Brian. Brian masuk kedalam rumah diikuti Rennata dan ibunya dibelakang.


Diruang tamu, Rennata mengenalkan Brian secara resmi pada kedua orangtuanya, bahwa Brian adalah kekasihnya. Kedua orangtuanya terlihat kaget mendengar ucapan Rennata, seakan tidak percaya dengan ucapan Rennata. Karena terakhir kali Rennata sedang menjalin hubungan dengan Erick.


"Dan aku mau minta izin om sama tante untuk menjadikan Rennata istriku." Ucap Brian tiba-tiba. Rennata yang mendengar itu pun tidak menyangka Brian akan melamarnya seperti itu.


"Tentu kami mengizinkan. Tolong jaga Rennata kami dengan baik." Senang Ayah Rennata menggenggam tangan Brian dan dibalas anggukan oleh Brian.


"Brian, ayo kita keluar." Ajak Rennata berbisik pada Brian. "Ayah, Ibu.. Renna sama Brian keluar dulu ya?." Izin Rennata berdiri dari duduknya sambil menarik tangan Brian.


Diluar, Rennata langsung menatap tajam pada Brian. Dia benar-benar tidak habis pikir bahwa Brian melamarnya seperti itu. Bukannya dia tidak mau menikah dengan Brian, tapi dia dan Brian baru saja menjalin hubungan. Dan dia bahkan belum tau apa-apa tentang Brian.


"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?.." Tanya Rennata sedikit melotot.


"Apa kau tidak mau jadi istriku?."  Murung Brian menunduk.


"Hah.. Ya sudah, kau jangan sedih begitu. Aku mau jadi istrimu, tapi aku saja belum bertemu dengan keluarga besarmu. Jangan-jangan mereka tidak akan menerima kehadiranku."


Brian terdiam dengan apa yang diucapkan Rennata. Dia tidak masalah keluarganya menerima atau tidak. Tapi Rennata pasti ingin bertemu keluarganya. Dan lagi, dia tidak mungkin membawa Rennata ke dunianya. Dan kalau mengajak kelaurganya kebumi, dia tidak bisa karena hubungannya dengan mereka tidak baik.


"Kau tidak perlu khawatir. Mereka pasti menerimamu dengan baik. Aku akan atur waktu untuk kau bertemu dengan mereka." Ucap Brian memegang tangan Rennata. Dan sebelum itu, dia harus menceritakan semuanya pada Rennata. Agar Rennata tidak takut dan malah pergi meninggalkannya.


"Baiklah sayang. Sekarang kau mau kuajak jalan-jalan kemana?." Tanya Rennata semangat.


"Ayo pergi ketempat yang paling kau sukai."


Brian lalu diajak Rennata berjalan-jalan keliling desanya. Namun seperti biasanya, didekat gang yang paling ditakutinya, Rennata segera mendekat pada Brian dan menggenggam erat tangan Brian.


"Kau kenapa?.. Kau terlihat pucat." Khawatir Brian melihat wajah Rennata. Saat Brian melihat kesampingnya, dia baru sadar bahwa dia berada tepat didepan gang yang dia datangi 10 tahun lalu.


"Tidak apa-apa, ayo kita pergi saja."


Brian hanya mengikuti Rennata yang masih mengenggam erat tangannya. Sekarang dia tau, bahwa gadis itu trauma dengan apa yang terjadi 10 tahun lalu itu.


Dengan begini, dia sedikit ragu untuk menceritakan siapa dirinya ke Rennata. Dia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.


"Apa sebaiknya kita pergi mencari minuman dulu?." Tanya Brian agar ketakutan Rennata bisa hilang. Setelah mendapat persetujuan dari Rennata, Brian mencari minimarket terdekat untuk membeli minuman.


 🏵🏵🏵🏵🏵🏵


Dirumahnya, Erick yang masih sedih setelah kehilangan Rennata, hanya malas-malasan. Kemudian dia mengambil surat yang sudah tertumpuk disamping tempat tidurnya. Setelah membaca isi surat itu, dia tersenyum dan segera bangun dari tidurnya.


"Hahaha, ini yang aku tunggu-tunggu.. Kau fikir aku akan membiarkan kau bahagia dengan wanita pilihanku itu Brian?.. Tunggu dan lihat saja." Tawanya sebelum masuk kekamar mandi.


Bersambung...


Story By Ferlind Kim


Selesai baca divote sama komentarnya ya all.. biar author semangat lanjutinnya 😊☺