MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 21



Pagi itu Brian dan Renata tampak sibuk. Karena mereka akan pergi ke planet tempat Brian berasal.


"Kita harus bawa apa?." Tanya Renata sembari memakai riasannya.


"Tidak usah bawa apa-apa."


"Trus aku harus make baju kayak gimana?."


"Pakai yang biasa kamu pakai aja."


Setelah semua selesai, mereka berdua pergi ke planet Brian dengan bantuan Brian. Sesampainya di sana mereka langsung masuk ke dalam rumah keluarga Ehner.


Mereka langsung disambut pelayan dan setelahnya di antar ke kamar Ratu.


Di kamar itu, mereka melihat Ratu yang sedang menyender di ranjang sembari menggendong seorang bayi. Dan di sana juga berkumpul seluruh saudara Brian dan juga ayahnya.


Brian memang di telfon Robert tadi pagi karena ibu mereka sedang dalam proses melahirkan.


"Selamat ya, Ma?." Senyum Rennata mendekati ranjang ibu mertuanya itu, setelah sebelumnya menyapa anggota keluarga Brian.


"Makasih, sayang. Kamu mau gendong?." Ucap ibu Brian menawarkan anaknya yang baru lahir itu untuk di gendong Rennata yang merupakan menantu pertamanya di rumah itu.


Rennata sangat ingin menggendong adik dari suaminya itu, tapi dia juga merasa tidak sopan pada keluarga Brian yang lain. Bagaimana pun anak yang lahir itu tetaplah berdarah ningrat.


"Kalau mau gendong, gendong aja. Jangan takut gitu, kita semua kan keluarga." Ucap pangeran pertama sekaligus putra mahkota saat menyadari keraguan dan ketakutan Rennata.


"Ahh.. Bolehkah?." Senyum Rennata gembira.


Semua orang mengangguk mendengar pertanyaan Rennata. Mereka juga sangat gemas melihat antusias dan ekspresi Rennata.


Tanpa sungkan lagi, Rennata segera menggendong si bungsu yang baru lahir itu.


"Bukankah kak Renna sangat menggemaskan?." Bisik Oscar putra ketujuh di keluarga itu pada Richard sang putra mahkota.


"Sangat cantik dan menggemaskan.. Aku jadi ingin mempunyai istri seperti Rennata. Coba saja aku yang menemukan dia lebih dulu."


"Aku tau istriku sangat cantik dan menggemaskan, jadi kalian tolong jaga mata dan ingatlah bahwa dia adalah saudara ipar kalian." Tegas Brian yang mendengar saudaranya sedang membicarakan Rennata.


"Ada apa, Brian?.. Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu?." Heran Rennata menatap Brian.


"Kak Richard membicarakan mu seakan-akan dia akan merebut mu dariku."


"Jangan ngelantur gitu, Brian.. Aku hanya membicarakan fakta.. Bukankah Rennata memang cantik dan menggemaskan?." Balas Richard tidak mau kalah. Brian tentu saja langsung melotot pada kakaknya itu.


"Sudah-sudah.. Jangan bertengkar, kalian itu kalau ketemu selalu saja ribut. Mending sekarang kita keluar dan meninggalkan Rennata bersama ibu kalian disini." Ucap dan ajak ayah mereka melerai perdebatan itu. Mereka semua pun keluar dari kamar dan meninggalkan Rennata bersama Ratu.


"Kenapa Mama terlihat tidak senang?." Khawatir Rennata melihat ibu mertuanya itu tersenyum kecut.


"Mama sebenarnya menginginkan seorang putri, tapi yang lahir tetap laki-laki." Jelas Jane selaku ibu Brian itu murung.


"Bukankah yang terpenting itu bayinya sehat, Ma?."


"Iya sih.. Tapi dari dulu Mama sangat mengharapkan kelahiran seorang putri."


"Mama jangan sedih gitu. Walau semuanya laki-laki tapi kan mereka juga akan menikah dan Mama akan mempunyai anak perempuan."


"Benar.. Sekarang kamu juga sudah jadi anak Mama." Senyum Jane menatap Rennata.


"Tentu saja."


"Bagaimana kalau kamu tinggal disini saja?."


"Aku gak bisa kalau itu, Ma. Brian juga harus bekerja di bumi. Tapi aku janji bakalan sering main kesini."


"Malam ini kalian menginap kan?.. Pesta pernikahan kalian kan 3 hari lagi."


"Aku akan minta Brian menginap, Ma. Lagian aku juga senang bisa menggendong bayi ini."


"Nanti malam akan ada acara di istana, pergilah berbelanja bersama Brian. Biar Mama mengurus bayinya."


"Pesta?... Apa pesta kelahiran bayi ini?."


"Tentu saja. Dia akan diumumkan pada semua rakyat dan namanya juga akan diumumkan."


"Apa Mama sudah memikirkan namanya?." Antusias Rennata.


"Itu tugas Raja. Biarkan dia memikirkan nama untuk putranya ini."


"Aku sangat penasaran."


"Nah, sekarang kasih ke Mama bayinya, dan kamu pergi ajak Brian membeli gaun."


Setelah memberikan bayi itu pada Jane, Rennata segera berjalan keluar kamar dan mencari keberadaan suaminya. Saat tengah mencari, dia melihat Brian sedang mengobrol dengan perempuan tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Perempuan itu terlihat sangat dekat dengan Brian, dan Brian juga menanggapi perempuan itu dengan akrab. Rennata yang melihat itu tentu saja merasa cemburu, lalu memilih meninggalkan tempat itu.


Dengan kesal dia berjalan ke arah kamarnya. Dia berencana untuk mengurung dirinya disana.


Ditengah jalan, dia bertemu Richard sang putra mahkota. Rennata tentu saja langsung berhenti dan menyapa kakak iparnya itu.


"Kenapa?.. Sepertinya kamu terlihat kesal." Tanya Richard yang menyadari kekesalan pada wajah Rennata.


"Gak kenapa-napa, Kak. Aku pergi ke kamar dulu." Pamit Rennata kemudian. Namun dia dicegat oleh Richard.


"Aku yakin kamu sedang kesal. Bagaimana kalau jalan-jalan di taman istana bersamaku?. Aku jamin rasa kesal mu akan hilang."


Rennata nampak berfikir akan ajakan Richard. Lalu setelahnya langsung menyetujuinya. Dia akan membalas membuat Brian cemburu. Dia tau bahwa suaminya itu memang sudah ada benih cemburu pada Richard.


Richard dan Rennata langsung berjalan berdampingan menuju taman istana. Beberapa dayang tentu saja mengikuti mereka karena posisi Richard yang merupakan putra mahkota.


Seperti ucapan Richard, Rennata sangat senang melihat bunga-bunga yang bermekaran dan langsung melupakan kekesalannya. Richard hanya tersenyum melihat tingkah adik iparnya itu.


"Jangan berlari.. Berhati-hatilah." Teriak Richard pada Rennata yang berada agak jauh.


Disisi lain, Brian sedang menuju kamar ibunya untuk menemui Rennata. Dia segera masuk kedalam setelah dibukakan pintu kamar oleh penjaga yang memang menjaga kamar Ratu dan Raja.


"Kok kamu masih disini?. Kenapa gak jadi pergi sama Rennata?." Heran Jane melihat putranya masuk ke kamar.


"Pergi?.. Aku bahkan tidak bertemu dengannya. Justru aku kesini untuk memanggilnya."


"Renna sudah keluar dari tadi.. Mama menyuruhnya untuk mengajakmu membeli gaun."


Brian yang bingung itupun pamit pada ibunya untuk mencari Rennata. Dia kembali keluar dari kamar dan mencari Rennata di dalam istana. Namun semuanya nihil, karena dia tidak menemukan sosok istrinya itu.


Dia memutuskan mencari Rennata keluar, dan benar saja, dia melihat Rennata sedang berlarian di taman ditemani Richard.


Tentu saja hal itu membuat Brian kesal. Dengan emosi dia mendekati Richard yang sedang duduk disalah satu kursi sembari memperhatikan Rennata.


"Kak." Panggil Brian dengan wajah kesal.


"Jangan salah paham. Aku mengajaknya ke taman karena dia terlihat kesal tadi."


"Awas saja kalau sampai membohongiku."


Brian lalu beralih mendekati Rennata. Rennata yang melihat kehadiran Brian, kembali teringat apa yang dia lihat sebelumnya. Dia berhenti dan menatap Brian kesal.


"Kenapa malah disini?." Tanya Brian.


"Kenapa kau disini?." Ujar Rennata balik bertanya pada Brian.


"Hah.. Tentu saja aku kesini untuk menjemputmu. Ayo kita pergi dari sini." Memegang tangan Rennata.


Rennata melepaskan pegangan Brian dan berjalan meninggalkan Brian. Brian tentu saja kaget dengan apa yang dilakukan Rennata itu. Dia segera mengikuti Rennata yang sudah berjalan jauh mendahuluinya.


Rennata pamit pada Richard dan segera masuk ke dalam istana. Dia langsung berjalan menuju kamar tanpa memperdulikan Brian yang memanggilnya sejak tadi.


Sesampainya di kamar, Rennata masih tidak memperdulikan Brian dan memilih untuk menenggelamkan tubuhnya di kasur.


"Kamu kenapa, sayang?. Apa aku melakukan kesalahan?." Khawatir Brian duduk di samping Rennata.


"Tanyakan saja pada dirimu sendiri." Judes Rennata.


Brian yang semakin bingung itupun terus membujuk Rennata.


"Apa kamu melihatku bersama Angel tadi?."


"Baguslah.. Sepertinya kalian sangat cocok. Sampai kau berani menyebutkan namanya."


"Hahahaha.. Jadi istriku ini sedang cemburu?." Tawa Brian mencubit pipi Rennata gemas.


"Kenapa malah tertawa?." Heran Rennata.


"Kamu jangan marah lagi, Angel itu sepupuku. Dia anak dari adik Mamaku. Dia kesini karena mendengar kabar bahwa aku datang bersamamu." Jelas Brian.


Seketika wajah Rennata memerah karena malu. Harusnya dia tidak langsung membuat keputusan sendiri.


"Jadi dia bukan pacar mu sebelumnya?."


"Aku kan sudah pernah bilang, aku cuma pernah menjalin hubungan dengan bangsa manusia sebelum bersamamu.. Dan itupun cuma sekali. Aku tidak pernah memiliki wanita spesial di duniaku ini."


Rennata langsung bernafas lega dan segera duduk dari tidurnya. Dia segera memeluk Brian senang. Dan tentu saja dibalas oleh Brian.