
Malam ini akan diadakan pesta atas kelahiran cucu pertama keluarga kerajaan. Sudah sejak pagi semua yang ada di istana sibuk dengan segala persiapannya. Bahkan Rennata juga sudah menyiapkan pakaian untuk kedua bayinya yang masih hitungan hari itu.
Mark dan Robert juga sudah datang sejak dinihari tadi. Tentu saja Mark datang dengan bantuan Robert. Dia juga sudah menemui kedua orangtuanya yang sudah seminggu berada disana.
Pagi itu, dikamarnya Brian sudah bersiap dengan pakaian kantornya. Rennata yang baru terbangun itupun kaget melihat suaminya sudah memakai pakaian kantor. Padahal yang dia tau, suaminya sudah meminta wakilnya untuk menggantikannya sementara waktu.
"Kamu udah bangun, sayang." Ucap Brian mendekati Rennata dan mencium keningnya.
"Kamu kenapa pake baju kantor?."
"Maaf sayang, aku akan ke kantor sebentar saja."
"Kalau gitu aku ikut denganmu."
"Aku hanya sebentar untuk mengecek keadaan kantor. Kalau kamu ikut, gimana sama anak-anak?."
"Tapi kamu beneran cuma sebentar kan?. Jangan coba-coba ketemu cewek itu lagi." Ancam Rennata.
"Iya sayang, aku gak akan lakuin kesalahan lagi." Senyum Brian.
Rennata hanya diam lalu kemudian mengangguk untuk mengizinkan suaminya itu ke bumi.
Sebelum keluar kamar, Brian berjalan ke box bayi untuk mencium si kembar. Setelahnya dia langsung saja keluar kamar dan pergi ke bumi.
Setelah Brian pergi, Rennata pun turun dari ranjangnya, lalu pergi ke kamar mandi setelah memastikan kedua anaknya masih tertidur lelap. Tanpa berlama-lama dia segera membasahi seluruh tubuhnya. Dia tidak ingin jika terlalu lama di kamar mandi, anak-anaknya bisa saja terbangun dan menangis.
Sekitar 30 menit kemudian, Rennata pun selesai mandi dan berganti pakaian. Setelah memakai serangkaian skincare paginya, dia segera keluar dari kamar mandi dan berjalan ke box bayi tempat anaknya tertidur.
"Eh, Rendra udah bangun. Kalau gitu kita mimik dulu ya, habis itu gantian sama Naela." Ucap Rennata saat melihat Narendra terbangun.
Dia pun menggendong putranya itu lalu membawanya ke ranjang miliknya. Sembari menyusui Rendra, Rennata menatap keluar jendela untuk melihat suasana pagi itu. Setelah menyusui Rendra, dia pun langsung menyusui Naela.
Saat kedua bayinya selesai diberi ASI, Rennata keluar dari kamar untuk memanggil para dayang yang bertugas memandikan dan mendandani si kembar.
Lalu setelahnya dia pergi ke aula untuk melihat para pelayan yang sedang bekerja. Saat tengah asyik melihat-lihat, dia dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
Rennata spontan langsung saja melepaskan pelukan itu dan menoleh ke belakang. Dia tentu saja kembali kaget saat menyadari adiknya Mark sudah berdiri disana sembari tersenyum.
"Mark!." Serunya sembari memeluk adiknya itu. Karena memang kesibukan Mark selama ini, jadi membuat mereka sangat jarang bertemu.
"Aku kangen kakak." Ucap Mark membalas pelukan Rennata.
"Kakak juga, kamu kapan nyampe disini?."
"Tadi pas dinihari bareng kak Robert."
"Kamu udah ketemu Ayah sama Ibu?."
"Udah kok, kak. Kakak kok sendirian aja, kak Brian kemana?. Trus dedek bayinya juga mana?."
"Brian lagi ke bumi, trus dedek bayinya lagi di mandiin. Kamu belum pernah ketemu mereka kan?, ayo temui kedua keponakanmu." Ajak Rennata menarik tangan Mark.
Dua kakak beradik itupun berjalan pelan menuju kamar Rennata untuk bertemu si kembar. Sepanjang jalan, mereka terus mengobrol membicarakan banyak hal. Bahkan Mark mengaku bahwa dia sedang menjalin hubungan dengan salah satu fansnya.
"Apa kamu boleh pacaran sama agensimu?." Tanya Rennata khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk dengan keputusan adiknya itu.
"Boleh, kak. Cuma aku harus berhati-hati dan apalagi aku menjalin hubungan dengan fans."
"Kapan-kapan kamu harus kenalin ke kakak. Dia sangat beruntung bisa pacaran dengan idolanya."
"Baiklah kak. Aku akan mengajaknya menemui kakak dalam waktu dekat."
Akhirnya mereka sampai di kamar milik Rennata. Rennata langsung saja mengajak adiknya itu masuk ke dalam kamar untuk menemui si kembar.
"Apa kau mau menggendong salah satu?." Tanya Rennata yang melihat adiknya yang terlihat sangat ingin menyentuh si kembar.
"Tidak usah kak, aku takut jika membuat mereka terluka." Tolak Mark.
"Kau gendonglah si Rendra, dia yang paling tenang."
"Mm apa benar tidak apa-apa?." Khawatir Mark. Dia sebenarnya bukan khawatir akan menjatuhkan bayi itu, tapi dia khawatir karena walaupun mereka adalah keponakannya, status kedua keponakannya itu tetaplah cucu dari seorang Raja.
"Tidak apa-apa. Jangan takut seperti itu."
Akhirnya karena terus di yakinkan kakaknya, Mark pun menggendong Rendra. Dia tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat betapa imut dan tampannya keponakannya itu.
"Dia sangat tampan. Aku harus memotretnya dan memperlihatkannya di akun sosmedku." Senyum Mark.
Saat tengah asyik menggendong Rendra, Mark dan Rennata kaget saat melihat Robert masuk dengan nafas tak karuan.
"Kau kenapa, kak?." Heran Mark.
"Hahh, kenapa kau meninggalkanku?. Bukankah aku bilang tunggu di aula."
"Hehe maaf, kak. Aku bertemu kak Renna, jadi aku ikut dengannya kesini."
"Pelankan suaramu, Bert. Nanti mereka kaget." Ucap Rennata yang khawatir bayinya menangis karena kaget.
"Maaf kak. Ahh, apa aku juga boleh menggendong bayinya?." Ucap Robert mendekat ke arah Mark yang masih menggendong Rendra.
"Boleh saja. Tapi Naela sedikit aktif dari Rendra."
"Tenang aja, kak. Aku bahkan pernah menggendong adik-adikku yang jauh lebih ganas. Sini aku gendong si Naela."
Rennata pun menggendong Naela dan memberikannya pada Robert.
"Apa kami boleh membawa si kembar keluar, kak?." Tanya Robert.
"Baiklah, tapi tetap bawa pengawal."
"Tentu, kak. Kalau gitu kami akan keluar sebentar."
Setelah Robert dan Mark keluar dari kamar sembari membawa si kembar. Rennata pun juga keluar untuk menyapa kedua mertuanya. Dia juga sangat ingin melihat baby Mike yang merupakan adik bungsu dari Brian.
Dia pun melihat ibunya Brian yang sedang duduk di taman dengan ditemani beberapa dayang dan pengawal.
"Pagi, Ma." Sapa Rennata mendekati.
"Ahh, ada putriku ternyata. Kenapa sendiri?. Mana si kembar?."
"Mereka sedang bersama Robert dan Mark, Ma."
"Mereka ditemani pengawal kan?."
"Iya, Ma. Oh ya, Mike mana, Ma?."
"Dia bersama ayahnya. Sepertinya di ajak berkeliling keluar istana."
"Padahal aku ingin bertemu Mike."
"Nanti malam juga bakal ketemu. Duduklah, temani mama mengobrol disini."
Rennata hanya mengangguk setuju dan duduk di dekat ibu mertuanya itu. Taklama, ibunya juga ikut bergabung setelah Jane sang ibu mertua meminta salah satu pengawalnya memanggil ibu Rennata.
Mereka asyik mengobrol sembari meminum teh yang di sediakan dayang. Dan Rennata juga sangat senang bisa memiliki dua orang ibu yang benar-benar sayang padanya.