MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 32



Pagi itu Rennata sedang berjalan-jalan di depan taman istana sembari ditemani beberapa pengawal dan dayang. Sebenarnya dia dan Brian berniat untuk kembali ke Bumi sesaat setelah keluar dari rumah sakit, namun kedua orangtua Brian melarang dan meminta mereka untuk tetap tinggal di istana sampai Rennata benar-benar pulih.


"Sayang." Panggil Brian berjalan mendekati Rennata yang sedang asyik melihat-lihat bunga.


"Iya, kenapa sayang?." Sahut Rennata menatap Brian.


"Aku pergi kerja dulu ya?. Kamu jangan pernah jalan sendirian, harus ada yang menemani." Pamit Brian memeluk istrinya itu, tentu saja semua pengawal dan dayang menunduk karena tidak berani menatap pangeran dan putri.


"Baiklah sayang. Aku tidak akan berjalan sendirian."


Brian tersenyum lalu pergi meninggalkan Rennata setelah mencium kening istrinya itu. Dengan sekejap mata, Brian langsung menghilang.


Di kantor, Brian sangat kaget saat dia masuk ke ruangannya. Disana dia melihat Jessy duduk di sofa ruangannya.


"Selamat pagi, Pak. Maaf saya masuk sembarangan." Sapa Jessy menyadari kedatangan Brian.


"Iya pagi, ada apa ya?." Duduk di kursinya.


"Begini Pak, saya datang kesini karena permintaan boss saya, beliau menyuruh saya untuk bekerja disamping bapak."


"Mm baiklah, kamu bisa datang saat kita membahas proyek dan harus melihat perkembangan proyek tersebut."


"Baik, Pak. Saya hanya ingin menyampaikan hal tersebut. Kalau begitu saya pamit."


"Tunggu!. Kalau begitu tinggalkan kontak mu, biar kalau ada apa-apa bisa langsung saya hubungi."


"Ah baiklah Pak."


Sebelum meninggalkan ruangan Brian, Jessy meninggalkan kontaknya lalu setelahnya langsung meninggalkan ruangan itu.


"Kenapa malah berdebar sih, kamu kan tau sendiri tidak akan bisa bersamanya lagi. Sadarlah Brian!." Lirih Brian pada dirinya sendiri yang tidak bisa menahan jantungnya yang terus berdebar sejak tadi.


Namun tidak seperti harapan Brian, semakin hari dia semakin ingin bertemu dengan Jessy. Bahkan Rennata pun sekarang jarang dia perhatikan.


Rennata yang memang sangat peka itu memang sudah mulai merasa curiga dengan perubahan suaminya. Namun dia mencoba menepis semua kecurigaan itu dengan dalih bawaan hamil. Dia juga sudah beberapa kali berniat untuk mengikuti Brian diam-diam, dan tentu saja hal itu segera dia urungkan karena takut akan membuat Brian berfikir dia terlalu posesif.


Saat ini usia kehamilan Rennata sudah mau masuk 9 bulan, jadi dia sudah semakin diperketat pengawalannya. Seperti biasanya, pagi itu Rennata berjalan-jalan di taman ditemani para pengawal dan dayang.


"Apa Brian tidak pulang semalam?." Tanya Richard sang pangeran pertama mendekati Rennata.


"Tidak kak. Sepertinya dia bekerja lembur."


"Anak itu kenapa lebih mementingkan pekerjaan daripada istrinya yang hampir melahirkan ini."


"Tidak apa-apa, kak. Karena biasanya emang dia selalu lembur jika sedang mengerjakan proyek penting."


"Kamu jangan terlalu baik padanya, Ren."


Rennata hanya tersenyum menanggapi ucapan kakak iparnya itu. Dia sebenarnya juga selalu berfikir negatif tentang Brian, namun dia selalu memendamnya agar tidak terjadi pertengkaran.


Sedangkan di bumi, Brian yang memang tidak pulang itu sedang tertidur lelap di rumahnya. Dia terbangun saat seseorang membuka tirai gorden di kamarnya. Dia tersenyum melihat siapa yang membuka tirai tersebut, lalu berjalan mendekati sosok itu yang tengah berdiri menatapnya.


Tanpa ada ucapan apapun, Brian memeluknya lalu dibalas oleh sosok itu.


"Apa tidurmu nyenyak?."


"Tentu saja, karena kamu ada disini." Senyum Brian mempererat pelukannya.


"Mandilah, aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Aku tunggu di meja makan."


"Baiklah, aku segera turun ke bawah Jes." Ucap Brian tersenyum mencium pipi perempuan yang dipanggilnya Jes itu.


Ya, sosok itu adalah Jessy. Reinkarnasi dari masa lalunya. Dia memang sudah dekat dengan Jessy semenjak sering bertemu dengan Jessy.


Brian juga jarang menemui Rennata karena selain sibuk dengan pekerjaan, dia juga sibuk dengan Jessy. Bahkan mungkin dia merasa lebih mencintai Jessy daripada Rennata.


Hari demi hari berlalu, Brian hanya menemui Rennata sesekali. Bahkan saat ini dia sudah hampir seminggu tidak pulang dan hanya sibuk dengan Jessy.


Rennata yang ingin bertemu Brian meminta untuk diizinkan ke bumi pada Raja dan Ratu. Tentu saja mereka mengizinkan dan mengantar Rennata ke bumi. Namun dengan syarat harus ditemani oleh salah satu pangeran. Karena Rennata dekat Richard, jadi dia meminta untuk ditemani Richard.


Setelah di bumi, Rennata mencari Brian di rumah namun tidak menemukan sosok Brian. Dia pun memutuskan ke kantor untuk menemui Brian.


"Kak, aku akan ke kantor Brian. Kakak tunggu disini aja ya?."


"Kamu yakin akan baik-baik saja?."


"Iya kak. Lagian nanti aku juga bersama Brian."


"Baiklah. Aku akan tunggu disini."


Rennata pun pergi ke kantor Brian di antar oleh supir pribadi di rumah itu. Dia sudah tidak sabar bertemu Brian yang sudah tidak bertemu hampir seminggu itu.


Sesampainya di kantor, tanpa pikir panjang dia segera naik ke lantai tempat ruangan Brian berada. Sebelum masuk ke dalam ruangan dia menarik nafas agar tidak terlalu gugup.


Saat membuka pintu, semua bayangannya tentang Brian yang akan berlari memeluknya segera sirna. Karena bukannya melihat hal itu, dia malah melihat suaminya sedang berpelukan dengan seorang wanita.


Dengan airmata yang tidak bisa dibendung, Rennata terduduk lemas. Brian yang saat itu sadar dan melihat Rennata sedang terduduk lemas itu segera mendorong wanita itu yang tak lain adalah Jessy.


Dengan panik dia mendekati Rennata. Namun saat dia akan menolong Rennata, Rennata menolak dan langsung berdiri. Dengan airmata yang masih tidak bisa berhenti itu, dia pergi meninggalkan ruangan dan kantor itu.


Brian yang akan mengejar Rennata itu di tahan oleh Jessy.


"Lepas!." Bentak Brian.


"Aku minta maaf, aku sudah salah. Kita sebaiknya jangan bertemu lagi, anggap semua yang terjadi selama ini tidak pernah terjadi."


"Tidak bisa."


"Pokoknya sekarang kita tidak ada hubungan apa-apa. Jangan menahanku, aku sadar hubungan kita salah, aku mencintai istriku. Aku sudah salah padanya."


Brian menepis tangan Jessy lalu berlari mengejar Rennata. Namun nihil karena Rennata sudah meninggalkan tempat itu. Dia tidak peduli lagi, dia menggunakan kekuatannya untuk mencari Rennata.


Rennata akhirnya sampai di rumah tempat Richard menunggu. Dengan wajah sembab Rennata menemui Richard.


"Ayo kita pergi, kak." Ajak Rennata dengan suara paraunya.


"Emang udah ketemu Briannya?. Kok kamu malah kayak habis nangis gitu?."


"Aku gak apa-apa kok kak. Aku pengen balik ke istana sekarang."


Richard yang menyadari telah terjadi sesuatu itu pun hanya diam dan mengikuti permintaan Rennata.


Setelah mengantar Rennata ke istana, Richard diam-diam telah melihat apa yang terjadi saat dia memegang tangan Rennata tadi. Dia pun bergegas kembali ke bumi untuk menemui Brian.


Tidak butuh waktu lama, dia langsung muncul di samping Brian yang sedang membawa mobil itu.


"Astaga, kau bikin kaget saja kak."


Richard hanya diam dan memindahkan mereka ke dimensi lain. Dimana tidak ada seorang pun disana.


"Jadi ada apa kau muncul tiba-tiba dihadapanku?."


"Keluar!." Perintah Richard.


Brian pun keluar dari mobil diikuti Richard. Baru saja menutup pintu, Richard langsung memukulnya.


"Kenapa kau memukulku kak?."


"Kau pantas dipukul. Bagaimana mungkin kau yang sangat mencintai Rennata bisa melakukan hal hina itu?. Apalagi istrimu sedang mengandung."


Brian terdiam mendengar ucapan kakaknya.


"Apa perlu ku bantu kau melenyapkan wanita itu?."


"Jangan kak, dia tidak bersalah. Akulah yang salah. Hanya karena dia mirip dengan kekasih masa laluku, aku lantas buta dan malah menjalin hubungan dengannya."


"Sepertinya kau sudah terlalu lama di bumi, jadi kau memiliki sikap yang bisa mengotori darah kerajaan. Aku tidak akan memberi tahu orang tua kita tentang masalah ini, temui dan minta maaflah pada Rennata. Jika saja orang tua kita tau, kau mungkin akan kehilangan nyawamu."


Brian hanya mengangguk setuju. Dia dan Richard segera ke planet mereka. Brian yang merasa sangat bersalah itu segera berlari ke kamarnya bersama Rennata.


"Ren, maafkan aku, kamu boleh menghukumku bahkan membunuhku jika kamu mau. Tapi aku mohon maafkan aku." Sujud Brian berlutut di hadapan Rennata yang masih menangis di atas ranjang.


Rennata hanya diam dan memperhatikan Brian. Dia sudah terlanjut sangat sakit hati dengan apa yang telah dilakukan Brian.


"Maafkan aku Ren. Aku mengakui kesalahanku."


"Pergi saja bersamanya dan tinggalkan aku bersama anakku."


"Tidak!. Aku tidak pergi bersamanya. Aku akan tinggal bersamamu dan anak kita."


"Apa kau benar-benar mencintaiku?. Dimana Brian yang ku kenal dulu?."


"Aku masih mencintaimu seperti dulu, Ren. Aku mohon maafkan aku."


"Tidak untuk saat ini, silahkan tinggalkan kamar ini. Ahh, aku lupa, harusnya aku yang pergi dari sini. Aku akan mengemasi barang-barangku."


"Jangan!. Kamu jangan pergi, aku akan melakukan segalanya untuk membuatmu percaya lagi, beri aku kesempatan."


"Aku akan beri kesempatan, namun tidak saat ini. Buktikan saja jika kau memang merasa bersalah dan bahwa kau mencintaiku."


"Aku akan buktikan padamu."


"Tapi aku tidak ingin satu kamar denganmu, carilah kamar lain."


"Tapi.."


"Tidak ada bantahan. Aku ingin sendiri, pergilah dari hadapanku."


Brian tidak bisa berkata-kata lagi, dia segera keluar dari kamar itu dengan wajah tertunduk. Di depan pintu, dia melihat Richard yang tengah menyilangkan tangannya.


"Ikut aku."


Brian hanya diam dan mengikuti kakaknya. Di hutan yang sepi, Richard langsung memukul Brian sampai babak belur. Brian tidak melawan dan hanya menerima semua itu. Dia merasa dia sangat pantas mendapatkan hal itu.


Setelah puas memukul Brian, Richard terduduk di dekat tubuh Brian yang sudah penuh dengan darah itu.


"Ini belum seberapa, jika kau memang sudah tidak ingin memilikinya lagi, tinggalkan dia. Dan aku yang akan membahagiakannya."


Brian yang sudah sangat kesakitan itu melotot pada kakaknya.


"Jangan harap kau bisa merebut Rennata dariku, kak. Dia milikku dan selamanya akan jadi milikku. Aku tidak akan melepaskannya karena aku mencintainya."


"Aku pegang ucapanmu, jika kau melakukan kesalahan lagi dan membuatnya bersedih, aku akan membunuhmu." Ancam Richard lalu menghilang meninggalkan Brian sendiri.


Brian yang sudah tak berdaya itu pun akhirnya pingsan. Untung saja beberapa pengawal menemukannya dan segera membawanya ke istana.