
Sepulang dari kantor, Brian dan Rennata mampir ke sebuah restoran karena Rennata tiba-tiba ingin makan disana. Mereka langsung masuk dan Brian memesan ruangan VVIP untuknya bersama Rennata.
"Kenapa harus buang-buang uang buat makan aja." Ucap Rennata saat mereka sudah berada di ruangan dan sedang menunggu pesanan.
"Tidak apa-apa. Ini kan demi ketenangan kita juga. Apalagi akhir-akhir ini ada wartawan yang ngikutin buat cari info soal pernikahan kita kan." Jelas Brian.
"Iya juga sih. Oh ya, tadi Mark nelfon. Dia besok kan ulang tahun, katanya dia mau ngajak kita, Ibu, sama Ayah buat liburan."
"Boleh aja sih. Tapi aku nyusul ya?. Soalnya aku mau ketemu klien dulu."
"Aku boleh pergi duluan?."
"Boleh dong, sayang. Jadi malam ini kita nginap di rumah Ayah sama Ibu aja. Sekalian kasih kejutan soal kehamilan kamu." Saran Brian tersenyum.
"Setuju. Kalau gitu nanti kita mampir beli oleh-oleh buat mereka."
Brian mengangguk menyetujui ide istrinya itu. Dan tak lama makanan pesanan mereka pun datang. Mereka makan dengan tenang dan Rennata menghabiskan porsi double yang dipesan Brian.
Selesai makan dan membayar pesanannya, mereka segera menuju ke mobil. Brian mengarahkan mobilnya ke arah rumah Ayah dan Ibu Rennata berada.
Mereka kembali menikmati perjalanan setelah sebelumnya berhenti untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga Rennata.
Sepanjang perjalanan, Rennata tertidur. Mungkin karena lelah dan bawaan bayinya juga. Brian juga menyalakan pemanas agar istrinya itu tidak kedinginan, karena Rennata memakai pakaian yang agak terbuka. Padahal Brian sudah melarangnya, namun Rennata malah bersikeras. Dan seperti biasanya, Brian hanya bisa mengalah.
Setelah melewati perjalanan yang lumayan memakan waktu, Brian masuk ke pekarangan rumah orangtua Rennata dan memarkirkan mobilnya.
Dia keluar dari mobil dan membuka pintu di sebelah Rennata. Karena tidak ingin membangunkan istrinya itu, Brian menggendong tubuh Rennata. Dia sedikit berhati-hati saat Rennata mulai terbangun, namun Rennata kembali tertidur di gendongan Brian.
"Malam Yah, Bu." Sapa Brian saat dihampiri orang tua Rennata.
"Astaga, kalian ternyata pulang. Kenapa gak kasih kabar dulu?."
"Mendadak aja sih, Yah."
"Itu Rennata nyenyak banget kayaknya, langsung bawa ke kamar aja."
"Baik , Bu. Aku antar Rennata ke kamar dulu."
Brian membawa Rennata ke kamar milik mereka. Sesampainya di kamar, Brian memindahkan Rennata ke atas ranjang dengan hati-hati. Dia melepas sepatu Rennata dan menyelimutinya.
Saat Brian akan berjalan keluar kamar, tiba-tiba dia di panggil Rennata.
"Sayang." Panggil Rennata.
"Iya, Sayang. Kok kamu udah bangun aja?. Lanjutin aja tidurnya, aku mau ke bawah ngobrol sama Ayah Ibu." Sahut Brian mendekat pada Rennata dan mengelus rambut Rennata.
"Aku ikut. Kan kita mau kasih surprise buat mereka." Duduk dari tidurnya.
"Lho, tapi kan kamu kayaknya udah ngantuk banget."
"Nanti kita tidurnya samaan aja."
Brian mengangguk dan tersenyum. Dia menuntun Rennata turun dari ranjang, lalu menggandeng istrinya itu keluar kamar.
Mereka pun turun ke lantai bawah untuk menemui kedua orang tua Rennata.
"Lho, Na. Kok udah bangun aja?. Kalau masih ngantuk tidur aja." Kaget Ibu Rennata menghampiri.
"Udah gak ngantuk kok, Bu." Senyum Rennata memeluk ibunya lalu memeluk ayahnya.
"Ya udah. Ayo kita ngobrol sambil duduk."
"Oh ya, Yah, Bu. Kami mau bilang selamat buat kalian berdua." Ucap Rennata yang mampu membuat kedua orangtuanya berhenti.
"Untuk apa?. Bukankah gak ada hal istimewa hari ini bagi Ibu dan Ayah?."
"Karena, sebentar lagi Ibu dan Ayah jadi kakek sama nenek." Semangat Rennata.
"Ya ampun, benarkah?. Kamu lagi hamil, Na?."
"Iya, Yah. Renna hamil.."
Rennata langsung di peluk orangtuanya yang menangis bahagia. Brian dan Rennata sangat senang dengan reaksi mereka.
Saat sedang berpelukan itu, mereka mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Mereka berempat langsung berjalan keluar rumah.
Diluar mereka melihat Mark yang keluar dari mobil sport keluaran terbaru. Rennata dan kedua orangtuanya langsung menghampiri Mark dan memeluknya.
"Ayo kita masuk dulu." Ajak Ayah Rennata merangkul Mark putranya.
Semua orang masuk ke dalam dan berkumpul di ruang keluarga.
"Kamu emang gak ada jadwal Mark?."
"Buat 3 hari ke depan udah enggak, kak. Jadi mumpung istirahat jadinya pulang."
"Jadi kamu mau liburan kemana, Mark?." Tanya Brian.
"Kemana aja sih kak, asal semua ikut."
"Gimana kalau ke Swiss?." Usul Brian yang sudah mencari tempat saat di kantor tadi.
"Kalau gitu aku bakal pesanin tiket pesawat buat pagi besok."
"Kalau gitu Ibu bakal siapin semua yang perlu dibawa dulu." Semangat Rose berdiri dari duduknya.
"Kok Ayah kayak mau nangis gitu?." Khawatir Rennata saat melihat sang ayah yang tersenyum sembari dengan mata memerah.
"Ah tidak. Ayah hanya terlalu senang melihat kalian semua datang, dan apalagi kita akan punya anggota keluarga baru."
"Ayah kalau sepi disini, datang saja ke kota, menginaplah di rumah kami." Ajak Brian yang ikut merasakan perasaan ayah mertuanya itu.
"Makasih nak. Kami pasti akan main kesana."
"Yah, emang siapa anggota keluarga kita yang baru?." Penasaran Mark.
"Ini, keponakanmu." Senyum Rennata mengelus perutnya.
"Benarkah?. Astaga aku bakal jadi paman. Apa kak Robert udah tau?." Antusias Mark senang.
"Belum kayaknya."
"Kalau gitu aku akan menelfonnya."
Mark mengambil ponselnya dan menelfon Robert. Tidak butuh waktu lama, panggilan itupun tersambung.
"Hallo, Mark." Sapa Robert dari seberang telfon.
"Hallo kak."
"Apa kau sudah sampai di rumah?."
"Sudah kak. Disini juga ada kak Renna sama kak Brian."
"Benarkah?. Harusnya tadi aku setuju waktu kau mengajakku menginap di rumahmu."
"Justru aku beruntung kau tidak datang." Celetuk Brian yang membuat Rennata melotot. Namun tentu saja Brian tersenyum senang.
"Hahaha tuh denger apa yang di bilang kak Brian kak." Tawa Mark.
"Emang kakak durhaka." Balas Robert.
"Dimana-mana gak ada yang namanya kakak durhaka ya?." Balas Brian lagi.
"Udah gak usah berantem." Lerai Rennata.
"Oh ya, kak. Kakak tau gak?. Sebentar lagi kita bakal jadi paman." Ucap Mark.
"Wah benarkah?. Aku sudah tidak sabar melihat dia lahir. Selamat ya kak Renna?."
"Iya makasih, Robert."
"Kenapa cuma selamat buat Renna?. Kan aku juga ikut andil dalam kehamilan ini." Celetuk Brian lagi.
"Emang iya?. Kok aku gak tau?." Jawab Robert memancing kekesalan Brian.
"Emang kau fikir bayi itu bisa datang dengan ditiup doang." Emosi Brian.
"Robert, udah dulu ya?. Jangan marah sama kakakmu." Ucap Rennata merebut ponselnya dari tangan Mark.
"Hahaha iya kak, aku gak marah kok. See you semuanya." Tawa Robert sebelum menutup telfonnya.
Rennata mengembalikan ponsel Mark setelah panggilan berakhir. Dan dia kemudian mengajak Brian untuk istirahat ke kamar. Brian kembali melunak dan berjalan ke kamar setelah minta izin pada ayah dan adik Rennata.
"Kamu mandi dulu sana, habis itu aku." Perintah Rennata melepas kancing kemeja Brian setelah mereka sampai di kamar.
"Berdua dong." Manja Brian.
"Ya udah. Tapi gak ada kegiatan lain selain mandi oke?."
"Emang kegiatan apa?." Tanya Brian menggoda Rennata.
"Kalau gitu kamu mandi sendiri aja sana." Bersiap berjalan meninggalkan Brian.
Brian menahan tangan Rennata dan tersenyum. Dia tau tidak mungkin bisa menikmati tubuh Rennata saat ini. Apalagi dia tidak ingin memaksa Rennata saat istrinya itu dalam keadaan hamil.
"Hahaha iya enggak, sayang. Kita cuma mandi kok. Ayo buruan, habis itu kita tidur."
"Bener lho ya?."
"Iya sayang. Ayo makanya ke kamar mandi."
Rennata akhirnya setuju untuk mandi berdua dan masuk ke kamar mandi. Brian mengatur air hangat di bathub agar dia bisa berendam bersama Rennata.
Rennata masuk ke dalam bathub setelah Brian masuk. Sepertinya janjinya, Brian tidak meminta berhubungan pada Rennata dan hanya sesekali mengelus gunung putih milik Rennata saat dia membersihkan tubuh Rennata.
Rennata tampak memerah saat tangan Brian mulai meraba tubuhnya itu. Namun dia tetap tidak mau melakukan hal intim dengan suaminya itu.
Setelah hampir satu jam berendam, Brian dan Rennata keluar dari kamar mandi dan langsung memakai piyama mereka.
Rennata langsung naik ke atas ranjang dan tidur memeluk Brian yang sudah berbaring lebih dulu. Mereka sama-sama tertidur dalam kondisi memeluk satu sama lain.