MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 30



Sore itu, saat semua orang berkumpul di taman hotel, mereka dihampiri Robert yang memang menyusul.


"Kenapa kau kesini?." Kaget Brian melihat adiknya.


"Tentu saja untuk berlibur bersama."


"Siapa juga yang mengajakmu."


"Mark, aku akan sekamar dengannya."


"Kamu jangan kayak gitu, sayang. Kan bagus kalau makin rame. Lagian dia kan adikmu, bukan orang lain." Ucap Rennata.


Brian hanya menghela nafasnya lalu tersenyum pada Rennata.


Esoknya, dengan permintaan dari Mark, akhirnya mereka semua pergi ke destinasi paling terkenal di Swiss, yakni Jungfraujoch yang merupakan cekungan dataran abadi pegunungan Alpen yang di apit dua puncak gunung.


Untuk menuju kesana, mereka menaiki kereta listrik. Rennata yang belum pernah menaiki itu sangat takjub saat kereta itu mulai bergerak dan memperlihatkan pemandangan sekitar yang sangat indah.


Brian hanya terus tersenyum melihat wajah takjub istrinya itu.


"Bukankah ini sangat menakjubkan?." Kagum Rennata.


"Tentu." Angguk Brian.


"Katanya kita bisa main sky disini."


"No. Aku gak akan izinin kamu lakuin hal kayak gitu. Inget, anak kita masih belum kuat, bagaimana jika kamu terjatuh." Larang Brian dengan tegas.


"Brian bener, nak. Kehamilan kamu masih sangat rentan." Setuju Rose sang ibu. Dan hanya dibalas cemberut oleh Rennata.


Tidak butuh lama, mereka sampai di stasiun pemberhentian. Dengan menggandeng tangan Brian, Rennata keluar dari kereta diikuti yang lain.


"Sekarang boleh berpencar kan?." Antusias Robert.


"Ya kita berpencar aja, nanti kita kumpul disini lagi." Setuju Brian.


Mereka semua pun berpencar ke tempat yang ingin mereka kunjungi.


"Makasih ya sayang?." Ucap Rennata mempererat pegangannya pada Brian.


"Untuk apa?."


"Karena kamu udah ajak keluarga aku liburan kesini."


"Kan keluarga kamu juga keluarga aku sayang. Jadi walau kamu gak minta pun, aku bakalan lakuin yang terbaik untuk semua kok."


Sedangkan disisi lain Robert sibuk bermain salju bersama Mark. Bahkan Robert lupa jika dia terlalu lama bermain salju, dia akan membeku. Namun hal itu untung saja tidak pernah terjadi, karena Brian selalu mengalirkan kekuatannya saat mulai melihat Robert sedikit kaku.


"Robert!." Panggil Brian.


"Iya, kak?." Sahut Robert.


"Udah main saljunya, mending jangan jauh-jauh dariku kalau dalam cuaca seperti ini."


"Hmmm baiklah." Patuh Robert berhenti bermain.


"Karena semua berkumpul, ayo kita foto bersama." Ajak Rennata.


Brian yang fasih berbagai bahasa itu pun mendekati seorang turis untuk meminta tolong memotret mereka.


Mereka semua pun berfoto dengan latar pengunungan bersalju yang sangat indah. Setelah itu, mereka pergi ke restoran puncak gunung untuk mengisi perut.


"Mark, ini kado dari kakak buat kamu." Ucap Brian menyodorkan sebuah amplop berisi berkas saat mereka semua sudah duduk dan menunggu pesanan.


"Gak perlu repot-repot kak. Jalan-jalan ini kan udah aku anggap kado dari semuanya."


"Beda dong. Pokoknya kamu terima ini ya?."


"Makasih kak. Lho ini kan berkas pembelian rumah."


"Wah, ini kan rumah yang ada disebelah rumah aku."


"Yap benar. Karena sengaja biar kalau ada apa-apa kalian bisa langsung ketemu."


"Lho, kenapa malah nangis, Mark?." Kaget Rose sang ibu melihat putranya meneteskan airmata.


"Aku terharu aja, Bu. Makasih banget ya, kak Brian?."


"Iya sama-sama. Kamu tandatangani gih, biar pulang dari sini bisa langsung pindah kesana."


Mark mengambil bolpoin yang memang selalu dia bawa di ransel kecil miliknya. Karena identitsnya sebagai idola itulah yang mengharuskannya seperti itu.


"Nah, sekarang kamu simpan baik-baik dokumen itu."


"Iya kak."


"Iri deh sama Mark, aku aja yang adik kandungnya gak di manjain gini." Ucap Robert.


"Jangan asal ngomong ya, Bert. Selama ini yang jadi pengganti ayah disini kan aku. Lagian semua kebutuhan kamu, aku yang penuhin. Rumah yang kamu tempatin kan juga aku yang beliin." Sewot Brian.


"Gak usah ribut deh. Kita ini kesini mau makan, bukan mau ribut." Lerai Rennata yang sudah muak dengan tingkah kakak beradik itu.


Brian dan Robert langsung diam. Dan setelah pesanan mereka datang, mereka semua langsung makan tanpa berbicara sepatah kata pun.


Keheningan itu berlanjut sekitar hampir satu jam, karena semua sibuk mengisi perut mereka.


Selesai makan, mereka mengobrol sembari memperhatikan sekitaran mereka.


"Habis ini mau kemana, Mark?." Tanya Brian.


"Gimana ya, kak. Kayaknya aku harus balik malam ini deh, soalnya besok ada jadwal."


"Lho, kamu gak libur seminggu?." Kaget Brian.


"Enggak kak."


"Ya udah kita baliknya sama-sama malam ini aja." Ucap Rennata.


Selesai membayar semua pesanan, mereka kembali dengan aktivitas masing-masing. Brian yang memang ada beberapa pekerjaan itu hanya sibuk dengan ponselnya sembari sesekali memperhatikan Rennata yang bermain salju bersama Mark dan Robert.


Seharian menghabiskan waktu disana cukup menguras tenaga semua orang. Setelah asyik menikmati semua hal, mereka semua sepakat untuk kembali ke hotel.


Selama perjalanan ke hotel, Rennata tertidur dengan posisi menyender pada Brian. Karena sudah dapat dipastikan istrinya itu sangat kelelahan.


"Sampe hotel kita semua langsung packing aja. Kan penerbangannya juga 2 jam lagi." Ucap Brian.


Semua orang hanya mengangguk mendengarkan ucapan Brian.


Sesampainya di hotel, karena tidak tega untuk membangunkan Rennata, Brian langsung menggendongnya keluar dari mobil. Tentu saja Rennata sempat terbangun, namun dia kembali memejamkan matanya saat melihat Brian sedang menggendongnya.


Semua mengikuti Brian menuju lift untuk pergi ke kamar mereka yang berada satu lantai dengan Brian.


"Aku sama Renna ke kamar dulu, Bu, Yah." Izin Brian saat lift berhenti tepat di lantai 5 tempat kamar mereka semua berada.


"Iya Brian. Kami juga mau langsung ke kamar."


Brian membuka pintu kamar hotel itu dan masuk ke dalam. Dia menidurkan Rennata di atas ranjang, lalu berjalan untuk mengambil koper mereka.


Saat tengah memasukkan semua pakaian ke dalam koper, Brian menyadari istrinya telah terbangun.


"Kamu tidur aja, sayang. Biar aku yang beresin semuanya." Ucap Brian yang tidak ingin membuat Rennata repot.


"Kamu bisa sendiri?."


"Bisa. Kamu tidur aja lagi. Ini juga hampir selesai."


Rennata akhirnya kembali menutup matanya. Dia benar-benar kelelahan hari ini.