
*POV Author*
•••••••••••••••
Pagi yang cerah membuat Aina ingin mengunjungi makam buah hatinya yang berada di halaman belakang rumah. Seperti biasa ia akan membersihkan rerumputan liar yang tumbuh disana.
Tidak lupa Aina berbicara sendiri mengajak ngobrol Buah hati nya, hanya sekedar untuk menghilangkan kegundahan dalam hatinya.
"Kakak, ini adek nama nya Vallenia Azzahra. Bagus kan nama nya? Nama ini pemberian dari Paman Reyhand dan Bundah menyukai nama ini."
Aina duduk berjongkok sambil menggendong Vallenia tangannya mencabuti rumput rumput kecil yang tumbuh di makam Almarhum anaknya.
"Maaf Kak, Bundah baru bisa kunjungi Kakak hari ini. Berapa hari ini Bundah sibuk sayang, sibuk memikirkan Ayahmu." Ucap Aina lirih di ujung kalimatnya.
Entah kenapa setelah lama tidak berkomunikasi dan tidak bertemu, amarah itu telah hilang, kebenciannya telah sirna, dan rasa kecewa sudah tidak ada lagi, dengan seiring berjalannya waktu, Hati Aina berkata telah memaafkan Suaminya.
Walaupun kesalahan yang suaminya perbuat itu sangat fatal, namun bagi Aina Suaminya adalah Cinta pertama yang sangat sulit di lupakan.
"Bundah tidak tahu Ayah ada di mana, tapi Bundah yakin suatu saat nanti Ayah pasti akan menemui Bundah dan Adek Vallen. Kalo saat itu telah tiba, Bundah akan mengajak Ayah untuk mengunjungi mu Kak. Kakak jangan sedih di sana ya, Kakak harus bahagia karena disini Bundah juga bahagia Sayang.."
Mata Aina terasa perih karena menahan tangis, tidak bisa di pungkiri Aina begitu kesepian, ia merasa bahwa dirinya butuh sosok pendamping, sosok Suami yang bisa menjadi sandaran untuk dirinya. Apalagi di saat seperti ini, seharusnya ia merasa bahagia karena kehadiran Vallenia namun kebahagiaan itu terasa kurang karena tidak ada suami disisinya.
"Hiks.. hiks.. hikss.."
Akhirnya Aina tidak bisa menahan kesedihannya lagi, ia tumpah kan segala keluh kesah nya di sebelah makam Buah Hatinya. Aina merasa lelah menjadi pura pura bahagia, pura pura tegar padahal dalam dirinya begitu rapuh.
Aina terus menangis, Ia bersedih mengingat siklus perjalanan hidup nya. Ia tidak menyangka bahwa Takdir yang Tuhan berikan untuk nya begitu Pilu.
Lima belas menit berlalu,
tidak ingin ada yang melihatnya dalam kondisi seperti ini, dan merasa perasaannya sudah plong, tangis Aina pun mereda dan ia menghapus air matanya.
Ia kembali fokus pada Makam yang ada di hadapannya ini, setelah selesai membersihkan nya, Aina mengambil kantong plastik hitam yang ia bawa tadi.
Dan mengeluarkan isi nya, Sambil menggendong Vallen, lalu ia taburi kembang tujuh warna itu di atas Makam buah hatinya.
Aina mulai berIstighfar,
"Astaghfirullah Hal Adzim Alladzi La ilaha Illa Huwal Hayyul Qoyyumu Wa atubu Ilaihi."
Artinya:
"Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya."
Lalu ia membacakan Surat Al-Fatihah.
"Bismillahir rahmanir rahim, Khushuushon ilaa ruuhi ibnati Fulan binti Sanusi Allahumaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, lahul faatihah.”
Yang artinya:
“Terkhusus untuk ruhnya Putriku, Ya Allah ampunilah dia, kasihilah dia, selamatkanlah dia, dan maafkanlah dia, untuknya Al-Fatihah, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin Ar Rahmaanirrahiim Maaliki yaumiddiin Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin Ihdinash-shirraatal musthaqiim Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim waladh-dhaalliin."
Artinya:
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam Yang Maha Pengasih, Lagi Maha Penyayang Pemilik hari pembalasan Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
Dan juga Aina membaca kalimat Tahlil.
"Laailaaha Illallah."
Artinya:
Terakhir, Aina membacakan Doa Ziarah Kubur.
"Allahummaghfìrlahu war hamhu wa 'aafìhìì wa'fu anhu, wa akrìm nuzuulahu wawassì' madholahu, waghsìlhu bìl maa'ì watssaljì walbaradì, wa naqqìhì, mìnaddzzunubì wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu mìnad danasì. Wabdìlhu daaran khaìran mìn daarìhì wa zaujan khaìran mìn zaujìhì. Wa adkhìlhul jannata wa aìdzhu mìn adzabìl qabrì wa mìn adzabìnnaarì wafsah lahu fì qabrìhì wa nawwìr lahu fìhì."
Artinya:
"Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari isterinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, berikanlah perlindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya."
"Aamiin."
"Aamiin."
Aina pun menoleh ke arah suara yang ikut mengAamiin kan doa nya,
"Kak Reyhand, sejak kapan disini?" Tanya Aina, ia bangun dari jongkoknya lalu berjalan mendekati Reyhand.
Perasaan Aina menjadi was was, ia takut Reyhand telah melihat dirinya dalam keadaan rapuh, keadaan saat Aina mentangisi perjalanan hidupnya.
"Baru saja sampai, tadi kata ibu, kamu sedang di belakang makanya Kakak langsung kesini. Dan ternyata kamu sedang khusyuk mengirim doa, Kakak tidak ingin mengganggu maka dari itu Kakak hanya diam disini dan ikut mengirimkan do'a untuk si Fulan." Ucap Reyhand menjelaskan secara rinci.
"Ohhh Syukurlah." ceplos Aina tanpa ia sadari.
Reyhand pun menjadi bingung,
"kok Syukurlah?" Tanya Reyhand sambil menautkan alisnya yang sebelah kiri ke atas.
"Eh - anu iya, Syukurlah kalo kakak ikut mengirimkan do'a untuknya." Jawab Aina gugup, ia jadi gagal fokus karena terlalu lega Reyhand tidak memergokki dirinya yang sedang menangis tadi.
Reyhand hanya tersenyum melihat tingkah Aina yang menurut Reyhand begitu menggemaskan..
"Ayok masuk kasihan si Vallen kepanasan, ini juga hampir jam sepuluh jadi matahari pagi sudah kurang bagus untuk tubuhnya."
"He'em." Aina hanya menganggukkan kepalanya tanpa setuju.
Lalu mereka berjalan dengan beriringan masuk kedalam rumah. Namun belum sampai pintu dapur Reyhand menghentikan langkah nya lalu,
"Biar Kakak aja yang gendong Vallen ya." Pinta Reyhand.
"Tapi kak." Aina ragu memberikan putrinya pada Reyhand.
"Nggakpp kan sekali sekali? Kakak cuma pengen ngerasain gimana rasanya menggendong bayi."
Bukan tanpa alasan, Reyhand melakukan ini karena ia merasa bersalah pada Aina dan sebentar lagi Reyhand juga akan memiliki anak dari Claraa, wanita yang sama sekali tidak Reyhand cintai.
Reyhand pun mengambil Vallen dari gendongan Aina, dan ternyata..
"Vallen lagi pipis kak!"
Namun sayang, Vallen telah berpindah ke gendongan Reyhand yang akhirnya membuat baju yang Reyhand kenakan menjadi sasaran empuk Vallenia.
"Astagaaa.."
Bersambung..