
Pov Author
********
Bi Surti dan lelaki officeboy itu hanya duduk termenung melihat tubuh Reyhand yang semakin banyak mengeluarkan darah dari kepalanya.
Bi Surti yang memang berasal dari kampung dan semasa muda nya hanya ia habiskan di dapur jadi saat ada kejadian seperti ini ia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan selain meminta tolong terhadap orang lain.
Sedangkan, lelaki office boy itu juga sayangnya ia memiliki cara berfikir yang lambat, bi Surti telah salah memilih orang untuk di mintai tolong alhasil lelaki officeboy itu pun tidak dapat melakukan apa apa.
Namun melihat darah segar yang semakin deras dari kepala Reyhand, insting seorang ibu pun akhirnya keluar.
"Ini tidak bisa dibiarkan begini terus, Putra ku bisa mati karena kehabisan darah, tidak! Jangan! Jangan!" Gumam bi Surti, sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kamu jangan diam saja! Bantu saya! Kalo anak saya mati kamu harus bertanggung jawab!"
"Lah si Ibu, kok malah saya yang jadi sasaran?" Gerutu lelaki bertubuh kecil, berkacamata bulat itu.
"Kamu nggak lihat anak saya sekarat? ini semua gara gara kamu! Percuma saya minta tolong sama kamu, kalo kamu bisanya cuma bengong!"
Sakit hati sebenarnya lelaki office boy ini dengan ucapan bi Surti, namun rasa sakit itu ia pendam untuk sementara waktu karena saat ini ia harus melakukan sesuatu agar dirinya bisa menjadi manusia yang berguna.
"Tuhan, mohon berkati hamba." Ia berdoa dalam hati.
Setelah selesai berdoa,
"Apakah ibu memiliki kain atau apa yang bisa di gunakan untuk mengikat kepala anak ibu ini agar darah nya tidak keluar terus menerus." Tanyanya pada bi Surti.
"Tunggu sebentar saya cari dulu." Ujar bi Surti.
Bi Surti pun bergegas ke kamarnya untuk mencari kain.
Ia mengobrak abrik semua isi dalam lemarinya, namun sayang tidak ada satu pun kain yang bisa ia gunakan untuk mengikat kepala Reyhand, putranya.
"Ya Allah Gusti, apa yang harus aku lakukan!" Ujar bi Surti di sela tangis sesegukkannya.
Matanya menelusuri tiap sudut lemari, dan tanpa sengaja pandangannya menangkap sebuah selendang berwarna ungu yang berada di tumpukkan pakaian bagian bawah sekali.
"Sarah.." Lirih Bi Surti.
Ia pun mengambil selendang itu lalu bergegas kembali ke ruang tamu menemui Putranya yang sedang sekarat.
"Mana?" Tanya lelaki office boy itu saat matanya melihat Bi Surti berjalan ke arahnya sembari menghapus air matanya.
"Saya tidak memiliki kain, tetapi coba pakai ini siapa tahu bisa."
Tanpa banyak bicara lelaki berkaca mata bulat itu langsung mengambil selendang yang ada di tangan Bi Surti.
Ia pun dengan sangat hati hati mengikat kepala Reyhand yang bocor akibat di lempar Gucci yang ukurannya lumayan besar oleh Pak Prabu, Papanya sendiri.
"Puji Tuhan." Ujar lelaki office boy itu,
Ia telah berhasil menyumbat darah yang mengalir di kepala Reyhand, namun itu tentu tidak bisa di andalkan, karena ia harus segera membawa Reyhand ke rumah sakit untuk penangan yang lebih lanjut.
Karena luka yang di alami Reyhand bukan lah luka akibat pukulan biasa tetapi ini luka yang sangat luar biasa.
"Tolong bantu angkat anak ibu, ke pundak saya."
Bi Surti pun mengikuti perintah lelaki office boy itu.
"Bissmillah." Ujar Bi Surti.
Lalu ia mengangkat perlahan tubuh putranya, sehingga kini posisi Reyhand duduk namun tetap Bi Surti menyanggahnya dari belakang, karena saat ini Reyhand tengah tidak sadarkan diri.
Lelaki office boy itu pun berjongkok membelakangi Reyhand.
Lalu,
"Mana kedua tangan anak ibu?"
"Ini."
Lelaki office boy itu pun langsung meraih kedua tangan Reyhand, dan dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk berdiri tegap.
"Ayo nak kamu pasti bisa!" Ujar Bi Surti memberi semangat kepada lelaki berkacamata bulat ini.
Seperti mendapat kekuatan super akhirnya lelaki office boy ini bisa berdiri dengan sempurna sembari memegangi kedua tangan Reyhand yang berada di lehernya.
Sembari mendukung Reyhand di pundaknya, Ia berjalan menuju pintu keluar.
Lalu Bi Surti ikut keluar dan menutup pintu dan menguncinya.
Ceklek.. ceklek..
Tanpa membawa apapun Bi Surti langsung menyusul Reyhand yang berada dalam dukungan pundak lelaki office boy tadi.
Walaupun badannya kecil, dan beban yang ia bawa lebih besar dari tubuhnya, lelaki office boy itu tidak putus asa.
Ia terus berjalan selangkah demi selangkah menuju lift yang berada di pojok sebelah kanan.
"Bertahan ya nak, kamu pasti kuat." Ujar Bi Surti.
Tidak lama kemudian mereka akhirnya sampai di depan lift, ketika pintu terbuka mereka langsung masuk, dan Bi Surti pun langsung menekan tombol 1 yang menuju ke lantai dasar.
""Ya ampun! Lelaki ini kenapa bu?" Tanya seseorang yang berada satu lift bersama Bi Surti dan lelaki officeboy ini yang hanya diam saja karena tubuhnya sedang menahan beratnya beban di pundaknya, yaitu tubuh Reyhand yang tidak berdaya.
Bi Surti bingung harus menjawab apa, karena dirinya jarang sekali berinteraksi kepada siapa pun.
"Mas kenapa dengan mas ini?" Tanya wanita paruh baya itu.
"Ternyata kamu lelaki saja tetapi mulutnya__"
"Apa?"
"Ahh ngak nggak." Ibu paruh baya ini hanya mengulum senyum lalu menutup mulutnya rapat.
Hening, suasa di dalam lift yang berisi empat orang itu sangat sunyi sekali. Mereka larut dalam fikirannya masing masing.
Namun emang dasar ibu paruh baya ini memiliki jiwa kepo yang cukup tinggi, ia pun kembali membuka mulutnya yang ia tutup rapat tadi, lalu bertanya,
"Sudah telfon Ambulance belum?"
"Kalo saya punya ponsel untuk apa saya repot repot begini."
"Berarti belum ya?"
"Ya belum Ibu!"
"Ohhh."
Ibu kepo itu hanya ber oh ria.
Sedangkan Bi Surti ia diam saja sembari terus memanjatkan do'a dalam hatinya kepada sang pencipta agar masih memberikan keselamatan untuk Reyhand, Putranya.
"Kalau begitu nanti ikut saya saja, saya bawa mobil kok." Ujar Ibu kepo itu.
"Terimakasih atas bantuannya bu. Tapi ibu nggak sedang bercanda kan?"
"Yaa nggaklah."
"Baiklah.
Ting.
Suara lift berbunyi, menandakan mereka telah sampai di lantai paling dasar yaitu lantai satu.
Saat pintu terbuka, semua mata tertuju kepada mereka berempat yang masih berada di dalam lift.
"Itu dia, baru saja mau di susul ke atas." Ujar lelaki yang menggunakan seragam rumah sakit, ia berbicara kepada teman di sebelahnya.
Lalu mereka menghampiri Bi Surti yang masih kebingungan dengan situasi saat ini, sedangkan lelaki office boy itu berjalan keluar lift dengan perlahan.
Walaupun kakinya sudah terasa lemas, namun ia tidak putus asa karena bantuan telah ada di depan matanya.
Bi Surti yang masih bengong di dalam lift, bergumam sendiri tanpa ia sadari.
"Siapa yang menelfon Ambulance, apakah Prabu? Tetapi mana mungkin Prabu, dia saja langsung kabur." Ujar Bi Surti bermonolog sendiri.
Melihat Bi Surti yang hanya bengong berdiri di dalam lift, sedangkan pintu lift akan tertutup kembali, lelaki office boy itu langsung memanggil Bi Surti dan menyadarkan Bi Surti dari lamunan tidak pentingnya.
"Ibu! Ayo keluar kok malah bengong di situ!"
"Eh-I-iya."
Bi Surti pun berjalan menuju mobil Ambulance yang terparkir di depan lobi Apartemen.
Ia berjalan sembari menundukkan kepalanya.
Ia merasa malu juga kagum, karena selama satu tahun setengah tinggal di Apartemen ini, baru ini ia keluar menikmati udara segar.
Reyhand pun telah berada di dalam Mobil Ambulance, ia segera di beri pertolongan pertama oleh suster yang dikirim entah siapa pengirimnya.
"Bu, jangan nunduk aja jalannya nanti numbur." Bisik lelaki office boy itu sembari tersenyum.
Ia lega karena sudah tidak ada lagi beban yang ia dukung di pundaknya, ia juga lega karena Reyhand telah di beri pertolongan pertama oleh pihak rumah sakit yang datang secara tiba tiba.
Menurutnya ini adalah sebuah keberuntungan.
Bi Surti hanya tersenyum pahit mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut lelaki yang telah menolong Putranya tadi.
"Terimakasih atas bantuannya, jika tidak ada kamu, saya tidak akan pernah tahu bagaimana nasib Putra saya."
"Iya, sama sama bu. Saya juga terimakasih atas ucapan ibu yang telah membuat jiwa lemah saya terganti menjadi jiwa lelaki yang kuat."
"Benarkah?"
Bi Surti jadi tidak enak hati karena telah asal ucap saat di kamar tadi sebelum Reyhand di tolong oleh lelaki office boy itu.
"Ya." Jawabnya singkat, namun di iringi dengan senyum yang tulus.
Mobil Ambulance pun akan berangkat menuju ke rumah sakit,
"Siapa yang menjadi wali untuk menemani lelaki ini nantinya di rumah sakit?" Ujar lelaki yang menggunakan seragam rumah sakit itu.
"Sa-saya." Jawab Bi Surti gugup.
"Baiklah, kalau begitu ibu masuk ke mobil karena kita akan berangkat sekarang." Ujar lelaki berseragam rumah sakit itu memberi arahan kepada Bi Surti.
"Kalau ada apa apa ibu bisa datangi saya, saya bekerja sebagai office boy disini dan saya menginap di kossan sebrang jalan itu. Panggil saja Agus bu, nama saya Agus."
"Ah iya baiklah terimakasih atas tawarannya, saya permisi dulu."
Bi Surti pun meninggalkan lelaki office boy yang bernama Agus itu sendirian di depan pintu Loby Apartemen.
Ia masuk ke mobil Ambulance yang akan membawa ia dan putranya menuju rumah sakit.
Bersambung..