
POV Author
•••••••••••••••
"Aina, bagaimana kabar mu dek?" Ujar Reyhand sembari menatap foto Aina yang sedang tersenyum manis di layar ponsel miliknya.
"Bagaimana juga kabar hubungan mu dengan suamimu? Jika telah usai maka aku akan berjuang untuk mu, berjuang untuk mendapatkan hati mu, dan juga___" Ucapan Reyhand terhenti kala ia mengingat tentang Clara.
"Arghhhhhh sial!" umpatnya kesal.
Saat ini Reyhand begitu merindukan Aina, namun untuk bertemu Reyhand merasa takut. Takut kala ia mengingat sikap Claraa yang begitu bar bar.
Ia takut, jika ia nekat menemui Aina, Claraa akan datang dan menghina Aina seperti kejadian di Cafe Meranti beberapa hari lalu.
Reyhand tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Cukuplah Mbak Gita saja yang menjadi korban hinaan dari mulut busuk Claraa, tidak untuk Aina, Reyhand tidak akan rela wanita yang sangat ia cintai, menderita lagi karena ulahnya.
Reyhand pun meletakkan ponselnya di atas meja lalu ia berjalan kearah pintu dan membukanya.
Sembari mengucek matanya Reyhand keluar dari kamar, dan tanpa sengaja ia menumbur sesuatu yang ada di hadapannya.
"Ya Allah Gusti!" Ujar bi Surti kaget.
Ia sedang menyapu lantai di bagian depan kamar Reyhand. Saking fokusnya ia tidak menyadari jika Reyhand membuka pintu kamarnya, alhasil mereka jadi bertabrakkan.
Bi surti mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menumburnya pagi pagi begini. Dan ternyata,
"Aduh Den Reyhand, maaf bibi nggak tahu Den Rey keluar kamar." Ujar Bi Surti,
Reyhand pun berhenti mengucek matanya dan menatap kearah wanita yang telah mengurus dirinya dari ia bayi hingga ia sedewasa ini.
Wanita yang telah melahirkan dirinya namun sayang Reyhand tidak mengetahui fakta itu. Fakta yang di sembunyikan oleh yang Reyhand ketahui adalah orangtuanya. Karena fakta ini bila Reyhand mengetahuinya sangat rumit untuk di jelaskan.
"Iya bi, nggak papa." Ujar Reyhand, ia pun berlalu melewati bi Surti yang masih berdiri mematung di hadapannya.
Belum satu langkah Reyhand melangkah, Bi Surti memanggilnya,
"Den maaf bukan bibi lancang, itu mata Aden kenapa?" Tanya bi Surti.
Saat Bi Surti mendongakkan kepalanya, dan melihat siapa yang telah menabrakknya, sesaat bi Surti merasa ada hal yang telah terjadi pada Reyhand, putranya ini.
Putra yang hanya bisa ia beri perhatian kecil sebatas Pembantu dan majikan saja, Putra yang hanya bisa ia lihat dari jauh perkembangannya tanpa bisa ia ikut campur. Namun bi Surti selalu bersyukur karena dirinya tidak pernah di pisahkan dari Reyhand oleh Tuan besarnya yaitu Prabu Sanjaya, Ayah dari Reyhand.
Lelaki yang telah merenggut kesuciannya dengan paksa, demi memiliki anak. Karena Istri sah nya di nyatakan mandul oleh Dokter.
Namun lelaki yang bernama Prabu Sanjaya itu, tidak mau menikahi Bi Surti.
"Kenapa Bi mata saya?" Reyhand balik bertanya.
"Anu, itu, mata Aden seperti mata panda, ada lingkaran hitamnya." Ujar Bi Surti gugup kala Reyhand sangat memperhatikannya saat ini.
"Ah bibi, kirain ada duitnya." Ujar Reyhand, sembari tersenyum.
Melihat Reyhand tersenyum hati Bi Surti menghangat seketika.
Reyhand pun melangkah kan kaki nya menuju dapur. Bi Surti hanya bisa melihat kepergian Putranya ini sembari memanjatkan doa kepada sang pencipta.
"(Ya Allah Gusti, tampan sekali putra ku ini, semoga kamu tidak sebejat ayah mu nak, dan semoga Gusti Allah selalu meridhoi setiap langkah kaki mu. Dan juga berikanlah jodoh terbaik untuk putra ku ini Ya Allah. Amiin)" Ungkap Bi Surti dalam hatinya.
"Tapi kenapa wajahnya masih kusut sekali, apakah masalah yang sedang ia hadapi itu begitu sulit?" Gumam bi Surti seorang diri.
Jiwa keponya meronta ronta kala ia melihat Raut wajah putranya begitu murung di matanya.
"Lebih baik aku bertanya, siapa tahu kamu butuh solusi nak." Lirih bi Surti bermonolog sendiri.
Ia pun segera menyelesaikan tugasnya, yaitu membersihkan seluruh ruangan. Setelah itu baru ia akan menemui Putranya yang berada di dapur.
Cetek!
Suara kompor gas di hidupkan.
Reyhand menjerang air untuk membuat kopi hitam kesukaannya.
Walaupun ada bi Surti sebagai Asisten Rumah Tangganya namun Reyhand tidak mau terlalu mengandalkan bi Surti untuk hal yang sepele seperti ini.
Reyhand pun mengambil gelas dan menaruhnya di atas meja kompor, lalu ia mengambil kopi dan juga gula yang ada di dalam lemari penyimpanan.
Tidak lama kemudian air yang ia jerang tadi telah mendidih.
Lalu ia tuangkan air panas itu ke dalam gelas.
Aroma kopi khas begitu memikat indra penciumannya, membuatnya menjadi tidak sabar untuk menyeruputnya.
Reyhand duduk di meja makan, lalu mengaduk aduk kopi hitam buatannya sendiri.
Fikirannya kembali melayang mengingat masalahnya dengan Claraa. Apakah ia harus bertanggung jawab atas anak yang sedang Claraa kandung?
Apakah dirinya harus menikahi Clara, namun bagaimana dengan hatinya, ia tidak mencintai Claraa.
Haruskah ia mengorbankan perasaan nya lagi, padahal kesempatan untuk merebut hati Aina telah ada di depan mata.
Kenapa? Kenapa harus seperti ini!
"Arghhh!" Erang Reyhand, sembari menjambak Rambutnya kasar.
Pertanyaan pertanyaan yang ada di dalam benaknya sungguh membuatnya menjadi pusing tujuh keliling.
Reyhand pun mengambil bungkus Rokok Surya dari dalam saku celanya. Lalu ia ambil satu batang, dan ia nyalakan.
setelah bara hidup, ia hisap Rokok itu dan ia semburkan asapnya ke udara. Berulang kali ia lakukan hal yang sama agar menemukan jalan keluar. Namun sayang otakknya tetap buntu memikirkan hal itu.
Tanpa Reyhand sadari, Bi Surti memperhatikannya dari kejahuan. Dan hal ini membuat bi Surti begitu yakin bahwa saat ini Putranya sedang menghadapi masalah yang sangat sulit.
Bi Surti pun meletakkan alat kebersihannya, lalu ia berjalan ke arah meja makan menghampiri Reyhand yang masih asyik bersama lamunannya.
"Den." Panggil bi Surti pelan, ia tahu bahwa Reyhand sedang melamun. Makadari itu Bi Surti tidak ingin mengeluarkan suara keras takutnya mengagetkan Reyhand.
Seketika lamunan Reyhand buyar, ia menatap wanita yang ada di hadapan nya ini dengan tatapan begitu sayu.
"Iya Bi, ada apa?"
Bi Surti pun memberanikan diri untuk menyampaikan niatannya. Ia berdoa dalam hati semoga ia bisa membantu menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi oleh putranya ini.
"(Bismillah)" Ujarnya dalam hati.
"Den Reyhand sedang ada masalah? Boleh bibi tahu? Bukan maksud Bibi untuk ikut campur urusan Aden, tetapi melihat wajah Den Reyhand begitu kusut, hati Bibi berkata bahwa bibi harus bertanya Den. Maaf kalau bibi telah lancang." Ungkap Bi Surti dengan sangat hati hati.
Seperti mendapat angin segar. Reyhand juga butuh teman untuk mendapatkan solusi. Ia pun dengan senang hati menyambut pertanyaan bi Surti.
Tanpa ragu ragu dan merasa canggung Reyhand langsung menceritakan titik awal bertemunya Ia dan Claraa, lalu mereka menjalin hubungan yang seharus nya tidak mereka lakukan dan sampai di titik akhir, Claraa akhirnya hamil di luar nikah.
Dan ini lah yang membuat Reyhand menjadi pusing hingga tujuh keliling.
"Hemm.." Bi Surti menggumam lalu ia memanggut manggutkan kepalanya tanda mengerti.
"Duduk dulu bi." Ujar Reyhand.
Saking serius mendengarkan Reyhand bercerita bi Surti pun hanya berdiri di hadapan Reyhand.
"Ah iya den."
Bi Surti pun menarik kursi yang ada di sebelahnya lalu ikut duduk bersama Reyhand, Putranya.
"Jadi menurut bibi bagaimana? Apakah aku harus menikahinya? Tetapi aku tidak mencintainya bi." Lirih Reyhand, ia pun meneguk kopi hitam yang ada di hadapannya.
Bi Surti seperti memikirkan sesuatu, lalu ia teringat hal yang ia alami dulu saat baru merasakan kehamilan.
"Sudah di bawa kedokter untuk periksa?" Tanya Bi Surti
"Kalo di bawa kedokter belum bi, dia hanya menunjukkan benda kecil berukuran panjang, dan ada garis dua di dalam nya."
"Kalau begitu bawa kedokter untuk lebih jelasnya Den, karena jika hanya tespeck belum tentu itu punya dia. Takutnya Den Reyhand hanya di jebak oleh wanita itu." Ungkap Bi Surti mengutarakan pendapatnya.
Reyhand pun seperti menimang nimang saran dari Bi Surti. Tidak menunggu waktu lama, ia langsung gerak cepat mengambil keputusan.
"Baiklah bi, saya akan menemui Claraa sekarang, dan akan mengajaknya ke dokter untuk periksa."
Bersambung..