My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 7 : Story of Bi Surti



*POV Author*


•••••••••••


Reyhand begitu menikmati sarapan nya hingga ia tidak menyadari jika Bi Surti yang ada di hadapan nya ini sedang menangis.


Melihat Reyhand yang begitu lahab menghabis kan Nasi goreng  nya, Bi Surti merasa sangat bahagia dan hari ini bahagia nya menjadi double karena Reyhand mengajak nya Sarapan bersama.


Hal yang selalu Bi Surti impikan setelah bertahun tahun ia memendam rindu untuk putra nya ini dan sekarang Reyhand ada di hadapan nya, mengajak nya sarapan bersama sungguh ia tidak menyangka jika salah satu doa nya telah di kabul kan.


Fikiran Bi Surti melayang ke masa silam, di mana masa yang telah membuat hidup nya menjadi menderita seperti sekarang ini, namun Bi Surti selalu bersyukur karena  kemana pun Reyhand pergi ia selalu mengajak diri nya untuk menjadi Art.


Setidak nya ia  bisa memantau perkembangan putra nya ini.


*Flasback on*


"Surti tetaplah bekerja di rumah ini namun jangan harap aku akan berbagi suami dengan mu!" Ucap Sarah penuh penekanan.


Sarah adalah Ibu angkat Reyhand, namun karena ia tidak bisa memiliki keturunan jadilah ia mengakui Reyhand sebagai Putra kandung nya.


Surti yang bingung harus pergi kemana lagi karena ia tidak memiliki keluarga selain Sarah sahabat nya yang berasal dari satu kampung, akhirnya ia menuruti keinginan Sarah.


Surti dan Sarah berasal dari kampung Rimba yang letak nya di pedalaman, dan mereka adalah sama sama Gadis yatim piatu, lalu merantau ke kota untuk bekerja dan mencari pengalaman. Namun Nasib Sarah  lebih beruntung dari Surti.


Sarah bertemu jodoh nya di kota. Ia di nikahi oleh majikannya sendiri, sedangkan Surti setelah Sarah menikah ia tidak mau pisah dari Sarah yang pada akhir nya Surti bekerja sebagai ART di rumah Sarah dan Suami Sarah tidak mempermasalah kan itu.


Lambat laut persahabatan mereka semakin akrab,  banyak hal yang telah mereka lalui bersama, seperti memasak, dan lain sebagai nya. Itulah kenapa masakkan Bi Surti rasa nya sama persis seperti masakkan ibu Reyhand yaitu Sarah.


Pernikahan sarah dan suami nya telah memasuki tahun ke lima namun Tuhan belum mengizinkan mereka untuk menjadi orang tua, sedangkan Surti sampai saat itu juga belum menemukan jodoh nya.


Hingga pada akhir nya Sarah di Vonis oleh Dokter bahwa diri nya memiliki masalah pada rahim nya alias Mandul. Sungguh itu adalah kenyataan yang pahit dan mau tidak mau Sarah harus berkata jujur pada suami nya tentang hal ini.


"Mas.." panggil Sarah sembari tangannya menari nari di dada bidang suami nya.


"He'em kenapa Sayang?" ucap Suami Sarah.


"Aku.."


Sarah merasa ragu untuk menceritakan hasil dari Dokter tadi yang menyatakan bahwa diri nya mandul. Ia takut suami nya akan pergi meninggalkan nya dan mencari wanita lain. Namun apa pun itu alasannya ia tetap harus berkata jujur karena ini adalah masalah yang sangat berpengaruh dalam rumah tangga nya.


"Mau bilang apa hem?" ucap Suami nya lembut sembari jemari nya membelai pipi Sarah.


Karena di perlakukan begitu manis oleh Suaminya, Sarah akhirnya yakin dan mulai menceritakan sedikit demi sedikit tentang apa yang sebenar nya terjadi.


"Aku harap setelah mendengar ini Mas nggak akan tinggalin aku kan??" Sarah bertanya pada suaminya dengan begitu manja.


"Maksud nya?? Bilang aja ada apa Sayang?" ucap Suami nya menatap serius ke wajah Sarah.


"Aku mandul Mas."


Seketika Suaminya menjauh dari Sarah. Ia tidak mengucapkan satu kata pun namun mata nya menggambarkan kekecewaan yang begitu dalam terhadap Sarah.


Hari terus berganti dan waktu terus berlalu. Sarah, kini ia merasa Suaminya seperti menjauh dari diri nya. Sarah pun menyadari kekecewaan suami nya karena dirinya cacat, tidak bisa memberikan keturunan untuk Penerus Perusahaan Dwijaya yang bergelut di bidang perkayuan.


"Mas, aku kangen." Ucap Sarah berbisik pelan di telinga Suaminya.


Namun respon Suaminya begitu membuat hati Sarah terasa nyut nyutan.


"Aku Capek!"  lalu Suaminya berbaring membelakangi Sarah.


Perlakuan seperti ini lah yang Sarah dapatkan ketika ia mengajak suaminya untuk bercinta. Suaminya enggan untuk di sentuh, namun ketika Sarah bertanya jawabannya hanya "Aku tidak apa apa."


Sarah pun kembali tidur dengan perasaan yang di selimuti kesedihan.


Satu hari, dua hari, tiga hari, satu minggu, satu bulan, hingga bulan ke lima ia di cuekki suami nya ia masih sabar menunggu dan berharap suaminya bisa kembali pada nya seperti dulu lagi.


Namun semakin hari Sarah melihat perubahan bentuk tubuh Surti yang tidak seperti biasa nya. Payudara Surti membesar dan badannya juga berisi. Surti juga suka memakan Nasi putih setiap saat namun ia tidak bisa mencium aroma Nasi, seperti orang ngidam saja.


Hingga pada akhir nya ia mendapatkan sebuah jawaban dari pertanyaan nya tentang Surti. Jawaban yang begitu menusuk hati nya.


"Dia hamil anak ku dan usia nya sudah jalan empat bulan." ucap Suami Sarah santai seperti tanpa beban.


Deg , deg , deg ..


"Apa maksud nya ini?"


"Kamu tenang saja, ini hanya sementara setelah anak yang di kandung Surti telah lahir maka kamu lah yang akan menjadi ibu kandung nya."


*Flasback off*


Surti kembali tersadar dari lamunan panjang nya.


"Bi??" Panggil Reyhand sambil menyentuh tangan Bi Surti yang bergetar.


"Anakku.." ucap Bi Surti tanpa sadar ia pun menyentuh pipi Reyhand.


Reyhand yang melihat tingkah Bi Surti tidak seperti biasa nya menjadi heran. Reyhand berfikir mungkin Bi Surti sedang merindukan Anak nya, tapi setahu Reyhand Bi Surti tidak pernah pulang kampung sekalipun itu adalah Hari Raya Idul Fitri.


"Bi, kalo bibi mau ambil cuti silahkan aku tidak masalah lagian bibi tidak pernah libur." Ucap Reyhand yang berinisiatif mengizinkan Bi Surti untuk pulang kampung.


"Ah nggak Den, bibi hanya sedang merindukan seseorang dan seseorang itu sulit untuk bisa Bibi gapai." ujar Bi Surti menatap Reyhand dengan begitu sendu.


"Maksud Bibi apakah orang itu telah tiada?"


"Bukan, dia bahkan masih sehat walafiat, hanya saja keadaan yang tidak mendukung bibi untuk bertemu dengan nya dan melepaskan rindu ini."


"Bibi yang sabar ya, aku yakin suatu hari nanti bibi bisa bertemu dan melepaskan rindu dengan seseorang yang bibi maksud barusan."


"Iyaa Den terimakasih."


"Tapi Bi, aku nggak masalah kok kalo bibi mau ambil cuti beberapa hari, siapa tahu bibi butuh waktu untuk refresing."


"Tidak Den, terimakasih banyak atas tawarannya. Bibi lebih nyaman bekerja Den dari pada keluar untuk sekedar jalan jalan."


"Yaudah kalo gitu terserah Bi Surti saja, tapi kalo misal bibi mau ambil cuti bilang aja ya jangan ragu ragu."


"Oke Den siap." Ucap Bi Surti sembari bibirnya melengkung sedikit tanda tersenyum.


Setelah menghabiskan sarapannya, Reyhand bergegas kembali kekamar untuk menghubungi Claraa.


Sedangkan Bi Surti ia hanya bisa menatap punggung Reyhand  dengan tatapan yang entah apa artinya.


"Ya Tuhannn.. jam segini masih ngebangkong aja ni anak!! Bener bener nggak ada bagus nya sama sekali." omel Reyhand ketika mendengar suara operator di ponsel nya.


Reyhand pun meletakkan ponsel nya di atas kasur, sedang ia akan menuntaskan hajat nya dulu pagi ini.


Saat ia sedang di kamar mandi, barulah ponsel nya terus berdering hingga membuat Reyhand tidak fokus lagi.


"Kan emang kurang ajar banget dah! giliran di tungguin nggak di angkat angkat giliran gua mau nabung barulah sibuk nelfon! Dasar manusia bangkong." Omel Reyhand yang tidak tahu tujuan nya untuk siapa.


Reyhand pun mengambil ponsel nya yang sedang berdering, namun saat ia akan mengclick tombol hijau, panggilan telah berakhir.


"Ohhh dasarr!!" Umpat Reyhand lagi.


Namun kekesalan nya itu segera sirna kala ia melihat satu pesan masuk dari pujaan hatinya.


"(Pagi juga kak Reyhand)"


Isi pesan dari "Dek Aina love"


Reyhand begitu girang membaca satu pesan singkat dari Aina, tidak mau membuat Aina menunggu Reyhand pun langsung membalas pesan dan mengetikkan kata demi kata untuk Aina.


Namun baru separuh perjalanan, panggilan masuk lagi dan jelas tertera di sana nama seseorang yang saat ini Reyhand khawatirkan. Khawatir karena setelah ini ia akan terjerat dengan wanita yang tidak ia cintai.


"Claraa!"


Reyhand pun mengclick tombol hijau pada layar ponsel nya, lalu panggilan pun tersambung.


"Hallo?"


"To the poin aja, hari ini kita ketemu dimana?? gua mau kasih bukti yang semalem."


Bersambung..