
POV Author
***********
"Bagaimana apakah golongan darah A+ sudah ada?"
"Maaf Dokter, saya belum menemukan keluarga dari pasien dan pihak PMI mengabari bahwa mereka belum mendapatkan Golongan darah A+, Dok."
"Malang sekali nasib mu nak." Lirih Dokter paruh baya itu.
Ia menatap Reyhand dengan tatapan sendu. Tanpa terasa air matanya mengalir membasahi pipinya, melihat Reyhand yang terbaring lemah, Dokter paruh baya itu teringat akan anak lelakinya dulu.
Anak yang ia perjuangkan mati matian namun harus berakhir di kamar mayat. Hatinya terasa pilu jika mengingat tentang kematian Putranya.
Dan sekarang kejadian itu sama persis terulang lagi.
"Tidak! kamu harus selamat nak apapun yang terjadi dan siapa pun keluarga mu, kamu jangan bersedih karena saya akan berjuang menyelamat kan mu." Ujar Dokter paruh baya itu.
Suster yang melihat Dokternya menangis dan berbicara sendiri pun menjadi heran.
"Dok." Tegur suster itu sembari menyentuh pundaknya.
"Ah-I-iya ada apa?" Ujar Dokter itu gelagapan karena tertangkap basah sedang menangis.
"Dokter udah makan kan?"
"Sudah kok iya sudah."
"Lalu kenapa Dokter bicara sendiri? Biasanya kalo Dokter bicara sendiri itu menandakan bahwa perut Dokter butuh asupan gizi, hehehe."
"Kamu ini bisa aja." Ujar Dokter itu, lalu dia mencubit pelan pipi Suster yang ada di sebelahnya ini.
"Hehehe, aduh Dok sakit."
"Alah gitu aja sakit, lebay banget kamu."
"Ihh, Dokter mah."
Mereka berdua adalah partner kerja yang akrab, mereka suka bercanda untuk menghilangkan ketegangan yang terjadi akibat situasi dan kondisi yang tidak menentu.
Dokter itu kembali menatap Pasien yang ada di hadapannya, pasien yang tergeletak lemah dengan selang infus di beberapa bagian tubuhnya, dan perband yang melingkar di kepalanya.
"Melihat anak ini, saya teringat akan Almarhum Putra saya. Dulu, dia mengalami kecelakaan beruntun yang mengakibatkan dia harus kehilangan kakinya, namun bukan hanya itu setelah di rawat beberapa hari ternyata saya harus kehilangan nyawanya juga. Saya fikir dia akan selamat walaupun sudah tidak memiliki kaki, tetapi Tuhan lebih sayang padanya."
"Dokter.." Lirih suster yang umurnya sekitar dua puluh satu tahun itu sembari mengelus pundak Dokternya.
Dokter itu pun menarik nafas dalam lalu ia hembuskan secara perlahan, ia menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.
"Kasihan anak ini, di saat keadaannya sedang kritis seperti ini, tidak ada satu keluarga nya yang ada untuk menguatkannya."
Suster itu hanya mengangguk pelan menanggapi ucapanĀ Dokter, dan dia mulai bertanya.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan Dok, tidak mungkin kita terus menunggu hal yang tak pasti."
Dokter paruh baya itu diam untuk beberapa saat.
"Ambil darah saya untuk dia." Ungkapnya dengan tegas.
"Dokter, apakah Dokter sedang lapar lagi?"
"Tidak, saya sudah makan Karmila dan saya sedang tidak lapar!"
"Ah iya baiklah kalau begitu. Jadi, apakah Dokter serius akan menyumbangkan darah untuk lelaki ini?"
"Ya saya serius, cepat periksa keadaan saya dan ambil darah saya untuk dia."
"Baiklah, ayo."
Dokter itu melakukan hal ini karena dorongan rasa perduli dan rasa kasihan yang menyelimuti hatinya.
Setidaknya ia bisa menjadi pahlawan untuk Pasiennya, walaupun ia telah gagal menjadi pahlawan untuk Putranya sendiri.
Sampel darah sudah di ambil, dan tes kesehatan juga sudah dilakukan. Semua berjalan dengan lancar.
Kondisi tubuh Dokter itu sedang sehat yang artinya ia bisa menyumbangkan darahnya untuk Reyhand.
Dokter paruh baya itu merasa lega dan bahagia karena nyawa Reyhand akan tertolong karena nya. Namun hal itu tidak berjalan mulus karena,
"Dokter, maaf golongan darah kalian tidak cocok! Tubuh pasien menolak transfusi darah yang di berikan!"
Dokter yang sedang berada di dalam Toilet pun segera menuntaskan hajatnya karena gedoran pintu dan suara nyaring Assistennya, Suster Karmila.
Tok! Tok! Tok!
"Dokterrr!"
"Iya Karmila sabar! Saya masih b*ker, kamu lama lama kurang ajar juga ya! Mau gaji kamu bulan ini saya potong habis sampe ke akar!"
"Aduh malah mau di potong gaji pula." Gerutu Suster Karmila.
"Pergi dari sana, yang harus kamu pantau itu Pasien bukan saya yang sedang b*ker Karmila!"
"Eh iya maaf Dokter, saya hanya panik Dok."
Suster Karmila pun kembali keruangan UGD, ruangan dimana Reyhand berada. Ia begitu panik karena hal ini adalah hal yang pertama ia temui, dan juga ia menjadi Suster belum lama, jadi belum banyak pengalaman yang ia dapatkan.
Alhasil ia menggedor Dokternya yang sedang berada di kamar mandi tadi. Bukannya mendapat solusi, kini Karmila malah di omeli sama Dokter paruh baya itu.
"Ya ampun, kenapa dia semakin kejang kejang begini. Aduh Dokter Mila lama pula di kamar mandinya. Kalo pasien kenapa kenapa bisa bisa aku yang ketempuan!" Gerutu Suster Karmila.
Ia benar benar bingung harus berbuat apa. Melihat tubuh Reyhand yang semakin lama semakin jadi kejang kejangnya. Dan mesin yang ada di sebelah ranjangnya pun mulai berbunyi menandakan tekanan darah Reyhand naik turun atau sedang tidak stabil.
"Aduh mati aku, harus apa aku coba!"
Jantungnya berdegup kencang melihat kondisi Reyhand yang begitu memprihatinkan. Dan bunyi demi bunyi dari mesin itu saling bersahutan semakin membuat Suster Karmila begitu panik dibuatnya.
Tit.. tit.. tit.. tit..tit..
Pintu ruangan UGD terbuka, terlihat Dokter Mila berdiri di sana dan segera bergegas mendekati Reyhand namun bersamaan dengan hal itu bunyi mesin yang ada di sebelah ranjang Reyhand berbunyi dengan sangat panjang untuk terakhir kalinya.
Titttttttttttttttttttttttttttttt.
Bunyi itu menandakan detak jantung Reyhand berhenti berdetak.
"Tidak! tidak! Nggak mungkin, hal ini nggak mungkin terjadi, dia nggak boleh mati!" Ungkap Dokter Mila,
Ia lalu mengambil alat yang biasa ia gunakan untuk menyetrum, dan alat itu ia tempel kan di dada bidang Reyhand, namun sayang tubuh Reyhand tidak merespon sama sekali.
Dokter Mila tidak putus asa, ia terus mencoba menggosokkan kedua alat yang ada di tangan kiri dan kanannya lalu ia tempelkan lagi di dada Reyhand.
Berulang kali ia lakukan itu, namun sayang tubuh Reyhand tetap tidak merespon setruman setruman yang di berikan Dokter Mila untuknya.
"Apa yang salah." Gumamnya, ia menjambak rambut pendeknya dengan kasar. Ia begitu prustasi melihat pasien yang ada di hadapannya ini sudah tidak bernyawa lagi.
"Darah Dokter bukan A+ dan Dokter tetap memaksa saya untuk mentranfusikan ke tubuhnya. Alhasil ini lah yang terjadi tubuhnya menolak dan nyawanya melayang. Semua ini karena Dokter! Semua salah Dokter! Saya tidak tahu menahu!" Ungkap Suster Karmila, ia begitu panik dan juga ia takut masuk penjara karena kesalahan teknis ini.
"Tidak, ini semua salah kamu Karmila!"
Suster Karmila yang di salahkan pun hatinya menjadi tidak terima.
"Dasar Dokter Gila!"
Bersambung..