
*POV Author*
**************
Reyhand duduk di balkon kamar Apartemennya, sambil menikmati sebatang rok*k Surya dan secangkir kopi hitam. Hisapan demi hisapan ia sed*t dari sebatang rok*k Surya lalu ia hembuskan ke udara yang pada akhirnya membentuk sebuah asap tebal. Untuk sesaat ia begitu menikmati aroma dan rasa yang di ciptakan oleh sebatang rok*k Surya.
Pandangannya lurus menatap jalanan raya yang agak lenggang, karena jam kerja sudah dimulai. Ia tidak ingin memikirkan masalah dia dan papah nya, masalah dia dan Claraa, dan juga perasaannya untuk Aina.
Saat ini, Reyhand hanya merindukan Almarhumah mamah nya, Reyhand berdiri dan masuk kekamar.
Lalu di ambilnya ponsel miliknya di atas nakas, ia membuka kunci ponsel dan mencari aplikasi youtube yang bisa mengakses semua yang ia inginkan. Dan kembali ke Balkon.
"Bundah.."
Alunan musik mulai terdengar, Reyhand meletakkan ponselnya di atas meja dekat secangkir kopi hitam. Ia berbaring di atas kursi goyang dan memejamkan matanya menikmati lagu yang di putar.
"Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku"
Reyhand begitu menikmati lagu kesukaannya ini dan tidak terasa air matanya keluar tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Mamah yang tenang di sana ya, Rey disini nggak akan nakal lagi, nggak bandel, lagi, tapi cuma satu yang belum bisa Rey lakukan Mah," Reyhand menarik nafasnya dalam lalu melanjutkan ucapannya " Memaafkan Bajingan itu!"
Waktu telah menunjukkan pukul 11:34 siang, yang artinya tidak sampai Setengah jam lagi waktu istirahat akan tiba.
Gadis yang mengenakan pakaian dinas berwarna coklat dan rambut panjangnya ia sanggul, tidak henti lagi melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Ia terlihat sangat gelisah, entah apa yang ada di benak nya.
Ia lalu menutup laptop yang ada di hadapannya, dan bergegas membenahi kertas kertas yang berserakkan di atas meja kerja lalu ia memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjing miliknya.
"Eh mau kemana lu, waktu istirahat kan sebentar lagi?" Tanya teman wanita itu.
"Ini urusan penting, pokoknya penting banget. Keadaan sedang darurat."
"Elehh lebay amat si lu, kayak robot aja."
"Bodo amat! Bos dimana ya? Gua mau izin kerja cuma setengah hari doang."
"Lah kenapa?"
"Kepo lu."
Lalu wanita itu keluar dari ruang kerja nya, menuju ruangan di mana bos nya berdiam diri.
Tok tok tok ..
Wanita itu mengetuk pintu ruangan Boss nya.
"Siapa?" Tanya si Boss.
"Saya, Gita Pak."
Ohhh ternyata waanita yang sedang di landa gelisah itu Mbak Gitaa.
"Masuk."
Krekkkk ..
Mbak Gita menarik nafas dalam lalu ia hembuskan.
"Bismillah" Ucapp nya.
Lalu Mbak Gita membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kerja si Boss.
Mbak Gita hanya berdiri dan langsung mengutarakan niiat nya.
"Maaf Pak, hari ini saya izin kerjanya setengah hari saja."
"Kenapa?" Tanya Si Boss.
"Saya mendapat kabar dari ibu saya kalau Adik saya mengalami Depresi Pak." Jawab Mbak Gita sambil menundukkan kepalanya.
"Lalu?" tanya Si Boss lagi,
Sungguh berhadapan dengan Boss gila ini adalah hal yang paling anti untuk Mbak Gita lakukan. Namun mau bagaimana lagi, karena keadaan yang mendesak.
"(Untung aja lu Boss gua, kalo nggak udah gua pites pala lu, eneg banget sumpah.)" Umpat Mbak Gita dalam hatinya.
"Saya mau minta izin untuk kerja hanya setengah hari saja Pak, karena setelah ini Saya akan merujuk adik saya ke rumah sakit jiwa." Ujar Mbak Gita lantang, agar Sii Boss yang menyebalkan ini tidak banyak tanya lagi.
Sii Boss pun membenarkan posisi duduk nya dan melonggarkan sedikit dasi yang ia kenakan. Sambil menaikkan satu alisnya ia kembali bertanya,
"Apa kah orang depresi itu selalu berujung di rumah sakit jiwa??"
Pertanyaan apa lagi ini, bukannya memberi Izin untuk Mbak Gita kini Sii Boss malah mengulur waktu dengan memberikan pertanyaan pertanyaan yang tidak penting bagi Mbak Gita.
"Saya kurang tahu jelas bagaimana kondisi adik saya saat ini, yang jelas sekarang bapak memberi izin saya untuk pulang atau tidak? jika bapak mengizin kan Saya pulang, terimakasih banyak, tapi kalo bapak tidak mengizin kan saya pulang, itu urusan Bapak, saya tetap akan pulang." ucap Mbak Gita spontan. "(Marah atau tidak nya itu urusan nanti.)" ujar Mbak Gita membantin dalam hatinya.
Di luar dugaan, bukannya marah karena Mbak Gita telah lancang terhadap nya kini Sii Boss malah tertawa.
"Hahah .. haha .. hahah .."
Mbak Gita sampai terheran heran melihat kelakuan aneh Boss nya ini.
"Ada yang lucu Pak?"
Mendengar pertanyaan dari Mbak Gita Sii Boss pun berhenti tertawa, dan menjaeab ucapan Mbak Gita.
"Ada."
"Apa?"
"Kamu."
"Dasar Aneh." Gerutu Mbak Gita.
"Bilang apa kamu barusann??!" Boss nya bertanya sambil mata nya melotot seperti akan keluar.
"(Waduh serem juga)" ucap Mbak Gita dalam hati.
"Bapak ganteng deh kalo kasih Izin saya pulang." ujar Mbak Gita merayu.
"Saya emang Ganteng kok, kamu tahu?? Banyak di luaran sana yang mengantri ingin menjadi istri kedua saya, ada juga yang menawarkan dirinya menjadi simpanan saja. Lebih parahnya lagi ada yang terang terangan meminta izin sama istri saya untuk bekerja menjadi pembantu di rumah saya, padahal niat nya cuma ingin melihat saya. Modus banget kan??"
"Iyaa Bapak.." Ucap Mbak Gita sopan sambil tersenyum masam.
"Baiklah, saya izinkan kamu libur tiga hari saja. Karena kamu pasti akan repot mengurus adik mu yang gila itu."
"Bapak kalo ngomong itu mulut nya di kondisikan dong."
"Lahh malah nyalahin saya?? Kamu sendiri kan yang bilang tadi. Kalo kamu mau izin pulang untuk merujuk adik mu kerumah sakit Jiwa."
Sungguh perasaan Mbak Gita saat ini hanya dia dan Tuhan nya lah yang tahu.
"Permisi pak, terima kasih atas izin nya selama tiga hari. Bapak loh yang udah kasih saya libur awas aja kalo gaji saya Bapak potong banyak." ucap Mbak Gita.
Lalu, tidak mau berdebat hal yang tidak penting lagi, tanpa menunggu jawaban dari Sii Boss Edan, Mbak Gita langsung berbalik arah mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan Sii Boss.
"Gita tunggu,"
Namun Mbak Gita sudah benar benar malas berhadapan dengan Sii Boss Edan, tanpa menoleh dan menggubris panggilan Sii Boss Mbak Gita langsung menutup pintu.
"Huhhh, gila aj!! Orang seperti dia bisa bisa nya jadi pemimpin di sini!"
Bersambung..