
POV Author
***********
"Gila! Bener bener gila! Kalian semua GILA!!" Teriak Dokter Zainal,
Ia pun meninggalkan ruang keluarga.
Beban fikirannya seolah menumpuk, memenuhi seisi ruang di kepalanya.
Setelah hubungannya dengan Mbak Gita yang mulai renggang, kini datang lagi masalah dari kedua orang tuanya.
Dokter Zainal tidak mau ambil pusing, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Alun Alun kota Palembang.
Ia tidak mau tahu dan tidak mau ikut campur masalah Papah, Mamah, juga Bi Surti.
Yang ada di fikirannya saat ini, ia hanya ingin menikahi Mbak Gita dan hidup bahagia bersamanya.
Alun Alun kota Palembang begitu ramai, karena ini adalah Malam Minggu, malam dimana para Pasangan berkencan dan bersenang senang. Tetapi tidak dengan dirinya yang galau memikirkan Calon Istrinya yang semakin hari semakin sulit di raih..
Apalagi setelah kematian Reyhand, Mbak Gita seolah menutup diri terhadap Dokter Zainal, juga kelakuan Mamahnya yang membuat Calon Istrinya itu menjadi berburuk sangka.
Dokter Zainal menepikan mobilnya, ia membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Ia berdiri di pinggir Jembatan Ampera sembari memandangi pemandangan malam hari yang begitu menakjubkan.
Terlintas di kepalanya ingin menodai Mbak Gita agar pernikahan mereka segera terlaksanakan. Tetapi ia ragu, ragu akan tindakannya apakah benar atau malah akan membuat hidupnya menjadi semakin rumit.
Serumit saat ini.
"Kamu semakin jauh Ta.. Kenapa sulit sekali mendapatkan hatimu."Lirih Dokter Zainal.
Angin laut berhembus begitu kencang, di atas Jembatan Ampera yang cukup ramai pengunjungnya ini Dokter Zainal merasa dirinya begitu kesepian.
Ia tidak memikirkan Almarhum Reyhand, juga tidak memikirkan Mamahnya, dan Papahnya, yang ia pikirkan saat ini ia ingin segera Melamar dan Menikahi Mbak Gita.
Maka, malam ini juga Dokter Zainal nekat. Ia akan melamar Mbak Gita walaupun tanpa kedua orang tua yang mendampinginya.
"Mumpung masih pukul Tujuh." Ujarnya, ia tersenyum bahagia.
Entah ide itu datangnya dari mana, namun karena rasa cinta dan rasa ingin memiliki begitu kuat, apapun akan ia lakukan hanya untuk Mbak Gita.
Ia kembali, dan masuk ke dalam mobil. Sebelum menyalakan mobil ia mengambil sebuah kotak berwarna merah marun, dan berbentuk Love dari dalam saku celanya. Kotak Cincin yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.
Dan malam ini Cincin ini harus berada di Jemari Pemiliknya.
"Tunggu Mas Sayang, Mas harap kamu jangan menolak Mas kali ini." Gumamnya seorang diri.
Ia pun meletakkan Kotak Cincin itu kembali kesaku celanya, perlahan mobilnya mulai berjalan meninggalkan Alun Alun Kota Palembang.
*******
Sedangkan di kediaman Pak Basuki, seluruh anggota keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga menikmati waktu santai mereka setelah makan malam selesai.
Termasuk Vallenia, si bayi unyu unyu yang saat ini sedang tertawa bahagia karena di ajak main oleh Kakek dan Nenek nya.
Namun tidak dengan Mbak Gita, sedari pulang dari rumah Dokter Zainal tadi ia langsung mengurung diri di kamar, dan tanpa ia sadari karena kelelahan akhirnya ia pun tertidur.
Jika ia sudah tertidur, maka suara sebesar apapun ia tidak akan bangun, kecuali ia terbangun dengan sendirinya.
Clentung!
Satu pesan masuk.
Aina membuka Ponselnya, dan melihat siapa yang mengiriminya Pesan.
Dan ternyata
"(Ada lowongan disini mah, banyak malahan. Kalo kamu mau ke sini aja. Yang penting kamu punya Ijazah SMA sama KTP karena itu adalah syarat yang utama.)"
Isi pesan tersebut.
Seketika bibir tipisnya tersenyum..
Ia pun mulai mengetikkan huruf demi huruf, membalas pesan dari temannya tadi.
Send
Pesan pun terkirim.
Saat ini Aina sedang mengumpulkan nyalinya untuk meminta Izin kepada kedua orang tuanya.
Satu kata akan terucap, ia tahan kembali karena tiba tiba Mbak Gita muncul dengan wajah khas bangun tidurnya.
"Gadis kok baru bangun Ta Ta, mandi apa sana, ganti baju nggak, pulang pulang langsung tidur aja!" Omel Ibu ketika Mbak Gita telah ikut duduk gabung bersama mereka.
Mbak Gita tidak menggubris omelan Ibunya, ia teringat akan satu hal tentang kejadian yang ia alami hari ini.
Kejadian yang sulit untuk ia percaya juga sulit untuk ia terima.
"Reyhand meninggal."
"APA!"
Seketika Ayah, ibu juga Aina menjawab dengan jawaban yang cukup kompak.
Vallenia terkejut, karena suara Nenek, kakek dan ibunya yang begitu keras.
"Oeekkkkk." Tangis Vallenia Pecah.
Entah ia menangis kaget karena mendengar suara yang cukup keras atau ia juga merasakan kesedihann karrena kepergian Reyhand.
Entahlah Author juga tidak tahu.
"Cup.. cup.. sini Sayang, sama Bunda." Aina lalu mengambil alih Vallenia yang berada di Pangkuan Neneknya.
"Reyhand meninggal?" Tanya Ibu sekali lagi.
Ibu juga merasa shock dengan kabar yang baru saja di beritahu oleh Mbak Gita.
"Iya, dia meninggal siang tadi, tetapi aku belum mengetahui penyebab kematiannya apa, dan.."
Mbak Gita menggantung ucapannya, suaranya seolah tersangkut di tenggorokkan.
Perasaan sedih juga kehilangan kembali memenuhi hatinya.
Sesak di dadanya kembali terasa, air matanya menerobos kelopak matanya lalu terjun bebas begitu saja membasahi kedua pipi mulus Mbak Gita.
Mbak Gita menangis di hadapan kedua orang tua nya.
Ia tidak bisa menahan rasa sedihnya karena di tinggal oleh Sahabat rasa Saudaranya itu.
"Udah Nak, kamu ikhlaskan Reyhand, mungkin Allah lebih sayang Reyhand. Apapun itu penyebab kematiannya kamu harus bisa menerimanya, karena Maut, Rezeky, Jodoh, semua itu hanya Allah yang tahu. Semua telah di takdirkan masing masing. Termasuk Kematian Reyhand yang mendadak ini, semua itu adalah Rencana Allah. Kita sebagai umatnya hanya bisa berdo'a dan berusaha agar Takdir yang di tentukan untuk kita adalah Takdir yang baik dan bahagia." Ujar Ibu menasehati Mbak Gita seraya jemarinya mengelus lembut puncak kepala Putri Pertamanya ini.
Mbak Gita tidak menjawab ia hanya menangis sesegukkan mendengarkan Nasehat Ibunya.
"Sudah ya, lebih baik kamu mandi terus sholat, do'akan Reyhand agar tenang di sana, juga amal ibadahnya di terima. Itu lebih bermanfaat Nak, dari pada kamu terus menangisi kepergiannya. Percuma dia tidak akan pernah kembali juga Arwahnya menjadi tidak tenang."
Sekelibat kenangan tentang Mbak Gita dan Reyhand bermuncullan di memori otaknya, semua nya berputar seolah ia sedang menonton tayangan ulang dari kisah hidupnya bersama Reyhand.
Sepuluh tahun mereka berteman, dan selama Sepuluh Tahun juga Mbak Gita mencintai Reyhand dalam diam. Itulah kenapa saat kepergian Reyhand, Mbak Gita tidak bisa menerimanya begitu saja.
Ada rasa menyesal, tetapi rasa kehilanganlah yang paling memenuhi rongga dadanya.
Sehingga membuat apapun menjadi tidak mood untuk ia kerjakan. Termasuk makan, sholat, apalagi mandi.
Tok! Tok! Tok!
"Reyhand! Itu Reyhand bu!"
Bersambung..