
*POV Author*
•••••••••••
"Mamah!! Bicara apaan sih!!" Bentak Dokter Zainal.
"Durhaka kamu bentak Mamah hanya karena wanita ini!"
Degh!
Baru saja Mbak Gita merasakan kebahagiaan karena ikhlas menerima Dokter Zainal namun sekarang gara gara ulah Claraa Mamah Zainal ikut terpengaruh.
"Mah.." Lirih Mbak Gita, ia menatap mata Mamah Zainal dengan pandangan sedih.
"Kamu mau mempermainkan anak saya? Bagus!! Untung saja pernikahan kalian di undur waktu itu, kalau tidak kasihan anak saya mendapatkan wanita murahan seperti kamu!!"
Bagaikan petir di siang bolong, jika Claraa yang menghina dirinya ia tidak masalah tetapi ini, Calon Mertuanya sendiri.
Mbak Gita merasa hatinya begitu hancur sehancur hancurnya. Karena perasaan wanita itu rapuh, tidak terasa air matanya lolos tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Sedangkan Reyhand, ia terpaku menatap wanita paruh baya yang ada di hadapannya ini. Reyhand seperti pernah bertemu dan mendengar suara wanita paruh baya ini, tapi dimana.
Entahlah ia tidak mengingat itu, yang terpenting ia harus meluruskan kesalahpahaman ini, kasihan sekali Mbak Gita. Gara gara ulah Claraa yang tidak berbobot, Mbak Gita jadi sasaran empuk para pengunjung.
Ada yang menatap nya penuh dengan tatapan jijik, ada juga yang berbisik bisik, bahkan ada yang terang terangan mendukung aksi tidak berbobot Claraa.
"Untung aja belum ibu kawinin bu, kalo nggak kasihan anak ibu!" Ucap salah satu pengunjung Cafe.
lalu ejekkan demi ejekkan mulai berbisik riuh memenuhi seluruh ruangan. Mbak Gita yang tidak tahan pun akhir nya angkat bicara.
"CUKUP!!!" Teriak Mbak Gita.
Seketika ruangan menjadi sepi senyap.
Aura kemarahan begitu terpancar di wajah ayu Mbak Gita, ia berdiri dan menatap satu persatu kearah pengunjung yang telah menghina nya tadi.
"Hey lo sini!!" Mbak Gita berjalan ke arah wanita yang menghina nya tadi lalu berkata,
"Kalo punya mata itu di pake buat lihat, dan kalo punya telinga itu di pake buat denger!! Apa lo buta ha?? Apa lo tuli?? JAWAB!!" Bentak Mbak Gita,
Ia sudah tidak tahan dengan bisik bisik yang menghina dirinya. Macan yang ada di dalam tubuhnya pun mulai terbangun.
Mbak Gita menarik kasar tangan wanita yang telah menghinanya tadi ke hadapan Claraa dan Mamah nya Zainal.
Sedangkan Reyhand ia percaya bahwa Mbak Gita bisa menyelesaikan kesalah pahaman ini dengan bijak.
Dan Dokter Zainal, dia seperti melihat ada yang lain di dalam diri Mbak Gita. Sesuatu yang membuat dirinya semakin tidak akan melepaskan Mbak Gita.
"Lo punya mata kan, lo lihat baik baik, Pakaian yang gua pake, sama pakaian yang Kecoa tengil ini pake! Sekarang gua tanya bagian mana yang menunjukkan kalo diri gua ini murahan ha?!!" Bentak Mbak Gita.
Seketika tubuh wanita itu gemetar hebat, ia melihat sorot mata Mbak Gita begitu tajam seolah menusuk lawan nya.
Wanita itu menjadi gugup dan suaranya seperti tersangkut di tenggorokkan.
"Nggak ada akhlaq!! Asal lo tahu, lelaki yang lo sebut calon suami lo itu dia adalah sodara gua!! Dasar wanita gila! Lo bilang gua cewek murahan? Lalu sebutan untuk diri lo apa?!! Pake baju aja kurang bahan, sok ngatain gua cewek murahan, nggak sadar diri banget lo!! Ngaca makanya, Kalo nggak ada duit buat beli baju yang utuh bilang sama gua! atau lo mau jual ************ ya jangan disini!!" Gerutu Mbak Gita panjang kali lebar, seolah tidak memberikan waktu untuk Claraa menjawab ucapannya.
"Dan untuk Mamah, maaf jika saya ada salah kata atau perbuatan yang telah menyinggung perasaan Mamah. Terimakasih atas ucapan yang Mamah tuduhkan untuk Saya!"
Tanpa menunggu jawaban dari orang orang yang ada di sekitar ruangan Cafe Meranti, Mbak Gita pun bergegas mengambil tas miliknya lalu pergi meninggalkan keriuhan Cafe Meranti.
"Sayang tunggu." Cegah Dokter Zainal, ia menahan pergelangan tangan Mbak Gita agar Mbak Gita tidak pergi dari sini.
"Sudah Mas, izinkan aku pergi. Kamu tahu, saat Claraa menghinaku aku tidak masalah dan tidak merasa sakit hati. Tetapi, ini Mamah mu Mas, yang artinya akan menjadi Mamah ku juga namun kamu dengar sendiri apa yang di ucapkannya tadi, sungguh membuat hati ku hancur Mas!" Ungkap Mbak Gita.
Lalu ia pun berlari menuju ke arah dimana motor nya terparkir. Ia mengenakan helm dan memasang kunci, menghidupkan stater dan menarik gas sekuat kuat nya.
Brummmm!!
Seketika bayang bayang Mbak Gita menghilang dari pandangan Dokter Zainal.
Satu persatu pelanggang Cafe kembali pada aktifitasnya masing masing, begitu juga dengan wanita yang menghina Mbak Gita tadi, sekarang ia buru buru ke kasir untuk membayar makanan yang sudah ia pesan tadi dan segera pergi meninggalkan Cafe Meranti karena dirinya merasa malu.
Sedangkan Mamah bukannya merasa bersalah karena telah menyinggung perasaan Calon menantu nya, kini ia malah sibuk memperhatikan wajah Reyhand.
"(Ternyata anak ini saudara nya Calon mantuku.)" Gumam Mamah Zainal dalam hatinya.
"Mah ayo pulang dan minta maaf sama Gita!" Ajak Dokter Zainal membuyarkan lamunan Mamahnya.
"Mamah sekarang ada urusan, soal Gita itu nanti nanti saja." Jawab Mamah.
"Mamah ini kenapa sih? Kenapa tiba tiba begini? Bukannya Mamah sudah tahu luar dalam nya Gita, tetapi kenapa sekarang Mamah berubah seratus delapan puluh derajat hanya karena ucapan wanita gila ini!!" Cecar Dokter Zainal, ia begitu geram dengan tingkah Mamahnya hari ini. Benar benar di luar akal sehat.
"Dan lo, apa sebenarnya urusan lo sama Gita? Kalo lo ngerasa pacarnya Reyhand, ya lo jagain Reyhand biar nggak deket deket sama Gita, bukan malah main hina Gita seenak jidad lo!!" Bentak Dokter Zainal, matanya pun menatap tajam Claraa.
Andai Claraa lelaki sudah di pastikan ia akan babak belur saat ini juga, tetapi sayang Claraa adalah perempuan jadi Dokter Zainal hanya bisa menahan kepalan bogemnya dengan perasaan begitu kacau.
"Sudahlah! Ini semua kesalahan Claraa, memang wanita ini tidak ada rasa malu sama sekali dan rasa kemanusiaannya telah lama hilang! Jadi lebih baik lu susul Gita dan tenangkan hatinya. Soal Mamah lu, mungkin dia lagi gagal fokus makanya terbawa suasana." Ujar Reyhand begitu santai.
"Arghhhhh!!" Teriak Dokter Zainal, ia menjambakk rambutnya sendiri seperti orang frustasi.
Sedangkan Reyhand ia sadar bahwa Mamah Zainal dari tadi memperhatikan nya. Seperti ada yang ingin Mamah Zainal sampaikan pada Reyhand namun terhalang karena kondisi dan situasi yang sedang tidak mendukung.
Dokter Zainal pun meninggalkan Mamahnya tanpa mengucapkan apapun. Perasaan nya sedang kacau memikirkan Calon istrinya.
Saat ini di tempat hanya tinggal Clara, Reyhand dan Mamah Zainal. Karena Dokter Zainal telah pergi meninggalkan Cafe untuk menyusul Mbak Gita.
Reyhand pun setelah kepergian Dokter Zainal, ia juga akan beranjak dari tempat duduknya. Namun belum satu langkah ia melangkah, seseorang memanggilnya.
"Rey." Panggil seseorang itu.
Namun Reyhand tidak menggubrisnya, karena jika ia gubris hal selanjutnya yang akan terjadi hanyalah pertengkaran, dan Reyhand tidak mau itu terjadi.
Bersambung..