My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 32 : Lubang Buaya



POV Author


*********


Hujan telah reda, bapak Tua penjaga TPU tadi, ia telah izin untuk pulang kerumahnya. Dan baju di badan Pak Prabu perlahan mulai kering di badan.


Saat ini tinggallah Pak Prabu seorang diri pemakaman. Ia duduk termenung menatapi satu persatu makam yang ada di sini, tempat ini negitu bersih dan terawat. Tidak sia sia ia memakamkan Almarhumah istrinya disini.


Walaupun ia sangat jarang mengunjunginya, namun makam almarhumah istrinya selalu bersih dan terawat. Itu karena ia telah membayar uang bulanan kepada bapak Tua penjaga makam tadi.


Pikirannya melayang, mengingat perjalanan kisah cintanya dan Almarhumah Sarah, istrinya dulu.


Bodoh, sungguh bodoh dirinya telah menyia nyiakan batu berlian hanya untuk batu kerikil yang ia pungut di jalanan.


"Sarah, maaf kan aku." Ujarnya, Pak Prabu sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak menetes membasahi kuburan istrinya.


"Aku, aku telah mencelakai anak yang begitu kamu sayangi Sarah, meskipun itu bukanlah anakmu."


"Aku begitu bodoh karena ikut tersulut emosi, aku bodoh Sarah! aku benar benar Ayah yang tidak berguna!"


Pak Prabu terus meracau apa pun yang membuatnya menjadi risau, apa pun itu yang mengganjal di hatinya saat ini ia tumpahkan segala keluh kesahnya di hadapan kuburan Almarhumah istrinya.


Ia bercerita seolah Almarhumah istrinya mendengarkan dan menjawab keluh kesahnya.


"Tidak, aku.. Aku begitu menyayangi Putra kita, Reyhand. Tetapi  sampai saat ini setelah kepergian mu, dia begitu acuh terhadap ku, dia tidak perduli, dia cuek, bahkan dia keluar dari rumah kita dan menetap sesuka hatinya."


"Ah-iya dia tidak nakal, dia menetap di Apartemen yang dia beli dari hasil keringatnya sendiri. Anak itu memang paling pintar mencari uang, tetapi sampai saat ini dia belum bisa mendapatkan pendamping hidupnya. Aku bahkan tidak mengetahui tipe wanita idamannya."


"Yaaa dia seumuran dengan Putra Anita. Zainal, saat ini dia telah sukses menjadi Dokter. Aku bangga Sarah, aku bangga memiliki dua putra, namun sayang putraku yang pertama sulit untuk aku genggam."


Pak Prabu terus bercerita seolah Sarah, Almarhumah istrinya ada di hadapannya,  mendengarkan dan menanggapi curhatannya.


"Lalu menurut mu, apakah aku harus jujur terhadap Anita, bahwa Reyhand adalah bukan Putra kandungmu  tetapi Putra kandung Surti?"


"Kenapa? Kamu takut? Takut aib mu yang mandul itu tersebar kemana mana? Haaha kamu jangan khawatir aku tidak akan memberitahu siapa pun kalau kamu itu mandul Sarah!" Racau Pak Prabu, ucapannya semakin lama semakin tidak dapat di kontrolnya.


Dering ponsel  menyadarkan Pak Praabu dari fikiran halusinasi  nya.


Kringgggggg!


"Ah siapa pula yang menelfon!" Gerutu  Pak Prabu.


Ia pun mengambil ponsel dari dalam saku celana dasarnya yang lembab, untung saja ponselnya anti air, jadi saat kehujanan tadi dia tidak rusak.


Tertera nama istrinya, Anita di layaar ponsel, Pak Prabu merasa ragu untuk menerima panggilan suara dari Istrinya.  Ia yakin  istrinya ini passti akan mengomeli dirinya  sebab dari kemarin malam dirinya belum pulang kerumah.


Karena hanya di lihatt saja, akhirnya panggilan pun berakhir.


"Huuuhhh." Pak Prabu menarik nafasnya lega kala dering ponselnya  tidak berbunyi lagi.


Ia kembali berjongkok dan mencabuti rerumputan kecil yang tumbu  diatas tanah kuburan Almarhumah Istrinya.


"Sarah.. Aku benar benar bingung saat ini." Lirihnya.


Ia mulai lagi mengorol seorang  diri.


Pak Prabu memang tiipe manusiia yang tidak  suka berbagi masalahh dengan siapapun, termasuk istrinya.


Ia lebih suka merenung untuk menemukan jalan keluar dari masallahh yang sedang ia hadapii.


"Aku lelah Sarah, aku benar benar lelah." Gumamnya, ia tertunduk lesu menatap batu nisan yang bertuliskan nama Sarah Aulia, Almarhumah istrinya.


"Di satu sisi aku ingin berdamai dengan putraku, namun dii sisi lain, aku takut Anita tidak bisa menerima kehadiran Reyhand, walaupun dia telah mengetahui bahwa Reyhand adalah Putraku."


"Sulit Sarah, sulit!"


Pak Prabu terdiam sejenak, ia mengambil nafas dalam dalam lalu ia hembuskan secara kasar begitu saja.


"Apa katamu? Tidak tidak, mana mungkin akuu menikahi sahabat mu Sarahh, jangan gila kamu!!"


"Tetapi saran mu bagus juga, Surti itu belum pernah menikah. Sudah pasti lubang buayanya masih kenceng terjaga, tiidak seperti Anita yang sudah tua dan peyot."


"Jika Surti di bawa kesalon dan di beri perawatan khusus sudah pasti kulit kusamnya akan  cerah. Dengan uang yang aku  punya juga sudah pasti dia akan terlihatt cantik. Dan aku tidak perlu repot repot lagi jajan lubang buuaya di lluuar."


"Karena saat aku pulang bekerja Surti harus selalu terlihat cantik dan harus bisa  memuaskan ku!"


"Hahah.. hhahah.. hhaha.. hhaha.."


Pak Prabu tertawa puas dengan rencana konyol yang tiba tiba saja muncul di kepalanya.


"Tidak  perlu alasan yang panjang untuk menikahi Surti, bilang saja semua aku lakukan demi kebahagiaan Reyhand. Toh Reyhand juga sudah mengetahui bahwa ibu kandung dia yang sebenarnya adalah Surti, pembantu  yang selalu setia menemaninya, dan bukan Sarah, seseorang yang sudah mati sebelum berperang."


Sulit untuk di pungkiri, ternyata yang ada di kepala pak Prabu hanyalah lubang buaya, dasar otak sel*ngk*ng*n.


Sedangkan di rumah sakit.


Seorang dokter yang mengenakan jas berwarna putih itu keluar dari ruangan UGD, ruangan dimana saat ini Reyhand berada.


"Keluarga Reyhand?" Ia bertanya kepada beberapa orang yang sedang duduk di kursi tunggu di depan ruangan UGD.


Tidak ada yang menyahut di antara mereka, lalu Dokter itu pun kembali masuk ke ruangan UGD.


"Apakah  saudara Reyhand tidak memiliki keluarga diisini Sus?" Ia bertanya kepada Suster yang menjadi assistennya saat ini.


"Tadi beliau datang kesini bersama seorang ibu ibu Dok, apakah ibu ibu itu tidak ada di depan?"


"Tidak ada, beberapa orang di sana hanya memandang saya penuh tanda tanya lalu mereka kompak menggeleng."


"Baik Dok, kalau begitu  saya akan cari kemana Ibu itu pergi."


Suster itu pun berbalik arah akan keluar dari ruangan UGD. Namun langkahnya terhenti kala Dokter tadi memanggilnya lagi,


"Sus."


"Iya Dokter ada apa?"


"Jangan membuang buang waku hanya untuk menacari hal yang tidak pentiig! Segera  ke PMI, cari golongan darah A+, kasihan anak inii diia  sudah kehabisan banyak darah."  Ujar Dokter itu.


Namun bukannya menjalankan apa yang di perintahkan oleh Dokter tadi,  sii Sustter hannya menatap bingung ke arah Dokter itu.


""Kenapa malahh  bengong?"


"Maaf Dokter, bukannya saya sudaah ke  PMI yaa, dan persdiaan darah  unukk golonngann darah A+ lagi kosong,  lalu kenapa Dokter bertannya lagi?"


"Ah iya maaf, mungkin saya laper."


Bersambung..