
POV Author
••••••••••••
Hari semakin larut, namun tidak berlaku untuk Dokter Zainal yang masih berdiri di depan pagar menunggu Mbak Gita memaafkan kesalahan yang telah di perbuat oleh ibunya saat sore tadi, saat kejadian di Cafe Meranti.
"Nak, ini hampir jam sepuluh loh, sudah tiga jam Zainal berdiri di situ. Apa kamu tidak mau menemui nya?" Tanya Ibu, ia merasa khawatir terjadi apa apa terhadap Calon menantunya itu.
"Biarkan saja bu! Biar dia tahu rasa!" Gerutu Mbak Gita.
"Sebetulnya ada masalah apa kalian? Kenapa cuek cekkan gini?" Ujar ibu heran karena Mbak Gita tidak menceritakan kejadian sore tadi saat dirinya di hina.
Mbak Gita merasa kesal terhadap Dokter Zainal, karena ia tidak bisa tegas dalam mengambil keputusan, dan juga tidak bisa melindungi Mbak Gita dari hinaan hinaan yang orang lontarkan untuk dirinya.
"Masalah hati dan perasaan bu." Lirih Mbak Gita, tanpa melihat ke arah ibunya.
"Ada apa dengan hati dan perasaan mu?" Tanya ibu lagi.
Mbak Gita pun tidak berniat berbagi cerita pada ibu. Karena memang Mbak Gita tipe wanita yang suka memendam semuanya sendiri.
"Tidak bu, hanya saja lagi tidak mood bertemu dengan nya." Mbak Gita berucap seolah tidak terjadi apa apa pada dirinya.
Ibu pun mengerti, jika Putri sulungnya ini memang sangat sulit untuk di tebak. Namun ibu tidak berhenti sampai disini.
"Jika kalian sedang ada masalah sebaiknya di bicarakan baik baik, dan jangan lupa tidak boleh pakai emosi." Ucap Ibu sambil tersenyum.
"Mungkin besok saja bu, setelah perasaanku membaik."
"Kalau begitu temui dia, jangan buat dia menunggu lebih lama lagi. Karena waktu tiga jam plonga plongo di depan rumah orang itu adalah perjuangan." Ungkap Ibu, sembari tangannya mengelus punggung tangan Mbak Gita.
"Perjuangan?" Tanya Mbak Gita heran.
"Iyaa perjuangan."
"Apa hubungan nya bu? Menurut ibu ini zamannya Peperangan apa?"
"Iya, dan Penyerang nya itu kamu." Ujar ibu.
"Ihh Ibu ini." Rengek Mbak Gita.
"Makanya temui Zainal, kasihan dia. Pasti nyamuk di luar sudah pada kenyang."
"Uhukk!"
Mbak Gita tersedak cemilan yang sedang ia nikmati kala ia mendengar ucapan ibu yang barusan di lontarkannya.
"Nah kan, itu tandanya kamu dirasani oleh Zainal, makanya jadi keselek."
"Alah ibu, sok tau deh." Gerutu Mbak Gita, lalu ia beranjak dari posisi enaknya, menuju ke luar untuk menemui Dokter Zainal, calon suaminya.
"Heheh." Ibu hanya tertawa menanggapi omelan Putri sulungnya ini.
Sedangkan Aina, ia telah terlelap sejak sore tadi, dan Putrinya Vallenia juga ikut terlelap di sebelahnya.
Ibu melanjutkan menonton film Action yang ada di stasiun Trans Tv. Lalu ayah pindah ke kamar untuk beristirahat meluruskan pinggangnya.
"Mau kemana Yah?" Tanya ibu saat aya melewati dirinya.
"Ayah mau ngelurusin pinggang dulu, biar besok bisa di bawa berdagang lagi."
"Ibu ikut Yah.." Rengek Ibu,
"Ya ayo jalan." Ujar Ayah.
"Nggak mau.."
"Jadi maunya?"
"GENDONG." Ujar Ibu mempertegas ucapannya.
"Ibu pikir ayah ini Mbah Surip? Ke kamar aja pake acara Tak gendong segala. Jalan napa pinggang ayah rasanya sudah mau pokel." Gerutu Ayah sembari berlalu meninggalkan ibu sendirian di ruang keluarga.
"Ih ayah mah nggak seru. Dulu aja ayah paliinng suka gendong ibu ke kamar kalo mau tidur." Ungkap ibu,
dan seketika ayah menghentikan langkahnya lalu berkata,
"Apa?"
"Lima r*nde juga ayah masih sanggup!" Ungkap ayah, dan itu berhasil membuat ibu terdiam seribu bahasa untuk sesaat, namun setelah beberapa detik,
"Ayo kalo mau perang!" Ucap Ibu, sembari berdiri dan menyusul ayah yang berada di depan pintu kamar.
Tinggallah Televisi masih menyala tanpa ada yang menonton.
"Ayo siapa takut!" Tantang ayah, ia pun menggendong ibu masuk ke dalam kamar dengan gaya ala bride style. Uww tua tua keladi.
Kalo masalah ranjang, untuk siapa pun, setua apa pun usianya tetap jiwa mudanya akan bangkit. Sama seperti ayah dan ibu saat ini.
Tanpa banyak bicara lagi, pemanasan untuk perang segera ayah lakukan karena tanpa pemanasan semua yang di lakukan tidak enak rasanya.
"Ug*h.." Suara merdu itu keluar dari mulut ibu.
Ayah pun semakin semangat di buatnya.
Walaupun ayah sudah memasuki usia yang ke lima puluh tahun dan ibu empat puluh tahun, namun permainan perang mereka masih tetap sama hot nya seperti pengantin baru beberapa tahun silam.
"iy*h.. Y*h.. Terus." Lirih ibu terputus putus di bawah sana, saat ayah terus memompa lubang buaya milik ibu.
Ayah pun semakin menambah kecepatan iramanya, dan saat irama tertinggi,
"Ughhh.." Suara merdu dan panjang keluar dari mulut Ibu, mereka telah mencapai gunung puncak tertinggi.
Ayah pun memeluk ibu yang tergeletak lemas akibat perbuatannya. Lalu di ciumnya kening ibu dengan mesra.
Keharmonisan dalam hubungan mereka masih tetap terjaga, walaupun sudah memiliki cucu, sepasang suami istri ini masih akan melanjutkan permainan Perang mereka mallam ini.
"Ayah lagi.." Pinta ibu dengan suara manja nya tepat di telinga ayah.
Seketika tubuh ayah jadi merinding bagaikan tersengat aliran listrik karena ulah ibu barusan.
"Masih kuat?"Tanya Ayah memastikan, dan pelukkannya belum ia lepaskan.
"Kuat dong." Ucap Ibu, tangannya pun menjelajah alam bawah ayah, dan sengaja memegang tongkat bisbol milik ayah.
"Ug*hh.." Lenguhan itu terdengar dari mulut ayah, kala ibu memanjakan aset berharga milik Ayah.
Terus pertempuran terus berlanjut hingga kedua pasangan suami istri itu merasa sama sama kelelahan.
"Kamu masih sama seperti saat baru melahirkan Gita bu, sangat hot." Lirih ayah di telinga ibu, kala pertempuran telah selesai.
Ibu yang dipuji begitu, hanya tersenyum dan semakin dalam menyelipkan kepalanya dalam dekapan ayah.
Aroma tubuh ayah sungguh sangat ibu sukai dari dahulu hingga sekarang, tidak pernah berubah.
"Ayah tahu nggak warna kesukaan ibu apa?"
Pertanyaan ibu sungguh mudah di jawab menurut ayah.
"Abu abu." Ujar ayah begitu percaya diri.
"Salah."
"Lalu?"
"Warna merah di dadaku akibat ulah ayah tadi."
Ayah hanya melongo mendengar ungkapan yang baru saja terlontar dari mulut istrinya ini. Sedangkan ibu tertawa karena merasa geli dengan ucapannya sendiri.
Setelah pertempuran panas itu selesai, kedua insan yang hampir memasuki usia senja ini akhirnya terlelap dalam kehangatan yang di pancarkan oleh keharmonisan rumah tangganya.
Sedangkan di luar rumah, masih terjadi perdebatan sengit antara Mbak Gita dan Dokter Zainal, sebenarnya sih hanya Mbak Gita saja yang terus mengomel sedangkan Dokter Zainal ia hanya diam mendengarkan keluhan hati Calon istrinya ini.
"Sudah?" Tanya Dokter Zainal kala Mbak Gita tidak melanjutkan ucapan ucapannya lagi.
Mbak Gita pun hanya menatap jengah terhadap Dokter Zainal, sudah panjang kali lebar ia mencurahkan isi hatinya namun jawaban lelaki itu hanya singkat padat dan jelas.
Sungguh rasanya ingin sekali Mbak Gita menonjok calon suaminya ini.
Bersambung..