
Pov Author
********
"Bagaimana?"
"Sudah pak, mereka sekarang berada di mobil Ambulance dan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit."
"Lalu bagaimana keadaan Putra saya?"
Ternyata yang menelfon pihak rumah sakit tadi adalah Pak Prabu.
"Dia tidak sadarkan diri Pak. Sepertinya dia kehabisan banyak darah. Untung saja mereka cepat mengikat kepalanya dengan selendang jika tidak darah akan terus mengalir dan lama kelamaan Putra bapak bisa mati karena kehabisan darah."
Pak Prabu menarik nafasnya kasar, ia begitu menyesal telah melakukan hal itu kepada Putranya.
"Saya minta, lakukan yang terbaik untuk keselamatan Putra saya!"
"Baik pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin."
Tut.. tut.. tutt..
Pak Prabu mematikan sambungan Telepon secara sepihak.
Pikirannya benar benar kalut saat ini.
Ia ingin pulang kerumah untuk beristirahat, tubuhnya terasa sangat lelah dan tulang tulang terasa seperti remuk redam seribu.
Namun, tidak mungkin ia pulang kerumah dalam keadaan wajahnya penuh luka, bonyok, babak belur akibat ia berkelahi dengan Putranya pagi tadi.
Ia duduk di kursi taman sembari menatap kearah langit yang tampak mendung.
"Langit saja ikut bersedih atas tindakan bodoh yang telah aku lakukan." Gumam Pak Prabu seorang diri.
Tanpa terasa langit semakin gelap, dan suara geluduk mulai terdengar.
Lima menit kemudian seluruh alam di basahi oleh air hujan yang turun di pagi hari ini.
Pak Prabu masih tidak beranjak dari duduk nya, ia begitu menikmati hujan yang turun bersamaan dengan air matanya yang ikut terjatuh bercampur dengan air hujan.
Ia menangis, meratapi tindakkannya yang begitu bodoh selama ini.
Kematian Sekar, juga karena keegoisannya, dan sekarang Reyhand, Putra kandung satu satunya sedang bertaruh nyawa di rumah sakit akibat ulah bodohnya.
"Arghhhhh!" Ia berteriak di sela tangisnya.
Air hujan terus mengguyur tubuhnya, rasa pedih luka di wajahnya tidak ia hiraukan.
Ia menangis dan hanya menangis larut dalam kesedihannya.
Lalu entah ada angin apa, Pak Prabu merasa ia merindukan sosok Sarah, wanita yang ia cintai namun tidak dapat ia temui lagi untuk selama lamanya.
Pak Prabu bangkit dari duduk nya, dan berjalan sempoyongan ke arah mobilnya yang ia parkirkan di pinggir taman.
Sepertinya ia akan mengunjungi makam Istrinya.
Ia membuka pintu lalu dengan baju yang basah kuyub ia masuk saja dan duduk di kursi kemudi.
Perlahan ia melajukan mobil ke area pemakamam.
Ia mengemudi dengan perasaan yang entah Author juga tidak tahu.
Lima belas menit kemudian, ia sampai di TPU, dimana istrinya dulu di makamkan.
Hujan yang deras tidak menghentikan langkahnya, dengan langkah yang gontai ia mulai memasuki Area pemakaman.
"Hujan Pak, sini berteduh dulu." Panggil penjaga makam itu.
Awalnya Pak Prabu enggan menghiraukan lelaki Tua penjaga makam itu, namun sesaat ia teringat sesuatu yang membuat langkahnya menjadi terhenti dan berbelok arah ke pos penjaga di mana Lelaki tua itu berada.
"Pak.." Sapa Pak Prabu.
"Hehe bapak bisa aja." Ujar Pak Prabu sedikit tersenyum.
"Mau mengunjungi siapa hujan hujan begini?"
"Istri saya pak." Ujar Pak Prabu, wajahnya terlihat begitu sendu.
"Sudah lama beliau pergi?"
"Sekitar dua tahun lalu pak."
"Ohhhh.."
Bapak Tua itu hanya ber oh ria menanggapi ucapan pak Prabu.
Lalu ia menyeruput kopi hitam yang masih berasap itu perlahan tapi pasti sampai di tenggorokkannya.
"Syruppppp.. Ah.."
Melihat begitu nikmatnya Bapak Tua ini menyeruput kopinya, Pak Prabu pun hanya menelan air ludahnya.
"Dulu, saat istri saya pergi meninggalkan saya untuk selama lamanya, saya sangat sedih, saya begitu kesepian, saya seperti kehilangan surga di rumah saya."
Pak Prabu yang awalnya menatap kopi hitam yang ada di atas meja itu dengan tatapan ingin, kini ia mengalihkan pandangannya kala Bapak Tua ini bercerita tentang almarhumah istrinya.
"Saya menjadi kacau, keadaan rumah juga tidak sedamai dulu, anak anak menjadi jarang pulang, dan tidak perduli dengan saya." Ungkap Bapak Tua ini,
lalu ia menarik nafas dalam dan ia hembuskan, sembari menatap air hujan yang turun dengan begitu derasnya ia melanjutkan ceritanya kembali.
"Tetapi menurut saya, anak anak menjadi seperti itu karena kesalahan saya sendiri."
Pak Prabu mulai tertarik dengan cerita Bapak Tua ini, sepertinya ini adalah kisah hidup yang sama seperti dirinya.
"Saya telah melakukan kesalahan, saya melukai hati dan perasaan anak anak saya, mungkin almarhumah istri saya juga kecewa terhadap saya."
Bapak Tua itu tersenyum getir sembari menatap makam makam yang basah akibat derasnya hujan turun.
"Kalau boleh tahu masalahnya apa pak?" Tanya Pak Prabu dengan sangat berhati hati, karena ia tidak mau membuat Bapak Tua ini menjadi tersinggung akibat pertanyaannya.
"Sebelum Almarhumah istri saya meninggal, saya ketahuan selingkuh, saya di pergoki olehnya sedang beradu kasih di kamar kami, kamar yang seharusnya tidak boleh di masukki oleh wanita lain selain istri saya."
Deg!
Perasaan Pak Prabu seperti di sentil, karena ia merasa kisah Bapak penjaga Makam ini sama seperti kisah hidupnya.
"Kejadian itu sudah sangat lama sekali, namun rasa bersalah masih terus menghantui di setiap tidur saya, di setiap mata saya terpejam selalu terbayang senyum terakhir yang terukir di bibir istri saya."
"Anak anak saya menjadi menjauh dan selalu menyalahkan saya atas kematian ibu mereka. Sampai saat ini tidak ada diantara mereka yang mau menganggap saya ini orang tua mereka lagi. Saya di kucilkan, bahkan di usir dari rumah saya sendiri."
"Saya fikir hidup bersama selingkuhan saya itu lebih baik namun nyatanya, semua yang saya fikir baik ternyata hanya sesaat. Setelah saya di usir oleh anak anak saya, selingkuhan saya juga pergi hilang tanpa kabar. Padahal kami telah menikah sirih secara diam diam."
"Ternyata selingkuhan saya tidak mau hidup bersama saya saat saya sudah tidak memiliki apa apa lagi. Saat saya di usir oleh anak anak saya dan saat itu juga saya tidak memiliki apa apa lagi. Saya jatuh miskin semiskin miskinnya."
Pak Prabu masih mendengarkan secara seksama kisah hidup yang di ceritakan oleh Bapak Tua penjaga makam ini.
Tanpa memotong apalagi mencelah, ia hanya fokus menyimak saja.
"Mungkin semua ini adalah hukuman untuk saya, karena saya telah mendzolimin istri saya."
"Hingga rasa bersalah itulah yang membawa saya untuk tetap dan tinggal di sini, di mana istri saya dimakamkan."
"Jadi, istri bapak juga di makamkan disini?" Tanya Pak Prabu penasaran.
"Iya disini, tepaat di sebelah kiri setelah pintu masuk, itu yang ada kembang kamboja."
Mata Pak Prabu mengikuti arah tunjuk Bapak Tua ini, alhasil ia terkejut karena makam Almarhumah istri Bapak penjaga Makam ini bersebelahan dengan Makam Almarhumah istrinya.
"Makam Istri kita bersebelahan Pak."
Bersambung..