My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 19 : Fakta Apa?



POV Author


•••••••••••


Dokter Zainal terus mengejar motor yang di kendarai oleh kekasihnya, namun sayang karena ia tidak gerak cepat jadi ia tertinggal jauh bahkan kehilangan jejak kekasihnya.


"Aghhhhh sial sial sial!" Umpat Dokter Zainal sembari memukul mukul stir kemudi mobil miliknya.


"Dimana kamu sayang." Lirih nya, ia pun menjambak rambutnya kasar. Ia terlihat begitu frustasi.


Dokter Zainal sangat menyesal atas apa yang telah terjadi hari ini, ia mendadak benci pada Mamah nya. Semua itu karena ulah Claraa.


Andai Claraa tidak datang pasti semua akan baik baik saja. Dan untuk Mamah nya Zainal kenapa penilaiannya terhadap Mbak Gita bisa berubah seratus delapan puluh derajat, padahal sebelumnya ia begitu memuji kecantikan, sifat, sikap, semua yang ada pada diri Mbak Gita, Mamah Zainal menyukainya.


Namun, tidak dengan hari ini, semua seakan berbalik haluan.


Dokter Zainal mencoba menelfon Mbak Gita namun sayang berulang kali tidak di angkat, dan pesan pesan singkat pun tidak ada yang di balas.


Akhirnya Dokter Zainal memutuskan untuk mencari Mbak Gita di kediaman orang tuanya. Karena ini sudah memasuki pukul Enam sore lewat lima belas menit, yang artinya sebentar lagi akan maghrib.


Ia pun memutuskan untuk menunaikan Sholat Maghrib terlebih dahulu, setelah itu ia akan melanjutkan pencariannya kerumah orang tua Mbak Gita.




"Den kenapa muka nya kusut begitu?" Tanya Bi Surti, saat Reyhand memasuki apartemennya.



Reyhand tidak menjawab pertanyaan dari Bi Surti, ia hanya menggeleng kan kepalanya saja.



"Den Reyhand mau Indomie kuah?"



"Iya Bi, tolong buatkan saja." Ucap Reyhand berlalu ke dapur mengambil segelas air putih.



Bi Surti pun membuatkan Indomie kesukaan Reyhand. Bi Surti sudah sangat hapal dengan kelakuan putra nya ini, jika wajahnya terlihat kusut itu artinya dia sedang ada masalah.



Dan hal yang paling di sukai Reyhand saat ini ialah Indomie kuah dengan cabai sepuluh biji. Karena rasa pedas akan menghilangkan sejenak beban di fikirannya.



Reyhand duduk di meja makan sembari menunggu Indomie kuah nya selesai dimasak, fikirannya teringat akan perempuan paruh baya yang bertemu dengannya di Cafe Meranti tadi.



"Benar benar tidak tahu malu!" gerutunya,



Bi Surti yang melihat kelakuan Reyhand pun menjadi penasaran, namun untuk bertanya ia masih ragu karena takut Reyhand akan marah padanya.



Lima menit kemudian Bi Surti telah selesai membuat semangkuk Indomie Kuah pedas, dan ia letakkan di atas meja.



"Silahkan Den" Ucapnya.



"Terimakasih Bi."



Reyhand pun langsung menyantap Indomie itu dengan lahap tanpa merasa panas walaupun baru di angkat dari kompor.



Bi Surti meninggalkan Reyhand sendirian di ruang makan, tanpa mengucapkan satu kata pun.



Sedangkan di Cafe Meranti, Mamah Zainal masih duduk manis menunggu kedatangan seseorang.



Tidak lama kemudian, seseorang yang di nantikan akhirnya datang juga.



"Mas!" Panggilnya sembari melambaikan tangan ke arah lelaki yang baru memasuki Cafe.



Lelaki itu pun menoleh ke arah Mamah Zainal, lalu ia tersenyum dan berjalan kearah meja dimana Mamah Zainal duduk.



"Ada apa?" Tanya lelaki itu.



"Aku bertemu putramu."



"Lalu?"



"Kau harus tahu, bahwa putra mu adalah saudara dari Calon Mantu kita!"



Degh!



Hati lelaki itu berdesir kala ia mendengar ungkapan yang terlontar dari mulut Mamah Zainal.



"Tidak mungkin dia memiliki saudara! Ibunya saja sebatang kara disini."



"Aku mendengar nya sendiri Mas pengakuan dari Gita, bahwa Reyhand adalah saudaranya."



Lelaki itu masih fokus menyimak apa yang di sampaikan oleh Mamah Zainal, tanpa berniat untuk menyangkal ucapannya.



"Dan lebih parahnya lagi."



"Apa?"



"Zainal mengenal Reyhand!"



Degh!



Perasaan lelaki itu semakin terguncang, apa jadinya jika Reyhand mengetahui bahwa Zainal adalah Saudara nya.




Yaa lelaki ini adalah Suaminya Mamah Zainal, yang artinya ia adalah Ayah dari Dokter Zainal bos nya Sanusi, lebih jelasnya papah Zainal si pemilik Pabrik Triplek.



"Mas," Panggil Mamah Zainal, membuyarkan lamunan suaminya.



"Ah-Iya." Ujarnya gugup.



"Jadi bagaimana?"



"Apanya?"



"Pernikahan Zainal dan Gita di teruskan atau tidak?"



Papah Zainal hanya bengong, ia bingung harus menjawab apa, karena masalah ini bukanlah hal yang biasa.



Akan ada pertempuran jika ia dan Reyhand bertemu. Apalagi yang papah Zainal ketahui Reyhand adalah saudaranya Mbak Gita, alias Calon menantunya.



"Nanti akan Papah pikirkan lagi."



"Yaudah kalo gitu." Jawab Mamah singkat.



Dari hati yang terdalam ingin sekali Papah berbaikan dengan putra nya itu, namun papah yakin Reyhand masih marah dan kecewa terhadap dirinya.



Ia akan memikirkan cara yang lebih ampuh lagi agar Reyhand mau memaafkannya. Walaupun Reyhand hanyalah putra dari rahim wanita yang tidak di inginkannya namun, rasa sayang Papah untuk Reyhand begitu besar.



Semua itu karena Reyhand adalah Putra pertama nya setelah penantian beberapa tahun. Otomatis semua rasa sayang dan cintanya ia curahkan hanya untuk Reyhand.



"Segera percepat pernikahan Zainal dan Gita Mah." Ungkap Papah, memecah keheningan.



Mamah Zainal menyeruput es buah yang ada di hadapannya, lalu menanggapi ucapan Suaminya.



"Lalu Reyhand?" Tanya Mamah Zainal.



"Biarkan saja, kita pasti bertemu dia di pelaminan."



"Bagaimana jika Reyhand masih belum menerima kehadiran Mamah Pah." Liirih Mamah Zainal.



"Papah akan memberitahunya tentang satu fakta kebenaran. Dan papah yakin dia tidak akan marah lagi." Ungkap Papah dengan sorot matanya yang tajam dan lururs ke depan menatap jalanan raya yang terlihat dari dalam Cafe.



"Fakta??"



"Iyaa. Jauh sebelum kamu datang."



Jleb!



Mamah Zainall terdiam mendengar ungkapan yang barusan terlontar dari mulut suaminya ini. Ia berfikir keras fakta apa yang akan di ungkapkan oleh suaminya terhadap Reyhand.



Ia penasaran sungat penasaran, ingin bertanya namun,



"Ayo Mah pulang, Masih banyak hal yang harus Papah kerjakan." Ajak Papah Zainal.



"Papah mau lembur?"



"Tidak, hanya saja ada sedikit keperluan. Papah akan antar Mamah pulang namun setelah itu Papah akan keluar sebentar mungkin sekitar satu jam.."



Mamah Zainal merasa sedikit curiga dengan gerak gerik suaminya ini, ia pun memutuskan untuk ikut saja, dari pada hanya menerka nerka hal yang tidak ia ketahui.



"Mamah belum mau pulang Pah."



"Lah terus?"



" Mamah mau ikut Papah aja."



Papah Zainal bingung mencari alasan yang tepat agar Istrinya ini tidak mengikuti langkahnya kemana ia akan pergi.



"Ehmmm.. Kamu di rumah aja Mah, Papah cuma sebentar kok!" Ungkap nya dengan nada sedikit tegas.



Mendengar suara Suaminya sudah tegas begitu, itu artinya ia tidak mau di bantah. Jadi mau tidak mau Mamah Zainal harus mengesampingkan rasa Curiga terhadap Suaminya.



Dari pada urusannya panjang, biarkan saja untuk saat ini ia menurut dengan perintah suaminya, tetapi,



"(Lihat saja, akan ku cari tahu sendiri kemana kamu pergi Mas!)" Ungkap nya dalam hati.



Bersambung..