My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 15 : Wouw!



*POV Author*


•••••••••••••


"Halo Ibu? Ibu lagi dimana? Aku dari tadi berada di rumah. Vallen mana? Kasihan Aina dia mencari putrinya bu." Papar Mbak Gita tanpa ngerem.


"Ibu lagi di rumah pak Sutet, Ibu hanya menghindar dari amukan Aina. Kasihan putrinya jadi pelampiasan amarahnya."


Mbak Gita menarik nafas nya dalam, sebelumnya ia telah yakin jika hal seperti ini pasti akan terjadi. Namun ia tidak menyangka jika secepat ini kejadiannya. Belum juga ia menemukan keberadaan Sanusi, adiknya Aina telah frustasi duluan.


"Ibu aku akan keluar sore ini. Ibu pulang saja kerumah, Aina sekarang telah tenang. Asal jangan ada yang memicu emosinya dia tidak akan mengamuk, dan jangan ada yang menyinggung perasaannya, karena saat ini ia begitu sensitiv."


"Mau kemana lagi kamu Gita? udah tau di rumah lagi ada masalah kamu malah mau keluyuran sibuk dengan urusan mu sendiri!!"


"Astaga ibu.. Aku bukan mau keluyuran, aku keluar mau menemui Reyhand bu, aku mau minta tolong dia untuk mencari keberadaan Sanusi."


"Sudah terserah kau saja. kalo gitu ibu tidak pulang sebelum Ayah mu pulang. Ibu tidak mau Aina nanti mengamuk lagi."


"Ya sudah terserah ibu."


Tut.. tut.. tut..


Mbak Gita mematikan sambungan telfon tanpa menunggu jawaban dari ibu lagi.


Clentung ..


Satu pesan masuk, dan ternyata dari Reyhand.


"(Oiiii, orang indonesia jam nya ngaret ya!)"


Isi pesan tersebut, Mbak Gita pun menaikkan satu alisnya pertanda ia sedang bingung.


Namun kebingungannya itu segera terjawab kala ia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Astaga jam lima!!" Teriak Mbak Gita, sambil tangannya menepuk jidad.


Untung saja ia sudah mandi, dan tinggal berangkat. Tidak apa apa telat satu jam juga.


"Dek, Mbak mau keluar ada urusan sebentar." Pamit Mbak Gita.


Sedang kan yang di pamiti malah fokus menonton serial kartun yang ada di stasiun tv ANTV. Film MR.Bean. Aina sangat suka dengan film ini, jadi tidak heran jika ia tidak menghiraukan Mbak Gita yang berpamitan pada nya.


"Dek, Ya ampun.. Mbak pergi dulu." Ujar Mbak Gita, tangannya pun menempel lagi di daun telinga Aina.


"Aww iya Mbak, sakit, lepas ih!" Ucap Aina sambil memegang tangan Mbak Gita yang masih menempel di daun telinganya.


"Makanya kalo Mbak bicara itu di dengerin."


Mbak Gita pun melepaskan jewerannya


"Mbak mau kemana?" Tanya Aina, ia heran melihat penampilan Mbak Gita yang sudah rapi dan yang pasti cantik, padahal ini sudah sore.


"Ada janji sama temen."


"Temen apa temen??"


"Ya temenlah ..Yaudah mbak berangkat dulu udah telat satu jam tau nggak."


"Molor aja kerja nya."


"Sok tau kamu."


Mbak Gita pun berdiri dan mengambil sepatu Ballet yang ada di sudut ruang keluarga.


"Mbak.." Panggil Aina


"Apa?"


"Janjian sama temen nya jangan terlalu sering ya." Ujar Aina dengan nada yang cukup netral, padahal ia sedang menahan gemuruh dalam dada nya.


"Maksud kamu?" Tanya Mbak Gita, sembari tangannya mengenakan sepatu ballet berwarna coklat, tidak norak malah terlihat ellegant.


"Jangan sampai nasib Mbak sama seperti ku."


Deg,


Seketika perasaan Mbak Gita menjadi tidak enak, bisa bisa nya Adiknya berfikir seperti itu. Tetapi ada benarnya juga, mungkin Aina tidak mau kejadian yang sama akan terulang lagi.


Mbak Gita pun tidak mau membahas nya lebih lanjut, karena pembicaraan ini termasuk hal yang bersinggungan dengan kehidupan Aina sekarang.


"Iyah.." Ucap Mbak Gita sambil bibir nya tersenyum manis. Ia pun memasukkan ponsel ke dalam tas jinjing miliknya dan mengambil kunci motor yang tergantung di paku.


Baru dua langkah ia meninggalkan ruang keluarga, Aina memanggilnya lagi.


"Mbak." Panggil Aina, kini suaranya terdengar lebih keras dari sebelumnya.


Mbak Gita pun menghentikan langkah nya lalu menoleh kebelakang.


"Apa?" Tanya Mbak Gita.


Untuk sesaat Aina diam seperti sedang memikirkan sesuatu, sedangkan di fikiran Mbak Gita, ia takut jika Aina akan membahas tentang kejadian masalalu nya lagi. Namun siapa sangka ternyata lain yang di fikir lain pula yang terjadi.


Dengan mimik muka serius Aina mengutarakan keinginannya pada Mbak Gita.


"Aku titip Bakso Bakar ya Mbak." Pinta nya pada Mbak Gita.


"Yaelah, kira mbak apaan."  seketika Mbak Gita merasa lega.


"Hehehe, yaudah sana pergi Mbak, ini loh udah jam lima lewat lima belas menit.


Mbak Gita hanya nyengir kuda menanggapi ucapan Adik bungsunya ini.




Setelah melalui jalanan raya yang cukup padat, karena ini saat nya jam pulang kantor, akhirnya Mbak Gita sampai juga di lokasi yang telah mereka janjikan sebelumnya, yaitu Cafe Meranti.



Mbak Gita memarkirkan motor nya, lalu ia masuk ke dalam Cafe. Baru satu langkah ia melangkahkan kakinya, matanya langsung menangkap sesuatu.




"Setia juga dia nungguin kedatangan gua, padahal gua telat satu jam setengah." Gumam Mbak Gita, "Sayang lu naksir sama adek gua, coba aja kalo lu juga punya perasaan yang sama ke gua, gua yakin gua adalah wanita yang paling beruntung karena memiliki lu." Ucap Mbak Gita membatin dalam hatinya.



Reyhand sedang fokus memainkan game freefire dan dia tidak menyadari jika Mbak Gita telah berada di belakangnya.



Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,



"Dorrrrr."



"Anjir!!!"



Reyhand menjadi kaget bukan main karena ulah Mbak Gita barusan.



"Gila lo!! Mau bikin gua jantungan!!"  Gerutu Reyhand, sembari melepas earphond dari telinganya.



"Yaa lu si terlalu fokus, dan kenapa juga pake pake ini segala." Cetus Mbak Gita, jari telunjukknya menyentuh earphone milik Reyhand.



"Pake acara sewot, udah tahu salah malah ngegas. Masih untung gua tungguin disini."



Mbak Gita pun duduk di hadapan Reyhand dan memasang wajah memelasnya.



"Iyaa Sorry, bukan gua nggak konsisten cuma tadi di rumah tu urusannya ribet banget, makanya gua sampe telat kesini, padahal gua yang ngajak lu janjian, tapi malah gua yang telat hehehe maaf yak.." Tutur Mbak Gita, sembari nyengir kuda menampakkan barisan gigi putihnya.



Reyhand pun penasaran, ada hal apa yang ingin di bicarakan oleh Mbak Gita, apalagi ini menyangkut tentang Aina, rasa penasaran dan jiwa kepo Reyhand pun menjadi meronta ronta.



"Untuk kali ini gua maafin, tapi kalo lu ngulangin lagi lihat aja, sorry dori strowberry."



"Hu'um, suer pokoknya."



"Yaudah apa to the point aja, udah lumutan gua nungguin lu, masa iya udah ketemu masih di suruh menunggu lagi, nggak jelas banget lu." gerutu Reyhand sambil meminum jus buahnya.



"Yaelah Bapak gitu aja sewot, udah cukup minum nya lu udah habis dua gelas sisain buat gua." Ucap Mbak Gita, tangannya pun merebut gelas yang ada di tangan Reyhand.



Menurut pandangan orang adegan ini sungguh romantis karena menurut penilaian orang Mbak Gita meminum bekas kekasihnya, namun tidak untuk ke dua sahabat ini. Mbak Gita merasa kehausan selama di perjalanan tadi. Ia pun meminum jus buah itu tanpa tersisa.



Tidak mereka sadari jika Claraa masuk ke Cafe dan melihat Mbak Gita sedang bersama Reyhand. Seperti kerasukkan jin penunggu toilet, Claraa menghampiri Meja yang ada di sudut ruangan, di mana meja tersebut di duduki oleh Reyhand dan Mbak Gita.



"Raa tunggu, lo mau kemana?" Ujar Siska, wanita yang sedang bersama Clara.



Claraa tidak menggubris pertanyaan dari Siska, telinga dan matanya hanya terfokus pada ke dua Insan yang sedang mengobrol dengan sangat serius.



Brakkkkkk!!



Claraaa datang dan langsung menggebrak meja, alhasil semua mata pengunjung yang ada disana tertuju pada mereka.



"Kurang ajar!!"



Plakkk.. plakkk..



Tanpa aba aba Jemari Claraa berhasil mendarat tepat di pipi kiri dan kanan Mbak Gita.



"DASAR PELAKOR, WANITA MURAHAN!!"



Bersambung..