
POV Author
••••••••••••••
"Astaga lama sekali bapak tua itu!" Gerutu Reyhand.
Telah sepuluh menit ia menunggu kedatangan Papahnya di pinggir jalan. Sampai menit ke dua belas, akhirnya orang yang di tunggu tunggu pun terlihat batang hidungnya.
"Lama amat si, ngapain aja di dalem?" Sembur Reyhand, ketika Papahnya telah sampai di hadapannya.
"Udah itu tidak penting, sekarang kamu ikut Papah."
"Iya." Jawab Reyhand singkat.
Sebetulnya ia enggan untuk menuruti perintah Papahnya, namun karena rasa penasaran yang begitu besar akhirnya Reyhand ikut saja ke mana Papahnya akan mengajaknya.
Tanpa banyak bicara lagi, Reyhand pun segera membuka pintu dan masuk ke dalam mobilnya.
Namun Reyhand heran kenapa Lelaki yang ia benci ini ikut masuk ke dalam mobilnya.
"Mobil Papah mana?" Tanya Reyhand, sembari menggunakan sabuk pengaman.
Mendengar Reyhand memanggilnya dengan sebutan Papah, hati Pak Prabu terasa begitu damai. Pak Prabu berusaha untuk sebaik mungkin menyikapi Reyhand. Ia pun lebih memilih untuk berkata jujur.
"Mobil Papah ketinggalan di Club Sentosa."
Namun, Pak Prabu tidak menyangka jika kejujurannya itu malah membuat bumerang untuk dirinya sendiri.
"Hah, terus saja main wanita Pah, untung Mamah ku sudah meninggal." Ketus Reyhand, ia pun menyalakan mobilnya dan mulai melaju perlahan meninggalkan kontrakkan Claraa.
Jleb!
Seperti tertusuk bambu runcing, Pak Prabu di buat seolah mati rasa oleh ucapan putranya sendiri.
"Kenapa hanya diam? betulkan yang saya ucapkan?" Cecar Reyhand, namun matanya masih fokus melihat ke depan.
Lagi, Pak Prabu hanya diam. Ia bingung harus menjawab apa karena takut akan membuat dirinya semakin terpojok.
"Hah!" Desis Reyhand, ia merasa kesal sendiri karena bicara dengan patung.
Reyhand terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, namun sesaat ia teringat tujuan yang sebenarnya pun ia tidak tahu.
Jadi, mau tidak mau terpaksa ia harus bertanya lagi kepada patung yang duduk di sebelahnya.
"Kita mau kemana?" Tanya Reyhand, dengan nada jutek.
"Lurus saja dulu." Ungkap nya tidak mau kalah jutek.
"Huuffff" Reyhand menghembuskan nafas nya kasar. Ia sedang memendam kekesalan yang teramat dalam.
Sunyi, suasana di dalam mobil hanya terdengar suara mesin. Dua insan yang beda generasi ini sibuk dengan pikiran mereka masing masing.
Hingga pada menit ke lima belas, lelaki yang ada di sebelah Reyhand membuka suara, namun suara itu hanyalah perintah bagi Reyhand.
"Belok kanan." Ujarnya,
Reyhand pun membanting stir ke arah kanan tanpa menyahuti ucapan Papahnya.
"Belok kiri, lurus."
"Bukannya ini arah menuju Apartemen ku?" Gumamnya seorang diri.
Sedangkan Pak Prabu, ia hanya melirik sekilas lalu mengulum senyumnya mendengar ucapan polos Putranya.
"(Sebentar lagi, kau pasti tidak akan membenciku lagi nak.)" Ujarnya bermonolog dalam hati.
"Stop di depan." Perintah Pak Prabu.
Reyhand pun menginjak Rem mobilnya dan tepat di depan gedung yang terdiri dari tiga lantai mobil yang mereka kendarai berhenti.
"Apa maksudnya ini." Tanya Reyhand. Ia tidak mengerti kenapa pak tua ini malah mengajaknya ke tempat tinggalnya.
"Turun dan ikut saja."
Dengan perasaan kesal, Reyhand ikut saja perintah Papahnya ini.
Setelah memarkirkan mobil, mereka berdua berjalan beriringan menuju lantai dua, dimana tempat tinggal Reyhand berada.
Ting tong!
Bel berbunyi menandakan ada seseorang yang datang.
"Apa wanita gila itu datang lagi?" Ucap bi Surti menebak nebak sendiri.
Setelah sampai di depan pintu, Bi Surti mengintip dari lubang kecil yang ada di atas handel pintu.
Dan betapa terkejutnya bi Surti saat mengetahui siapa yang datang.
"Prabu! Ya Allah Gusti." Lirih Bi Surti,
Seketika jantungnya seperti sedang melakukan aktifitas senam pagi, terasa jedag jedug di dada.
Ting Tong!
Bel berbunyi lagi, dan itu pun membuat bi Surti tersadar dari lamunannya.
Ia bingung, apa yang akan di lakukan Prabu di disini. Sedangkan istrinya pagi tadi telah datang mengamuk mencari dirinya.
Tidak mau menerka nerka saja, akhirnya bi Surti pun membukakan pintu.
Ceklekk..
Pintu telah terbuka dan,
terlihat di hadapannya dua lelaki yang selama ini selalu ada di hatinya berdiri seiringan.
"Tu-an." Sapa bi Surti gugup.
Ia selalu begitu jika berhadapan dengan Pak Prabu, lelaki yang telah merebut dengan paksa kesuciannya.
"Rey ayo masuk, dan kamu ikut saya, kita akan membicarakan tentang Reyhand." Perintah Pak Prabu.
Deg!
Perasaan bi Surti semakin tidak karuan dibuatnya. Ada bahagia namun ada juga ketakutan dalam dirinya kala ia mengingat ancaman Pak Prabu dahulu.
"Mari masuk Tuan." Ujar Bi Surti, ia mencoba untuk menetralkan aliran darahnya yang terasa mengalir begitu deras.
Kini mereka bertiga sedang duduk di sofa ruang tamu. Awalnya suasana canggung memenuhi situasi saat ini, namun setelah lima menit berlalu, akhirnya Pak Prabu membuka suara mengawali pembicaraan ini.
Tanpa basa basi, Pak Prabu langsung to the point, mengungkapkan sebuah Rahasia yang selama ini ia pendam.
"Rey, Putraku kamu harus tahu bahwa sebetulnya ibu kandung mu sampai saat ini masih hidup dan keadaannya sehat wal'afiat."
Deg!
Kedua mata Bi Surti mau pun Reyhand sama sama menatap Pak Prabu dengan tatapan kaget, kedua mata mereka melotot seperti ingin keluar dari sarangnya.
Reyhand begitu bingung dengan fakta yang barusan di ungkapkan oleh lelaki yang selama ini begitu ia benci.
"Apa maksud anda? Bicara yang jelas!" Seru Reyhand penuh penekanan. Hatinya begitu sensitiv jika membahas hal yang berkaitan dengan Ibu kandungnya.
Sedangkan Bi Surti jangan di tanya lagi, sudah pasti perasaannya menjadi acak kadul antara bahagia namun ia takut akan rasa kecewa lagi yang akan ia dapatkan.
"Kamu lihat wanita yang ada di hadapan mu sekarang?" Ujar Pak Prabu, menjeda ucapannya.
"Dia adalah ibu kandungmu."
Deg!
Sumpah demi apapun, seketika tubuh Bi Surti bergetar hebat kala ia mendengar ungkapan yang baru saja ia dengar jelas dari mulut lelaki yang telah bertahta lama di hatinya.
Tidak terasa air mata Reyhand jatuh tanpa ia sadari.
Reyhand pun menatap wanita yang ada di hadapannya ini dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Hatinya begitu lemah untuk menerima kenyataan ini, mulutnya seolah terkunci untuk bertanya, dan air matanya seperti kantung yang bocor, terus mengalir tanpa henti.
"Bi.." Lirih Reyhand di sela tangisnya.
Juga Bi Surti tidak dapat menahan rasa haru yang telah memenuhi hati dan perasaannya.
Bi Surti memberanikan diri menganggkat wajah nya dan menatap Reyhand, putra kandungnya, lalu ia menganggukkan pelan kepalanya pertanda ucapan Pak Prabu memang betul adanya.
Kedua mata Bi Surti dan Reyhand pun beradu pandang saling tatap, entah mendapat keberanian dari mana, Bi Surti mengungkapkan kebenarannya.
"Kamu Putraku nak, putra kandung ku. Akulah ibu kandung mu, dan akulah yang telah melahirkan mu."
Bersambung..