
*POV Author*
••••••••••••••••
"No Na, no!! Buang jauh jauh fikiran seperti itu." Tutur Mbak Gita.
Aina pun mengalihkan wajahnya ke samping, agar tidak beradu pandang dengan Mbak Gita, jika itu terjadi maka Aina tidak akan kuat menahan air mata nya.
"Sini lihat Mbak!" Perintah Mbak Gita, lalu kedua tangannya menyentuh pipi kiri dan kanan Aina, sehingga membuat mata keduanya menjadi beradu pandang.
Setelah tiga detik berlalu, Aina menengakkan kepala untuk mencegah agar air matanya tidak tumpah melewati wajah sendunya.
"Hei hei sini lihat Mbak, dengerin yang Mbak bilang."
Aina pun mau tidak mau menatap wajah Mbak Gita.
"Kamu itu sebenernya kenapa? Sedih? Resah? Gelisah? Galau? Merana? atau jangan jangan.." Mbak Gita menggantung ucapannya.
"Apa?" Tanya Aina tanpa bersuara.
"Kamu laper kali." Ujar Mbak Gita, sambil wajahnya dibuat seserius mungkin.
Senyum Aina pun terbit dari bibir mungilnya, karena mendengar ucapan Mbak Gita barusan.
Dan Alhamdulillah, keadaan Aina tidak segalak tadi, yang jika di ajak bicara jawabannya selalu marah marah, bahkan sampai banting banting barang. Alhasil keadaan rumah sekarang persisi seperti baru terkena guncangan Gempa.
Mbak Gita pun mengulur waktu, agar emosi dan fikiran fikiran buruk yang bersarang di otak Aina segera pergi.
"Kamu tau dek?" tanya Mbak Gita
"Apa?" Aina pun bertanya balik.
"Tadi ada Gempa!" Lontar Mbak Gita, sedang wajahnya mengekspresikan keadaan sedang kacau.
Ia akan mencairkan suasana dulu agar tidak terlalu tegang.
"Gempa?" Tanya Aina.
"Iya Gempa."
"Dimana?
"Di rumah ini."
Seketika mata Aina menyapu seluruh ruangan tanpa ada yang terlewat. Mbak Gita pun sekuat tenaga menahan tawanya karena melihat ekspresi wajah Aina seperti orang linglung.
"Oh My God!!" Celetuk Aina tanpa sadar. Sambil tubuhnya berputar seratus delapan puluh derajat.
Mbak Gita hanya berdiam diri menunggu reaksi selanjutnya dari Aina.
"Vallen! dimana Putri ku Mbak? Ibu.. Ibuuuuu" Teriak Aina, ingatannya seperti terkumpul lagi.
Ia pun berlari ke ruang tamu untuk mencari keberadaan Putrinya. Seketika Mbak Gita teringat keadaan ruang tamu yang sedang kacau dan banyak kaca berserakan di lantai,
"Aina jangan lari!! Lihat kelantai, AWASSSS!!" Teriak Mbak Gita.
Namun na'as, kaki Aina tidak bisa mengerem langkah nya lagi sehingga pada langkah selanjutnya,
"Awwwwww!" Rintih Aina, sambil tangannya memegang telapak kakinya yang tertancap pecahan kaca.
"Makanya jadi wanita itu jangan ceroboh!" Sindir Mbak Gita sambil menjewer telinga Adik bungsunya ini.
"Aduhh Mbak kaki ku sakit, malah tambah kena jewer." Cetus Aina.
"Udah nggak usah cerewet, ulah siapa coba semua ini?"
Aina hanya diam tidak berani menjawab ucapan Kakak Perempuannya ini
"Sini duduk! Mbak cabut dulu belingnya."
Aina hanya menurut saja apa yang di perintah kan Mbak Gita. Ia duduk di Sofa ruang tamu, sambil menselonjorkan kakinya nya.
Wajahnya meringis menahan sakit, kala jemari Mbak Gita mulai perlahan mencabut pecahan beling yang menancap sempurna di telapak kaki Aina.
Satu menit kemudian,
"Alhamdulilllah."
"Alhamdulillah."
Ungkap ke dua bersaudara itu.
"Lumayan basar." Ujar Mbak Gita sambil memperlihatkan pecahan kaca yang telah berhasil ia keluarkan.
Tessss..
Darah segar mulai mengalir dari telapak kaki Aina.
"Tunggu sebentar." Ujar Mbak Gita. Lalu ia berlalu pelan memilih jalan yang aman menuju dapur.
Sedang Aina, ia hanya bengong memperhatikan sekeliling ruang tamu.
Saking fokusnya, Ia bahkan tidak menyadari jika Mbak Gita datang dan menempelkan sesuatu di telapak kakinya.
"Aww perih." Lirihnya pelan. "Bilang napa si Mbak kalo mau kasih Kopi." ujar Aina memprotes Mbak Gita.
"Bilang, bilang. Kamu aja yang nggak denger. Sibuk dengan fikiran sendiri " Oceh Mbak Gita.
Lalu, perlahan ia menaburkan kopi bubuk ke luka yang ada di telapak kaki Aina. Agar darah yang keluar karena tusukkan pecahan kaca tadi jadi tersumbat dan mengering.
"Udah selesai. Kamu anteng dulu jangan banyak gerak. Biar kopinya meresap dan darah mu tidak keluar lagi." Tutur Mbak Gita.
Aina pun patuh pada perintah yang Mbak Gita arahkan untuknya. Dengan posisi kaki di selonjorkan, ia mengambil bantal sofa yang ada di sebelahnya untuk ia gunakan menjadi sanggahan kepalanya.
Matanya memutar mutar melihat ke arah langit langit rumah, namun karna merasa kelelahan akibat aktivitas yang keterlaluan hari ini, Aina pun menguap dan perlahan memejamkan matanya.
Sedangkan Mbak Gita ia sibuk dengan ponselnya, sibuk berbalas pesan dengan Calon Suaminya.
"Dasar Kebo." Ucap Mbak Gita.
Ia pun mengakhiri berbalas pesan dengan Calon Suaminya, dan meletakkan ponsel di atas meja.
Mata Mbak Gita memandang ke seluruh penjuru ruangan. Ia gerah melihat kondisi rumah yang serba berantakkan. Ia pun berniat untuk berkemas dan merapikan kembali perabotan yang telah berserakkan di lantai.
Saat akan beranjak dari Sofa, Mbak Gita melihat keadaan Adiknya begitu menyedihkan. Mbak Gita yakin penyebab Aina menjadi seperti ini pasti karena Sanusi, Suaminya Aina.
Mbak Gita pun berfikir, ia harus melakukan sesuatu, ia tidak boleh hanya berdiam diri dan menonton kisah Pilu pernikahan Adiknya.
Ia berniat akan mencari Sanusi hari ini juga, agar tidak terjadi kejadian memilukan seperti hari ini.
"(Rey, kita ketemu di Cafe Meranti ada yang mau gua omongin sama lu penting. Ini tentang hidup dan mati adek gua, Aina.)"
Send,
Pesan terkirim ke kontak telefon yang bernama Reyhand Tengil. Sudah garis dua, namun belum garis biru. Yang artinya pesan sudah masuk namun belum dibaca.
Mbak Gita juga mengirirmkan pesan untuk Dokter Zainal, Calon Suaminya. Agar tidak terjadi kesalah pahamam.
"(Mas, hari ini aku mau ke Cafe Meranti aku sendirian dan akan menemui Reyhand. Ada hal penting yang harus kami bahas.)"
Send,
Pesan pun terkirim.
Saat akan menutup ponsel nya, ternyata Reyhand membalas pesan dari Mbak Gita,
"(Ada apa?)"
"(Pokoknya penting.)"
"(Penting banget?)"
"(Yaelah, lu banyak tanya banget si. Mau apa Nggak?)"
"(Oke, jam berapa?)"
"(Sore aja, sekitar jam empat.)"
"(Ini aja udah jam 3 bedul)'
"(Iya berarti satu jam lagi bedul)"
"(Oke.)"
Pesan terakhir dari Reyhand hanya Mbak Gita baca, tidak ada niat untuk membalasnya karena Reyhand telah setuju.
Mbak Gita meletakkan Ponselnya di atas meja. Lalu,
"Masih ada waktu satu jam."
Ia pun mengambil sapu dan mulai membersihkan serpihan kaca dengan penuh hati hati. Dan menata kembali perabotan perabotan yang terlempar karena ulah Aina tadi, pada tempatnya.
Aina masih tertidur pulas, sedang Ibu entah kemana perginya membawa Vallen.
Kruukkkkkk..
Cacing di perut Mbak Gita sudah pada miscall, minta segera agar di beri amunisi.
"Yaampun, aku belum makan. Pantesan Para Cacing udah pada heboh ternyata aku melewatkan makan siangku." gumam Mbak Gita sendiri.
Ia pun gerak cepat menyelesaikan pekerjaan rumah yang tinggal sedikit lagi. Setelah itu ia berjalan ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa di makan.
Mbak Gita membuka tudung nasi, yang ternyata tidak ada apa apa di dalamnya kecuali sambel terasi sisa kemarin.
"Apa rumah ini sudah benar benar kacau, sampai sampai lauk untuk dimakan saja tidak ada?" Gerutu Mbak Gita, ia pun beralih membuka Maggiccom lalu,
"Alhamdulillah, aku pikir tidak ada nasi juga di rumah ini."
Mbak Gita pun berjalan ke halaman belakang rumah, ia akan mengambil daun pucuk ubi sebagai lalapan. Setelah itu ia rebus sebentar.
Mbak Gita membuka lemari, mencari sesuatu.
"Wahh ada ikan Asin."
Lalu ia mencuci Ikan Asin dan menggoreng nya.
Tidak sampai sepuluh menit semua telah masak, dan ia hidangkan di atas meja makan.
Ada sambel terasi, ikan asin sama daun ubi. Mbak Gita begitu menikmati makan siang nya walaupun dengan lauk yang cukup sederhana.
"Mbak makan enak nggak ngajak aku lagi." Ucap Aina yang tiba tiba sudah duduk di hadapan Mbak Gita.
"Kamu nya molor."
"Aku udah bangun dari tadi Mbak, tapi rasanya lagi mager."
"Apa Mager?"
"Lah Mbak mah kudet!" cibir Aina.
"Apa pula Kudet kudet itu?"
"Ah, udahlah payah kalo ngmong sama generasi terasi ya begini tidak mengerti bahasa anak generasi micin."
"Aneh aneh aja bahasa mu ini dek." ucap Mbak Gita sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Sisain, aku juga mau Mbak."
"Kirain udah nggak doyan makan."
"Haaa??"
Bersambung..