
POV Author
**********
"Rey aku bisa jelasin." Lirih Clara di sela tangisnya, sembari memegangi kedua pipinya yang terasa panas akibat dua kali terkena tamparan Reyhand.
"Wanita murahan! Wanita penipu! Baiknya aku laporkan kamu kepolisi!" Gertak Reyhand dengan nafas yang memburu karena bawaan emosi.
"Tidak Rey, aku mohon jangan laporkan aku. Maaf kan aku Rey maafkan aku, semua ini aku lakukan karena aku takut kehilangan kamu! Aku takut kamu berpaling dan pergi dari kehidupanku, aku takut kamu lebih memilih wanita itu dari pada aku! Aku sayang kamu Rey, aku tidak akan rela jika kamu menjadi milik wanita lain selain aku!" Ungkap Claraa, ia bersimpuh di kaki Reyhand dan menciumnya agar Reyhand mau memaafkan kesalahan yang telah ia lakukan.
Namun, Reyhand tidak menggubris ungkapan cinta dari Claraa yang membuat perutnya menjadi begitu terasa mual.
Reyhand hanya fokus pada satu kata yang Claraa ucapkan tadi, yaitu Wanita itu.
Ia menjadi teringat kejadian di Cafe Meranti kemarin. Kala Mbak Gita, sahabat baiknya telah di hina habis habisan oleh Claraa di depan umum, dan juga Calon mertuanya menjadi salah paham akibat ulah Claraa.
Yaa sama seperti Mbak Gita, Reyhand pun menganggap persahabatan ini lebih dari sekedar teman, karena dirinya telah menganggap Mbak Gita seperti keluarganya.
Reyhand pun menendang Claraa agar Claraa terlepas dari kakinya, lalu ia berkata,
"Wanita yang kamu hina dan kamu kira dia telah merebut aku dari mu, dia adalah saudara ku Claraa! Aku tidak mau tahu, hari ini juga kamu harus menemui dia dan meminta maaf. Kamu telah membuat calon Ibu Mertuanya menjadi salah paham! Gara gara ulahmu hubungannya dengan calon suaminya pun menjadi kacau! Dasar wanita tidak berguna!" Sembur Reyhand, ia pun membuang wajah ke arah lain karena ia tidak mau memandang wajah Claraa yang begitu menyedihkan.
Claraa pun diam untuk beberapa saat, jika meminta maaf bisa membuat Reyhand kembali padanya, maka ia akan lakukan itu.
Claraa berdiri dan menghapus air matanya, ia berjalan mendekati Reyhand yang berdiri di depan jendela.
"Oke Rey! Aku akan menemuinya dan meminta maaf, aku harap setelah ini kamu mau memaafkan ku." Lirih Claraa, ia pun meraih jemari Reyhand lalu menggenggamnya.
Sontak Reyhand kaget, karena refleks ia melepaskan genggaman jemari Claraa secara kasar.
Hati Claraa pun berdenyut nyeri kala ia menerima penolakkan Reyhand.
"Jangan pernah sentuh aku!" Tekan Reyhand, ia pun berlalu pergi meninggalkan kontrakkan Claraa.
Namun, saat Reyhand melewati lelaki yang tergeletak lemas di lantai, emosi Reyhand semakin menjadi. Sebelum benar benar akan meninggalkan kontrakkan Claraa, Ia pun melayangkan satu tendangan lagi untuk lelaki yang malang ini.
Bugh!
Lelaki itu hanya tersenyum, ia menerima semua perlakuan Reyhand terhadap dirinya.
"Lelaki bajingan! Umpat Reyhand, sembari matanya menatap lelaki itu dengan tatapan sengit.
Setelah puas meluapkan segala emosi dalam dirinya, Reyhand pun melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar.
Namun baru dua langkah ia melangkah, langkahnya terhenti kala ia mendengar suara lirih dari lelaki yang barusan ia hajar.
"Putraku." Ujarnya lemah.
Deg!
Perasaan Reyhand begitu terombang ambing kala ia mendengar ucapan yang baru terlontar dari mulut lelaki yang begitu Reyhand benci.
Reyhand hanya diam di tempat, tubuhnya seolah enggan di ajak untuk bergerak, juga mulutnya terasa seperti di kunci.
Sedangkan Claraa dan Tania, mereka berdua begitu shock mendengar pernyataan ini.
"(Wajar saja Reyhand begitu marah, ternyata lelaki tua ini bokapnya.)" Kata Claraa bergumam dalam hatinya, "(Bodoh kenapa aku malah menggoda lelaki yang ternyata bokap Reyhand! Bodoh! Bodoh! Bodoh!)" Umpat Claraa lagi, dalam hatinya.
"Hah, rasakan ini Claraa! Itu akibat kamu yang terlalu gatel!" Desis Tania tepat di telinga sebelah kiri milik Claraa.
Claraa yang mendengar bisikkan Tania, matanya langsunng melotot seolah ingin keluar dari tempatnya.
"Gara gara lo Reyhand jadi marah kan! Dan rencana gua gagal total."
"Itu urusan lo Claraa! Siapa suru asal embat pelanggang gua!"
"Lah kok malah nyalahin gua? Lu nya aja yang kurang menarik!"
"Alah, alesan aja lu! Tapi nggak pp lah sekarang gua sudah ikhlas." Ujar Tania sembari bibirnya tersenyum merendahkan.
"Hah!" Claraa hanya berdesis mendengar ucapan sahabat nya ini.
Sedangkan Reyhand, hatinya masih di landa risau akibat panggilan dari lelaki yang begitu ia benci ini.
Lelaki itu berusaha untuk berdiri, dan menutupi kelaminnya yang masih terjuntai lemas akibat tendangan Reyhand tadi.
Setelah dekat ia meraih Reyhand lalu memeluknya begitu erat.
Tangis haru terdengar jelas di telinga Reyhand,
Sedangkan Reyhand, rasa amarah yang memenuhi pikirannya tadi seketika menghilang kala pelukkan hangat ini telah menyatu.
"Maaf kan Papah nak, maafkan papah." Ujar lelaki itu di sela tangisnya.
Reyhand masih membeku, walaupun hatinya sudah tergerak untuk menerima kembali kehadiran Papah yang begitu ia benci. Namun lelaki ini terus berusaha untuk berbicara walaupun tidak ada jawaban dari Reyhand.
"Kamu harus tahu fakta tentang dirimu nak." Ujar lelaki paruh baya ini.
Ia sudah kehabisan akal untuk membujuk Reyhand agar kembali padanya, dan memaafkan kesalahan yang pernah ia lakukan dahulu.
"Fakta apa?" Akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari bibir tipis milik Reyhand. Karena ia pun merasa penasaran dengan fakta tengtang dirinya.
Lelaki itu melepaskan pelukkannya, dan menatap wajah Reyhand begitu dalam.
"Ikut Papah, kamu akan tahu segalanya."
Antara mau dengan tidak, Reyhand takut ini hanya akal akalan Papahnya saja, namun hati kecilnya berkata untuk ikuti saja apa yang di perintahkan oleh Papahnya.
"Baiklah." Jawab Reyhand singkat. Ia telah meyakinkan pada dirinya bahwa ini adalah hal serius yang harus ia ketahui.
Lelaki itu tersenyum, lalu memeluk Reyhand kembali. Sedangkan Reyhand ia sudah seperti boneka saja selalu menurut perlakuan yang di berikan oleh Papahnya.
Setelah puas berpelukkan seperti teletubis, lelaki itu sembari berjalan menutupi *********** menuju kamar Claraa untuk mengambil celana yang tertinggal disana.
Lalu ia pakai, dan mengambil barang barang miliknya.
Setelah selesai, ia kembali keruang tamu. Namun lelaki itu heran karena tidak mendapati Reyhand disana.
Di ruang tamu hanya ada Claraa dan Tania yang sedang berdebat, entah apa yang mereka perdebatkan.
"Salah lo!"
"Ya salah lo duluan!"
"Dih, udah salah nggak mau ngaku!"
"Emang gua nggak salah kok!"
"Orang kayak lo itu muka tembok, mana mau mengakui kesalahan sendiri!"
Perdebatan semakin memanas, adu jambak pun akan segera di mulai. Namun,
"Heh kalian ini seperti anak kecil saja!" Bentak Pak Prabu, ia sudah bosan melihat perdebatan dua wanita malam yang telah menjadi langganannya ini.
Sontak keduanya pun menoleh ke arah Pak Prabu yang telah berdiri tegap di belakang mereka.
Namun wajah nya masih saja bonyok, memar memar akibat serangan brutal dari Reyhand.
"Eh Abang, bayaran untuk saya mana?" Ujar Claraa dengan gaya genitnya.
Lelaki itu pun mengeluarkan kertas yang berwarna merah sekitar lima lembar dari dompetnya.
"Ini untukmu."
Claraa pun menerima uang itu dengan wajah yang sulit untuk di artikan. Ia menghitung lembar demi lembar yang ternyata hanya lima lembar.
"Kok cuma segini Bang? Aku udah bikin kamu puas lo Bang, semaleman bahkan sampe subuh dan pagi ini lanjut lagi. Tega banget cuma di kasih segini." Gerutu Claraa, ia memonyongkan bibirnya sepanjang lima senti.
"Udah terima aja, lagian gara gara kamu juga wajah saya jadi bonyok gini."
"Lah kok malah jadi saya yang di salahkan? Seharusnya Abang sadar diri dong, anak udah gede segitu, umur udah tua, masih aja kegatelan jajan di luar!" Omel Claraa, ia tidak mau begitu saja di salahkan.
"Halah, sudah sudah nggak usah sok suci kamu, kalo nggak mau sini duitnya." Ucap Pak Prabu sembari tangannya merebut uang yang ada di genggaman Claraa.
"Enak aja, sudah main sampe pagi, bayar cuma lima ratus ribu, mau di ambil lagi pula. Nyebur aja lo ke laut!"
Bersambung..