My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 28 : Double Sick!



POV Author


***********


Reyhand pun berdiri dan berjalan ke arah jendela yang menghadap ke arah jalanan raya, dadanya seperti di penuhi dengan bebatuan sehingga terasa sesak dan sulit untuk bernafas.


Ia menatap puluhan mobil dan motor yang berlalu lalang, hilir mudik.


Fikirannya pun melayang, bercabang cabang memikirkan fakta yang baru saja ia ketahui.


Bagaimana mungkin Papahnya bisa menyimpan sebuah rahasia yang sangat penting ini hingga bertahun tahun lamanya,


dan Bi Surti kenapa mau mau saja ikut berbohong tentang dirinya.


Lalu, Almarhumah Mamah Sarah, mamah yang Reyhand anggap adalah ibu kandungnya ternyata dia bukan siapa siapa dalam hidup Reyhand.


"Arghhhhhhhh!"


Reyhand mengerang, ia merasa frustasi dengan keadaan ini. Pertanyaan pertanyaan yang ada di dalam benaknya seolah sangat sulit untuk ia ungkapkan kepada Papahnya dan Bi Surti.


"Apakah Papah dan Bi Surti memiliki hubungan gelap? atau Almarhumah mamah Sarahlah yang telah merebut Papah dari Bi Surti?" Gumam Reyhand, ia bermonolog sendiri.


Tidak ingin memikirkan yang tidak tidak, akhirnya Reyhand memutuskan untuk kembali menemui Papahnya dan bi Surti yang masih setia menunggunya di ruang tamu.


Reyhand melangkahkan kakinya menuju ruang tamu,


Tap! tap! Tap!


Suara dari sepatu yang ia kenakan memenuhi ruangan, itu akibat dari sunyinya ruangan saat ini.


Reyhand kembali duduk di hadapan Bi Surti.


Kali ini Reyhand sudah bisa mengendalikan perasaannya, ia sudah tidak mengeluarkan air mata lagi. Dan juga ia lebih rileks di bandingkan tadi.


"Pah, bisa jelaskan apa maksud ucapan Bi Surti tadi?" Ujar Reyhand, ia menatap Papahnya dengan tatapan seperti mata elang, begitu tajam dan menusuk hingga ke relung hati yang terdalam.


"Baiklah, mungkin saatnya kamu harus mengetahui segalanya tentang masalalu Papah nak." Kata Pak Prabu, ia menampilkan wajah yang begitu sendu.


Sedangkan bi Surti ia begitu fokus terhadap ucapan majikannya, akankah majikannya itu mengakui semua kebejatan yang ia lakukan dulu?


Entahlah Bi Surti tidak mau berharap lebih kepada manusia, karena itu hanya akan menimbulkan kekecewaan kepada diri sendiri ketika keinginan kita tidak sesuai harapan.


Jadi lebih baik berharaplah kepada sang pencipta, karena hanya dialah yang maha segalanya.


Pak Prabu mulai menceritakan saat kejadian beberapa tahun yang silam, saat Reyhand belum terlahir ke dunia ini.


Namun cerita itu tidak sesuai dengan apa yang terjadi, dan Bi Surti pun tidak bisa menahan kesedihannya karena Almarhumah Sarah, sahabatnya saat ini telah di fitnah oleh suaminya sendiri di hadapan Putra angkatnya yaitu Reyhand.


Karena sudah tidak tahan mendengar ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut lelaki paruh baya yang ada di hadapannya ini, akhirnya Bi Surti pun angkat bicara,


"JANGAN DENGARKAN DIA!" Teriak Bi Surti.


Ia begitu marah seolah ingin memakan Pak Prabu yang ada di hadapannya ini secara hidup hidup.


"KAU!! DASAR LELAKI BAJINGAN!! MATI SAJA KAU!!" Maki Bi Surti, ia pun mendekat ke arah Pak Prabu,


dan tanpa basa basi Bi Surti langsung mencekik leher Pak Prabu sekuat tenaganya.


"MATI KAU!! MATI!!" Teriak bi Surti di sela tangisnya, hingga urat urat tangannya bermunculan bi Surti mencekik Pak Prabu, lelaki yang telah menodai dirinya dahulu hingga ia hamil, dan karena ulah lelaki ini Bi Surti harus menerima kehidupan yang begitu pahit.


"Bi!! Sadar bi, kamu bisa membunuhnya!" Cegah Reyhand. Ia berusaha melepaskan tangan bi Surti dari leher Papahnya.


"Lelaki ini tidak pantas untuk hidup! Bagusnya dia mati menyusul Almarhumah istrinya yang telah ia bunuh dengan tangannya sendiri!!" Ungkap Bi Surti.


Belum sembuh luka yang baru, kini ia harus menerima luka yang lama dengan kenyataan yang baru.


Sungguh rumit hidup ini.


"Uhuk! uhuk!" Pak Prabu batuk, ia seperti kehabisan nafas.


Sedang Bi Surti masih terus mencekik lelaki yang telah lama bertahta di hatinya ini, hanya saja bi Surti tidak bisa mendengar jika Pak Prabu memfitnah Almarhumah sahabtnya.


"Lepaskan tangan busukmu ini Surti!" Bentak Pak Prabu.


Lalu tanpa bi Surti duga, lelaki yang sedang ia cekik ini ternyata masih memiliki cukup tenaga, sehingga pada menit ke enam, satu tendangan melayang ke tubuh bi Surti yang mungil.


Alhasil tangan bi Surti yang sedangĀ  mencekik pak Prabu pun terlepas dari lehernya yang telah memerah akibat ulah brutal bi Surti.


Pak Prabu mengambil nafas dalam dalam kala cekikan itu terlepas dari lehernya.


Sedangkan Bi Surti ia terpental ke belakang akibat tendangan Pak Prabu yang begitu kuat, sehingga tubuh mungilnya membentur meja.


Reyhand, ia begitu pusing dengan kejadian yang terjadi saat ini, ia belum bisa mempercayai bahwa bi Surti adalah ibu kandungnya, ibu yang telah melahirkannya, dan ini apa lagi, pengakuan yang Papahnya beberkan menurut bi Surti adalah Fitnah.


"Jadi mana yang benar? Aku harus percaya kepada siapa? Argghhhh bisa bisa gila aku lama lama menghadapi kalian!!" Teriak Reyhand.


Lagi, ia menjabak rambutnya dengan kasar.


"Sulit untuk di percaya!" Gumam Reyhand, ia terduduk lemas di lantai ruang tamu.


Tanpa sengaja matanya menangkap bingkai foto yang tersusun rapi di dinding ruang tamu.


"Mamah." Lirih Reyhand, ia menatap wanita yang ada di dalam bingkai foto itu dengan tatapan rindu serindu rindunya.


Andai malam itu dirinya tidak pulang larut malam, pasti ia bisa menyelamatkan nyawa Almarhumah Mamahnya dari kekejaman Papahnya.


Sembari menatap foto Almarhumah mamahnya, ingatan Reyhand kembali berputar seperi film yang sedang tayang, dari ia kecil, remaja hingga ia dewasa.


Semua masa itu kembali terulang di memori ingatannya. Hingga pada menit ketiga, Reyhand mengerti bahwa yang jahat selama ini adalah memang betul Papahnya.


Papahnya yang dengan teganya membiarkan mayat Almarhumah mamahnya tergeletak di lantai ruang tamu dengan keadaan tubuh yang sudah mendingin dan kaku,


sedangkan dia malah asyik memadu kasih dengan wanita lain di kamar yang seharusnya tidak boleh di masuki oleh wanita lain.


"Kamu benar Bi, lelaki ini memang pantas untuk MATI!"


Bugh!


Reyhand kembali melayangkan satu bogemannya tepat di pipi sebelah kiri lelaki yang selama ini begitu ia benci.


Pak Prabu yang tidak siap mendapat serangan tiba tiba dari Reyhand, ia pun akhirnya terjungkal kebelakang.


"Aw! Sial sekali hari ini! Bukannya Reyhand menyalahkan Almarhumah Sarah ini malah aku yang di serangnya lagi! Sial sial sial!" Gerutunya, ia bermonolog dalam hati.


"Bangun kau PENGECUT!!" Teriak Reyhand.


Ia berdiri di hadapan Pak Prabu yang masih terguling di lantai akibat terjungkal dari sofa karena serangan Reyhand yang begitu tiba tiba tadi.


Belum sembuh luka yang pagi tadi saat berada di kontrakkan Claraa, kini Pak Prabu akan mendapatkan luka yang baru, luka yang ia hasilkan dari mulut busuknya.


Karena telah berani memfitnah orang yang sudah tidak ada.


"AKAN KU BUNUH KAU LELAKI PECUNDANG!!


Bersambung..