My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 10 : Emosi



*POV Author*


•••••••••••••••••


"Ngmong ngomong kenapa Kakak nggak kerja?" Tanya Aina,


kini mereka berdua sedang duduk di teras depan, tidak lupa juga dengan Vallenia yang telah berganti popok, namun masih dalam gendongan Reyhand.


"Emang sengaja meliburkan diri."


"Kenapa?"


"Karena ingin main sama Vallen."


"Hooo??"


Tanpa sadar mulut Aina ternganga mendengar jawaban Reyhand yang agak aneh di telinganya.


"Biasa aja nanti lalet masuk tanpa permisi."


Aina pun buru buru menutup mulut nya.


Lalu Reyhand mengajak Vallenia bermain , karena pagi ini dia belum tidur.


Tawa Vallen jelas terdengar saat Reyhand menggelitik perutnya, sungguh ini adalah pemandangan yang Aina inginkan selama ini. Lagi, fikiran Aina menjadi Traveling keliling dunia melihat Reyhand sangat akrab dengan putri nya.


Lalu bagaimana nasib Ayah kandung nya, apakah mereka bisa seakrab ini? Lagi pula Aina tidak tahu menahu tentang Ayah Vallen ada di mana dan dengan siapa.


Ingin rasanya Aina membuka hati untuk Cinta yang baru namun rasanya itu sangat sulit, sulit untuk ia lakukan. Karena masih banyak hal yang hatus ia selesaikan, bukan hanya tentang perasaan nya saja.


Pertama status pernikahannya tidak jelas, dan kedua Aina ingin membahagiakan putri nya dulu, jika semua sudah jelas dan putrinya telah bahagia, baru setelah itu jika ada jodoh yang datang ia akan mencoba untuk menerima nya.


Tanpa mereka sadari, Ibu juga memperhatikan gerak gerik Reyhand dan juga Aina serta Vallen cucu nya. Dalam hati ibu berdoa,


"Tuhan, jika mereka berjodoh dekatkan lah namun jika Reyhand bukanlah Jodoh kedua untuk Putriku maka lebih baik jauh kanlah, karena hamba tidak ingin ada Fitnah."


Lalu Ibu kembali ke dapur untuk merapikan dapurnya yang seperti kapal pecah karena sisa hajatan kemarin, sedang semua kerabatnya telah pulang.


"Dek?" Panggil Reyhand, seketika lamunan Aina menjadi buyar.


"Hem?" Aina menatap Reyhand,


Seketika mereka beradu pandang untuk sesaat, dan kalian tahu apa yang Rey rasakan?? Yaa Jantung nya seakan ingin keluar dari tempat persembunyiannya.


Reyhand ingin mengungkapkan perasaannya, ia tidak mau memendamnya lebih lama lagi.


"Refresing yuk mau nggak? kemana gitu biar kamu nggak bosen di rumah aja."


Aina pun berfikir sejenak,, ia tidak boleh sembarang menerima ajakan lelaki lain sedang status nya masih menjadi Istri Sanusi, walaupun sekarang Sanusi tidak tahu di mana keberadaannya.


"Maaf kak, bukan mau menolak niat baik Kakak, tapi Kak Rey tahu kan posisi ku sedang tidak baik, aku hanya menjaga Kak, jangan sampai ada fitnah untuk kita, apalagi kamu Kak, aku tidak ingin orang orang mengecap mu buruk karena mereka fikir kamu mengganggu rumah tangga ku. Padahal .." Aina menghentikan ucapannya,


"Padahal?" tanya Reyhand,


Aina menarik nafasnya dalam lalu ia hembuskan, dan melanjutkan ucapannya.


"Tanpa kamu ganggu juga Rumah Tanggaku sudah berantakkan Kak." Ia tersenyum getir mengucapkan kalimat itu.


Sedangkan Reyhand ia tidak ingin menyia nyiakan kesempatan ini, jarang sekali Aina mau berbicara tentang hal yang sangat sensitiv bagi dirinya terhadap Reyhand.


"Ah semua itu telah di atur oleh Yang Maha Kuasa, semua telah di Takdirkan  untuk kita mau itu hidupnya bahagia, tenang, sulit, damai, semua sudah ada bagiannya masing masing, tinggal kita yang menjalaninya harus sabar dan ikhlas tidak lupa juga kita berdoa memohon ampun kepada Sang Pencipta agar Takdir kita di rubah menjadi bahagia.."


Reyhand menjelaskan panjang kali lebar sedang Aina ia hanya menatap Reyhand tanpa berkedip.


Aina kaget bukan main karena ulah Reyhand barusan mengingatkan akan Suaminya.


"Aku kedalem sebentar kak, sini Vallen saat nya untuk tidur."  Ucap Aina sambil mengambil alih Vallen dari gendongan Reyhand untuk menutupi kegugupannya.


"Yaudah kalo gitu Kakak pulang dulu ya, terimakasih atas waktunya." Pamit Reyhand sembari bibir nya mengulum senyum karena geli melihat tingkah Aina.


"Iyah Kak, hati hati."


Reyhand pun mengambil kunci mobil yang ada di atas meja, lalu ia pergi meninggalkan kediaman Aina.


Aina hanya menatap sendu kepergian Reyhand. Bukan anak kecil lagi, Aina pun sadar akan tatapan Reyhand pada dirinya itu bukan tatapan biasa.


"Sayang Bunda haus yaa?, ayokk kita bubuk dulu mainnya nanti lagi, okee." ucap Aina sambil menutup pintu rumah dan berjalan menuju kamarnya.


"Naaa?" panggil Ibu.


"Iyaa bu, ada apa?"


Ibu seperti ingin membicarakan sesuatu namun ia ragu untk memulainya.


"Kamu sudah sarapan?" akhirnya pertanyaan yang tidak penting lolis dari mulut Ibu.


"Kan kita tadi sarapan bareng bu, ibu lupa?"


"Ah iya, ibu hanya bertanya. Sekarangkan kamu menyusui jadi jangan sampai perutmu kosong, kasihan Vallen dia bisa masuk angin.."


"Iyaa bu.."


Ibu  pun pergi dari kamar Aina, namun saat Aina akan menutup pintu kamar ibu berbalik arah dan berkata,


"Naa jangan terlalu dekat dengan Reyhand, ingat status mu masih jadi Istri orang." Ibu berkata dengan pelan namun ucapannya cukup membuat darah Aina mendidih.


Aina tidak menjawab ucapan Ibu, ia langsung menutup pintu dan menidurkan Vallen di atas kasur.


"Astaghfirullah, apa aku salah ucap?" ujar Ibu sambil mengelus dadanya.


Tidak ada maksud apa apa, ibu hanya tidak ingin ada fitnah untuk putri nya. Di fikiran Ibu, Aina mau mau saja di dekati Reyhand sedang statusnya masih menjadi Istri Sanusi, namun sebetulnya berbanding terbalik dengan yang ada di fikiran Ibu, Justru Aina menolak kehadiran Reyhand.


Pagi ini Aina mengobrol dengan Reyhand hanya sekedar menghargainya sebagai Kakak karena Mbak Gita telah berangkat kerja, namun jika Mbak Gita ada dirumah, mana mau Aina meladeni Reyhand hingga berjam jam. Jangan kan satu jam, sepuluh menit saja Aina langsung masuk ke kamar.


"Ibu apa apaan sih, ibu fikir aku ini wanita murahan apa?? asal bicara seperti itu!" Aina menggerutu sendiri di dalam kamar sambil menyusui Putri nya.


Entah kenapa setelah mendengar ucapan Ibu tadi Aina seperti kesambet setan, ia mengomel tidak jelas, perasaan nya menjadi kacau dan emosinya naik.  Darahnya mendidih seakan ingin memakan orang hidup hidup.


"Apa di fikiran ibu aku ini kegatelan, keganjenan! Apa ibu tidak tahu perasaan ku gimana saat mendengar ucapan dia!! Ibu macam apa kamu  yang hanya bisa menyudutkan aku tanpa kamu memikirkan perasaan ku!!"  Aina terus saja mengomeli ibu nya, namun Ibu tidak mendengar omelan Aina.


Vallen sudah tertidur lelap setelah di beri ASI oleh Aina, namun  tidur nya terusik kala ia mendengar suara berisik di sebelah telinganya, siapa lagi kalau bukan Suara Bundahnya.


"Dasar ibu, bisa nya cuma memojokkan ku terus!!  ucap Aina, kini suara nya agak meninggi hingga membuat Vallen menjadi kaget, dan akhir nya,


"Oekk .. oekkk .. oekkkkk .."


Vallen terus menangis, dan itu cukup memicu emosi Aina semakin menjadi.


"DIAMMMM!!" Bentak Aina, namun bukannya diam tangis Vallen semakin menjadi.


"Oekk .. oekkkk.. oekkkk.."


"Diam kau anak pembawa sial!"


Bersambung ..