
POV Author
***********
Setelah berembuk masalah tanggal pernikahan, akhirnya kedua belah pihak telah menetapkan bahwa pernikahan akan di adakan seminggu lagi, sesuai keinginan Dokter Zainal.
Juga kedua orang tua Mbak Gita tidak merasa keberatan, karena satu minggu yang akan datang adalah hari yang bagus menurut prinbon jawa.
"Alhamdulillah, jadi sepakat ya Pak, Buk minggu depan?" Seru Dokter Zainal.
"iyaa Minggu Depan lee. Selama seminggu yang akan datang Ayah harap kalian tidak bertemu dulu sampai Hari-h itu tiba."
"Lah, kenapa begitu."
"Karena Ayah tidak mau terjadi hal yang tidak di inginkan."
Sejenak Aina tertegun mendengar ucapan Ayah, ia merasa sedih karena telah gagal menjaga kehormatannya sebelum janur kuning melengkung. Dan sekarang suaminya entah kemana.
Mungkin ini adalah hukuman untuk dirinya karena telah membuat kedua orang tua nya kecewa.
"Kalo itu insyaallah aman Pak, masih bisa nahan kok." Ujar Dokter Zainal.
Seketika Mamahnya mencubit pinggang anak bujangnya ini.
"Basing aja kalo bicara!" Tukas Mamah Anita. Seraya tangannya mencubit dan matanya melotot.
"Aduh, sakit mah."
"Makanya!"
"Ahahhaha.. hahahaha!"
Seketika tawa itu keluar dari mulut Anggota keluarganya.
*********
Tidak terasa waktu seminggu begitu cepat berlalu, hingga tepat hari ini, hari dimana hari yang telah di nantikan oleh Dokter Zainal mau pun Mbak Gita.
Satu persatu tamu undangan telah datang dan duduk di kursi, di bawah tenda yang telah di dekorasi sedemikian rupa indahnya.
Di kediaman Pak Basukilah acara Pernikahan ini di adakan.
Tidak di hotel atau pun gedung, semua ini atas permintaan Mbak Gita, ia tidak mau yang terlalu wah karena ia lebih menyukai hal yang sederhana, tidak keberatan dengan permintaan calon istrinya itu, Dokter Zainal mengabulkan semua keinginan Calon Istrinya tersebut.
Sebentar lagi Ijab Qobul akan terucap dari lisan Dokter Zainal, akan terdengar kata Sah dari suara tamu undangan, dan Ikrar sigat Ta'liq akan ia lantunkan setelahnya.
Cemas, nerfes, dag dig dug. Itu pasti, namun kedua mempelai itu nampak tenang duduk di kursi yang di depannya terdapat Al-qur'an yang akan menjadi saksi atas Pernikahan mereka.
Lantunan ayat ayat suci Al-qur'an sedang di bacakan oleh Aina.
Setelah itu terdengarlah suara Pak Penghulu memberi arahan kepada Ayah untuk memulai proses Ijab Qobul nya.
Ayah menjabat jemari Calon menantunya ini.
Lalu,
"Saya nikahkan engkau Zainal Wendi Abdullah Bin Prabu Sanjaya dan saya kawinkan engkau dengan Putriku Gita Aulia Rahma Binti Basuki dengan mas kawin Seperangkat Alat Sholat dibayar tunai!"
Dengan segera Dokter Zainal menjawab,
"Saya terima nikahnya Gita Aulia Rahma Binti Basuki dengan mas kawin Seperangkat Alat Sholat dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi?"
"Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah.."
Lalu Dokter Zainal memegang Ubun ubun kepala Mbak Gita yang sekarang telah resmi menjadi Istrinya seraya membaca do'a,
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon-Mu kepada diri mereka sendiri dan kepada yang Engkau tentukan sendiri. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang engkau tetapkan atas dirinya.
Setelah itu Dokter Zainal dengan sangat lantangnya membacakan Sigat Ta'liq,
"Bissmillahirohmanirohim"
"Pada hari ini Minggu, tanggal 18 Agustus 1999 saya Zainal Wendi Abdullah Bin Prabu Sanjaya, berjanji dengan sesungguh hati bahwa saya akan mempergauli istri saya bernama Gita Aulia Rahma Binti Basuki dengan baik (mu asyarah bil ma'ruf) menurut ajaran islam."
"Kepada istri saya tersebut saya menyatakan Sigat Ta'liq sebagai berikut :
apabila saya :
Tidak memberi nafkah wajib kepadanya selama tiga bulan lamanya;
Menyakiti badan atau jasmani istri saya; atau
Membiarkan (tidak memperdulikan) istri saya selama enam bulan atau lebih;
dan karena perbuatan saya tersebut istri saya tidak rida dan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama, maka apabila gugatannya di terima oleh pengadilan tersebut, kemudian istri saya membayar Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) sebagai Iwad (pengganti) kepada saya, jatuhlah talak saya satu kepadanya."
"Kepada Pegadilan Agama saya memberikan kuasa untuk menerima uang iwad tersebut dan menyerahkannya kepada Badan Amil Zakat Nasional untuk keperluan ibadah sosial."
Lalu keduanya menandatangani buku yang berwarna Merah maroon dan berwarna hijau tersebut, yang sering di sebut sebagai Buku Nikah.
Alhamdulillah proses Ijab Qobul berjalan dengan lancar, suasana terlihat begitu haru, tangis bahagia sangat terlihat jelas di wajah Ayah, Ibu, serta Aina.
Mbak Gita menyalami kedua orang tuanya, mencium juga memeluk, setelah itu ia beralih memeluk erat Aina, Adik bungsunya ini.
"Mbak,-"
Tak sempat berkata kata keduanya terhanyut dalam tangis, tangis yang menggambarkan kebahagiaan.
Sedangkan di sudut Ruangan, Bi Surti memandang kedua Pasangan Pengantin baru itu dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Sorot matanya menggambarkan kebahagiaan, tetapi sekilas raut wajah sedih terlintas di matanya.
Ia bahagia karena ia mengetahui bahwa Gita, sahabat yang sering Putranya ceritakan akhirnya telah menikah.
Tetapi ia juga sedih mengingat Reyhand, Putranya tidak ada di sini hari ini bahkan hari esok dan untuk selama lamanya.
"Kamu harus bahagia nak disana, disni Sahabtamu telah menikah dengan lelaki yang ibunya telah merebut kebahagiaan Mamah Sarah. Mamah angkatmu." Lirih Bi Surti seorang diri.
Dari kejahuan juga ia melihat Pak Prabu juga Anita yang sedang sibuk bersalaman kepada para tamu undangan.
Tentang Claraa, Bi Surti juga telah mengetahui bahwa wanita licik itu hanya berpura pura hamil, dan menipu Reyhand demi kepentingan nya sendiri alhasil saat ini ia mendekam di penjara.
Semua karena ulahnya sendiri.
Satu hari sebelum Reyhand meninggal ternyata ada seseorang yang melaporkan Claraa pada pihak kepolisian atas tuduhan penipuan juga pencemarah nama baik.
Akan tetapi sampai saat ini, seseorang yang melaporkan kejahatan Claraa belum di ketahui, karena pihak kepolisian tidak membocorkan siapa si Pelapor tersebut.
Tidak ada terselip rasa iri maupun dengki di dalam hatinya sekalipun Pak Prabulah yang menyebabkan Reyhand meninggal dunia.
Bi Surti telah mengikhlaskan kepergian Reyhand, juga dengan amarahnya terhadap Pak Prabu perlahan memudar. Tidak ada dendam, karena menurut Bi Surti memiliki Dendam akan membuat hidupnya semakin sulit juga memiliki dendam tidak dapat membangunkan Putranya yang telah tenang berada di sisi-NYA.
Rencana selanjutnya ia tidak akan mengganggu rumah tangga Pak Prabu, lelaki yang selama ini telah bertahta di hatinya. Juga lelaki yang selama ini telah menghancurkan kebahagiaannya.
Sambil tersenyum Bi Surti perlahan meninggalkan area yang sedang ramai karena banyaknya tamu undangan yang menghadiri acara pernikahan ini.
Berhasil keluar dari rumah Pak Basuki, perlahan Bi Surti memperhatikan rumah ini dengan seksama. Juga memperhatikan setiap jalanan dan bangunan bangunan yang ada di pinggir jalan.
Bi Surti akan meninggalkan kota yang telah menjadi saksi bisu atas perjalanan hidupnya yang selama ini telah ia tempuh.
Kota Palembang, Bi Surti akan meninggalkan Kota ini dan memulai kehidupan barunya di desa terpencil, desa kelahirannya. Dan melupakan semua kehidupan pahit yang telah ia lalui selama ini.
Tetapi untuk Reyhand, putranya itu akan selalu ada di hatinya.
Bi Surti pun menyetop mobil bus yang melintas, dan masuk kedalam mobil bus tanpa pamit atau permisi kepada si Pemilik Acara.
Sedangkan Aina, ia merasa hidupnya sudah cukup bahagia bersama Putri kecilnya, Vallenia.. Nama itu akan selalu Aina kenang, karena nama itu begitu bermakna, nama itu pemberian dari seorang Kakak yang tidak bisa lagi Aina temui.
Kakak itu adalah Reyhand, Reyhand yang sudah tenang di alamnya..
Tamat.
**********