My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 16 : Dikira Selingkuh



*POV Author*


•••••••••••••••


"Claraa!!"


Claraa pun menoleh pada asal suara yang memanggilnya.


Lalu,


Plakkk..


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Claraa.


"Rey!" Lirihnya, sembari memegangi pipinya yang sakit karena tamparan dari Reyhand.


Namun bekas tamparan itu tidak seberapa sakit, karena yang paling sakit saat ini bagi Claraa ialah hati nya. Hatinya Sakit tapi tak berdarah.


"Pergi dari sini sekarang juga!!" Bentak Reyhand, sembari tangannya menyeret Claraa ke pintu keluar.


Mbak Gita pun hanya menyaksikan drama korea ini, sambil memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Claraa.


"Gila kali tu cewe!! Tapi, tunggu tunggu kayak pernah denger suara nya tapi dimana??"  Gumam Mbak Gita,


ia pun kembali memutar ingatannya tentang suara wanita bar bar tadi, selang beberapa menit, ingatannya berhenti pada kejadian siang tadi saat ia akan pulang kerumah.


Flasback On~


Tin.. tin.. tinnn... tinnnnnnnnn..


Klakson demi klakson saling bersahutan menyadarkan Mbak Gita jika di depan jalanan sudah tidak macet lagi..


"Woii jalan!! kalo mau telfonan itu di bawah jembatan sana!! Nggak tau apa ini rasa nya panas banget udah kayak ikan asin di jemur!" oceh seorang wanita yang mengendarai motor, di belakang motor Mbak Gita.


"Astaga iya sabar ih, baru juga lenggang nya udah sewot gitu!" jawab Mbak Gita tidak mau kalah.


Lalu mbak Gita meletakkan ponsel nya kembali kedalam tas jinjing miliknya tanpa menutup panggilan yang masih terhubung. Ia menarik gas nya dengan kecepatan sedang dan tidak memperdulikan lagi ocehan wanita yang di belakang nya tadi.


"Dasar Perempuan gila!" Umpat wanita itu ke arah Mbak Gita kala motor mereka berjalan seiringan.


"Lo yang gila!" ucap Mbak Gita, lalu ia menambah kecepatan berkendaranya secepat kilat agar tidak bertemu dengan wanita tidak jelas itu lagi.


Flasback Off~


"Astaga, ternyata dia wanita yang sama." lirih Mbak Gita kala ia telah ingat siapa wanita gila yang datang datang langsung menamparnya.


Andai Reyhand tidak menariknya untuk keluar dari Cafe, sudah di pastikan mereka akan gelud.


Suasana di dalam Cafe kembali tenang, kala Reyhand telah berhasil membawa pergi Claraa, si biang masalah dari hadapan Mbak Gita.


"Permisi Mbak, mau pesen apa?" Tanya pegawai Cafe sambil tersenyum ramah.


"Kalo ada es batu aja Mbak."


"Es batu?" Tanya pegawai itu dengan mimik muka kebingungan.


"Soalnya ada yang lagi panas Mbak, di kasih es batu kan biar adem, hehehe." Canda Mbak Gita.


Pegawai itu pun langsung mengerti kemana arah pembicaraan Mbak Gita.


"Ngomong ngomong perempuan tadi kenapa Mbak?" Tanya pegawai itu penasaran.


Mbak Gita pun tidak keberatan untuk mengklarifikasikan kejadian barusan yang menimpa dirinya.


"Dia itu nggak waras, dateng dateng langsung nampar saya terus bilangin saya pelakor lah, wanita murahan lah." Gerutu Mbak Gita.


Lalu Pegawai itu pun semakin penasaran dengan Mbak Gita, di fikiran pegawai itu apa betul Mbak Gita ini wanita murahan sama seperti yang di ucapkan Claraa tadi, namum sepertinya Mbak Gita bisa membaca fikiran lawan bicaranya ini.


"Kamu bisa lihat pakaian saya kurang bahan seperti pakaian wanita itu atau tidak??" Tanya Mbak Gita pada pegawai itu, sembari matanya menatap tajam ke arah lawan bicaranya.


Pegawai itu pun merasa bersalah. Karena yang di ucapkan Mbak Gita memang betul ada nya.


"A-anu iya Mbak, maaf. Mbak tau aja isi otak saya, heheh." ucap Pegawai itu sembari nyengir kuda untuk menghilangkan kegugupan dalam dirinya.


"Sudahlah tidak penting. Saya laper, mana bukunya ada menu apa saja?"


"Ini, silahkan di pilih Mbak." Kata Pegawai itu, sembari meletakkan buku menu di atas meja.


Mbak Gita pun mengambil buku menu itu, dan mulai melihat lihat apa saja hidangan yang ada disini.


Tidak butuh waktu lama untuk memilih, karena makanan favoritnya ada di menu halaman paling depan, jadi langsung saja ia sebutkan.


"Seblak Komplit Mbak, dua porsi. Sama minumnya  Pop Ice rasa Taro satu Es buahnya satu."


Mbak Gita memesankan sekalian untuk Reyhand karena Mbak Gita yakin Reyhand pasti belum makan.


"Baik, tunggu sebentar ya Mbak." Ujar pegawai itu, lalu ia pergi dari hadapan Mbak Gita.


"Nggak mau tanya tanya lagi tentang wanita yang menampar saya tadi?" Sindir Mbak Gita.


"Ah iya, nanti saja lah Mbak sekarang masih jam kerja." Ucap Pegawai itu sambil tersenyum kecut.


"Bagus kalo kamu sadar."


Pegawai itu pun benar benar menghilang dari hadapan Mbak Gita dengan perasaan kesal karena ucapan Mbak Gita barusan.


"Jadi pegawai kok Kepo dengan urusan pelanggan, baru tahu aku ada orang kayak gitu." Oceh Mbak Gita sendiri.


"Reyhand kemana pula, ngusir kecoa aja lamanya minta ampun!" Gerutu nya lagi.


Clentung..


Bunyi ponselnya menandakan satu pesan masuk, Mbak Gita pun tidak memperdulikan kemana Reyhand pergi membawa Claraa.


Ia mengambil ponsel nya dan melihat siapa yang mengirimi nya pesan barusan.


"Mas" dan ada tanda love di akhir.


Langsung saja Mbak Gita baca,


"(Sayang kamu jadi ke Cafe Meranti?)" Isi pesan tersebut,


Mbak Gita pun mulai mengetik untuk membalas pesan dari Calon Suaminya itu.


"(Jadi Mas, baru aja nyampe.)"


Send,


pesan pun terkirim, dan ternyata langsung centang dua biru yang artinya langsung di baca oleh penerima pesan.


"(Oke)" Balasan pesan dari Calon suaminya.


Mbak Gita bingung membacanya, kok malah Oke, apa jangan jangan Dokter Zainal salah kirim.


Belum sempat Mbak Gita membalas pesan yang tadi, sudah ada satu pesan lagi dari Dokter Zainal.


"(Kamu Cantik hari ini, dan Mamah sangat bahagia melihat kamu memakai sepatu Ballet pemberian Mamah.)"


"Haaa." Celetuk Mbak Gita tanpa sadar.


Dari pada makin penasaran, Mbak Gita pun menelfon Dokter Zainal untuk mendapatkan jawaban.


Tutt.. tuttt..


Di dering ketiga, panggilan langsung terhubung.


"Hallo Mas, Assalamualaikum." Ujar Mbak Gita.


"Wa'alaikumsallam."


Setelah Calon suaminya menjawab sallam nya, langsung saja Mbak Gita to the point mengutarakan ke kepoan nya.


"Kamu lagi di mana Mas?" Tanya Mbak Gita, matanya pun melihat sekeliling area Cafe untuk mencari keberadaan Dokter Zainal.


"Lihat ke atas." Jawabnya.


Seketika Mbak Gita mendongakkan kepalanya ke atas, dan benar saja ternyata Calon Suaminya itu berada di lantai dua.


"Kamu disini Mas? sejak kapan?"  Tanya Mbak Gita,


yang ada di fikirannya saat ini ialah, berarti tadi Dokter Zainal melihat dirinya tiba tiba di tampar oleh wanita gila itu, tetapi kenapa dia tidak turun membela.


"Baru saja." Ungkap Dokter Zainal membuyarkan lamunan Mbak Gita.


"Baru saja kok sudah di lantai dua, kamu masuknya lewat mana? Apa kamu terbang??"


"Hahaha, kamu ini bisa aja, emang Mas punya sayap?"


"Iya punyalah."


"Sayap apa?"


"Sayappp.. Emmm.. Apa aja deh.."  Ucap Mbak Gita sembari tersenyum malu karena saat ia melihat ke arah lantai dua ternyata Dokter Zainal sedang memperhatikan dirinya.  Alhasil Mbak Gita pun jadi salah tingkah di buatnya.


"Dasar gak jelas."


"Mas turunlah ngapain di sana?"


"Nanti Mas turun sebentar lagi, ini masih nunggu Mamah."


"Ohhh oke, aku tunggu kedatangan mu Mas, hehe."


"Iya Sayang."


Mbak Gita pun mematikan panggilan telfon karena Pegawai Kepo tadi sudah datang membawa dua porsi Seblak Komplit, beserta dua Es dingin.


"Silahkan dinikmati Mbak." Ungkap Pegawai itu setelah menata dengan rapi dua piring Seblak dan juga dua gelas es dingin.


"Terimakasih." Ucap Mbak Gita.


Lalu Pegawai itu langsung berlalu tanpa mengucapkan apa pun.


Mbak Gita mendongakkan kepalanya lagi untuk melihat keberadaan Calon Suaminya tadi, namun ternyata hasilnya Nihil.


"Kemana perginya??" gumamnya seorang diri.


Cacing di perut nya sudah pada melakukan demo, padahal di rumah tadi sebelum berangkat sudah di isi dengan sambel terasi dan ikan asin, tetapi saat melihat seblak para cacing kembali berdemo.


"Wahhh mantap nih."


Mbak Gita pun mulai mengaduk aduk hidangan yang ada di hadapannya ini, lalu menyuapkan sesendok demi sesendok ke dalam mulutnya.


Karena ke asyikan makan, ia tidak sadar jika Reyhand telah kembali dan langsung menarik kursi yang ada di depan Mbak Gita.


"Makan nggak ngajak ngajak." Gerutu Reyhand.


"Lu yang ngilang kayak tuyul, ngusir kecoa aja lama nya minta ampun."


"Hahah, lu bilang apa kecoa? Hahhaah." Reyhand tertawa mendengar julukan yang di berikan Mbak Gita untuk Claraa.


Mereka berdua pun kompak menertawakan Claraa yang tidak ada di tempat.


Tanpa mereka sadari, Mamah Zainal dan Zainal sedang berjalan menuju ke arah di mana mereka berada.


Mamah Zainal belum mengetahui tentang Reyhand yang statusnya hanyalah Sahabat Mbak Gita,  ia pun menduga jika Mbak Gita telah selingkuh dari Putra nya.


"Gita main api di belakang mu!"


Bersambung..