My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 37 : Haredang



POV Author


**********


Jenazah Reyhand telah di kebumikan selepas sholat Ashar tadi, alhamdulillah semua nya berjalan dengan lancar tidak ada halangan suatu apa pun. Hanya saja Mbak Gita yang terus menangis sesegukkan di sepanjang acara Pemakaman tadi.


Setelah Jenazah Reyhand telah di kebumikan, juga para pelayat sudah mulai meninggalkan area Pemakaman, kini tinggallah Mbak Gita yang masih berada di Pemakaman, kakinya terasa berat untuk meninggalkan Kuburan Almarhum  Reyhand, dan tentu saja bersama Dokter Zainal yang masih setia menemani Calon Istrinya ini.


"Sayang.." Panggil Dokter Zainal yang saat ini berdiri di belakang Mbak Gita.


Mbak Gita yang masih setia duduk di pinggir Kuburan Reyhand pun tersadar dari lamunan panjangnya.


"Iya Mas?" Mbak Gita langsung berdiri dan menghampiri Dokter Zainal.


"Kita pulang yuk, ada hal yang lebih penting dari ini Sayang.."


"Maksud kamu apa?!"


Mbak Gita merasa tersinggung dengan ucapan yang baru saja terlontar langsung dari mulut Calon Suaminya ini.


"(Apa menurut dia Reyhand tidak begitu penting! Beraninya dia bilang begitu di saat seperti ini! Dasar nggak punya hati kamu Mas!)" Gerutu Mbak Gita.


Sayangnya semua ungkapan itu hanya bisa ia utarakan dalam hatinya saja. Karena jika ia ungkapkan langsung, otomatis akan terjadi Perdebatan antara dirinya dan juga Dokter Zainal.


"Maaf, bukan maksud Mas membuat perasaanmu semakin sedih, tetapi bukankah kamu ingin tahu Penyebab Kematian Reyhand, bukan?" Tanya Dokter Zainal.


Kali ini suaranya dua kali lebih lembut di bandingkan tadi.


"Lalu?"


"Kita pulang Sayang, dan Papah akan menceritakan semuanya."


Tidak perlu berpikir lagi, Mbak Gita langsung saja menyetujui ucapan Calon Suaminya ini.


"Baiklah, ayo."


Akhirnya mereka berdua pun meninggalkan Area Pemakaman yang sudah sepi, hanya ada angin yang meniup dedaunan. Dan kesunyian yang menyelimuti suasana di sini.


Tidak butuh waktu lama, hanya sepuluh menit mereka telah sampai di kediaman Pak Prabu.


Rasa penasaran telah menyelimuti hati dan juga Perasaan Mbak Gita. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui apa Penyebab Kematian Almarhum Reyhand, Sahabat Karibnya.


Sahabat namun rasa Saudara.


Akan tetapi saat mereka telah sampai dan mulai memasukki rumah, mereka tidak mendapati di mana keberadaan Papahnya Dokter Zainal, yaitu Pak Prabu.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya Sayang, mas mau cari Papah dulu."


"Iyah, Mas."


Tinggallah saat ini Mbak Gita seorang diri duduk di ruang tamu.


Terlihat dari kejahuan di dapur begitu ramai,


"Mungkin mereka lagi sibuk masak masak,. Ya ampun Rey kenapa lo secepat ini pergi, pergi dan tidak akan pernah kembali." Lirih Mbak Gita.


Ia masih tidak menyangka jika Sahabatnya itu akan pergi untuk selama lamanya.


Memang yang namanya Umur, Jodoh, Rezeky itu tidak ada yang tahu, hanya Allah yang Maha Segalanya yang Maha Mengetahui.


"Semoga kamu bertemu Nita di Surga Rey, aku titip Adikku." Lirihnya lagi.


Sungguh kejadian hari ini di luar dari akal sehatnya.


Rencana akan bertemu Calon Ibu Mertua, namun ternyata kenyataan yang begitu menyedihkan yang harus Mbak Gita terima.


Karena asyik dengan lamunannya, Mbak Gita tidak menyadari jika Dokter Zainal telah duduk di sebelahnya.


"Sayang, Papah nggak ada dirumah, udah Mas telfon juga kata Papah si lagi ada urusan, nanti malem baru pulang."


Mbak Gita menoleh ke arah sebelah kiri, dimana Dokter Zainal berada.


"Kecewa sebenarnya, namun harus bagaimana lagi? Kalo gitu anter aku pulang aja Mas. Disini aku nggak ada yang di kenal, juga Mamah mu dari tadi nggak keluar keluar."


"Seharusnya kamu juga bisa ngertiin aku, kayak kamu ngertiin Mamah Kamu, Mas!" Ujar Mbak Gita.


"Sayang.. Kok kamu malah bilang gitu? Yaudah ayok Mas anter Kamu pulang ya. Nanti kalo ada kabar dari Papah, Mas pasti akan beritahu Kamu."


Mbak Gita sudah tidak ada niat untuk menanggapi ucapan Calon Suaminya ini, ia segera mengambil tasnya, lalu berjalan keluar meninggalkan Dokter Zainal yang masih bingung dengan Sikap Mbak Gita.


"Belum Nikah aja kamu udah gini Mas, bagaimana nanti jika kita telah Menikah? Bisa bisa aku makan hati tiap hari. Huhhhh! Semakin lama semua sikap mereka semakin terlihat." Gerutu Mbak Gita.


Ia benar benar tidak menyangka dengan penemuannya hari ini.


Tanpa menunggu Dokter Zainal, Mbak Gita langsung saja menyetop Taksi yang kebetulan melintas.


"Taksi!" Panggil Mbak Gita, seraya melambaikan Tangannya.


Tepat di hadapan Mbak Gita Taksi itu berhenti, dan Mbak Gita segera masuk ke dalam Taksi tanpa menghiraukan Panggilan dari Dokter Zainal.


"Sayang, tunggu! Ayo Mas antar kenapa malah naik Taksi?" Ujar Dokter Zainal sembari menggedor kaca mobil Taksi ini.


"Jalan saja Pak."


"Baik, Non."


Taksi melaju dengan kecepatan sedang, perlahan meninggalkan kediaman Pak Prabu.


"SAYANG!" Teriak Dokter Zainal.


Ia menatap Prustasi ke arah Mobil Taksi yang membawa Calon Istrinya itu hingga menghilang dari pandangannya.


********


Hari semakin larut, keadaan rumah Pak Prabu berangsur sepi. Para tamu undangan yang mengisi acara Tahlilan satu persatu sudah mulai pulang ke rumah mereka masing masing.


Tinggallah Pak Prabu, Istrinya, dan Putranya, juga Bi Surti yang sedang duduk di ruang keluarga.


Sepertinya Pak Prabu sengaja mengumpulkan mereka malam ini, karena ada hal penting yang akan ia sampaikan.


Dokter Zainal yang telah banyak menyimpan pertanyaan pertanyaan dalam benaknya pun langsung saja ia mengintrogasi Papahnya.


"Pah, sebenarnya apa yang terjadi? Siapa Reyhand bagi Papah dan apa penyebab Kematiannya? Papah tahu, karena ulah Papah yang tiba tiba menghilang sore tadi, Gita jadi marah Pah! Dia bahkan pulang tidak mau aku antar, dia lebih memilih naik Taksi. Juga siapa Ibu ini? Kenapa tiba tiba ada di sini?"


Pertanyaan demi pertanyaan begitu lancar keluar dari mulut Dokter Zainal hingga membuat Pak Prabu bingung harus dari mana ia akan menjelaskannya.


"Jawab, Pah!" Bentak Dokter Zainal.


Sepertinya kesabarannya telah habis.


Sedangkan Mamahnya hanya menatap jengah ke arah Bi Surti. Bi Surti yang di tatap pun ia hanya membuang pandangannya, ia sibuk memperhatikan Dokter Zainal yang sekarang sedang di landa Esmosi.


"Reyhand, dia adalah Putra Papah. Dia Kakak kamu,Nal."


Degh!


Sulit untuk di percaya. Bisa bisanya Papah bicara seperti itu.


"Apa maksudnya ini Pah?"


"Dan wanita ini, dia adalah Mamahnya Reyhand."


Degh!


Perasaan Dokter Zainal semakin tak menentu, juga dengan Mamahnya yang hatinya menjadi was was.


"Jadi, apakah Papah telah berselingkuh di belakang Mamah?"


Skak mat!


"Bukan!" Ungkap Bi Surti yang tiba tiba bersuara.


"Tetapi Mamah mu lah yang telah menjadi selingkuhan Papah mu!"


Bersambung..