My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 13 : Ingin Mati



*POV Author*


••••••••••••••


"Iyaa bu, ini aku lagi dijalan. Udah dulu, sebentar lagi aku sampai."


Tut.. tut.. tut..


Mbak Gita mematikan sambungan telfon dan menyimpan ponselnya  ke dalam tas, lalu ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi akan pulang kerumah.


Gelisah tidak gelisah, mendapatkan kabar dari ibu bahwa Aina sedikit berbeda hari ini, sungguh membuat perasaan Mbak Gita jadi tak menentu. Padahal pagi tadi sebelum Mbak Gita berangkat kerja ia bahkan sempat bercanda dengan Adiknya dan juga keponaan nya yang lucu itu.


Tapi siang ini kenapa Aina bisa berubah  dan tidak dapat mengontrol emosinya . Untuk hal itu entahlah Mbak Gita tidak mau memikirkannya dulu, yang terpenting ia bisa sampai ke rumah dengan selamat.


"Akhh sial pake acara macet pula!" Umpat Mbak Gita, lalu ia mengurangi kecepatan berkendaranya. Tidak lama kemudian Mbak Gita menarik rem motornya dengan sangat dalam karena di depan mobil mendadak berhenti.


Untung saja ia fokus  kalo nggak, bisa bisa mobil di depan di tumbur nya.


Kondisi jalanan menuju rumah macet total karena ada perbaikkan jalan di depan,  dan Mbak Gita hanya bisa pasrah menunggu.


Lagi ponsel Mbak Gita berdering menandakan satu panggilan masuk. Karena jalanan Raya masih di landa kemacetan, ia pun mengambil ponsel milik nya dari dalam tas lalu langsung menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


"Halo, Assalamualaikum?" Sapa seseorang di seberang telfon kala panggilan telah terhubung.


"Wa'alaikumsallam, mas." jawab Mbak Gita.


Ternyata yang menelfonnya sekarang ini adalah Calon suaminya.


"Kamu dimana? Udah makan siang belum?"


Dokter Zainal belum mengetahui tentang kondisi Aina, dan Mbak Gita belum memberitahu nya jika siang ini ia pulang kerumah dan tidak melanjutkan pekerjaan nya untuk tiga hari kedepan.


"Aku lagi di jalan mas" jawab Mbak Gita singkat.


"Mau kemana sayang?"


"Pulang."


"Pulang?"


Tanya Dokter Zainal untuk meyakinkan lagi, takutnya ia salah dengar.


"Hu'um." Jawab Mbak Gita.


"Kebetulan hari ini jadwal mas lagi kosong, kita ketemu ya Mas rindu kamu.."


Belum sempat Mbak Gita menjawab, terdengar suara yang cukup bising di belakang motornya.


Tin.. tin.. tinnn... tinnnnnnnnn..


Klakson demi klakson saling bersahutan menyadarkan Mbak Gita jika di depan jalanan sudah tidak macet lagi..


"Woii jalan!! kalo mau telfonan itu di bawah jembatan sana!! Nggak tau apa ini rasa nya panas banget udah kayak ikan asin di jemur!" oceh seorang wanita yang mengendarai motor, di belakang motor Mbak Gita.


"Astaga iya sabar ih, baru juga lenggang nya udah sewot gitu." jawab Mbak Gita tidak mau kalah.


Lalu mbak Gita meletakkan ponsel nya kembali kedalam tas jinjing miliknya tanpa menutup panggilan yang masih terhubung. Ia menarik gas nya dengan kecepatan sedang dan tidak memperdulikan lagi ocehan wanita yang di belakang nya tadi.


"Dasar Perempuan gila!" Umpat wanita itu ke arah Mbak Gita kala motor mereka berjalan seiringan.


"Lo yang gila!" ucap Mbak Gita, lalu ia menambah kecepatan berkendaranya secepat kilat agar tidak bertemu dengan wanita tidak jelas itu lagi.


Lima belas menit kemudian Mbak Gita akhirnya sampai di halaman rumahnya, ia lalu memakirkan motornya di teras sebelah rumah, dan membuka helm yang ia kenakan.


"Alhamdulillah.." ucapnya, sambil tangannya meletakkan helm di kaca spion.


"Tumben sepi?"


Lalu Mbak Gita turun dari motor dan membuka pintu depan,


Ceklekkk


"Assaaa.."


Dimana semua kaca lemari pecah, kursi tidak pada tempat nya lagi, bingkai bingkai foto yang ada di ruang tamu pada berserakan di lantai, dan mata Mbak Gita terfokus melihat ada sedikit noda darah di dekat pecahan kaca.


"YA AMPUN!!" Teriak Mbak Gita.


Entah apa yang telah terjadi, namun kondisi rumah saat ini benar benar kacau.


"Ibuu, bu.. Ibuuu.." Panggil Mbak Gita.


Namun tidak ada sahutan dari dalam,


"Pada kemana orang orang ini." ucap Mbak Gita, kakinya pun melangkah satu demi satu melewati pecahan kaca yang berserakkan di lantai.


Saat telah sampai di ruang keluarga keadaan pun sama kacau nya seperti di ruang tamu, dan dari dalam kamar Aina, Mbak Gita mendengar seperti suara tangis seseorang.


"Dek.." Panggil Mbak Gita di depan pintu kamar Aina.


Tidak ada sahutan, hanya terdengar suara tangisan perempuan. Mbak Gita pun mencoba untuk membuka pintu, namun sayang ternyata pintu nya terkunci.


"Dek Ena ini Mbak, tolong buka pintu nya." Ucap Mbak Gita dengan suara lembut nya.


Namun siapa sangka respon  Aina begitu menghebohkan seluruh jagat raya.


"PERGI!!! PERGI KALIAN!!" Pekik Aina dari dalam kamar.


Dum.. dum.. dumm..


Aina mengamuk di dalam kamar, ia berteriak dan memukul mukuli dinding yang tidak bersalah.


"PERGIII, AKU TIDAK BUTUH KALIAN!!"  Usir Aina.


"Ya Allah dek, Istighfar. Jangan sampai emosi menguasai pikiran mu!"


"ARGHHHHHHHHH PERGI!! PERGI!!! PERGI!!! Jerit Aina, sambil kakinya menendang daun Pintu.


Mbak Gita terus membujuk Adik bungsunya itu agar ia mau membukakan pintu dan bercerita tentang apa yang telah terjadi, namun semua usaha Mbak Gita sia sia, semua ucapan dan rayuan Mbak Gita untuk Aina tidak membuahkan hasil karena Aina masih bersikukuh untuk mengurung diri di dalam kamar.


"Dek kamu nggak kasihan sama Vallen, Putri kecil mu?"


Seketika tidak terdengar suara apapun dari dalam kamar Aina. Mbak Gita tersenyum dan berharap Aina akan tersadar dari fikiran fikiran buruk yang memenuhi otaknya.


"Dek?" Panggil Mbak Gita lagi.


Masih sama, Aina tidak menyahuti panggilan dari Mbak Gita. Namun selang berapa detik terdengar kunci pintu di putar dari dalam.


Ceklek.. ceklekk..


Krekkkkk..


Pintu kamar terbuka lebar, dan dengan jelas Mbak Gita melihat kondisi Adiknya saat ini benar benar memprihatinkan.


Selain wajahnya yang sembab akibat kebanyakkan nangis, rambut nya juga acak acakkan, dan di jempol kakinya terlihat bekas luka  yang darah nya sudah mengering.


Jadi darah yang di ruang tamu tadi adalah darah Aina..


Aina keluar dan mendekati Mbak Gita, melihat kondisi Aina yang cukup memprihatinkan Mbak Gita langsung memeluk erat Adik bungsunya ini.


"Kamu kenapa hemm?" Tanya Mbak Gita


Aina tidak menjawab, namun di detik berikutnya Aina tak kuasa menahan air matanya, hinggaa akhirnya ia menangis di pelukkan Mbak Gita.


Mbak Gita pun tidak bertanya lagi, yang  ia lakukan hanya menenangkan hati dan fikiran Aina dulu, setelah itu barulah ia bisa mendapatkan jawaban atas apa yang telah terjadi.


Terus, mereka berpelukkan hampir sekitar lima belas menit. Dan  Kaki Mbak Gita telah meronta ronta karena uratnya merasa sangat lelah kelamaan berdiri.


Tangis Aina sudah mereda, ia pun melepaskan pelukkan nya berkata,


"Aku ingin Mati saja Mbak."


Bersambung..