My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 24 : Kejadian Pagi ini



POV Author


*******


Tanpa mengulur waktu, Reyhand segera kekamarnya untuk berganti pakaian, dan menyisir rambutnya yang sedikit agak kusut.


Tanpa acara mandi, ia langsung menyemprotkan parvum Axe ke tubuhnya. Dengan gayanya yang super kece, ia menyambar kunci mobil dan ponsel miliknya yang berada di atas meja.


Lalu ia keluar dari kamar menuju garasi di mana mobilnya terparkir.


Namun saat akan menyalakan mobil, ia di kagetkan dengan kehadiran Bi Surti yang tiba tiba muncul di sebelab pintu mobil.


"Den" Panggil bi Surti.


"Ya ampun bi! Kayak set*n aja tiba tiba nongol, bikin kaget saya." Gerutu Reyhand.


Bi Surti pun hanya senyum senyum mendengar ocehan Putranya ini.


"Maaf Den, bibi cuma mau mengingatkan, kalo memang wanita itu hamil anaknya Den Reyhand, bibi minta Den Reyhand jangan berkecil hati karena Den Reyhand tidak menyukai ibunya, tetapi anak itu tidak berdosa dan tidak tahu apa apa." Ungkap Bi Surti.


Bukan apa, ia hanya teringat tentang masalalu nya dulu, dimana saat itu ia pun hamil di luar nikah. Bedanya, kehamilannya terjadi karena sebuah rencana bejat majikannya sendiri.


Miris sekali bukan?


Mendengar ucapan yang terlontar dari Bi Surti, hati Reyhand menjadi gamang. Tadinya ia telah yakin bahwa Claraa bukan hamil anak nya, namun sekarang hati dan perasaan Reyhand terasa di aduk aduk.


Bingung, itulah yang ia rasakan.


Melihat tidak ada respon dari Reyhand, bi Surti pun memanggil Reyhand agar buyar dari lamunannya.


"Den?" Lirih bi Surti.


"Do'a kan yang terbaik untuk saya bi. Saya pergi dulu." Ujar Reyhand.


Ia pun segera menyalakan mobil nya dan menancap gas dengan kecepatan sedang, meninggalkan bi Surti yang masih diam mematung di tempat.


"Ya Allah Gusti, berikanlah yang terbaik untuk Putra ku, jika memang wanita itu wanita baik baik, maka jodohkan lah mereka. Tetapi jika wanita itu sama seperti wanita yang telah merebut kebahagiaan sahabatku, maka jauhkan lah. Aaminn." Lirih Bi Surti.


Ia berdoa sembari menatap kepergian mobil Putranya yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya.


Tanpa terasa air matanya menetes jatuh tanpa permisi dahulu. Ia hanya merasa sedih karena ia tidak bisa memeluk putranya di saat keadaannya benar benar rapuh seperti sekarang.


Namun ia sangat bersyukur, karena Tuhan telah memberinya kesempatan untuk memberi solusi atas masalah yang sedang Reyhand hadapi saat ini.


Bi Surti pun kembali masuk ke Apartemen, dan menutup pintu.


Namun, belum sampai lima menit seseorang datang dan menekan tombol bel tanpa henti, seperti orang kesurupan saja.


"Siapa yang datang dan menekan bel seperti itu, di kira saya masih tidur apa?!" Gerutu Bi Surti, ia pun berbalik arah dan membuka pintu apartemennya.


Krekkkk


Saat pintu telah terbuka, terlihat seorang wanita berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh kebencian.


Kedua mata mereka beradu pandang untuk beberapa saat.


Deg!


Perasaan Bi Surti menjadi tidak enak, darah di dalam tubuhnya seolah mendidih, ada gejolak rasa dalam diri Bi Surti seolah ingin menampar wanita yang ada di hadapannya ini.


"Mana suamiku!" Ungkap wanita itu penuh penekanan.


"Kamu pikir disini tempat penampungan suami orang?" Ujar Bi Surti.


"Saya tanya sekali lagi, dimana suamiku!" Bentaknya,


Bi Surti pun tidak gentar mendengar suara keras dari wanita paruh baya ini, ia hanya tersenyum lalu berkata,


"Cari saja di rumah wanita lain, mungkin dia ada disana!"


Wanita itu pun menjadi geram dengan jawaban yang Bi Surti lontarkan dari mulutnya.


"Kamu!"


Wanita paruh baya itu mengangkat tangannya seolah akan menampar Bi Surti yang ada di hadapannya ini, namun sayang semua itu tidaklah berjalan dengan mulus karena Bi Surti, lebih cepat mengerti tentang situasi dan kondisi.


"Ratna Cukup!" Bentak Bi Surti.


Ternyata wanita  paruh baya ini adalah Ratna, alias Mamahnya Dokter Zainal. Itu artinya dia mencari suaminya yang sedang asyik bercinta bersama Claraa.


"Kamu salah tempat jika mencari suamimu disini! Kamu pikir saya suka menggoda suami mu sehingga ia lebih betah tinggal disini? Cari di tempat lain dan tinggalkan tempat ini sekarang juga!" Ungkap Bi Surti.


Tanpa menunggu lama Bi Surti segera menutup pintu lalu menguncinya. Ia merasa sangat jengah berhadapan dengan wanita licik seperti Ratna, Mamahnya Dokter Zainal.


"Wanita sial! Buka pintunya dimana suamiku! keluarkan suamiku!" Teriak Ratna, mamahnya Dokter Zainal.


Ia menggedor gedor pintu, namun sayang tidak ada respon dari Bi Surti. Ia pun akhirnya pergi meninggalkan Apartemen Reyhand dengan perasaan kesal, marah, benci, semua bercampur menjadi satu.


Sedangkan Bi Surti, ia terduduk lemas di balik pintu. Air matanya deras mengalir kala ia mengingat kejadian dua tahun lalu. Kejadian dimana saat ia tidak bisa menyelamatkan nyawa sahabatnya, yaitu Sekar.


Sekar yang Reyhand ketahui adalah ibu kandungnya.


Dan saat ini, wanita yang membunuh sekar, ada di hadapannya, berteriak, marah, menuduh, bahwa suaminya ada disini di Apartemen Reyhand.


"Dasar wanita tidak tahu malu! Sudah membunuh sahabatku kini ia malah menuduh ku menyimpan suaminya! Gerutu bi Surti kesal di sela sela tangisnya.


"Jika suamimu pergi bersama wanita lain, itu artinya kamu sedang memetik hasil dari tindakanmu sendiri Ratna. Rasakanlah bagaimana sakitnya yang Sekar rasakan!" Ujar bi Surti,


ia pun menghapus air matanya dan tersenyum misterius.


Sedangkan Reyhand, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, karena jalanan raya sudah lumayan padat akibat banyaknya kendaraan yang akan berangkat kerja.


"Padahal ini bukan ibu kota Jakarta, disini hanya kota kecil, Kota Palembang yang telah banyak menyimpan kenangan untukku. Kenangan yang sulit untuk aku lupakan." Gumam Reyhand sendiri.


Ia pun fokus memperhatikan jalanan yang ada di hadapannya, namun sesaat pandangannya beralih ke arah samping,  ke arah pengendara motor yang berjalan dengan pelan, juga membawa beban yang begitu banyak.


Lelaki tua renta, namun ia harus berjuang mencari nafkah demi keluarganya.


Reyhand pun menjadi iba melihatnya. Seketika ia lupakan masalahnya dengan Claraa, ia berniat akan membantu pengendara motor yang di kendarai oleh lelaki tua renta ini.


Reyhand mengurangi kecepatannya untuk mengimbangi laju jalan bapak tua itu.


"Pak mau kemana?" Tanya Reyhand ramah.


"Saya mau ke Lorong karetan nak." Ujarnya, ia menoleh ke arah Reyhand sebentar lalu tersenyum dan kembali fokus ke jalanan.


"Lorong karetan? Bukankah itu lorong dimana kontrakkan Clara berada?" Gumam Reyhand seorang diri.


"Wah kebetulan sekali pak, saya juga mau ke lorong karetan."


Bersambung..