
*POV Author*
**************
"Bisa diam nggak sih!!"
Nafas Aina semakin lama semakin ngos ngossan, emosinya bahakan tidak dapat ia kontrol lagi. Sedangkan putri nya, si Vallenia terus menangis hingga suara nya tidak terdengar lagi.
Aina yang melihat putrinya menangis tanpa suara, sedikit pun tidak ada rasa iba, ia hanya menatap nyalang ke arah Vallenia seolah ia begitu benci terhadap Putrinya yang belum mengetahui dan mengerti apa apa tentang masalah yang sedang di hadapi oleh orang tua nya.
Seperti kesambet setan, Aina muak melihat Putrinya ia akan melakukan sesuatu pada Vallenia namun Alhamdulillah ibu segera masuk ke kamar dan memergoki Aina yang akan membanting Putrinya.
"Aina stop!!! Apa kau sudah gila ha, kau sungguh tidak waras!! Sadarlah dia Putri mu, mau kau apakan dia, semua yang terjadi bukan keinginan nya, sadar lah Aina bahkan umur putri mu belum ada empat puluh hari!!!" Ucap Ibu sambil merebut Vallenia dari gendongan Aina.
Aina yang mendengar ucapan ibu, ia seolah tidak sadar, seperti orang linglung, ia langsung terduduk di lantai dan kedua tangannya menjambakki rambut nya sekuat tenaga.
"Sayang nak sayang.." Ibu hanya bisa mengelus lembut pipi cucu nya sambil mengayunnya pelan.
"Ya Tuhan Aina kamu kenapa? kalo ada apa apa itu cerita sama ibu jangan Vallen yang jadi sasaran! kamu tahu apa yang kamu lakukan tadi bisa bisa membunuh anak mu sendiri!" Ucap Ibu sambil nafas nya ngos ngossan karena menahan emosi, amarah, dan tangis yang telah memenuhi dada nya sehingga menjadi sesak.
Aina hanya menangis sambil memeluk lutut nya, ia tidak menjawab apalagi menggubris apa yang ibu nya katakan.
Ibu pun keluar dari kamar dan meninggalkan Aina sendirian. Setelah menutup pintu barulah tangis ibu pecah sambil memeluk cucu nya begitu erat.
"Mas kamu dimana, tahukah kamu bahwa aku bisa gila jauh dari kamu!"
"Aku merindukanmu mas, aku merindukan perhatianmu, canda tawa mu, segala yang ada pada diri mu mas! Dan aku tidak perduli jika Sofia, istri pertama mu itu masih menjadi istri sah mu, kamu belum pernah men talaq nya tidak masalah bagi ku, toh kamu bilang kamu cinta aku mas."
Aina terus berbicara sendiri seolah ia melihat Sanusi ada di hadapannya, namun pada akhir nya ia pun semakin kesal kala tidak ada yang menyahuti ucapannya.
"MASS KAMU DENGERIN AKU NGOMONG NGGAK SIH?!"
"Akhhhhhhhhhhhh sial "
"Bi.. bi Surti." Panggil Reyhand.
"Iyaa Den, ada apa?" Bi Surti tergopoh gopoh lari kedepan menghampiri Reyhand.
"Tadi papah kesini?" Tanya Reyhand, suara nya terdengar dingin dan wajah nya terlihat angkuh, tidak ada aura kedamaian.
"I-Iya Den." Jawab Bi Surti gugup.
"Mau apa dia?"
"Anu Den, Tuan bilang ia hanya ingin bertemu dengan Den Reyhand, ada yang ingin ia bicarakan."
"Apa?"
"Bibi tidak tahu Den, Tuan tidak memberitahu Bibi. Tadi Tuan berpesan jika Den Reyhand tidak sibuk, Den Reyhand diminta untuk menghubunginya."
"Baiklah, terimakasih Bi." Reyhand langsung masuk ke kamarnya tanpa bertanya apa apa lagi.
"Iya Den."
Sedangkan Bi Surti, ia hanya menunduk tanda hormat ketika Reyhand melewatinya.
Setidaknya Ia dan anaknya tidak hidup kekurangan dan ada tempat tinggal. Bi Surti tidak pernah mempermasalahkan tentang Majikannya yang todak bertanggung jawab, awal nya Bi Surti sangat frustasi dan hampir gila namun ia di semangati oleh Sarah, sahabat nya.
Sarah begitu baik pada Bi Surti, walaupun ia mengetahui bahwa Bi Surti bisa hamil itu karena ulah bejat Suaminya, namun ternyata ada udang di balik batu. Iyaa pada akhirnya Sarah merebut Reyhand dari Bi Surti.
"Lama tidak bertemu, dia semakin gagah saja walaupun umur nya sudah tidak muda lagi." Ucap Bi Surti bergumam sendiri.
Ia begitu mengagumi Majikannya itu, Suami sahabatnya. Dulu Bi Surti sempat berharap ia akan bisa menggantikan Sahabatnya yaitu Sarah menjadi istri satu satunya, Namun Bi Surti tidak tahu bahwa dirinya bukanlah tipe wanita idaman lelaki hidung belang.
"Setelah kepergian Sarah kenapa kamu tidak memilih untuk hidup bersamaku?? Padahal kita telah memiliki Reyhand." Racau Bi Surti, sambil tangannya bergerak memutar mengelap piring yang baru ia cuci.
"Astaghfirrullah.." ucap Bi Surti, seakan ia sadar dari khayalan tingginya.
Sedangkan Reyhand yang berada di kamar sedang berperang dengan hati dan perasaan nya. Ia masih marah dengan Papa nya itu, padahal kejadian itu sudah dua tahun berlalu, namun Reyhand belum bisa untuk bertegur sapa dan memaafkan kesalahan yang telah di lakukan oleh papanya.
menurut Reyhand yang di lakukan papa nya adalah kesalahan yang sangat fatal, namun berbanding terbalik dengan papah nya, yang menganggap itu adalah hal sepele.
"Mana mungkin aku bisa memaafkan lelaki bajingan itu!" ucap Reyhand, matanya menatap lurus ke arah bingkai yang tertrmpel di dinding, bingkai yang berisi foto dirinya, Papah nya dan juga Almarhumah Mama nya.
"Apa pun yang akan di katakan lelaki tua itu aku tidak perduli, apa pun urusan nya dengan ku, aku tidak akan ikut dengannya, jika dia ingin meminta maaf kenapa baru sekarang? Setelah kepergian Mamah dia bahkan tidak pernah menemui ku!"
Reyhand masih mentap bingkai foto itu, namun dengan tatapan yang tidak biasa. Sorot matanya menggambar kan kebencian, amarah, semua bersatu menjadi satu.
Fikirannya kembali teringat pada kejadian dua tahun lalu.
Flasback on~
Dimana saat itu Reyhand pulang kerumah pada pukul sepuluh malam, saat ia membuka pintu ia menemukan Mamah nya tergeletak di lantai, namun yang membuat nya semakin shock saat ia menyentuh pergelangan tangan, denyut nadi Mamah nya sudah tidak bertedak lagi, dan yang lebih parahnya, di kamar atas letaknya di kamar Mamah dan Papah nya, Reyhand mendengar seperti suara yang begitu horor, suara yang belum pernah Reyhand dengar seumur hidupnya.
Rasa penasaran Reyhand pun menyelimuti hatinya hingga kaki nya tergerak untuk menaiki anak tangga satu persatu, semakin banyak anak tangga yang ia naikki, suara itu semakin jelas terdengar di telinga Reyhand.
Hatinya dag dig dug, pemandangan apa yang akan ia dapatkan jika ia berani membuka pintu kamar Mamah nya, namun setelah berfikir lima menit akhirnya Reyhand memutuskan untuk membuka pintu, namun sayang ternyata pintu itu di kunci.
Reyhand pun menempelkan telinganya di daun pintu, dan terdengar jelas bahwa suara horor itu adalah suara Papah nya dan wanita lain.
"BIADAP KALIAN!!"
Flasback Off~
Bersambung..