My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 35 : Bingung



POV Author


**********


Bi Surti kembali tidak bisa mengontrol emosinya, lagi lagi ia mengamuk dan menghajar Pak Prabu yang hanya berdiam diri. Tidak ada niatan untuk menghindar apalagi membalas atas pukulan pukulan yang di berikan oleh Bi Surti.


"Pukul aku Surti, pukul! Pukul sekuat tenaga mu bila itu bisa membuat Reyhand kembali padamu, ayo pukul aku!!" Ujar Pak Prabu.


Tanpa aba aba ia menangkap ke dua tangan  Bii Surti yang sedang memukul.mukul dada nya, lalu ia memeluk erat tubuh mungil Bi Surti.


Bi Surti pun yang sudah kehabisan tenaga seolah menerima saja Pelukkan yang di berikan oleh Pak Prabu. Rasa nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya, juga perasaannya seketika menghangat kala jemari Pak Prabu mengelus lembut rambutnya.


"Kau membunuh Putraku, Prabu! Kau membunuhnya!" Lirih Bi Surti, suaranya pun mengecil juga serak, tenggorokkannya terasa perih.


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Aku bahkan sangat menyesalinya. Kau tahu aku lebih merasa kehilangan Reyhand, dari pada Sarah."


"Kenapa bawa bawa Sarah segala? Dia sudah tenang di sana!" Ujar Bi Surti, ia melepaskan tubuhnya dari pelukkan Pak Prabu.


"Sudahlah tidak usah berdebat hal yang tidak penting. Kasihan Reyhand jika tidak segera di kebumikan."


"Enteng sekali mulut mu bicara!"


PLAK!


Satu tamparan baru mendarat di pipi Pak Prabu.


"Sus, tolong bantu saya untuk tenangkan Ibu ini, saya mau mengurus kepulangan Jenazah Putra saya." Ucap Pak Prabu.


Ia tidak merasakan lagi betapa perih dan sakit di sekujur tubuhnya. Yang ia inginkan sekarang Jenazah Reyhand segera di kebumikan.


"Baik pak." Jawab Suster Karmila.


"Ibu mari ikut saya, sepertinya saat ini Ibu harus ke kantin agar tubuh ibu tidak lemah seperti ini."


"Saya tidak lapar Sus, biarkan saya ikut bersama lelaki itu."


Pak Prabu berfikir sejenak, jika Bi Surti ikut pulang, bagaimana dengan Anita, dia pasti akan marah besar. Tetapi saat ini yang terpenting adalah Almarhum Putranya, kemarahan Istrinya tidak begitu penting.


"Baiklah, kamu  kamu ikut denganku."


Wajah Bi Surti tetap datar, tidak tersenyum juga tidak menyahuti ucapan Pak Prabuu. Tetapi ia mengikuti kemana langkah Pak Prabu juga para Perawat yang membawa Jenazah Reyhand menuju ke parkiran, dimana mobil Ambulance berada.


Telah di tentukan bahwa Reyhand akan di bawa ke rumah Duka tepatnya di Kediaman Pak Prabu.


Sedangkan di kediaman Bapak Basuki, Mbak Gita kini tengah bersiap siap.


Ia sedang menata rambutnya menjadi sedemikian rupa agar terlihat Rapih, juga wajah Ayunya ia poles dengan make up yang tidak terlalu tebal. Tipis tipis saja namun tetap kelihatan Naturalnya.


Dengan Dress berwarna Hijau Dongker, di padukan dengan sepatu balet, kulitnya yang putih bersih menambah kesan elegant pada diri Mbak Gita.


"Sempurna." Gumamnya,


Terakhir, ia tambahkan pita kecil berwarna pink di rambutnya.


"Selesai." Ujarnya, Mbak Gita tersenyum memandang pantulan wajahnya di cermin.


Hari ini ia ada janji bertemu dengan Calon Suaminya. Dokter Zainal, mereka akan bertemu dan jika Mbak Gita mau sekalian mengunjungi orang tua Dokter Zainal.


Dering ponselnya yang tiba tiba berbunyi, menyadarkan Mbak Gita dari khayalan nya.


Kringgggg!


"Astaga, bikin kaget saja." Gerutu Mbak Gita sembari tangannya mengelus dadanya.


Lalu ia raih Ponselnya yang berada di atas meja hias di hadapan Mbak Gita. Tertera nama Kekasihnya di layar Ponsel. Tanpa menunggu lama, Mbak Gita langsung saja menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


"Assalamualaikum, Mas."  Sapa Mbak Gita ketika panggilan telah tersambung.


"Waalaikumsallam..Kamu udah siap belum? Ini Mas bentar lagi sampai."


"Udah Mas, ni aku lagi nungguin kamu kok."


"Iya kah? Pasti kamu cantik banget hari ini."


"Belum juga lihat Mas, sudah bilang Cantik aja."


"Kalo gitu panggilannya Mas alihin ke Vidio Call aja ya?"


"Ya ampun Mas, bentar lagi juga kamu nyampe kok."


"Bentar aja Sayang. Please.."


"Nggak kok, kalo kena tilang Polisinya tinggal Mas suntik aja, kan beres."


"Beres beres. Kamu pikir Pak Polisi Nilang Kamu itu gegara dia sakit? Bisanya main suntik suntik aja."


"Iyalah. Kan Mas Dokter. Apa jangan jangan Kamu mau Mas Suntik juga ya?"


"Astaga orang ini, malah ngelantur kemana mana omongannya." Gerutu Mbak Gita. "Buruan Mas, keburu luntur bedak Aku nungguin Kamu!"


"Hahaha.. Iya Sayang sabar ya."


Tin! Tin!


Terdengar suara klakson Mobil di halaman rumah Mbak Gita. Ia pun segera berlari ke arah jendela dan mengintip siapakah yang datang.


"Dasar Kamu Mas!"


Tut.. Tut.. Tut..


Mbak Gita langsung mematikan Panggilan yang sedang berlangsung itu tanpa menunggu jawaban dari Calon Suaminya.


Mbak Gita kembali ke Meja Riasnya, ia menyemprotkan sedikit Parfum ke tubuhnya agar menambah kesan wangi, dan tidak busuk masem.


"Mau kemana Mbak?" Tegur Aina.


Saat ini ia sedang menyusui Putrinya, Vallenia di ruang keluarga.


"Ada janji sebentar.."


"Janji? Sama siapa?"


"Siapa lagi kalo bukan Dokter Zainal."


"Ohhh.."


"Mbak tinggal dulu ya."


Aina hanya menganggukkan kepalanya. Ia menatap kepergian Mbak Gita dengan tatapan sendu. Hingga Mbak Gita menghilang dari pandangannya, mata Aina masih menatap ke arah Pintu. Namun tatapan itu bukanlah tatapan bermakna melainkan hanyalah tatapan kosong.


Perasaan sedih sering menyelimuti hatinya, apalagi ini sudah hampir sebulan Suaminya sama sekali tidak ada kabar juga tidak mengunjunginya.


Terakhir mereka bertemu saat cekcok di rumah ini. Jika di ingat ingat sakit, namun yang namanya Cinta pertama itu sulit untuk di lupakan.


"Aku harus bangkit!" Aina menyemangati dirinya sendiri, lalu ia menatap Putri kecilnya yang sedang menyusu di pangkuannya.


"kasihan Kamu Nak. Maafin Bunda ya Sayang." Lirih Aina, ia mengelus pipi Gembul Putri kecilnya ini dengan penuh kasih sayang.


Pikirannya melayang memikirkan hal hal selanjutnya yang harus ia lakukan. Tidak mungkin ia terus seperti ini dan selalu mengandalkan kedua orang tuanya juga Kakak perempuannya.


"Bunda harus kerja, iya Bunda harus kerja Sayang. Kasihan Kakek jika terus terusan menanggung beban hidup Kita." Ungkap Aina..


Ia sudah membulatkan tekatnya, ia akan merantau ke Jakarta untuk bekerja. Karena di Jakarta ia akan mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari pada di sini, di Kota Palembang.


Juga ia bisa melupakan Suaminya, Cinta Pertamanya yang entah di mana keberadaannya.


********


"Kita mau kemana Mas?" Tanya Mbak Gita, kini mereka telah berada di dalam Mobil.


"Kerumah Mas aja, Mamah mau bicara sama kamu Sayang.."


"Soal apa?"


"Tentang kejadian waktu itu."


"Ohhh.."


Mbak Gita hanya ber oh ria saja, karena sebenarnya ia masih menyimpan rasa sakit yang begitu mendalam terhadap Calon Ibu Mertuanya itu.


Namun demi Calon Suaminya, semua rasa sakit hati itu ia pendam sedalam dalamnya. Mungkin suatu saat nanti akan menghilang dengan sendirinya.


Tidak terasa mobil telah melaju selama setengah jam, dan kini mereka telah sampai di kediaman Orang Tuanya Dokter Zainal.


Tetapi saat akan memasukki halaman rumah, mereka berdua di bikin melongo dengan adanya bendera kuning yang bambunya tertancap jelas di depan pagar Rumah Orang Tua Dokter Zainal.


"Mas, siapa yang meninggal?"


Bersambung..