My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 34 : Histeris



POV Author


************


"Apa! Anak saya meninggal? Tidak! Tidak! Kalian pasti bercanda kan!"


"Maaf ibu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi Tuhan berkehedak lain.  Putra Ibu telah kehabisan banyak darah."


"Kenapa tidak bilang? Darah saya cocok dengan darah anak saya!"


"Ibu dari tadi kemana saja? Assisten saya keliling mencari ibu."


"Apakah di rumah sakit ini tidak memilik stok darah? Bukankah ini rumah sakit besar? Mustahil sekali persiapan darah saja kalian tidak punya!" Bentak Bi Surti.


Hatinya benar benar sakit mendengar kabar buruk ini. Ia tidak bisa bicara lagi, karena dadanya terasa begitu sesak mengetahui kenyataan bahwa Putra satu satunya telah menghembuskan nafas terakhirnya hari ini.


Hari dimana kebenaran itu terungkap, namun semua harus berakhir dengan begitu Tragis.


"Secepat ini kah? Ya Allah Gusti, baru aku merasakan memanggil diriku sendiri dengan sebutan ibu, setelah bertahun tahun lamanya aku menunggu. Tapi kenapa, kenapa secepat ini semua harus berakhir, kenapa!!" Teriak Bi Surti sembari menjambak rambutnya kasar.


Ia terduduk di depan pintu UGD sembari meraung, menangis meratapi nasib Dirinya, dan Putranya yang begitu malang.


"Ini pasti Mimpi! Iya mimpi, semua ini hanya mimpi. Ayoo bangun!" Bi Surti mencubit pipinya, lalu ia beranjak dari duduknya dan menerobos masuk ke ruangan UGD.


Suster Karmila yang sedang melepaskan infus dan alat alat lainnya yang menempel di tubuh Reyhand pun menjadi terkejut kala Bi Surti menerobos masuk dan langsung memeluk Tubuh Reyhand yang sudah tidak bernyawa lagi.


"Nak,  bangun nak Ibu mohon! Jangan tinggalkan Ibu sendirian. Ibu bertahan hanya untuk mu, kenapa kamu tinggalkan Ibu, kenapa Nak, kenapa!"  Racau Bi Surti, ia terus memeluk Tubuh Reyhand dengan begitu erat.


"Bu.." Panggil Suster Karmila.


Ia menatap Bi Surti dengan tatapan yang entah apa artinya, tetapi yang jelas di dalam lubuk hati yang terdalam, ia begitu ikut merasakan kesedihan yang Bi Surti rasakan.


Jika bukan karena kecerobohan Dokter Mila, sudah pasti saat ini Reyhand masih dalam keadaan kritis, bukan sudah tidak bernyawa.


Suster Karmila berjalan mendekat ke arah Bi Surti, ia mencoba untuk menenangkan Bi Surti. Setidaknya ia bisa menebus kesalahannya dengan cara begini.


"Bu, maaf. Tetapi Ibu harus bisa mengikhlaskan kepergian Putra Ibu, karena semua ini adalah, sudah menjadi bagian dari Takdir yang maha kuasa. Saya paham, pasti sulit bagi Ibu, namun Ibu harus tahu bahwa jika Ibu terus menangisi kepergian Putra Ibu, maka ia tidak akan pergi dengan tenang Bu, ia akan menjadi gentayangan karena Ibu tidak bisa mengikhlaskan kepergiannya. Dia akan sedih melihat Ibu yang terus menangisi kepergiannya." Ungkap Suster Karmila, sembari tangannya mengelus lembut punggung Bi Surti yang terasa bergetar karena tangisnya.


Mendengar itu, sesaat tangis Bi Surti terhenti. Entah kenapa hati Bi Surti sangat sulit untuk menerima Nasihat dari bocah kemarin sore yang sok tahu ini.


Bi Surti pun melepaskan pelukkannya pada tubuh Reyhand, ia berdiri tegap dan menghapus air matanya.


Suster Karmila merasa Bi Surti mendengarkan ucapannya, namun ternyata dugaannya berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan.


Bi Surti menatap Suster Karmila dengan pandangan yang begitu tajam seolah ingin memakan hidup hidup makhluk yang ada di hadapannya ini.


"Kamu tahu apa yang saya rasakan?!" Ujar Bi Surti, dengan penuh penekanan.


Suster Karmila mundur satu langkah kebelakang, ia merasa nyalinya menciut melihat sosok Bi Surti saat ini yang begitu garang.


"Saya baru saja merasakan menjadi seorang ibu yang utuh namun disaat dia mengetahui bahwa saya adalah ibu kandungnya, kenapa malah kejadian tragis ini terjadi, kenapa? Bahkan sampai merenggut nyawanya!"  Ungkap Bi Surti.


Tidak ada lagi air mata yang keluar, bukan karena tidak menangis tetapi mungkin saja air matanya telah habis terkuras.


Setelah mengeluarkan segala uneg unegnya ia terduduk lemas di hadapan Suster Karmila yang perasaannya seperti di cambuk, ia ikut merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Bi Surti.


"Ibu.." Suster Karmila berjongkok, lalu memeluk Bi Surti begitu erat, ia ingin menenangkan perasaannya juga perasaan Bi Surti.


Bi Surti saat ini yang begitu rapuh, ia langsung menyambut hangat pelukkan dari Suster Karmila.


Mereka berdua pun berpelukkan seperti teletubis.


Tanpa mereka sadari, Dokter Mila, dan Pak Prabu memperhatikan mereka dari balik pintu UGD.


Pak Prabu juga begitu menyesal atas kejadian pagi ini, jika bukan ulah dirinya, Reyhand saat ini pasti akan baik baik saja.


Setelah memperhatikan Dua insan beda generasi yang sedang berpelukkan itu, kini pandangan Pak Prabu beralih melihat ke sosok yang ada di atas ranjang.


Ia memperhatikan tubuh Reyhand yang sudah tidak bernyawa hanya daari kejahuan. Ia ingin masuk dan mememluk Reyhand, Putra kandungnya untuk yang terakhir kali, tetapi ia urungkan niatnya itu. Karena ada Bi Surti di dalam ruangan yang sudah pasti akan mengamuk jika melihat dirinya.


"Rey, maafkan Papah nak. Andai waktu bisa terulang kembali Papah tidak akan pernah menyia nyiakan dirimu Nak, maafkan Papah. Papah sungguh menyesal, Papah,__" Lirih Pak Prabu di sela tangisnya.


Ia menangis sesegukkan melihat pihak rumah sakit telah membersihkan Tubuh Reyhand dari alat alat medis yang menempel.


Telah selesai, kini saatnya menutup seluruh tubuh Reyhand dengan kain putih.


Bi Surti maupun Pak Prabu sama sama menangis histeris kala tubuh Reyhand telah tertutup sempurna oleh kain putih.


Sekarang Jenazah Reyhand akan di pulangkan ke rumah duka.


Namun Pihak Rumah Sakit bingung, kemana akan mengantarkan Jenazah Reyhand juga dimana Rumah Dukanya.


"Kemana?"


"Saya juga tidak tahu, identitas keluarganya tidak ada."


"Lah, ibu yang nangis nangis itu pasti keluarganya."


"Yaudah, coba aja tanya."


"Kamu aja yang tanya, saya paling nggak bisa melihat perempuan menangis."


"Alah, lebay kamu cok! Kemaren aja ketahuan selingkuh, terus cewe kamu nangis nangis di hadapan kamu, kamunya biasa aja tuh."


"Ya beda itu mah, nangis karena di selingkuhin sama nangis kehilangan itu beda bro, kalo nangis karena kehilangan raut wajah dan aurah kesedihannya itu terlihat jelas. Nah kalo nangis di selingkuhin,-----"


"Banyak bacot lu!"


Perawat lelaki itu pun meninggalkan temannya dan menghampiri Bi Surti yang duduk di pojok Ruangan.


"Ibu, maaf apakah beliau keluarga ibu?" Perawat itu bertanya dengan sangat hati hati karena takut membuat ibu paruh baya yang sedang terduduk lemas ini menjadi semakin sedih.


"Dia Putraku, Putra kandungku. Kami telah hidup bersama selama bertahun tahun lamanya tetapi dia tidak mengetahui jika saya adalah Ibu kandungnya, saya yang telah mengandungnya selama sembilan bulan sepuluh hari, dan saya juga yang telah melahirkannya, tetapi saat dia mengetahui kenyataan yang sebenarnya, LELAKI BANGSAT ITU MALAH MEMBUNUH PUTRA SAYA!!"


Bersambung..