
POV Author
*********
Mendengar pintu di ketuk, Mbak Gita segera berlari ke arah pintu dan menduga bahwa yang datang adalah Reyhand, Sahabatnya yang telah pergi untuk selama lamanya.
"Nak!" Panggil ibu,
namun Mbak Gita tidak menggubris Panggilan Ibu, ia langsung membuka Pintu dan,
"Rey!"
"Rey?"
Mbak Gita diam seribu bahasa ketika mengetahui siapa yang datang kerumahnya, perasaannya Kecewa karena yang datang bukanlah Reyhand yang telah Meninggal, tetapi,
"Segitu pentingnya Reyhand di hidupmu? Sakit Ta sakit hati ini rasanya. Aku tahu mungkin kamu belum bisa menerima kepergiannya tetapi cobalah untuk mulai menerima kenyataan bahwa Reyhand sudah tidak ada, dia sudah meninggal, dia sudah pergi untuk selama lamanya. Bukankah kamu lihat Tubuhnya di kubur dan di timbun oleh tanah? Bukankah kamu sendiri yang mengantar Reyhand ke peristirahatannya yang terakhir? Jika kamu terus begini, kasihan dia. Jiwa nya tidak akan tenang."
Seketika Mbak Gita memeluk Dokter Zainal, yang awalnya ia kira adalah Reyhand.
Mendengar yang di ucapkan oleh Dokter Zainal tentang Reyhand, memang betul adanya. Juga Nasihat Ibu tadi, itu juga betul. Membuat hati Mbak Gita menjadi luluh.
Ia seolah baru tersadar dari alam tidurnya. Ia mengucek matanya dan memeluk Dokter Zainal begitu erat.
"Maaf kan aku Mas, aku,-----"
Belum selesai Mbak Gita bicara, sudah di potong oleh Dokter Zainal.
"Kamu tidak salah, hanya saja rasa kehilangan kamu begitu besar." Ujar Dokter Zainal.
Ia pun melepaskan pelukkannya.
Dan meraih sesuatu dari dalam saku celananya yang sebelumnya telah ia simpan.
Tanpa menunggu lagi, ia langsung mengutarakan isi hati juga keinginannya di hadapan kedua orang tua Mbak Gita, juga di hadapan Aina yang sedang memangku Putrinya, Vallenia.
"Izinkan Aku mengisi rasa kehilangan mu itu dengan rasa cinta dan rasa sayang yang selalu akan aku curahkan hanya untuk mu, Gita.."
Degh!
Perasaan Mbak Gita menjadi campur aduk, antara bahagia namun ia juga malu karena ia sadar Dokter Zainal menyatakan cinta di hadapan kedua orang tua nya.
"Wouw, sungguh kamu lelaki sejati, Kak." Ungkap Aina dari kejahuan. Ia tersenyum bahagia melihat Kakak Pertamanya itu di lamar oleh Kekasihnya setelah sekian lama mereka menjalin hubungan.
Dokter Zainal hanya mengacungkan jempol, seraya tersenyum menanggapi Ucapan Calon Adik Iparnya itu.
"Bagaimana Sayang? Will you married me? Maukah kamu menikah dengan ku?"
Aaaa rasanya Mbak Gita ingin terbang melayang layang ke angkasa mendengar ungkapan Cinta yang begitu romantis, selama perjalanan cintanya baru ini ia di perlakukan denga begitu romantis.
"Udah terima aja, nggak usah pake acara mikir mikir segala." Ujar Ayah, seolah ia mendukung Putrinya di lamar oleh Dokter Zainal.
Perasaan sedih, rasa kehilangan, galau, bad mood, kini semua telah terganti menjadi rasa bahagia. Mbak Gita dengan senang hati menerima Lamaran dari Dokter Zainal.
Karena pada dasarnya, rasa cinta juga rasa sayangnya untuk Dokter Zainal perlahan sudah mulai tumbuh dengan seiring berjalannya waktu.
Kalau soal sikap ibu mertuanya itu, itu bisa di pikir nanti.
Pikir keri wae.
"Yes, i will." Ujar Mbak Gita, sembarii tersenyum.
Dokter Zainal pun mengambil Cincin yang telah lama ia persiapkan untuk momen bahagia ini, lalu ia sematkan di Jari Manis Mbak Gita.
"Alhamdulillah.."
Ujar Ayah dan Ibu.
Walaupun Dokter Zainal hanya sendirian tetapi Ayah sangat menghargai tindakkannya yang begitu berani, melamar Mbak Gita seorang diri.
Dokter Zainal dan Mbak Gita menghampiri Ayah dan Ibu yang sedang duduk di ruang keluarga menonton televisi.
Bukan,
tetapi televisilah yang menonton Ayah dan Ibu, karena Ayah dan Ibu dari tadi sibuk menonton adegan Romantis yang di ciptakan oleh Dokter Zainal.
Ayah tersenyum, ia menyambut kedatangan Dokter Zainal dengan penuh suka cita.
Ayah merasa bahagia karena setelah sekian lama, akhirnya Putri Pertamanya ini akan Menikah.
"Jadi, kapan orang tuamu akan datang kesini Nal?" Tanya Ayah.
Dokter Zainal ikut duduk di atas ambal tepat di sebelah Ayah.
"Secepatnya Pak, aku juga tidak mau menunda nunda lagi, takut Putri bapak akan berpaling dari aku." Ujar Dokter Zainal,
Ayah terkekeh mendengar ungkapan yang baru saja terlontar dari mulut Calon menantunya ini.
Obrolan mereka terus berlanjut, kehangatan begitu tercipta malam ini.
Mbak Gita yang awalnya merasa begitu sedih, sekarang perasaannya berangsur membaik karena kehadiran Dokter Zainal di rumahnya plus Melamar dirinya.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu jika kita melaluinya bersama orang tersayang..
"Mas Pulang dulu ya, udah jam sebelas aja tau taunya." Ujar Dokter Zainal.
Saat ini mereka berdua berada di halaman rumah Mbak Gita.
Mbak Gita mengantarkan Calon Suaminya itu sampai ke depan mobilnya. Sedangkan Ayah dan Ibu telah tidur sejak pukul Sepuluh tadi.
"Cuci muka, cuci kaki langsung tidur, jangan begadang lagi."
"Iyah Sayang, bawel." Ujar Mbak Gita seraya tersenyum manis menatap Dokter Zainal yang berada di hadapannya.
Tiba tiba setan malam menghampiri mereka. Dan merasuki perasaan Dokter Zainal yang penasaran akan bibir manis Mbak Gita.
Perlahan tapi pasti, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Mbak Gita.
Sedikit lagi, dan hampir sampai bibirnya berlabuh di bibir ranum Mbak Gita,
namun,
"Halalin Aku Sayang, maka kamu akan merasakan hal yang lebih dari ini." Ujar Mbak Gita seraya menaruh jari telunjuknya tepat di Bibir Calon Suaminya ini.
Setan malam pun langsung pergi meninggalkan Perasaan Dokter Zainal yang telah menggebu.
"Maaf Sayang." Lirih Dokter Zainal, ia pun begitu malu malam ini karena Mbak Gita masih saja menjaga dengan baik harga dirinya walaupun itu hanya satu ciuman.
"Hu'um.. Makanya jangan tunda lagi biar nggak bikin dosa."
"Haha, iya Sayang. Besok Mas akan datang kesini bersama Papah dan Mamah, dan langsung menentukan tanggal Pernikahan Kita."
"Iyaa, tapi bilangin sama Mamah."
"Apa?"
"Jangan jutek jutek jadi Ibu Mertua nanti bisa bisa Menantunya kabur dari rumah."
"Hahaha.. Kamu ini bisa aja."
"Yaudah pulang gih, nanti Setan Malamnya datang lagi."
"Yaudah, Mas pulang ya.."
Mbak Gita hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
Dokter Zainal rasanya tidak mau berpisah dari Calon Istrinya ini, tetapi hari semakin larut.
Benar kata Mbak Gita, bahaya kalo dirinya nggak pulang pulang.
Bisa bisa Setan Malam akan datang kembali dan merasuki pikirannya untuk berbuat hal yang lebih membahayakan.
Terakhir kali, Dokter Zainal membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan ke arah Calon Istrinya yang masih setia menunggu dirinya.
Hingga mobil berjalan perlahan meninggalkan pelataran kediaman Pak Basuki, Mbak Gita segera masuk kedalam rumah dan menguncinya.
"Astaga! Kamu ngapain disitu?!"
Bersambung..