My Mother Is My Maid

My Mother Is My Maid
Bab 40 : Niat Aina



POV Author


***********


Dokter Zainal melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tidak mau buru buru sampai kerumah, tetapi sesaat kemudian ia teringat akan satu hal yang membuatnya menjadi menambah kecepatan berkendaranya.


Ia lalui jalanan yang sepi ini seperti Pembalap Internasional, sangat ngebut.


Sekitar dua puluh menit, tepat pukul sebelas tiga puluh, Dokter Zainal telah sampai di kediaman orang tuanya.


Ia pun memarkirkan mobilnya di garasi, setelah itu ia keluar dari mobil dan menutup pintunya.


Terlihat keadaan rumah sangat sepi, tetapi lampu di kamar belakang masih menyala.


Ia tidak mau ambil pusing.


Segera saja ia membuka Pintu yang tidak terkunci dan langsung menuju ke lantai atas, lantai dimana kamarnya berada.


Ia mencuci wajahnya  seraya bersenandung ria.


Malam ini Dokter Zainal sangat bahagia karena telah berhasil Melamar Mbak Gita.


Rencananya besok Pagi ia akan membicarakan hal ini kepada kedua orang tua nya.


Setelah mencuci wajahnya, segera ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang berukuran sangat besar ini.


"Nanti kamu akan tidur disini Sayang, di sebelah ku. Dan saat aku terbangun dari tidur ku, kamulah yang pertama aku lihat.. Dan satu kecupan Sayang akan selalu aku berikan untuk mu di setiap Pagi." Ujar Dokter Zainal.


Pikirannya melayang entah kemana mana, memikirkan Malam Pengantin yang telah ia nanti nantikan sejak lama. Sejak istrinya telah pergi untuk selama lamanya.


Sekilas kenangan dirinya dan Almarhumah Istrinya berputar putar di memori otaknya, seperti film romantis yang sedang ia tonton.


"Izinkah aku menikah lagi Yank, tetapi kamu harus tahu bahwa kamu tetap di hatiku, posisi kamu tidak akan pernah tergantikan." Lirih Dokter Zainal sembari menatap foto wanita yang ada didalam bingkai berwarna ungu itu.


Tiba tiba terselip rasa rindu untuk Arlin begitu besar,


"Aku merindukan mu dan baby kita, Yank. Kamu baik baik ya disana, aku disini selalu mendo'akanmu."  Lirih Dokter Zainal seraya mengusap pelan wajah Ayu yang ada di dalam bingkai foto berwarna ungu itu..


Tidak lama kemudian ia terlelap seraya memeluk bayangan Istrinya yang ikut tidur di sebelahnya.


*******


Sedangkan di kediaman Pak Basuki,


"Dek, kagettin aja! Ngapain si berdiri di balik pintu udah kayak nunggu antrian sembako aja." Omel Mbak Gita seraya mencubit pelan perut Aina yang masih setia berdiri di balik Pintu.


"Aduh Mbak, sakitt. Aku ini lagi nungguin Mbak, bukan nungguin Sembakoo." Aina menggerutu, bibir nya pun monyong sepanjang Tiga senti kedepan.


"Sudah ayo masuk, tutup pintunya."


Mbak Gita pun berlalu meninggalkan Aina yang sedang mengunci pintu rumah.


Ceklek..


Ceklekk..


Setelah itu ia menyusul Mbak Gita ke kamarnya.


"Mana Vallen?"


"Udah tidur Mbak."


Mbak Gita pun masuk ke kamar mandi yang ada di dalam Kamar tidurnya untuk mencuci wajah dan kaki sesuai Perintah Calon Suaminya tadi.


Aina masih setia menunggu Mbak Gita seraya memainkan Ponselnya, ia tiduran di atas ranjang Mbak Gita.


Krekkk..


Pintu kamar mandi terbuka, dan terlihat wajah Mbak Gita masih basah. Ia menuju lemari pakaian dan mengganti pakaian yang ia gunakan tadi menjadi baju tidur.


"Pasti ada yang penting." Ujarnya, seraya menggunakan baju.


Aina pun menoleh ke arah Mbak Gita dan tersenyum kecil menanggapi Pertanyaan Mbak Gita.


"Ah Mbak tahu aja." Ia membenarkan Posisi duduknya agar lebih nyaman.


"Apa si yang Mbak nggak tahu."


"Kalo gitu, Mbak tahu tentang Mas Nusi?"


Pertanyaan ini lah yang selalu Mbak Gita takut takutkan sejak dulu, dan malam ini akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari mulut Adik bungsunya ini.


"Sanusi.."


"Mbak tahu sesuatu tentang nya?"


Mbak Gita menarik nafasnya dalam, ia teringat kembali dengan sebuah rencana yang telah ia rencanakan bersama Alhmarhum Reyhand minggu lalu.


"Tetapi.."


"Tetapi apa Mbak?"


Aina begitu penasaran, ia menarik Mbak Gita agar duduk di sebelahnya.


"Semua tentang Nusi Reyhand yang mengetahuinya, dia tahu semua keseharian Nusi, karena di telah membayar Penguntit untuk selalu mengikuti kemana pun Sanusi pergi, sayangnya saat itu ketika Mbak bertanya dimana keberadaan Sanusi, tiba tiba Wanita gila itu datang dan melabrak Mbak!"


"Mbak di labrak? Wanita gila siapa Mbak? Kenapa Mbak nggak pernah cerita sama aku?"


"Kalo nggak salah namanya Claraa, dan dia mengaku sebagai Kekasihnya Reyhand, dia marah karena Mbak saat itu sedang makan berdua bersama Reyhand di Cafe Meranti. Tidak ada yang spesial, Mbak hanya ingin mengajak Reyhand untuk mencari keberadaan Sanusi, namun sayang semua itu gagal karena Wanita gila itu mengacaukan semuanya. Bahkan Mamahnya Dokter Zainal ikut terpengaruh ucapan Wanita Gila itu!" Ungkap Mbak Gita.


Sepertinya ia masih menyimpan dendam yang mendarah daging terhadap Claraa yang telah mempermalukan dirinya minggu lalu.


"Terus, soal Mas Nusi tadi gimana Mbak?"


"Belum ada kabar, Reyhand telah pergi untuk selama lamanya."


Keduanya sama sama terdiam, hening sangat hening suasana malam ini.


Mbak Gita yang diam karena ia kembali memikirkan Reyhand, Sahabat rasa Saudaranya itu.


Sedangkan Aina, ia diam bukan memikirkan Sanusi, Suaminya, tetapi ia memikirkan bagaimana caranya agar ia di beri Izin untuk Merantau ke kota Jakarta.


Setelah hening untuk beberapa saat, akhirnya Aina memberanikan diri  mengutarakan niatnya kepada Mbak Gita.


"Mbak?"


"Hem?"


"Menurut Mbak, Ayah sama Ibu bakal kasih Izin nggak ya kalau aku mau kerja?"


"Emangnya kamu mau kerja kemana?"


"Kota Jakarta Mbak."


"Apa?!"


Aina hanya diam, ia masih mendengarkan kata apa yang akan Mbaknya sampaikan.


"Udah udah udah, nggak usah aneh aneh deh, mau kerja di Jakarta, Vallen bagaiman? Kamu nggak kasihan sama dia? Sudah nggak punya Ayah, ini Ibunya mau merantau kerja jauh darinya. Bagaimana perasaannya nanti. Cobalah fikirkan kesana."


"Aku bosan Mbak jika di rumah terus, lagian kasihan Ayah dan Ibu. Aku nggak mau nambah beban mereka lagi Mbak."


"Kalau kamu ingin kerja, kerja yang di dekat dekat sini saja. Mbak nggak melarang cuma kamu pikirkan Vallen. Kasihan dia jika jauh dari kamu."


Aina diam, ia memikirkan ucapan Mbak Gita memang benar. Kasihan Vallen jika ia nekat kerja di Kota Jakarta. Dan meninggalkan buah hatinya, ia juga terasa berat.


"Nanti Mbak akan coba cari kerja yang cocok untuk kamu, dan lokasinya di sekitar sini. Jadi kamu tidak perlu menginap."


"Iyaa Mbak, mana baiknya saja."


Sebetulnya Aina kecewa, namun ia tidak boleh egois. Kebahagiaan Putrinya adalah yang utama.


"Kalo nggak salah, kemarin adek nya temen Mbak nyari karyawan lah."


"Kalo ada, kasih tau aku ya Mbak."


"Gampang, besok Mbak tanyain. Tidur sana, Mbak udah ngantuk berat ini."


"Oke."


Tidak banyak bicara, Aina segera keluar dari kamar Mbak Gita.


Ia menutup pintunya, sedangkan Mbak Gita sudah molor.


Mungkin dia lelah.


Bersambung..