
*POV Author*
••••••••••••••
"(Ya)"
Lalu pesan pun terkirim.
Claraa memutar otak nya lagi, kantuk nya menjadi hilang karena membaca pesan singkat dari Reyhand.
"Tania!!"
"Astaga iyaa kenapa aku bisa lupa sama dia!" ucap Claraa sambil tersenyum.
Ia melihat jam dan ternyata sudah pukul Setengah dua belas malam. Ia pun menelfon teman seperjuangan nya itu walaupun ini sudah tengah malam. Tidak masalah Tania akan terganggu atau tidak justru di jam segini Tania sedang aktif aktif nya.
Dan tidak menunggu waktu lama Tania langsung mengangkat panggilan dari Claraa
"Hallo beb?"
"Lu dimana Tan?"
"Biasa gua abis di booking, lu kemana aja seharian ini gua samperin ke kontrakan tapi lu nggak ada?"
"Gua lagi ngerjain si Reyhand."
"Reyhand??"
"Iyuppp Reyhand."
Lalu Claraa menceritakan semua Rencana dia untuk menjerat Reyhand ke pelukkan nya pada Tania.
"Apa lu nggak salah Rencana beb?" tanya Tania di sebrang telfon.
"Yaa nggak lah, ini rencana pokok nya udah mateng dan gua yakin Reyhand pasti mau bertanggung jawab." Claraa yakin seratus persen dengan ucapan nya sendiri.
"Sorry ni ya beb sebelum nya sorry banget."
"Napa?"
"Bukannya Rahim lu udah di angkat gara gara kanker serviks dua tahun lalu?"
Deg,
Jantung Claraa seolah berhenti berdetak kala ia mengingat ucapan Tania benar ada nya.
"Beb??" panggil Tania,
namun Claraa hanya diam seribu bahasa.
"Sorry bukan maksud gua nggak ngedukung rencana lu, tapi ini sangat mustahil Claraa dan lu tau sendiri apa alasannya. Kenapa lu nggak pikirin akibat nya jika lu terus ngelanjutin rencana ini? ayolah Claraa kalo emang lu cinta banget sama tu Reyhand masih banyak cara lain untuk merebut hati nya!"
"Hiksss.."
Claraa hanya menangis mendengar nasihat dari temen seperjuangan nya ini. Namun karena pikirannya telah di butakan oleh cinta Claraa masih ber sikukuh pada rencana nya.
"Tespeck lu yang dua garis kemarin masih lu simpen kan?" ucap Claraa di sela tangis nya.
"Iya, kenapa?"
"Buat gua aja ya please gua mohon."
"Terserah lu aja lah dasar keras kepala!" ujar Tania, lalu ia mematikan panggilan telfon karena merasa kesal dan juga kasihan terhadap Claraa.
"Terserah itu mah urusan nanti yang terpenting sekarang gua harus punya tesp*k yang bergaris dua agar Reyhand percaya." Gumam Clara setelah panggilan berakhir.
Jam di dinding terus bergerak se irama mengelilingi angka demi angka tanpa rasa lelah, begitu juga dengan Claraa walaupun sekarang tepat pukul dua belas malam ia masih belum bisa tertidur dengan nyenyak sebelum tesp*k itu ada di tangannya.
Ia kembali membuka ponsel dan menelfon Tania
Tutt .. tut.. tuttt..
Tidak ada respon dari Tania.
Terus Claraa terus menelfon Tania, hingga panggilan ke tujuh barulah telefon tersambung.
"Ya tunggu gua masih ada antrian satu orang, setelah itu baru gua pulang." ucap Tania lalu
Tuttuttt.
Panggilan langsung di akhiri, padahal Claraa belum sempat mengucap kan satu kata pun.
"Untung lu temen gua yang paling baik Tania, kalo nggak udah gua ceburin lu ke laut." Omel Claraa sambil menatap layar ponsel nya.
Oekk .. oekkk .. oekkkk..
Tangisan Vallenia malam ini begitu membuat riuh penghuni rumah.
"Ada apa nak kenapa kamu begitu gelisah malam ini?" ucap Aina sambil menggendong Putri nya.
Oekkk .. oekkk ..
Vallenia terus menangis tanpa sebab, padahal popok yang ia kenakan tidak basah dan juga Aina telah menyusui nya namun Vallenia masih saja menangis.
"Ena kenapa nak Vallen?" Ibu bertanya sambil mengambil alih Vallen dari gendongan Aina.
"Aku juga nggak tahu bu, setelah aku susui dia tidak tidur lagi dan tidak lama kemudian malah menangis seperti ini." jawab Aina.
"Apa mungkin ada semut di baju nya?"
Ibu lalu membuka dan memeriksa setiap lekuk tubuh Vallen untuk mencari bekas gigitan semut atau hewan lain nya.
"Tidak ada bekas gigitan," ucap Ibu
"juga bajunya bersih bu." Sahut Aina.
Nenek pun masuk ke kamar Aina dan duduk di sebelah Ibu sambil mengelus lembut pipi gembul Vallen.
Nenek tersenyum lalu berkata,
"Mungkin dia merindukan ayah nya."
Deg,
ucapan Nenek sungguh membuat jantung Aina berdebar debar tidak karuan.
Mana mungkin Aina mau menghubungi suami nya, sedang kan suami nya pun tidak tahu sekarang ada di mana, bersama siapa, dan bagaimana kabar nya.
Aina berusaha untuk cuek dengan masalah rumah tangga nya yang tidak jelas status nya ini. Namun ucapan Nenek betul ada nya.
Dari baru lahir sampai sekarang Vallenia memang belum pernah merasakan kasih sayang dari Ayah nya. Sungguh malang nasib mu Nak.
"Iyaa mungkin saja begitu." Ucap Aina seadanya.
Nenek mengambil alih Vallenia dari gendongan Ibu, lalu mulut Nenek berkomat kamit seperti membacakan sesuatu di telingan Vallen.Tidak lama kemudian nenek seperti merasakan ada sesuatu yang mengganggu cicit pertama nya ini.
"Sapu lidi, apakah di rumah ini ada sapu lidi yang sudah tidak terpakai?" tanya Nenek tiba tiba.
"Ada bu, sebentar aku ambil kan." jawab Ibu, lalu bergegas ke dapur.
Aina seketika merasakan hawa yang berbeda di kamar nya, bulu kuduk nya merinding, dan tangis Vallenia pun semakin menjadi.
Nenek mulai membacakan berbagai Ayat ayat suci Al-qur'an di telinga Vallenia lalu tangan Nenek mengusap dari pangkal ubun ubun hingga ke ujung kaki Vallenia. Dan alhamdulillah tangis Vallenia sedikit mereda.
"Iyaa Nek," jawab Aina.
"Nenek akan tidur disini, agar kamu tidak sendirian."
Lalu Ibu datang membawa pesanan yang Nenek minta tadi.
"Ini bu," ucap Ibu sambil meletakkan sapu lidi bekas di sebelah Nenek.
"Kamu tahu ini arti nya apa?" tanya Nenek pada Aina.
"Aku nggak paham Nek." jawab Aina sambil tangan nya menepuk-puk bok\*ng Vallen.
"Ini nih anak muda Zaman sekarang bisa nya cuma bikin anak doang!" ucap Nenek.
"Ihhhh Nenek.."
"Makanya kalo orang tua kasih Nasehat itu di dengerin jangan masuk kuping kiri keluar kuping kanan!" Nenek mengomeli Aina panjang kali lebar
bla.. blaaa.. blaaaa.. Dan masih banyak lagi.
Sedangkan Aina ia hanya mengangguk anggukkan kepala nya tanda mengerti tanpa menjawab Nasehat dari Nenek.
"Ibarat filosofi nya, sapu itu kan untuk membersihkan yang kotor kotor, jadi maksudnya kalo ada sapu yang sudah tidak di pakai lagi jangan di buang, biar yang kotor kotor itu tidak mau mendekat."
"Kamu mengerti?"
"Nggak Nek." Ucap Aina sambil nyengir kuda, menampakkan jejeran gigi putih nya.
"Oh Tuhan!" ujar Nenek, lalu menepak jidadnya sendiri.
"Hheeheh."
"Malah ketawa, sudah lanjut tidur lagi mumpung anak mu sudah tidur, jangan lupa yang nenek bilang tadi."
"Iyaa Nek."
Lalu Nenek menaruh Sapu Lidi tadi di bawah ranjang tepat di bawah posisi Vallenia tidur.
"Ibu mau tidur sama Ena malem ini, besok kan ibu pulang ke Semarang jadi mau lepas kangen sama cicit." ujar Nenek bicara pada Ibu.
"Iyaa terserah Ibu saja, aku balik ke kamar dulu bu. Selamat tidur."
"He'em." Ucap Nenek sambil menganggukkan kepalanya.
Nenek sudah bersiap siap akan melanjutkan mimpinya ke pulau kapuk, sedangkan Aina ia sedang menjalankan apa yang nenek perintahkan tadi.
"Bismillahirohmanirrohim.."
"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum.
Laa ta’khudzuhuu sinatuw wa laa naum.
Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh.
Man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi idznih.
Ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum.
Wa laa yuhiithuuna bi syai-im min ‘ilmihii illaa bi maa syaa-a.
Wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardha wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa
Wahuwal ‘aliyyul ‘azhiim."
Artinya,
"Allah tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya
Tidak mengantuk dan tidak tidur
Milik-Nya lah apa yang di langit dan di bumi
Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya?
Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka
Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya
Kursi Allah meliputi langit dan bumi
Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar"
(QS. Al-Baqarah: 255).
Lalu Aina mengusap dari pangkal ubun ubun hingga ke ujung kaki Vallenia seperti yang di lakukan Nenek tadi.
"Itu biar Demit nggak berani mendekat." Ucap Nenek tiba tiba.
Bersambung..